
Setelah menunggu tiga hari lamanya, akhirnya lokasi pembebasan Hanum telah diketahui. Lewat sebuah panggilan telepon dengan nomor ilegal, penculik itu memberitahukan bahwa ada rumah kosong di perumahan PIK yang akan menjadi tempat transaksi.
Perumahan elit itu sekarang adalah milik sitaan KPK. Karena rumah itu adalah bekas salah satu anggota partai yang tersandung kasus mega korupsi.
Di dalam rencana pembebasan Hanum, Zaki dan Andi tidak ikut serta. Mereka berdua memisahkan diri dengan tugasnya masing masing.
Zaki pergi kembali untuk menyelidiki tempat mobil merah terakhir ditemukan. Tempat itu disebuah hutan belantara dekat dengan perbatasan jalan tol.
Sedangkan Andi, dia sedang membuat janji dengan Natalie. Karena bagi Andi, Natalie adalah sumber informasi akurat untuk mengulik keluarganya sendiri.
Andi bahkan baru ingat, jika selama ini Natalie adalah orang yang sangat dekat dengan Erick. Dia pernah bertemu dengan mereka di kantor polisi saat kasus salah tangkap.
Kembali pada situasi Dira dan Hary di rumah. Mereka sedang di jaga ketat oleh tim regu polisi. Operasi pembebasan Hanum sendiri dipimpin langsung oleh kapten Nasar.
Mereka bertiga sedang berada di ruang tidur Hanum. Kapten Nasar sengaja memberikan
briefing sebelum operasi mereka dilaksanakan.
"Anda harus siap menghadapi situasi yang akan sulit ini. Anda harus berjuang sebagai seorang ibu. Ingat anda adalah ibu yang kuat," seru kapten Nasar pada Dira yang sudah sembab oleh air mata.
"Apa tidak berbahaya membiarkan istri saya masuk ke rumah itu sendirian? Bisakah aku menggantikan posisi istri saya!" bentak Hary kepada kapten Nasar.
"Apa anda tidak mendengar ancaman penculik itu pak? dia tidak akan segan membunuh anak bapak jika tidak sesuai keinginannya. Hanya istri anda yang bisa masuk ke rumah itu," jelas kapten Nasar dengan sangat keras.
"Apa jaminan kalian sebagai polisi untuk keluarga kami?" tanya Hary dengan sedikit nada ancaman.
"Kami tidak main main dengan operasi pembebasan ini. Ditempat kejadian, akan banyak sekali petugas polisi bertugas. Dari mulai kegiatan intel, penyamaran, tim anti teror bahkan penembak jitu dari jarak jauh," jelas kapten Nasar.
Mendengar persiapan polisi yang sangat lengkap dan rapi membuat nyali Hary sedikit goyah.
Dia bahkan tidak menyangka, jika kerja samanya dengan Erick sangatlah beresiko. Salah langkah saja bisa peluru melayang tepat di jantungnya.
Demi uang puluhan miliar, Hary tak cukup harus mengorbankan istri dan anaknya. Dia juga harus siap kehilangan nyawanya sendiri.
Tapi bukan Hary jika dia takut dan mengurungkan niat jahatnya itu. Dia adalah pria yang paling gila dan berani. Apapun itu, demi uang dan kekayaan dia tidak gentar.
****
Tepat pukul 7 malam, Dira sedang mengendarai sebuah mobil sedan. Mobil itu masuk ke sebuah lingkungan perumahan elit.
Suasana sangat sepi dan lenggang. Tapi Dira tahu, jika semua pergerakan sedang di monitor oleh polisi.
Tubuhnya dilengkapi oleh rompi anti peluru. Bajunya diselipkan alat GPS dan perekam suara. Bahkan kaca mata yang sedang ia gunakan terdapat mikro kamera.
Semua persiapan operasi ini diharapkan selain menyelamatkan Hanum. Bisa sekaligus meringkus penjahat yang telah berani menculik anak kecil.
Perasaan Dira sebagai seorang ibu, begitu hancur dan berantakan. Dia sama sekali tidak merasa takut dengan penculik. Dia hanya terlalu over thinking dengan nasib Hanum.
Mobil itu masuk kedalam sebuah rumah besar bergaya arsitektur Eropa. Gerbang depan rumah itu tiba tiba terbuka secara otomatis. Dira memarkirkan mobil itu tepat di halaman depan rumah.
Suara panggilan dari kapten Nasar terdengar dari earphone kecil yang terpasang di telinganya.
