AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Selepas Kau Pergi


__ADS_3

Di depan gerbang utama LAPAS Cipinang, banyak orang sedang berkerumun. Mereka adalah sanak saudara para mantan narapidana. Hari ini mereka dijadwalkan bebas dari masa tahanan.


Gerbang besar itu terbuka, satu persatu orang mulai keluar dari dalam penjara. Dengan hanya menggunakan baju sederhana, mereka sangat bahagia disambut oleh orang orang terkasih.


Mereka saling berpelukan dan melepas rindu. Bahkan ada yang sampai sujud di atas tanah. Semua adalah hal normal sebagai manusia, walaupun mereka tercipta sebagai sampah masyarakat.


Setelah beberapa kerumunan manusia itu mulai menghilang. Kembali terbuka pintu LAPAS dengan pelan, Erick adalah mantan narapidana terakhir yang keluar dari penjara.


Dia berjalan dengan santai, ini pertama kalinya dia bisa menghirup udara bebas. Penampilannya setelah menjadi mantan NAPI agak berubah. Rambutnya yang rapi menjadi urakan, badan kekar bertambah kekar saja. Bahkan wajah tampan itu masih tak pudar sedikitpun.


Erick mengamati keadaan sekitar, sudah tidak ada siapapun lagi. Lengang dan kosong. Nampak sekali jika Erick sudah dilupakan oleh semua orang.


Dari arah samping kanan jalan, terdengar suara deru mesin mobil menghampiri Erick. Tenyata ada tiga mobil berjejer rapi berhenti tepat di depannya.


Salah satu pintu mobil terbuka lebar. Nampak keluar seorang pria berbadan besar dan atletis berjalan tepat di depan Erick.


Pria itu adalah sekertaris baru Erick yang dikirim khusus oleh ayahnya. Namanya Joe, bukan sembarang pria yang pantas menemani Erick.


Joe kemudian membawa sebuah jas baru ditangannya. Erick meraih jas itu dan lekas memakai nya dengan percaya diri. Baju bekas Erick dipenjara, lalu Joe masukan kedalam tong sampah.


Selain memberikan jas baru, Joe pun memberikan satu puntung rokok. Sebagai tanda kebebasan, Erick menerima rokok itu dengan senang hati. Tangan Joe lalu menyalakan api dari pemantik, lalu mengarahkannya ke arah ujung rokok itu.


Erick menghisap rokok itu penuh dengan kenikmatan. Kemudian dia menghembuskan banyak asap di antara mulut dan hidungnya. Dia melihat kepulan asap rokok itu terbang ke atas langit.


Kepulan rokok memang paling indah dan penuh seni. Setidaknya itulah yang selalu di katakan Jesica selama sisa hidupnya bersama Erick.


Joe pun mempersilahkan Erick untuk masuk ke mobil utama. Di dalam mobil itu hanya ada dia dan Joe. Kedua mobil lainnya berisikan para bodyguard yang selalu siap menjaga Erick.


Joe mulai menyetir mobil dan perlahan mereka menjauh dari penjara.


"Bagaimana kabar Hanum?" tanya Erick sambil fokus melihat pemandangan dari kaca mobil.


"Dia tumbuh dengan baik, ayahnya selalu menjaga anak itu dengan sungguh sungguh," balas Joe.


Mendengar penjelasan Joe, hati Erick sedikit lebih tenang. Hary memang pria bejat sepanjang masa, tapi untuk masalah anak dia tak pernah main main.


"Lalu wanita itu?"


"Maksud tuan adalah Laras?"


Erick tidak merespon, namun dari raut wajahnya memang tersirat kemarahan untuk nama itu.


"Aku menyogok kepala sipir penjara untuk mengontrol Laras 24 jam. Dia akan merasakan tekanan hebat dan kekerasan sampai nafas terakhirnya," ujar Joe.


Tentu Erick sangat puas, karena ulah wanita gila itu dia harus kehilangan Jesica. Pria itu tidak akan pernah mengampuninya sampai kapan pun.


Joe melihat Erick dari kaca spion depan. Dia memperhatikan ketenangan dan raut wajah Erick. Mungkin ini waktu yang tepat bagi Joe untuk menyinggung ayah kandungnya.


