
Dira sedang duduk di depan cermin besar. Di belakang wanita itu ada Erick yang sedang berdiri sambil memegang sebuah gunting besar.
Gunting besar itu lalu ia ayunkan kearah ujung rambut panjang. Dengan gerakan masih amatir, Erick sedang mencoba memotong rambut panjang Dira.
Rambut yang terurai indah kini telah sirna. Di depan cermin, Dira sedang melihat bayangan dirinya sendiri dengan gaya rambut pendek sebahu. Tak ketinggalan, Erick menambahkan poni lurus di atas jidatnya.
"Gaya baru rambut ini akan mempersulit identifikasi pencarian polisi. Sayangnya rambut cokelat mu harus segera di ganti dengan cat hitam," ucap Erick sambil menyerahkan cat rambut instan kepada Dira.
Wanita itu tidak bisa mengelak apapun. Dia selalu berpikir jika emosi dan perilaku Erick masih sangat berbahaya. Dia tidak boleh sedikitpun memancing singa jantan untuk menerkam sang mangsa.
Dira harus lebih sabar, dia sangat yakin akan ada celah yang bisa membuatnya kabur. Dia tidak ingin seperti dulu lagi, kini dia harus berani melawan Erick. Dia tidak ingin jatuh dan terperangkap untuk kedua kalinya.
Dia tidak ingin meninggalkan Hanum untuk kesekian kalinya. Dira sudah bertekad untuk menyelesaikan drama penculikan ini. Bahkan dia sudah tak ragu untuk bekerja sama dengan polisi.
Dira lalu bangkit dari kursi dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dia mulai mencuci rambut dan bertahap untuk mewarnai rambutnya.
****
Ini adalah hari pertama sejak kejadian pembebasan Hanum. Erick mengajak Dira untuk segera meninggalkan hotel.
Dengan melakukan banyak penyamaran dan perubahan tampilan. Dira sudah seperti orang asing yang sangat berpenampilan tertutup.
Selain harus mengganti model rambut. Dira dipaksa untuk memakai kaca mata tebal dan memakai baju cukup aneh. Atasan kemeja kotak kotak dan celana training garis merah.
Entah apa yang ada di pikiran Erick, dia dengan sengaja sudah merubah wanita itu seperti badut yang jelek. Bahkan dirinya sendiri yang terlahir tampan, berubah menjadi seorang pria berpenampilan tunawisma.
Wajahnya mulai dipasang janggut putih palsu. Rambut penuh uban yang menjalar sampai kebawah. Baju compang camping seperti pengemis bawah jembatan.
Dira pun disuruh masuk ke sebuah mobil Avanza putih dengan body yang penyok. Mobil mewah kemarin malam sudah ia singkirkan. Erick beralasan, jika setiap harinya mereka wajib mengganti mobil.
Semua itu tak lain hanya untuk mengecoh kejaran polisi. Erick tahu, tidak mudah untuk bersembunyi sebagai buronan di era digital seperti ini.
"Kita mau kemana?" tanya Dira.
"Kita harus menempuh jalur darat untuk sampai Surabaya. Sebisa mungkin kita harus menghindari jalan tol," jelas Erick sambil menancap mobil keluar dari hotel.
"Ini perjalanan yang sangat panjang," balas Dira mencoba tenang.
"Waktu kita masih sangat panjang, bagaimana caranya kita harus menghabiskan waktu satu minggu ini dengan sempurna," ucap Erick sambil melayangkan senyum tipis.
"Kita sudah seperti Bonnie dan Cylde," gumam Dira sambil tertawa lepas.
"Itukah yang selama ini kamu pikirkan Dira?" tanya Erick dengan tawa kecil.
"Jika berita ini mencuat ke media, mungkin sekarang semua orang sudah menghujat kita. Pasangan Kriminal yang sedang di mabuk kepayang oleh cinta," celoteh Dira begitu saja.
"Aku gak masalah dengan julukan itu, selama itu dipasangkan dengan wanita sehebat kamu Dir," balas Erick dengan santai.
__ADS_1
Mobil itu terus melaju menyusuri setiap daratan tanah air. Mereka sedang memulai petualang kriminal yang akan menentukan bagaimana nasib mereka kedepan.
****
( Flashback Hari penculikan Hanum )
Andi tidak bertugas dalam operasi pembebasan Hanum. Dia memilih untuk memisahkan diri dengan regu penyelamat.
Dia dan Zaki begitu menunjukan sikap keras kepala dan tetap pada insting mereka sebagai detektif. Tepat pukul 2 siang, dia sedang duduk di salah satu cafe dekat dengan MOI. Dia dan Natalie sepakat untuk bertemu di tempat ini.
Tak harus menunggu lama, akhirnya wanita itu datang. Dia berjalan dari arah pintu dengan ekspresi yang ceria. Dengan busana yang sangat cerah dan kasual, membuat dirinya makin begitu cantik.
"Hai, sudah lama kita gak ketemu," ucap dia dengan ramah.
"Hai Natalie," jawab Andi gugup karena begitu pangling melihat riasan natural yang sangat pantas untuknya kali ini.
"Mau pesan apa?" tanya Andi sambil memperlihatkan buku menu di depanya.
"Aku lagi diet, jadi cukup teh hijau panas saja," balas Natalie.