"Saatnya kamu masuk, terus perhatikan semua sudut rumah. Jika sudah bertemu dengan penculik jangan sampai memancing emosinya. Tugas kamu hanya menyelamatkan Hanum. Jangan pikirkan penculik, dia adalah urusan kami," jelas kapten Nasar dengan tegas.
"Baik," balas Dira dengan singkat.
__ADS_1
Dira dengan kekuatan dan keberanian melangkah maju ke dalam rumah kosong itu. Dia membuka pintu depan dengan hati hati.
Suasana rumah itu sangat tidak terurus. Seluruh sisa perabot dan furniture sudah lapuk dan berdebu.
Ditangan kanan sedang menjinjing sebuah tas besar dengan isi uang 5 miliar. Dira hanya berharap jika uang tebusan ini memang yang diinginkan penculik itu. Dira terus berharap jika penculik bisa menempati janjinya untuk melepas Hanum.
Dira melihat ada coretan tembok dekat dengan tangga besar. Di alas tembok itu tertulis bawakan uang itu ke lantai dua.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dira.
"Ikuti saja setiap instruksi yang telah penculik siapkan," balas kapten Nasar dari balik earphone.
Dira dengan langkah gegap mulai berjalan menyusuri tangga besar itu. Dia pun telah sampai di lantai dua. Namun untuk saat ini belum ada tanda tanda penculik menampakan batang hidungnya.
Dira berjalan menuju arah kanan, disana dia melihat lagi ada tulisan di alas tembok dekat ruang makan.
Taruh saja uang itu di ruang santai keluarga
Setelah melihat instruksi selanjutnya, wanita itu segera mencari ruang santai keluarga. Dia akhirnya menemukan sebuah ruangan besar dengan sofa memanjang.
Ruangan itu terdapat banyak vas bunga dan lukisan pemandangan desa. Dira yakin, jika ini adalah tempat yang di maksud dengan pelaku.
Tanpa pikir panjang lagi, Dira lalu menaruh tas berisi uang 5 miliyar itu di atas meja sofa. Namun, belum ada tanda tanda pergerakan si penculik.
"Aku sudah memberikan uang yang kau inginkan, sekarang saatnya kau harus segera membebaskan Hanum," teriak Dira menggema ke seluruh ruangan kosong itu.
Dira semakin panik, gelisah dan bingung. Sejak tadi dia belum bisa melihat anaknya sendiri. Sebenarnya dimana Hanum?
Sudah tak tahan, dia akhirnya melebur dalam tangisan. Seluruh kekuatan dan kesabarannya hancur seketika. Dia begitu ingin bertemu dengan anaknya saja.
"Dira, kamu harus kuat demi anak kita!" ucap Hary dari ujung earphone yang masih ia pakai.
Sementara itu, di dalam Van polisi. Kapten Nasar, Hary dan dua petugas polisi lainya terus mengamati pergerakan Dira dalam layar. Mereka selama ini terus mengandalkan gerakan kamera kecil yang Dira gunakan.
Kapten Nasar terlihat makin gelisah dan hatinya mulai tidak menentu. Dia mulai merasakan ada hal aneh dan janggal dalam penyerahan uang tebusan.
Tiba tiba layar monitor itu padam. Seluruh listrik di sekitar perumahan itu mati. Bahkan gelombang elektronik apapun tidak bisa berfungsi.
Kapten Nasar dan semua orang di dalam Van mulai panik. Mereka benar benar terkunci di situasi yang tidak bisa melakukan apapun.
Sinyal handphone, internet bahkan benda seperti HT pun sama sekali tidak berfungsi.
"Kapten kenapa ini! tiba tiba semua menjadi gelap dan mati total," ucap Hary dengan gusar.
"Kita harus segera masuk kedalam rumah itu, ini sangat membahayakan istri dan anakmu," ucap kapten Nasar sambil melangkah keluar dari dalam Van polisi.
Sementara itu, Dira masih terkurung di ruangan kosong dan gelap gulita. Akses listrik dan cahaya mati total. Namun dari arah samping kiri, dia melihat ada sebuah cahaya senter mulai menyinari ruangan ini.
Dia melihat ada dua sosok di balik cahaya itu. Kedua orang itu perlahan mulai menghampiri Dira yang sedang berdiri ketakutan.
Dira mulai jelas bisa melihat sosok itu. Mereka adalah Erick dan Jesica. Bahkan dia pun bisa melihat jika Hanum sedang tidur di pangkuan punggung Erick.
"APA?" ucap Dira dengan getaran hebat.
"Kita harus pergi, sebelum polisi akan menyerbu tempat ini," ucap Erick dengan wajah penuh kesedihan.
