AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Sebuah tongkat golf sedang dipersiapkan dengan matang, kedua mata Erick tengah fokus dengan permainannya.


Erick tengah mengatur posisi dengan sempurna. Dia memasang kuda kuda cukup kuat sehingga posisi seimbang dan kokoh.


Dengan gerakan pelan dan dinamis, Erick mengayunkan kecil tongkat golf yang sedang ia pegang. Dengan sekali ayunan saja bola itu menggelinding masuk kedalam lubang.


Seketika semua rekan bisnis dan investor yang tengah hadir langsung bertepuk tangan. Mereka memuji gerakan swing yang sangat sempurna.


Kali ini Erick tengah berada disebuah pertemuan club golf papan atas. Dia tetap berusaha menjalani hidup normal sebagai keluarga konglomerat.


Dia tidak bisa menampilkan jiwa yang sesungguhnya pada orang lain. Tidak ada yang tahu jika sebenarnya dia sedang diambang kehancuran karena seorang wanita.


Jesica berjalan menghampiri Erick, dia hadir ditengah obrolan kepentingan para penguasa. Dengan gesit Jesica membisikan sesuatu pada sahabatnya itu.


Mendadak wajah Erick berubah, senyumannya hilang dalam sekejap. Erick pun pamit izin untuk meninggalkan permainan ini. Dia langsung mengikuti arah Jesica melangkah.


Kini mereka berdua sudah berada di ruang istirahat khusus tamu VVIP. Jesica dan Erick saling berhadapan melempar pandangan.


"Kita harus segera mengakhiri ini semua," ucap Jesica tegang.


"Apakah polisi akan segera mengejar kita?" timbal Erick.


"Mereka belum mendapatkan bukti kuat, tapi aku yakin sekarang mereka sedang mengawasi kita diam diam," balas Jesica.


"Aku masih menunggu keputusan Hary, cukup lama dia memikirkan penawaran itu," ujar Erick mulai panik.


"Apa kamu pikir dia mau bekerjasama dengan kita? apa dia bakal percaya sama dengan semua rencana kita?" tanya Jesica kembali.


"Aku yakin sekali, kali ini dia tidak akan berkutik dengan semua uang yang akan kita berikan," jawab Erick dengan serius.


Tiba tiba dari saku celana Erick, terdengar suara HP berbunyi. Erick meraih layar HP tersebut dan mendapati jika Hary sedang melakukan panggilan.


Erick menerima panggilan telepon itu dan mendengar dengan seksama pembicaraannya dengan Hary.


Kedua mata Erick tiba tiba melotot dan wajahnya berubah drastis. Setelah panggilan telepon itu selesai. Erick lalu berbicara dengan wajah bergetar dan gelisah.


"Hary baru saja memberitahuku, jika dia ingin bertemu kita satu jam lagi," sahut Erick.


"Apa dia menerima tawaran kita?" tanya Jesica kembali.

__ADS_1


"Sepertinya dia sudah menyiapkan check itu, kita harus segera bernegosiasi lagi denganya. Jangan sampai dia menarik lagi keputusannya," balas Erick sambil membuka sleting jaket putih.


Dia lalu segera mengganti pakaian olahraga golf. Bersiap untuk bertemu dengan pakaian kerja terbaiknya.


Jesica menarik nafas panjang, sungguh rasanya dia ingin segera lepas dari jerat obsesi Erick. Dia ingin sekali berlibur dengan tenang tanpa memikirkan hal hal apapun di luar sana.


****


Erick dan Jesica sedang di dalam mobil bersama. Mobil itu berhenti di sebuah parkiran restauran yang berada di Jakarta Selatan.


Sebisa mungkin Erick terus menghindari CCTV. Di tidak ingin meninggalkan jejak apapun di dunia yang serba transparan ini.


Mereka segera keluar dari mobil dan bergegas masuk ke sebuah restoran yang sangat tua. Di sana mereka berjalan masuk ke sebuah ruangan khusus.


Saat pintu dibuka, mereka lantas melihat sosok Hary sedang duduk sambil menikmati ice coffee dengan sangat santai.


Tanpa ragu ragu dia tersenyum menyambut kedatangan dua orang kaya raya. Dia merasa sedang di atas angin, karena kedua orang itu sedang sangat bergantung padanya.


"Akhirnya kalian datang juga, maaf aku harus membawa ke sebuah restoran tua seperti ini. Aku tahu ini bukan level kalian," ucap Hary dengan wajah sumringah.


Jesica duduk dengan memasang wajah tidak suka dengan Hary. Jujur saja ide untuk meminta kerja sama dengan pria sepertinya sangat beresiko. Hary adalah pria yang sangat bermuka dua.


