AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Let Him Go


__ADS_3

Di atas ranjang besar, Hary dan Dira sedang berbaring dengan selimut besar. Mereka tertidur lelap seperti pasangan suami isteri yang normal.


Dira terbangun dari tidur nya, dia melirik jam menunjukan pukul 04.00 subuh. Hary masih tertidur pulas, dia memang seperti monster.


Dira bangkit dan berjalan menghampiri jendela. Dia membuka sedikit tirai, disana dia melihat masih banyak mobil polisi sedang mengintai.


Semua di jaga ketat dan seperti nya mustahil untuk bisa kabur dari rumah ini. Tidak ada celah dan ruang bebas sedikitpun.


Akhirnya dia memutuskan untuk membersihkan tubuh nya di dalam kamar mandi.


Setelah mandi, Dira mulai mengeringkan seluruh tubuh dan rambut nya dengan handuk kering. Dia duduk menatap cermin, wajah nya terpantul dengan sangat kacau.


Kemudian dia keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar anak nya. Dibuka gagang pintu itu dengan pelan, disana terlihat jika Hanum masih tertidur lelap.


Dira bahagia, jika anak perempuan nya masih tumbuh dengan sehat dan ceria.


Dia kembali menutup pintu dan segera berjalan menuju dapur. Disana dia melihat dapur yang sangat bersih dan tertata rapih.


Mungkin kan semua ini perbuatan Laras?


Sungguh, dia sangat lihai dalam menata rumah tangga.


Benar kata Hary, Laras sangat membantu nya dalam mengurusi semua kebutuhan hidup nya dengan Hanum.


Dira membuka kulkas, dia sedang memilih bahan makanan yang akan di olah menjadi masakan.


Untuk pertama kali nya, dia harus menyajikan kembali sarapan untuk keluarga. Tidak ada Erick di samping nya. Tidak ada kerja sama dalam membangunkan semangat pagi seperti biasanya.


Dira sangat terpukul, dia begitu menginginkan Erick lebih dari siapapun.


Dengan waktu 30 menit saja, sarapan itu sudah ia siapkan di atas meja. Telur dadar, sayur bayam dan nasi hangat. Tak pernah lupa, Dira selalu menyajikan jus buah tomat dan segelas susu untuk Hanum.


Dira berjalan menuju kamar Hanum, dia lalu segera membangunkan anak perempuan nya itu.


"Selamat pagi Hanum, anak bunda tersayang," ucap Dira dengan sangat lembut, lalu ia mencium kedua pipi Hanum.


"Bunda..." balas nya sambil menguap lebar. Hanum beranjak duduk, dia tersenyum bahagia melihat ibu nya datang menyapa.


"Sekarang kamu siap siap mandi, pakai seragam dan pergi sarapan," ajak Dira.


"Ok bunda, pokok nya Hanum janji, gak akan bikin bunda jengkel terus, pokok nya bakal lebih nurut," balas Hanum.


"Ko gitu? Perasaan Hanum gak pernah bikin bunda jengkel," jawab Dira sedikit bingung.


"Soalnya kata bunda Laras, kemarin bunda pergi jauh karena Hanum anak yang susah diatur," jelas Hanum dengan wajah murung.


"Ya ampun nak, enggak ko sayang. Bunda kemarin lagi banyak pekerjaan. Duh sayang maafin bunda, ya" ujar Dira sambil memeluk Hanum dengan erat.


Hati seorang ibu makin hancur tak kala anak nya telah hidup dalam banyak kebohongan.


Bahkan Laras sudah sangat lancang menjerumuskan Hanum. Dia mencuci otak Hanum dengan sangat militan.


****


Mereka bertiga sedang sarapan di meja makan. Hanum sudah bersiap memakai seragam dan menggendong tas. Sedangkan Hary masih menggunakan baju yang lusuh.


"Hanum hari ini pergi ke sekolah dianter sama tante Laras dulu ya, ayah mau temenin bunda dulu, ada urusan," ucap Hary dengan santai saja.


Hanum hanya mengangguk. Seperti hal biasa dan lumrah ketika Laras selalu mencampuri urusan mereka sehari hari.