"Apa tuan ingin bertemu dengan Pak ketua Tomi, dia sedang berada di rumah sakit," ucap Joe dengan lugas.


Erick pun mengalihkan pandangan ke depan, dia menegaskan ekspresi tidak sukanya. Tentu Joe menyadari itu.


"Aku tidak ingin bertemu dengannya," balas Erick cuek.


"Seharusnya anda melihatnya sekali ini saja, selama lima tahun di penjara, kesehatan beliau semakin memburuk.


Saat anda terjerat hukum dan diadili, beliau sendiri yang mengurus dan menyogok banyak aparat hukum.


Kalau bukan berkat beliau, mungkin anda masih mendekam di penjara dengan waktu yang sangat lama," jelas Joe dengan sedikit terbawa suasana.


Erick memilih untuk diam. Rasa bersalah mulai menghantui angannya. Rasa trauma akibat masa lalu dengan sang ayah, masih menimbulkan ketakutan yang mendalam.


Mobil itu kini memasuki area pemakaman Elite di daerah Jakarta Barat. Kedua mobil lainya terus mengawal mobil Erick.


Kemudian Erick menyuruh Joe dan para bodyguard untuk menunggu Erick di dalam mobil. Dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Dengan membawa sebotol Vodka, Erick berjalan lurus menyusuri jalan setapak. Dia akhirnya melihat makam Jesica dengan hiasan marmer putih.


Dia seraya memandangi tempat peristirahatan sahabatnya. Dia sudah tidak bisa menangis lagi, sisa air mata itu sudah berubah menjadi luka abadi yang tak lekang oleh waktu.


Tangan Erick membuka tutup Vodka, dia langsung meminum air itu dalam sekali tegukan. Sisa Vodka dalam botol, Erick tumpahkan ke atas tanah kuburan Jesica.


"Selamat menikmati.." ucap Erick dengan senyum sedihnya.

__ADS_1


Setelah itu, dia memutuskan untuk meninggalkan kuburan Jesica. Namun dari belakang dia melihat Natalie sedang berdiri membawa buket bunga besar.


Mereka saling menukar pandang, tidak ada satu kata pun membuka pertemuan pertama mereka.


****


Erick dan Natalie duduk berdua di tengah bangku taman pemakaman. Ini adalah pertama kalinya mereka bisa duduk tenang sambil menikmati langit biru yang indah.


Natalie senang, jika Erick terlihat lebih santai setelah dia mendekam di penjara. Bahkan dia berharap, hubungan adik kakak akan semakin membaik.


"Apa kakak baik baik saja?" tanya Natalie dengan sedikit malu.


"Aku tidak pernah merasa baik," jawab Erick ngasal.


Mereka diam sejenak, mulai hening sekian detik. Erick dan Natalie masih merasa canggung.


"Terimakasih sudah mengantikan ku sebagai CEO Denka. Aku tidak menyangka, wanita manja seperti dirimu bisa mempertahankan nilai perusahaan," ucap Erick mulai cair.


"Kamu salah kak, yang selama ini aku lalukan hanyalah mempertahankan peninggalan mbak Jes.


Denka sangat berharga bagi dia, aku tak mungkin membiarkan itu hancur. Ya, walaupun saat itu tidak mudah menjalankan perusahaan yang sangat di benci oleh satu Indonesia," balas Natalie dengan bangga.


Erick lalu berdiri dari bangku, dia seraya menatap adiknya dengan senyum.


"Aku sudah tidak tertarik dengan jabatan CEO. Ambil saja, ku serahkan Denka ditangan mu," ujar Erick sambil bergegas meninggalkan percakapan itu.


Sementara Natalie hanya bisa membalasnya dengan tawa lepas. Dia kemudian berlari kecil menyusul Erick.


"Kakak tunggu aku!" teriak Natalie dengan kencang.


Erick pura pura tidak mendengar teriakan adik bawelnya itu. Dia terus saja berjalan dengan gaya cool.


"Dasar kakak pelit.. setidaknya traktir aku makan Sushi.. WOI.. WOI..." teriak Natalie makin kencang.


****


Tidak ada yang berubah dengan jalanan penyebrangan ini. Masih terlihat sama ketika Erick terakhir melihatnya.