__ADS_1
"Jadi ini ulah kalian?" tanya Dira dengan wajah tidak percaya.
Erick lalu menurunkan tubuh Hanum di atas sofa. Anak itu masih terjaga dalam tidurnya yang sangat lelap.
Jesica lalu mengambil sebuah vas besar dan melempar vas itu ke arah kaca besar. Akibat pukulan keras itu, suara serpihan kaca sangat terdengar jelas.
Tiba tiba Jesica berteriak lantang dari arah lubang kaca yang telah ia buat sendiri.
"Tolooongg.. Tolooong.. Toloong.. penculik itu kabur," teriak Jesica sekencang mungkin.
"Apa yang kalian lakukan Hah!" sentak Dira dengan marah pada mereka berdua.
Jesica lalu menutup wajahnya dengan masker dan kaca mata hitam. Dia lalu keluar dari arah lubang jendela dan loncat dari balkon lantai dua menuju luar.
"Kita harus segera pergi dari tempat ini," ajak Erick sambil menarik paksa pergelangan tangan Dira.
"Lepaskan aku Erick!" teriak Dira sambil melepas genggaman pria itu.
Dira memandang wajah Erick dengan sangat marah. Kedua bola matanya menyiratkan kebencian dan kekecewaan teramat dalam.
"Kamu pikir aku mau meninggalkan Hanum untuk kedua kalinya?"
"Itu adalah takdirmu sekarang. Kamu sudah sepenuhnya menjadi milikku," balas Erick dengan ekspresi datar.
"Gila kamu Erick, sungguh berhati iblis," celoteh Dira sambil membalikan badan dan menghampiri Hanum yang masih terkapar di atas sofa.
Belum sempat meraih anaknya sendiri, sebuah peluru dari jarak jauh mulai menembus kaca. Suara pelatuk senapan mulai terdengar menakutkan.
Erick mulai menarik paksa Dira yang sedang berposisi tiarap. Pria itu sebisa mungkin harus segera meninggalkan tempat ini.
Dira terus saja meronta ronta, seluruh tubuhnya sudah terkunci rapat oleh Erick. Dia dibawa paksa oleh pria itu menuju sebuah lorong rahasia.
Lorong rahasia itu ternyata menuju sebuah ruangan misterius. Ruangan itu lebih mirip garasi dengan mobil Range Rover Sport terparkir di dalamnya.
Erick kembali menyeret paksa Dira masuk kedalam mobil itu. Tanpa banyak menunggu, mobil itu melaju dengan kencang dan keluar dari pintu luar secara diam diam.
Sementara di luar sana, kapten Nasar mendengar dengan jelas suara pecahan kaca. Dia pun sadar jika ada suara wanita yang menjerit dan berkata tolong.
Saat itu kapten Nasar berpikir jika Dira sedang dalam bahaya. Dia berasumsi jika penculik kabur lewat lubang jendela.
Di dalam kegelapan malam, tanpa adanya banyak bantuan yang memadai. Kapten Nasar memerintahkan pasukannya untuk masuk kedalam rumah besar itu.
Mereka dengan gerakan senyap mengintai, mulai memasuki area penculikan. Mereka berhasil menerobos rumah itu dengan persenjataan lengkap.
Kapten Nasar pun segera berlari menuju lantai dua dan memeriksa ruangan terakhir yang sempat terekam. Dengan bantuan pencahayaan seadanya, mereka bisa melihat jika ada anak kecil sendirian masih tertidur di atas sofa.
Segera pasukan penyelamat mulai mengevakuasi korban penculikan. Mereka lalu membawa Hanum turun untuk di bawa ke mobil ambulan.
Kapten Nasar lalu melihat ruangan sekitar. Tidak ada tanda Dira dan penculik di ruangan tersebut.
Namun dengan jelas dia bisa melihat ada lubang besar di jendela. Dia berpikir jika penculik sedang membawa Dira dari arah lubang jendela itu.
"Cepat kalian kejar pelaku, aku yakin mereka masih tidak jauh dari lingkungan ini," perintah kapten Nasar kepada semua pasukan polisi.
Dengan serentak dan kompak pasukan polisi mengejar jejak pelaku. Mereka segera menyisir di setiap sudut tempat. Baik bagian luar dan dalam mereka terus menyisir tanpa adanya celah sedikitpun.
__ADS_1
Kapten Nasar lalu memperluas daerah pencarian, mereka segera menutup akses gerbang utama perumahan ini.
Bahkan mereka mulai beroperasi di daerah PIK. Polisi terus mengejar kemungkinan adanya orang dengan gerakan mencurigakan.