"Ok, kalau begitu aku pesan kopi hitam saja," ujar Andi sambil memanggil pelayan untuk segera mengantarkan pesanan ke meja mereka.
Setelah pelayan itu pergi, barulah Andi dengan berani ingin menyampaikan maksud dan tujuan dalam pertemuan ini.
"Aku ingin minta tolong sama kamu lagi. Tapi kali ini murni sebagai polisi bukan sebagai teman," ucap Andi sambil meremas kedua jari jarinya.
"Ok, apa itu?"
"My brother? oh.. well he is nice but little bit weird and pshcyo," balas Natalie dengan wajah bingung dan terkejut.
"Aneh?"
"Jujur saja dia sangat tidak menyukai ku, karena aku adalah anak dari wanita yang sangat ia benci. Dia selalu bertentangan dengan orang tua kami, dia sangat pendiam dan selalu menyendiri. Dibalik kesuksesannya sebagai founder bisnis, dia sebenarnya pria yang sangat terluka dan menyedihkan," gumam Natalie.
"Bagiamana hubungan dia dengan wanita?" tanya Andi dengan fokus.
Mendengar pertanyaan itu, sontak Natalie tersenyum ketir.
"Dia tidak pernah serius dengan wanita manapun. Jangan harap kamu menanyakan rencana pernikahannya. Sehebat apapun perjodohan yang di lakukan oleh ayah, dia akan marah dan menolak."
Andi mulai terdiam sejenak, dia sedang memproses semua informasi itu dengan jeli. Baginya menggali kehidupan pribadi tersangka pelaku sangatlah perlu.
"Andi, what's wrong? Why you asked my brother?" tanya Natalie dengan penasaran.
Andi masih belum menjawab, dia perlu berhati hati dengan Natalie. Dia tidak ingin membuat Natalie salah sangka.
"Saat itu aku pernah bertemu dengan mu di bengkel mobil. Aku sempat mendengar jika kamu sedang memperbaiki mobil. Apa kamu bisa menunjukan mobil itu padaku?" tanya Andi kembali.
__ADS_1
"Mmmm.. maksud kamu mobil tua itu?"
"Apa mobil itu adalah Mercedes - Benz?"
"Oh my god, kok kamu bisa tahu?"
Andi tak berkutik, tubuhnya kaku dan sulit untuk di gerakan secara tiba tiba. Baginya ini adalah jawaban yang tak terduga.
Selama ini dia sudah melalang jauh pergi mencari mobil misterius itu. Butuh bertahun tahun untuk bisa mengungkapnya.
Ternyata jawaban itu sangat dekat dengan dirinya. Andi merasa sangat bersalah karena lambat menyadari hal kecil seperti ini.
"Ada apa sih Andi? pertanyaan mu semua aneh dan membingungkan," protes Natalie dengan gusar.
"Apa mobil itu milikmu?" tanya Andi terus menerus menyerang Natalie yang tidak tahu apa apa.
"Bukan, aku saat itu diam diam memakainya dari mba Jesica, bahkan dia sama sekali tidak tahu jika mobil itu rusak," jelas Natalie tambah bingung dan resah.
"Jesica? wanita itu?"
"Ya, dia sahabat kaka ku satu satunya."
Dengan cepat Andi segera mengeluarkan HP dari sakunya. Dia kemudian memperlihatkan satu foto wanita berambut cokelat panjang.
"Apa kamu pernah melihat wanita ini? tanya Andi dengan tangan gemetar.
Andi sedang menunjukan foto Dira. Kedua mata Natalie mulai menilik fokus gambar di hadapannya. Dia dengan keras terus mengingat wajah wanita yang dirasa tak asing itu.
"Oh.. wanita itu. Aku pernah melihatnya sekali," balas Natalie dengan sedikit terkejut.
"Apa kamu yakin pernah melihat wanita ini, kapan dan dimana?"
"Mmmmm.... entahlah, tapi itu sudah cukup lama. Mungkin satu tahun yang lalu. Aku bertemu dengan wanita ini di kediaman Erick di Penthouse nya," jawab Natalie polos.
"Apa kamu tahu di mana mobil itu sekarang?" tanya Andi dengan wajah penuh ketegangan.
"Tentu aku masih menyimpannya secara rahasia. Kalau saja mbak Jesica tahu aku mencuri mobilnya diam diam, bisa mati aku," ucap Natalie sambil menyeruput teh hijau yang sudah tidak panas lagi.
Seketika tubuh Andi punya kekuatan lagi. Dia lalu berdiri tegak dan mendorong kursi kebelakang.
Jiwanya kini penuh dengan semangat. Dia lalu menarik paksa tangan Natalie untuk segera meninggalkan cafe itu.
"Kamu harus tunjukan mobil itu sekarang juga," ucap Andi sambil terus menyeret Natalie.
"Ih Andi, ceritakan saja apa yang terjadi. Ada apa dengan kakakku?" sanggah Natalie sambil terus berusaha menghentikan langkah Andi.
"Kamu ingin tahu Natalie?" tanya Andi dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku berhak tahu, jika itu menyangkut keluargaku sendiri."
"Erick, kakakmu adalah seorang penjahat yang telah melakukan penculikan keji," balas Andi tanpa menyesal berkata jujur.