Selama ini Erick terus berpikir, jika dia tak sengaja berdiri di ujung jalan penyebrangan, mungkin saja Dira masih ada.


Selepas Dira memutuskan untuk menjatuhkan diri dari atas kapal. Dia menghilang secara misterius. Sekuat apapun polisi melakukan penyisiran laut, tubuh wanita itu hilang bak ditelan dalamnya samudera.


Akhirnya setelah dua tahun berlalu, misi pencarian Dira diberhentikan. Polisi dan Basarnas menyatakan jika wanita itu tewas terbawa arus besar air laut.


Namun bagi Erick, wanita yang sangat ia cintai itu masih hidup. Erick sampai kapanpun tak percaya jika Dira tewas di tengah lautan.


Erick berdiri di ujung jalan dekat dengan lampu pengatur lalu lintas. Seperti biasa, dia memulai kebiasaanya untuk melihat orang menyebrang.


Menunggu lampu itu berubah menjadi merah, tatapannya terus memperhatikan orang orang berkerumun dari arah depan.


Ketika lampu merah itu menyala, satu persatu orang mulai berjalan di atas tanda zebra cross. Mereka berhasil menyebrangi jalan sampai ujung.


Erick masih menunggu, dia tidak bergerak. Dia terus berharap jika ada sosok Dira di tengah mereka. Namun jalanan penyebrangan itu mulai kosong, tanda lampu mulai kembali hijau.


Dengan raut wajah sedih dan sinar mata yang redup. Erick hanya bisa melihat jalan itu penuh dengan mobil dan motor melintas.


Dia tidak menemukan cinta itu. Dira kali ini benar benar menghilang. Erick sangat merindukan kibasan rambutnya yang indah. Dia ingin melihat itu kembali walau sejenak.


****


Lucerne adalah kota wisata yang paling banyak ditemukan di negara Swiss. Tempat yang menawan dan banyak menyimpan keajaiban.


Kota indah ini berada di bawah pegunungan Alpen. Tak ayal membuat Lucerne menjadi tempat favorit banyak tempat wisatawan.


Erick sedang menikmati sarapan di sebuah restoran hotel. Dia menikmati liburannya di Swiss dengan damai. Walau sendiran, dia mencoba untuk menjadi manusia normal.


Selesai melakukan sarapan, Erick memutuskan untuk pergi berkeliling kota dengan berjalan kaki. Dia ingin melihat aktifitas warga lokal melalukan pekerjaan sehari hari.


Ada yang sedang menjaga toko, bersepeda sambil mendengarkan musik dan beberapa anak kecil berlarian di jalan trotoar.


Kegiatan sederhana itu membuat Erick termenung. Dia merasa iri pada mereka semua, ternyata kebahagiaan itu bisa dirasakan oleh hal hal sederhana.


Mendadak dia menemukan peta besar di pinggir jalan. Erick melihat dengan seksama, jika dia berada dekat dengan danau Lucerne. Pantai dengan tepi danau paling terdekat adalah Lido Ascona.

__ADS_1


Dia mulai ingat jika Lido Ascona adalah pantai pasir halus dengan pemandian terbesar di Swiss. Pantai wisata dekat dengan penggunaan Alpen dan tak jauh dari pusat kota


Ada dorongan besar untuk melihat pantai itu. Sebuah janji dengan Dira yang tak pernah terwujud. Perlahan Erick memberanikan diri untuk menyambangi pantai itu.


Sesampainya di kawasan Lido Ascona, Erick melihat banyak pohon hijau yang mengelilingi pantai. Membuat kawasan ini semakin sejuk dan menenangkan.


Terdapat banyak arena hiburan dan tempat santai. Seperti bar, restoran, arena bermain anak dan penginapan fancy.


Banyak orang lalu lalang menikmati fasilitas pantai. Sedangkan Erick, dia hanya memilih duduk di atas pasir putih.


Dia tidak ingin melakukan apapun, perasaanya terus terbawa kenangan dengan Dira. Jika saja mereka berhasil dari kejaran polisi, mungkin saat ini mereka sedang menikmati liburan di Lido Ascona.


Sebuah bola voli tiba tiba menggelinding ke arah kakinya. Erick melihat bola itu penuh dengan serbuk pasir. Dari arah samping matanya menangkap sosok anak perempuan kecil berjalan mendekat.


