
Sudah jam 9 pagi, Dira baru membuka mata nya. Dia bangkit dari posisi rebahan, langsung merasakan seluruh tubuh begitu letih.
Kedua mata berubah merah, rambut menjadi kusut bergelombang dan perut nya terasa sangat mual.
Dira buru buru masuk ke kamar mandi, dia memuntahkan segala isi perut ke dalam lubang kloset.
Kepalanya masih terasa sakit dan tubuh nya sungguh tidak merasa baik. Dia berdiri di depan cermin wastafel, segera mencuci wajah dan berkumur.
Dia melihat bayangan di cermin, terlihat begitu buruk dan kacau balau.
Selain itu Dira melihat baju nya sendiri, dia merasa aneh jika ada dua kancing baju nya yang terlihat sudah longgar.
Tapi dia tidak bisa mengingat apapun, yang dia ingat hanyalah minum bersama Erick.
Dira segera melepas pakaian dan mengganti nya dengan kaos polos bersih. Lalu dia segera keluar kamar menuju dapur. Perutnya sangat lapar.
Sampai nya di ruang makan, dia melihat Erick dengan badan telanjang sedang menyiapkan sarapan. Dia hanya menggunakan celana boxer pendek motif Spiderman.
Seluruh tubuh nya penuh dengan keringat, bahkan lipatan otot nya terlihat sangat seksi.
"Habis ngapain Rick? Tumben keringetan kaya gitu," tanya Dira sambil duduk di meja makan.
"Olahraga," jawab nya datar dan dingin.
Dira heran saja, biasanya Erick jarang olah raga di rumah. Dia selalu berangkat pagi buta dengan kemeja rapih setiap hari.
Namun kali ini, dia berani menampilkan celana boxer dengan motif yang tidak biasa.
Erick selesai menyiapkan sarapan, sambil membawa dua piring dan dua gelas air putih dalam nampan.
Menu sarapan yang selalu simpel, pancake apel adalah menu andalan mereka.
"Kamu harus minum obat ini, pereda saat setelah mabuk berat," kata Erick sambil menyodorkan sebuah botol kecil.
"Emang aku semabuk apa? duh rasanya kepala ku pusing banget," keluh Dira.
"Kamu gak ingat apa apa?" tanya Erick santai.
"Enggak, sama sekali," jawab Dira.
Mendengar penjelasannya, Erick sangat lega. Dia bersyukur jika wanita itu lupa akan aksi nya di atas ranjang panas.
Dia juga terus mengingat malam itu, sebuah gairah dan penuh kenikmatan. Walau berjalan sangat pendek dan berakhir memalukan, bagi Erick itu adalah malam yang paling sensasional.
Bahkan dia sengaja membakar kalori nya di atas trade mill. Tak lain agar bisa melupakan suara ******* yang terus menganggu pikiran.
Selama makan, Erick terus saja memperhatikan gerak bibir dan lekukan tulang leher wanita itu. Dia benar benar tidak bisa fokus!
Pikirkannya mendadak menjadi kotor, dia tak berhenti membayangkan ekspresi Dira yang begitu bergairah di atas ranjang.
__ADS_1
Erick sedang di mabuk asmara. Dia benar sedang gila!
"Heh kenapa sih ngelamun aja," tanya Dira yang sedari tadi tidak nyaman dengan tingkah aneh Erick.
"Kayanya aku kecapean," balas Erick dengan jawaban asal asalan.
"Ohhhh," balas Dira dengan santai, memang dia tidak tahu apa apa.
"Setelah makan, bantu aku ya. Aku butuh bantuan kamu," kata Erick.
Dira mengkerutkan kan kening nya.
"Tumben?" balas Dira dengan perasaan tidak peduli.
*****
Dira berjalan mengikuti Erick dari belakang, mereka sedang menuju sebuah ruangan khusus.
Ruangan itu adalah tempat menyimpan koleksi seluruh pakaian, aksesoris , parfum, sepatu dan tas. Juga deretan jam mewah kelas dunia.
Dira tercengang melihat begitu banyak sekali pakaian yang tentu tidak murah. Semua ini tidak bisa ia temukan di lapak pasar Senen.
Semuanya nampak berkilau dan berjejer sangat rapi. Tersusun di dalam sebuah kaca kaca besar.
"Dira, kamu tahu kan ini ruangan apa?"
"Baju dan aksesoris lainya?" jawab Dira dengan heran.
"Beneran nih?" jawab Dira yang masih tidak percaya.