"Cepat saja kamu berikan check itu," ucap Jesica ketus.


Erick meraih check itu, kemudian dia melihat dengan seksama bagaimana isi dari kertas tersebut. Di atas check itu tertulis 20 miliyar dengan tanda tangan Hary di bawahnya.


Dengan senyum tipis mengembang, Erick melempar check itu ke arah Jesica. Dia lalu meminta sekertaris pribadinya untuk menyetor 5 miliyar pertama sebagai uang jaminan.


"Aku sudah mengirim uang jaminan, silahkan anda check akun bank anda sendiri," ucap Jesica tidak ramah.


Hary lalu melihat M Banking di dalamnya. Dia pun mulai mengecek pemberitahuan untuk transaksi dana masuk dalam rekeningnya.


Saat tahu jika nominal uang 5 miliyar sudah masuk ke dalam saldo Bank. Seketika wajah Hary menjadi tambah sumringah. Jelas sekali terpancar kepuasan dalam setiap kerutan wajahnya.


"Jika misi kita selesai dan berhasil, maka aku akan transfer sisa uang yang telah kita sepakati," ujar Jesica.


"Ok, baik. Memang bekerja sama dengan orang seperti kalian itu sangat menyenangkan," ujar Hary sambil terus menikmati ice coffee nya yang hampir habis.


"Untuk rencana kita, kamu harus membiarkan Hanum masuk ke dalam skenario ini," ucap Erick dengan tenang.

__ADS_1


"Hanum? Anakku?" tanya Hary dengan dahi mengkerut.


"Anak itu adalah umpan yang sangat bagus dalam menjalankan misi kita. Kamu tidak usah khawatir jika akan terjadi sesuatu yang membahayakan Hanum," jelas Erick dengan wajah meyakinkan.


"Ok, tidak masalah. Aku yakin karena semua ini hanya sandiwara bukan?" tanya Hary kembali.


Jesica mengangguk sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dada.


"Jelaskan saja apa rencana kalian. Dengan senang hati aku akan mendengarkannya," ucap Hary dengan percaya diri menggebu.


"Tugas kita hanya perlu membuat Hanum seolah olah diculik oleh seseorang dan Dira sebagai ibunya harus mengantarkan uang tebusan.


Di sana adalah waktu yang tepat kita menukar Dira dengan uang itu tanpa sepengetahuan polisi," jelas Erick.


"Apa?!" teriak Hary dengan bingung.


"Ya itulah cara nya agar kita bisa menghilangkan jejak Dira dengan sempurna. Kita harus membuat penculik bayangan


lainnya," gumam Jesica.


"Ahh.. memang kalian adalah spesialis culik menculik. Diantara semua ide yang bertebaran di muka bumi ini, hanya ide seperti yang kalian punya?" ledek Hary dengan puas.


"Jika kamu tidak setuju, berarti kerja sama kita bisa berakhir dengan mudah," ancam Jesica.


"Tenang saja, itu gampang sekali. Aku Hary spesialis dalam melakukan sandiwara dan penyamaran," ucap Hary sambil mengambil batang rokok dan mulai menghisapnya.


Jesica terus saja menatap Hary dengan penuh kebencian. Dia ingin sekali menyingkirkan pria parasit seperti Hary.


Erick dan Jesica segera berdiri, mereka sedang bersiap untuk meninggalkan tempat ini.


"Aku siapkan waktu satu hari lagi untuk kamu memikirkan kembali tawaran ini," ucap Erick dengan tatapan serius.


Hary merespon dengan santai saja. Dia sudah tidak mempedulikan apapun lagi. Ditangannya sudah banyak sekali pundi kekayaan.


"Apa yang harus aku pikirkan lagi Erick," celoteh Hary dengan nada meremehkan.


"Kamu harus ingat Hary, disaat kamu sudah setuju dengan kesepakatan ini. Itu artinya kamu harus sudah siap kehilangan Dira untuk selamanya.


Bahkan kamu harus rela memisahkan Hanum dengan ibu kandungnya sendiri. Aku harap kamu dengan bijak menimbangnya kembali," jelas Erick kembali dengan perasaan sungguh sungguh.

__ADS_1


Masih di posisi duduk di atas sofa, Hary hanya memberikan ekspresi penuh misteri dan tanda tanya. Dia tidak senyum namun terlihat tidak sedih. Sorot ke dua matanya berbinar namun tidak terlihat bahagia.


Semua isi hati Hary memang tidak ada yang tahu. Bagaimana ada manusia di muka bumi ini yang tega menukar istri dan kebahagiaan anaknya dengan uang.


__ADS_2