Anak perempuan itu sangat cantik, bola matanya sipit dengan kulit putih pucat. Rambut hitam lurus terus berterbangan karena angin kencang.


Anak itu tersenyum manis, garis wajah yang tercipta sangat menawan. Sejenak Erick mendapati jika anak itu terlihat seperti Dira.


"Sir, können Sie meinen Ball nehmen?" ucap anak kecil itu menggunakan bahasa Jerman.


Erick sedikit paham tentang bahasa Jerman, jadi dia langsung memberikan bola voli itu padanya.


Anak kecil itu tersenyum lebih lebar, kali ini jantung Erick terasa berdebar kencang. Anak perempuan itu makin mirip dengan Dira.


"Vielen Dank!" ucap anak itu sambil melambaikan tangan pada Erick.


Anak perempuan lalu memutarkan badan dan berjalan pergi meninggalkan Erick. Jujur saat itu, Erick sangat bingung harus melakukan apa. Dia sangat penasaran dengan anak itu.


"Ich liebe dein Lächeln, schön wie Dira," teriak Erick pada anak itu.


Seketika anak itu kembali membalikan pandangan pada Erick. Dia terlihat bingung ketika pria asing mengatakan hal aneh. Pria itu mengatakan jika senyum indah yang dimilikinya mirip dengan Dira.


Di tengah lamunan si anak perempuan, dia dihampiri oleh seorang wanita paruh baya. Wanita itu berwajah bule Eropa. Dia terlihat sedikit memarahi si anak, mungkin dia tidak suka jika anak itu berbicara pada orang asing.


Dengan wajah kesal, perempuan itu mengajak si anak untuk segera pergi dan menjauh dari Erick.


"Ternyata itu ibunya," gumam Erick dengan wajah kecewa.


Sedangkan jauh dari Erick, anak dan perempuan berwajah bule itu masuk kedalam pintu belakang mobil.


Dengan wajah kusut dan sebal, anak itu terus saja mendengus kesal.


"Kenapa sih Fiona, ko mukanya cemberut gitu?" tanya seorang wanita dari jok depan kemudi.


"Ibu, aku terus saja di marahin sama tante Emily!" rengek Fiona dengan manja.


"Kamu tahu kan Jane, sangat berbahaya jika anak kecil berbicara sembarang dengan orang asing," balas Emily tidak mau kalah.


"Enggak ko bu, paman itu baik sekali. Malah dia memuji senyumanku yang indah. Katanya sih senyum Fiona mirip dengan Dira.


Ibu, Dira itu siapa? Apa dia seorang putri yang tinggal di sebuah istana besar?" tanya Fiona dengan sangat riang.


"Dira?" tanya wanita itu dengan sedikit kaget.


"Sudahlah Jane, jangan dengarkan anak kecil ini. Kadang dia suka ngelantur," sanggah Emily dengan kesal.


"Aku gak bohong tante. Bahkan aku pikir wajahku ini sedikit mirip dengan paman itu. Selain tampan, bola matanya sipit sama dengan Fiona!" celoteh Fiona sedikit ngotot.


Mendadak wanita yang disebut ibu oleh Fiona keluar dari mobil. Wanita itu berlari dengan terbirit- birit. Dia terus menggerakkan kedua kaki itu dengan sepenuh tenaga.


Sesampainya di arena bermain pasir pantai. Wanita itu mulai melirik pandangan secara luas. Dia sedang mencari sosok paman yang telah diceritakan oleh anaknya sendiri.


Nafasnya tersenggal-senggal, wajah menampakan kepanikan luar biasa. Dia masih belum bisa melihat paman misterius itu.


"Erick, apakah itu kamu?" ucap Jane alias Dira dalam hati.


Dira tak menyerah begitu saja, dia terus berlarian mengitari hampir seluruh bagian pantai. Namun Erick tetap tak terlihat, dia hilang bagaikan hantu.


"Kamu akhirnya bertemu dengan Fiona, dia adalah anakmu," ucap Dira dengan pelan, bola matanya tak lelah untuk mencari Erick.


...TAMAT...


Selasa, 22 Maret 2022

__ADS_1


...written by Rima.R...


__ADS_2