"Kamu gak pergi kerja Hary?" tanya Dira dengan wajah tidak bersemangat.


"Aku.. beralih bisnis sekarang," balas Hary datar.


"Bisnis apa?"


"Furniture dan satu cafe kecil."

__ADS_1


"Modal dari mana? Uang sebesar itu kita gak punya, tabungan saja tipis. Terakhir saja kamu masih pengangguran," balas Dira sangat sinis.


"Sudah Dira, jangan dibahas saat kita lagi sarapan, ada Hanum juga disini," bisik Hary kesal dengan Dira yang sangat cerewet.


"Kenapa, takut?"


"Taku apa sih Dira? Udah deh jangan ngomong ngawur," balas Hary ketus.


"Siap siap saja bisnis kamu bakalan hancur sebentar lagi, kamu gak tahu kan kalau dana asuransi itu sudah tidak valid. Aku masih hidup Erick. Tunggu saja, surat pinalti akan segera datang," ancam Dira dengan serius.


Hary hanya bisa menarik nafas nya, dia benar benar pusing dengan keadaan yang sangat suram ini.


Isteri keras kepala dan ancaman keuangan mulai mengancam kesejahteraan hidup nya.


Sungguh, ini adalah sarapan terburuk dalam hidup nya.


****


Hanum melambaikan tangan ke orang tua nya. Dia sedang berada di dalam mobil Laras. Sementara itu Laras menghampiri mereka berdua dengan sedikit gugup.


"Mba Dira apa kabar?" tanya Laras dengan wajah cemas.


"I am not okay, tapi ko kamu kelihatan nya lebih gak okay," balas Dira dengan cuek.


Hary menatap Laras, dia memberikan kedipan mata agar segera pergi dari tempat ini.


"Ya udah, aku pamit pergi dulu ke sekolah Hanum, permisi," kata Laras sambil melangkah meninggalkan mereka.


Tatapan Dira penuh kebencian yang sangat dalam. Dia masih tidak bisa menyangka, jika wanita itu bisa menjadi duri dalam rumah tangga nya.


Wanita polos yang hidup nya terus berdedikasi pada musik, itu hanya sebuah topeng. Selama ini mereka malah memainkan sandiwara yang begitu apik.


Tapi dilain hal, Dira merasakan bahwa Laras memang begitu mencintai suami nya. Dia bahkan dapat merawat anak nya dengan baik.


Disaat dia sedang menghilang dan tengah bersemai dengan Erick. Laras tetap setia menjaga keluarga kecil nya.


...Sebenarnya aku atau Laras yang jahat....


...Namun kenapa hati ku selalu saja mengatakan jika aku memang tak pantas untuk bersanding dengan Hary....


Tiba tiba..


Sebuah mobil Fortuner hitam melaju kearah rumah mereka. Disana turun lah dua orang petugas polisi yang sedang menuju posisi mereka berdua.


Petugas polisi itu Zaki dan satu perempuan anggota polisi dari Mabes Polri.


"Perkenalkan saya Vania, Profiler dari Mabes Polri," kata petugas polisi yang bernama Vania sambil menjulurkan tangan.


Hary menerima tangan itu dan mereka sambil bersalaman.


"Kami mohon untuk kerja sama nya. Disini ada seorang profiler ingin berbicara dengan isteri anda, mohon kesediaan waktu nya," bujuk Zaki kepada mereka berdua.


"Jadi ini maksud nya urusan kamu Hary?" ucap Dira kesal, karena Hary diam diam sudah berkerja sama dengan polisi.


Bahkan dia tidak memberitahukan sebelum nya jika sudah membuat janji dengan dua petugas polisi.


"Please, aku mohon Dira. Kamu gak boleh egois begini. Ini demi kebaikan Hanum. Aku sekarang takut jika penjahat itu bisa mencelakai Hanum juga," jelas Hary dengan sebuah paksaan.


Dira menghela nafas, dia sudah malas dengan mereka semua.


Sungguh merepotkan.


*****


Vania dan Dira memilih untuk berbicara dua mata saja. Mereka akhirnya bisa duduk dan berhadapan di ruang makan.


Dira menyuguhkan kopi hitam hangat untuk petugas polisi itu. Dia pun tak ingin banyak basa basi dengan nya.

