AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Kesempatan Kedua


__ADS_3

...7 tahun kemudian.....


Disebuah ranjang besar dan hangat, aku dan dia masih tertidur pulas setelah menghabiskan cinta satu malam yang sangat bergairah.


Pukul 07.00 pagi Alarm digital berbunyi, aku segera menekan tombol pause. Aku bangkit dari ranjang dan melepaskan selimut tebal dari seluruh badan.


Aku melihat wanita itu masih tertidur pulas, dia adalah Rebecca model papan atas yang baru kemarin aku temui di club malam.


Aku bangkit dari ranjang dengan keadaan telanjang bulat. Segera ku masuk kamar mandi dan membersihkan sisa sisa kotoran malam erotis.


Cukup dengan 10 menit, aku sudah selesai dengan urusan kamar mandi. Aku keluar dengan menggunakan handuk piyama berwarna putih.


Lalu kuambil segelas wine dan menikmati nya dengan penuh ketenangan. Tiba tiba dari arah belakang, Rebecca mulai melebarkan kedua tangan nya untuk memeluk punggung ku yang lebar.


"Good Morning Sayang," ucap dia dengan manja.


Aku berbalik badan dan melepas pelukan yang menggelitik itu.


"Sudah mau jam 7, sebaik nya siap siap kamu keluar dari sini," ucap ku dengan dingin dan tidak berperasaan.


Rebecca cemberut dan marah, lalu dia berbalik menuju kasur untuk memungut baju nya yang berserakan.


Dia dengan perasaan jengkel lalu memakai busana dengan cepat. Bahkan dengan rambut yang masih berantakan, dia segera bersiap untuk angkat kaki.


"Ternyata benar dengan rumor di luar sana, Erick si playboy gila. Erick si pria satu malam, Erick si pria 24 jam," ledek Rebecca sambil tertawa sinis.


Rebecca lalu pergi dengan penuh rasa dendam kesumat. Dia masih tidak menyangka, jika julukan Erick si pria 24 jam memang benar.


Aku tidak main main dengan julukan aneh itu. Karena itu adalah sebuah kenyataan. Aku dan wanita hanya cukup bersama dalam waktu 24 jam saja.


Lebih dari itu, mereka para wanita harus segera keluar dari penthouse ini. Aku tidak suka dengan kebersamaan yang harus menuntut waktu panjang.


Aku tidak pernah serius dengan wanita manapun. Mereka saja yang bodoh dan mau antri untuk merasakan cinta satu malam dengan pria seperti ku.


Setelah wanita itu pergi dari penthouse, aku segera bersiap untuk kerja. Kali ini adalah tahun tahun ke tiga aku sudah tinggal di Indonesia.


Disaat usia ku yang sudah beranjak 23 tahun, aku sedang melebarkan sayap bisnis teknologi di Indonesia.


Selepas kuliah di Amerika, aku dan Jesica sepakat untuk membangun bisnis start up di wilayah ibu kota. Kami bersama sama membangun team yang solid dan kuat.


Selama kuliah pun, aku secara intens belajar software development dari tutor yang sangat profesional saat itu.


Dengan privilege ku sebagai anak konglomerat, aku rasa bisnis ini akan terus melaju pesat dan bisa terdaftar di bursa efek Indonesia nanti nya.


Masa depan ku sangat bisa terjamin. Tapi tidak dengan perasaan ku.


Semua orang tidak tahu, jika aku tidak pernah berubah dalam masalah hati.


Aku tidak bisa melupakan dia, aku cuman bisa berpura pura menjadi orang lain.


*****


Jakarta telah banyak berubah, makin macet, tambah sibuk dan terlalu bising. Menuju kantor saja aku setiap hari harus berkutat dengan jalanan aspal.


Aku melihat dari arah tak jauh, dari balik kaca mobil. Ada seorang bapak bapak lusuh menjual beraneka balon gas dengan banyak karakter.


Diantara nya ada balon gas berbentuk Doraemon biru. Aku melihat itu dengan sebuah perasaan sedih dan terharu. Jika ternyata selama ini, kisah Doraemon itu telah menginspirasi ku banyak hal.


Isi kepala ku kini bertebaran banyak kenangan manis dengan dia waktu dulu.


Saat itu Dira berkata jika aku harus menjual masa depan seperti kantong milik Doraemon. Aku harus menciptakan sebuah teknologi di masa depan.


Ternyata aku sedikit berhasil mewujudkan itu perlahan lahan. Aku kerja cerdas, keras dan jatuh bangun membangun perusahaan rintisan. Tak lain semua itu, aku lakukan untuk wanita yang selalu membayangi ku tanpa henti.

__ADS_1


Tiba tiba aku merindukan wanita itu.


Apa kabar cinta?


Bisakah kita bertemu lagi, sudah bertahun tahun lama nya aku tidak mendengar kabar mu.


Aku sudah kembali, kini aku bukan lagi Reza bocah ingusan yang kau kenal.


Aku Erick, semua orang bilang aku tampan dan kaya raya. Aku sudah berubah Dira. Aku ingin sekali melihat mu lagi.


*****


Tujuh tahun yang lalu aku berdiri disini, di samping lampu lalu lintas. Dimana saat itu adalah hari aku bertemu dengan mu secara tidak sengaja.


Aku sudah berubah banyak. Kali ini aku memakai jas terbaik dan termahal buatan Italia. Aku bukan lagi Reza yang kusut, urakan, miskin dan menyedihkan.


Setidak nya, aku harus berpenampilan seperti pria sungguhan kali ini.


Bisa saja takdir akan menyapa kita malam ini. Jadi aku harus selalu bersiap siap berpenampilan dengan gagah.