Erick hanya mengangguk, dia tidak ingin Dira menolak nya. Erick lalu mempersilahkan wanita itu berkeliling melihat seluruh koleksinya.
Dira berpikir keras, sebenarnya apa motif Erick melakukan hal seperti ini. Kenapa dia tiba tiba meminta sesuatu hal yang tidak masuk akal.
Dira terus saja berpikir penuh rasa curiga dan negatif. Dia yakin jika Erick sedang merencanakan sesuatu hal. Namun dia tidak tahu apa itu.
Dengan cekatan, Dira memilih satu persatu mana yang menurut nya cocok untuk Erick. Tentu dia harus mengikuti selera nya sendiri.
Dia memberikan setumpuk stelan jas dan kemeja. Erick lalu berganti pakaian.
Dira senang, ternyata selera nya cocok untuk Erick. Pria tampan itu semakin gagah dengan balutan jas Navy, kemeja biru terang dan sepatu kulit cokelat.
Ditambah jam tangan super mahal dari Rolex. Bertabur berlian dan dilapisi emas putih. Membuat pria ini bagaikan aset berjalan.
Penuh percaya diri, Erick menatap tampilannya di depan cermin. Dia sangat puas dengan pilihan wanita itu.
Dira lalu kembali menghampiri Erick, berhadapan dengan tubuh kekar nya.
"Hari ini emang kamu mau ketemu sama siapa? tanya Dira dengan penuh rasa ingin tahu.
__ADS_1
"Kenapa? emang ngaruh?" tanya Erick sambil merapihkan rambutnya dengan gel.
"Tentu, tampilan pria harus bisa menyesuaikan dengan siapa dia harus berhadapan," jelas Dira.
"Seperti nya aku akan bertemu dengan seorang rival."
"Rival! Rival siapa? Rival bisnis kan ya," jawab Dira.
Erick tidak terlalu banyak menjelaskan siapa rival itu. Dia hanya terlalu fokus melihat wajah nya sendiri di cermin.
Dengan cermat Dira lalu memilih deretan koleksi set dasi. Pilihan terakhirnya jatuh untuk dasi warna biru dengan corak bintik bintik dari merek Gucci.
Dia lalu membantu Erick memasangkan dasi itu. Jantung Erick menjadi tak karuan, dia senang dengan treatment yang memuaskan ini.
Sentuhan terkahir dia memakaikan klip dasi berwarna silver.
"Oh iya lupa parfum," kata Dira dengan perasaan antusias.
Di rak parfum, terdapat belasan botol parfum yang semuanya memiliki wangi khas yang mewah. Dira mencoba mencium satu persatu parfum agar bisa cocok dengan penampilannya.
Dia lalu membawa dua botol parfum, mengocok nya sebanyak 10 kali dan menyemprotkan secara bersamaan.
"Ko gitu cara pakai parfum nya," ujar Erick heran.
"Ini ciri khas aku loh, gabungkan dua wangi parfum soft dan mint, mengocoknya sebanyak 10 kali dan semprot bersamaan," jelas Dira dengan penuh kebanggaan.
"Tujuannya?" tanya Erick dengan penasaran.
Dira tersenyum sumringah.
"Gak ada, cuman senang aja."
Dira lalu mengantarkan Erick menuju pintu. Dari hati yang terdalam Dira mengagumi kalau pria itu terlihat begitu istimewa.
"Sial, kenapa dia bisa ganteng banget," decak Dira setengah kesal.
Sebelum membuka pintu, Erick membalikan badan. Dia terlihat sedang berpikir keras.
"Gimana penampilanku?" tanya Erick penuh harap cemas.
Dira melebarkan senyuman nya sambil melayangkan dua jempol.
"Keren dong," jawab Dira dengan terpaksa.
Mendengar pujian itu hati Erick terbang kemana mana. Kepercayaan dirinya menjadi melesat jauh.
"Apa yang kamu pikirkan jika rival melihat baju yang telah kamu pilih."
Dira terdiam, dia berusaha keras memikirkan jawaban yang akan membuat hati Erick lebih puas.
__ADS_1
"Aku yakin banget dia bakal sirik lihat kamu, Erick yang gagah dan agung," jawab Dira asal jiplak saja.
Tentu Erick sangat puas dengan jawaban itu. Dia tambah yakin dengan penampilan nya hari ini. Dia harus terlihat lebih dari siapapun, khususnya untuk seorang rival yang akan dia temui.