__ADS_1


"Cepat katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan," kata Dira jutek sambil menyeruput kopi itu.


"Bagaimana rasanya kembali dengan keluarga mu lagi Dira?" tanya Vania dengan senyum mengembang.


Dira tidak langsung menjawab, dia sedang berpikir keras sebenarnya.


"Aku merasa aneh. Aku merasa ini sangat asing. Apakah ini wajar? tanya Dira dengan sedikit tenang.


Vania mengangguk paham, wajah nya memancarkan sebuah optimisme.


"Kucing saja akan mudah berpindah majikan, apalagi manusia seperti kita,


Apa kamu merindukan dia?" tanya Vania dengan serius.


Dira tidak bisa menjawab itu. Baginya rasa kepada Erick, tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata kata.


"Kalau saja aku katakan, apa kamu akan percaya? Kamu memang polisi profesional, tapi kamu tidak akan paham bagaimana hidup berjalan di atas pedang yang tajam," jelas Dira dengan penuh kesedihan.


"Apa yang ingin kamu lindungi sekarang bukanlah kenyataan, anggap saja apa yang telah kamu alami adalah delusi,


Sekeras apapun kamu bertahan, apa dia akan kembali pada mu?" Vania balik bertanya dengan penuh perasaan cemas.


"Aku katakan sekali lagi, kamu tidak akan paham," kata Dira dengan sangat keras kepala.


"Sadar lah Dira, kembali pada realitas. Hidup mu ada disini, keluarga mu terus menanti.


Lepaskan dia, seperti kamu melepaskan semua beban yang terus membuat mu menderita," jelas Vania dengan tatapan fokus pada Dira.


Petugas polisi itu sedang menganalisis masalah psikologis yang sedang di alami Dira. Dengan mudah dia dapat melihat banyak sekali tekanan yang telah ia dapatkan.


Mendengar kata melepaskan adalah hal yang sudah sangat sulit Dira lakukan.


Baginya, ini sudah terlambat. Dira sudah terlalu jatuh menyelam ke dasar laut. Erick hanya pria itu yang bisa membuatnya tetap waras.


****


Didalam mobil, Zaki dan Vania sedang duduk santai. Namun wajah mereka malah menunjukan ketegangan luar biasa.


"Berhati hati lah, ini bukan kasus penculikan biasa," ujar Vania sambil merapihkan rambut nya yang kusut.


"Bagaimana profiling mu dengan kasus ini," balas Zaki dengan serius.


"Ini masih bersifat indikasi. Wanita itu sedang mengalami fase yang sulit. Dia bahkan belum bisa menyadari mana realitas atau bukan."


"Maksud nya?" tanya Zaki kembali dengan sebuah kebingungan.


"Sepertinya wanita itu menaruh simpati sangat besar pada penculik, ini berbahaya. Jelas sekali dia sedang mengalami trauma psikologis yang berat."


"Apa jangan jangan, mereka saling memiliki perasaan?"


"Bisa jadi, itu lah sebabnya korban dengan sangat keras kepala ingin melindungi penculik.Ini sangat jarang terjadi."


"Luar biasa, sungguh ini terlihat mustahil. Aku belum pernah menghadapi kasus seperti ini," jelas Zaki dengan wajah tercengang.


"Bisa kah aku melihat laporan investigasi nya?"


Zaki lalu dengan cepat memberikan bundelan kertas itu untuk Vania.


Vania menerima nya dan langsung membaca laporan investigasi dengan teliti.


Lembaran kertas nya berhenti di sebuah catatan identitas wanita muda.


"Siapa wanita ini?"


"Dia wanita yang kami temukan di black market, wanita cocok sekali dengan profile kami sebagai pemilik mobil Mercedes-Benz. Hanya saja dia sudah meninggal. Ini sangat janggal sekali, aku sudah mengunjungi rumah nya dan memastikan segala nya. Tetap saja semua buntu!" jelas Zaki dengan kesal.


"Kita harus kembali menemui keluarga nya, aku yakin pasti ada petunjuk tentang wanita ini," ujar Vania dengan tatapan penuh ambisi.

__ADS_1


__ADS_2