Aku mencoba saja menunggu mu. Mungkin saja kita bisa bertemu lagi di tempat bersejarah dan penuh dengan kenangan.


Aku sangat merindukan mu, Dira.


Aku selama ini tersiksa, aku berusaha keras untuk melupakan mu. Tapi itu sulit, mustahil dan tidak akan pernah terjadi.


Lampu lalu lintas berubah warna hijau. Kini semua jenis kendaraan mulai berjalan hilir mudik saling memenuhi jalan.


Satu persatu para pejalan kaki yang ingin menyebrang mulai memadati area ujung Zebra Cross. Ada orang tua, anak anak dan para remaja yang sedang sibuk dengan layar handphone nya.


Aku mengalihkan pandangan ku arah lurus. Didepan sana aku berharap ada sebuah keajaiban, semoga saja wanita itu ada berdiri di sebrang.


Dari arah sebrang, banyak juga pejalan kaki yang sedang menunggu lampu hijau. Mereka dengan segala kesibukannya masing masing memadati pandangan ku.


Wanita jangkung dengan rambut yang sedikit berubah warna. Memakai kaos polo longgar dan celana jeans panjang.


Dia tidak berekspresi seperti biasanya, kali ini dia hanya sedang melamun menatap lurus kedepan.


Pandangan nya kosong dan hampa.


Apakah itu Dira? Kenapa dia sangat kurus sekali?


Ada apa dengan tubuh nya, dia seperti sedang menggendong seorang bayi.


Bayi siapa itu? Kapan dia menikah? Dengan siapa dia menikah?


Aku gemetar, ini seperti sebuah mimpi. Aku masih mematung dan tak berkutik sedikitpun.


Lampu kini sudah berubah menjadi warna merah. Langsung dari arah sebrang, berhamburan para pejalan kaki yang ingin menyebrang ke arah ku.


Aku terus memperhatikan wanita itu, dia masih saja mengibaskan rambut nya yang sudah agak pendek.


Dia masih sangat cantik, walau usia nya sudah bertambah tapi wajah nya tetap saja berkilau. Garis senyum nya selalu halus dan tidak berkerut.


Aku tambah yakin jika dia adalah Dira, aku tahu dari cara dia memainkan rambut, masih indah dan menawan.


Perlahan, langkah demi langkah kami akan segera berpapasan.


Jantungku semakin tidak menentu, berdetak seperti bom molotov yang sebentar lagi akan meledak.


Kami akhirnya saling berpapasan, aku meliriknya dengan sangat teliti. ku pandang dari arah samping.


Oh tuhan, itu memang Dira. Sumpah ini nyata, bukan ilusi.

__ADS_1


Aku sangat tahu bau badan nya, wangi parfum nya yang khas tak pernah memudar sedikitpun.


Mulutku bergetar, aku ingin sekali menyapa nya. Aku harus berani kali ini, aku tidak boleh kalah lagi.


Dalam dada ini tiba tiba seperti ada dorongan kuat untuk mengambil kesempatan kedua ini.


"Dira," ucapku dengan sedikit lantang. Mulutku refleks memanggil nama nya.


Dia berhenti, kepala nya mulai melirik kanan dan kiri. Dia sedang mencari sumber suara itu datang dari mana.


Lalu dia membalikan badan dan dia melihat ku. Kami saling memandang satu sama lain. Kami tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Seakan dunia sedang menghentikan jarum jam berdenting, kami hanya diam seribu bahasa.


Tatapan nya aneh, wajah nya mengisyaratkan jika dia tidak peduli dengan kehadiran ku.


Untuk sekian kali nya dia terus saja mengabaikan ku seperti pengecut.


Bayi dalam gendongan nya mulai menangis, Dira lalu segera mengalihkan pandangan ke wajah bayi cantik itu.


"Duh Hanum sayang, iya sabar ya. Bentar lagi kita bakal ketemu ayah," ucap nya sambil mengelus kepala bayi perempuan itu.


Lalu dia dengan santai berjalan lurus kembali. Dia perlahan menjauh dan semakin jauh dengan ku yang masih berdiri di pinggir lampu lalu lintas.


Dia meninggalkan ku begitu saja.


Kenapa dia tidak mengenali wajah ku?


Apa aku masih terlihat asing di mata nya?


Dia sudah berbeda, dia tidak mengenaliku sama sekali.


Untuk kedua kalinya aku jatuh cinta. Pada orang yang sama namun sudah berubah.


Tampak nya semua sudah berubah, hanya aku disini yang tidak merasakan perubahan apapun itu.


Dira, aku tidak peduli. Aku masih sangat mencintai mu.


Aku tidak akan lari lagi, aku harus terus maju.


Tidak peduli apapun lagi, kaki ku sudah terlanjur patah, apa yang harus aku takut kan lagi?


Erick sadarlah!


Bagaimana pun caranya aku akan kembali di samping mu.


******


Akhirnya selesai untuk bagian episode flashback 😇


Maaf ya readers, kalau flashback nya terlalu panjang sampai 11 episode.


Bagi para pembaca yang tidak suka bagian episode flashback silahkan di skip saja. Bisa langsung loncat ke episode 55.


Masih bisa nyambung ko tanpa lihat episode flashback 😊


Untuk next episode selanjut nya, kita kembali ke stelan pabrik. Tidak menggunakan kata Aku, setting dan waktu sudah alur maju lagi 😁


Yipiiiiii.....


Novel ini sedang proses mengakhiri babak 2 dan akan bersiap menuju babak 3 ( akhir )


Doakan saja semoga aku kuat menyelesaikan novel ini 💗

__ADS_1


__ADS_2