
Laras memang jago dalam hal memasak, apalagi dia sangat piawai untuk masakan Padang.
Dimeja makan, tersaji banyak jenis makanan Padang yang sangat lezat. Rendang, udang bakar, telur balado hingga sambal yang menggugah selera.
Jujur, Erick tidak terlalu suka makanan Padang. Bukan karena tidak enak, hanya saja perut nya sensitif terhadap santan dan cabai.
Mereka pun makan dengan khidmat, semua setuju bahwa masakan Laras adalah yang terbaik.
Memecah keheningan, Laras mulai membuka suara.
"Tuan muda, aku kaget banget waktu lihat tadi masuk pintu. Aku bahkan sampai merinding, dari jauh kalian kaya saudara kembar. Sama sama ganteng, style baju ko bisa sampai mirip."
Erick tertawa tipis, dia hanya menaikan salah satu alis nya.
"Ini cuman kebetulan aja," jawab Erick.
"Pasti isteri nya jago banget nih mix and match baju kerja setiap hari," sambung Laras dengan sangat penasaran.
"Apa tuan muda sudah punya isteri?" tanya Hary yang sedari tadi juga penasaran.
Mereka berdua penasaran dengan status Erick.
"Aku gak punya isteri dan aku gak tertarik buat menikah," balas Erick santai.
Laras melongo heran, karena baru kali ini dia bertemu pria yang sudah mapan tapi menolak untuk menikah.
"Oh gitu, kirain tuh udah punya isteri di rumah," ucap Laras.
"Aku memang gak punya isteri, cuman aku punya satu wanita yang sangat hebat."
"Iya ya dasar anak muda jaman sekarang, udah hal biasa tinggal serumah tanpa ikatan," celetuk Laras tanpa pikir panjang.
Hary dengan wajah kesal, memberikan kode untuk Laras agar menjaga ucapannya. Dia sangat malu harus mendengar hal yang tidak sopan.
Tiba tiba Hanum mengendus hidung nya ke arah meja makan. Dia seperti sedang mencari sesuatu bau yang aneh.
Lalu hidung nya berhenti tepat di depan Erick. Semua memperhatikan tingkah aneh anak itu.
"Ko paman Erick wangi parfum bunda sih," tanya Hanum.
Erick cukup tercengang di buat nya, dia sama sekali tidak menyangka jika Hanum sadar akan hal parfum.
"Masa sih?" jawab Erick santai.
__ADS_1
Hary dan Laras mencoba untuk mengecek kembali ucapan Hanum. Dengan kompak mereka mengendus kan hidung ke segala arah.
Layaknya anjing pelacak, mereka bahkan sampai mengendus ke kolong meja.
"Ini wangi nya mirip saja Hanum, masa sih paman Erick bisa pakai parfum bunda," jelasnya dengan sedikit aneh juga.
Hary pun dalam hati mengakui, jika wangi Erick ada sedikit kemiripan dengan ciri khas isterinya.
Namun dia mencoba berfikir sederhana saja, kalau di dunia ini begitu banyak sekali parfum bertebaran. Pasti ada salah satu yang mempunyai kemiripan.
Tiba tiba saja Erick mendapat kan sebuah ide, dia tahu hal ini akan berbahaya. Hanya saja rasa tidak suka nya pada Hary, membuat ego nya sedikit melenceng.
"Ini tuh cuman parfum campuran saja, jadi wangi nya bakal unik kaya gini," jelas Erick yang berpura pura beralasan, padahal mengalihkan sebuah jebakan untuk mereka.
"Emang campuran kaya gimana?" tanya Laras.
"Gabungkan dua jenis parfum soft dan mint, lalu kocok 10 kali dan semprotkan mereka secara bersamaan," jelasnya dengan wajah senyum mengembang.
Kemudian dia menatap Hary dengan seksama. Erick sangat penasaran dengan ekspresi Hary setelah mendengar hal itu.
Deg!
Jantung Hary tiba tiba mati rasa, seluruh aliran darah nya beku. Matanya melongo dengan wajah kaget. Bahkan Hary pun mendadak bercucuran keringat.
Kebiasaan isteri nya yang hanya dia tahu. Tidak mungkin ada orang lain bisa tahu, apalagi sekelas CEO.
Hary sangat puas melihatnya, dia ingin sekali kali mempermainkan Hary. Dia hanya ingin membuat kejutan tak terduga.
"Pak Hary kamu baik baik aja kan? tanya Erick sengaja memprovokasi keadaan.
Laras seketika melihat Hary, dia terkejut sekali melihat pria yang dicintai nya tiba tiba pucat dan berkeringat banyak.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Laras.
Erick segera tersadar, dia baru saja seperti di bawa ke alam lainya.
"Oh enggak, aku baik baik saja," balas Hary dengan senyuman palsu nya.
Erick lalu ingin mengalihkan pembicaraan ini, dia harus segera menepis kecurigaan Hary.
"Aku dengar polis asuransi nya sudah cairkan pa Hary? seharusnya anda sudah membeli rumah lebih besar daripada ini," tanya Erick sambil meraih gelas untuk minum air putih.
"Ahh itu yah, aku sudah rencanakan untuk membeli rumah lebih besar. Hanya saja aku masih belum bisa move on dari rumah ini," jawab Hary masih dengan perasaan yang tidak karuan.
__ADS_1
Hary kembali mencoba terlihat tenang, ia segera minum dan mengakhiri makan malam ini.
Hary kemudian balik menatap wajah pria tampan dan kaya itu. Ada sebuah rasa curiga dan mengganjal seketika, Erick pria itu bukan orang biasa.
Dia pun sadar jika Hary tengah menatap nya tajam, dia pun tak segan menatap wajah Hary dengan senyuman palsu.
Kedua nya kini saling beradu sebuah pandangan misterius.
*****
Diruang tamu Hary duduk di atas sofa. Dia sudah menggunakan piyama, artinya Erick sudah pulang.
Dia terus aja berpikir keras, seluruh otak nya kini kusut, dia bingung harus memulai ini dari mana.
Sekuat tenaga Hary mencoba untuk berpikiran positif, terus membela Erick. Hanya saja ini terlihat sangat mustahil.
Tiba tiba imajinasi nya melayang, dia malah teringat isterinya. Dia tahu betul jika Dira selalu memberikan hal terbaik, sampai setiap pagi apapun selau ia siapkan.
Dari mulai sarapan, mengurus anak dan memilihkan pakaian kerja. Dira tidak pernah putus melakukan itu semua.
Dia pun sadar betul, jika isterinya sangat suka mencampur jenis parfum. Apalagi cara nya sangat sama dengan apa yang dikatakan Erick.
"Ngapain sih ngelamun terus, tuh kopi nya udah keburu dingin," ucap Laras sambil ikut duduk diatas sofa.
"Menurut kamu tuan muda Erick itu aneh gak sih? tanya Hary dengan tatapan penuh kebingungan.
"Gimana sih maksudnya, dia itu sempurna banget. Ganteng, kaya raya udah itu baik sama kita. Masa kaya gitu di bilang aneh," cibir Laras.
"Ya itu, karena dia terlalu sempurna. Itu tuh aneh. Coba kamu bayangkan saja, tiba tiba entah darimana sebabnya dia terus saja muncul," ucap Hary dengan tegas.
"Ya bagus dong kalau dia terus muncul. Kamu gak sadar ya, tadi saja dia bilang mau jadi sponsor Hanum untuk ajang perlombaan piano. Itu tuh hoki besar buat kita."
Hary kembali termenung, mencoba menimbang semua pendapat Laras. Memang seperti nya tidak pantas jika harus mencurigai pria sebaik Erick.
Namun tetap saja, hati nya tidak pernah tenang. Tiba tiba rasa gundah gulana mulai menerpa, dia selalu teringat akan isteri nya.
Laras kembali menatap Hary dengan serius, dia ingin menyadarkan kembali pria itu.
"Paling penting, kita gak usah harus sampai menumpahkan darah untuk menyingkirkan Dira. Lihat kan? ada Erick tujuan kita tercapai semuanya. Kekayaan, kesejahteraan dan pernikahan kita itu paling penting."
Hary terdiam dan tersadar, bahwa memang kehadiran Erick dalam hidup mereka bagaikan mimpi indah di siang bolong.
Sudah bertahun tahun lamanya mereka merencanakan untuk menyingkirkan Dira. Namun selalu saja gagal.
__ADS_1
Tapi kali ini, semua begitu berjalan sangat mulus dan normal. Apakah ini akan baik baik saja?