
Menemukan lagi titik hutan belantara ini cukup sulit. Selain jauh dari perumahan warga, akses jalan tol baru membuatnya cukup sulit untuk melintasi hutan yang sudah tak terjamah.
Berkat adanya jalan tol, akses jalan kecil pinggir hutan sudah jarang di lintasi warga. Kini jalan itu terlihat sangat sepi walaupun di siang hari.
Zaki mulai mengingat tempat ini. Dua tahun yang lalu, dia menerima panggilan warga karena telah di temukan mobil merah yang mencurigakan.
Setelah dilakukan investigasi oleh tim forensik. Mobil ini sangat cocok dengan CCTV penculikan oleh mobil merah di dekat restauran Yummy. Namun sayang, tidak ada sama sekali DNA, sidik jari bahkan sehelai pun rambut yang tertinggal di TKP.
Kejahatan ini terbilang sangat rapi dan teroganisir. Bahkan penjahat dengan sangat apik bisa membuat sebuah rekayasa korban. Penjahat membuat kesan jika korban penculikan telah di makan hewan buas.
Penculik hanya meninggalkan beberapa potong baju korban dengan bercak darah dan robekan gigi tajam hewan. Selain itu, karena desakan dari atasan kepolisian maka dengan mudah kasus ini di tutup begitu saja. Kasus ini dianggap sebagai kasus dingin bahkan belum genap mencapai satu tahun.
Zaki memberanikan diri masuk ke dalam hutan itu. Dia tidak merasa takut ataupun gugup dengan kondisi hutan yang di gosip kan banyak menyimpan hewan buas.
Dia berkeliling dengan susah payah. Kedua matanya mulai menyelediki semua sudut hutan. Dari mulai gundukan tanah, bebatuan besar dan pohon pohon besar yang menjulang tinggi.
Tak sengaja dia sedang menilik pohon Pinus raksasa dari arah samping kiri. Namun entah apa yang sedang ia saksikan, Zaki melihat ada gerakan yang mencurigakan dari ujung dedaunan pohon.
Gerakan dedaunan itu semakin riuh dan berisik. Kewaspadaan Zaki sebagai polisi pun dengan cekatan langsung mengambil pistol. Dia mengacungkan pucuk senapan itu keatas.
"Siapa disana?" teriak Erick.
Tiba tiba muncul seorang kakek tua dari balik dedaunan pohon. Dia pun dengan muka sumringah menatap Zaki yang masih dalam sikap siaga.
"Hai anak muda, tolong tangkap ini," ucapnya dengan sangat mendadak.
Kakek tua itu langsung melemparkan sebuah benda hitam kecil dari atas sana. Dengan sigap tangan Zaki meraih benda itu dengan sempurna.
Zaki melihat sebuah benda kotak berwarna hitam. Benda ini terlihat seperti kamera karena terdapat lensa kecil di tengahnya.
Kakek itu akhirnya turun dengan sendirinya. Dia kemudian berjalan menghampiri Zaki. Kakek tua itu menyapa Zaki dengan sangat ramah.
"Apa kamu polisi?" tanya kakek tua.
Zaki baru sadar, jika pistol itu masih ditangannya. Kemudian dia kembali memasukan pistol itu kedalam tas kecil di rompi sakunya.
"Ahh iya pak, saya Zaki dari kepolisian Polda Metro Jaya," balas Zaki sambil mengulurkan tangan.
Kakek tua itu pun menyambut uluran tangan Zaki. Dia kembali tersenyum padanya.
"Saya Supra, warga di sekitar sini," jawab pak Supra.
"Sebenarnya apa yang sedang bapak lakukan di atas sana?" tanya Zaki dengan penasaran.
__ADS_1
"Aduuh.. bapak jadinya ketahuan polisi dah," celetuk pak Supra dengan wajah malu malu kucing.
"Maksud bapak?" tanya Zaki makin penasaran.
"Baik, bapak kali ini harus berterus terang pada polisi. Ini sebenarnya ilegal, tapi bapak sudah sangat lama sekali memasang kamera trap disekitar hutan ini," jawab Pak Supra sedikit lesu.
"Kamera trap? jadi benda kotak ini yang bapak sebut kamera trap?"ujar Zaki.
Pak Supra pun langsung mengambil kembali kamera trap itu. Dia kemudian memasukan kamera trap ke dalam tas kecil.
"Hobi bapak adalah berburu hewan liar. Untuk mengetahui setiap gerak gerik hewan liar di hutan ini, bapak diam diam sudah banyak memasang kamera trap di atas pohon hutan. Yah, bagaimanapun caranya kamera itu harus tersembunyi dari pengawas hutan dan satwa," jawab Pak Supra dengan pasrah.
Zaki mulai mengingat laporan hasil investigasi. Dia yakin sekali jika tidak ada barang bukti berupa kamera trap yang tertulis. Sepertinya petugas forensik saat itu tidak menyadari jika banyak kamera trap yang terpasang di lokasi kejadian.
"Apa bapak tahu dengan kasus mobil merah dua tahun lalu pernah terjadi di hutan ini?" tanya Zaki serius.
"Oh kasus itu yah... tentu bapak ingat. Tapi saat itu petugas polisi tidak mengambil satupun kamera trap di hutan ini," jawab pak Supra.
"Apa bapak masih menyimpan rekaman dari kamera trap pada saat kejadian?"
"Tentu, bapak masih menyimpan memori rekaman itu dengan sangat rapih," jawabnya dengan semangat menggebu.
"Izinkan aku untuk melihat rekaman itu, dengan sangat mohon pak Supra," pinta Zaki dengan ekspresi tegang dan sedikit khawatir.
Keesokan harinya setelah penemuan Andi dan Zaki. Mereka dengan sigap segera mengadakan rapat dadakan dengan semua anggota unit kejahatan umum.
Ada sekitar 15 orang petugas polisi yang sedang berkumpul di ruang rapat. Di depan mereka kini hadir Zaki sebagai orang yang akan memimpin rapat ini.
"Rapat ini sangat darurat, karena sekarang kita akan memprofilingkan pelaku penculikan kasus mobil merah," jelas Zaki di hadapan semua orang.
Sontak semua petugas polisi menjadi riuh. Mereka sangat terkejut karena tragedi ke gagalan operasi pembebasan Hanum saja masih menghantui mereka.
"Apa kau serius! jika kamu salah lagi, bisa bisa tim ini akan di bubarkan. Kapolda sangat marah karena kita masih belum bisa menemukan wanita itu ( Dira )!" teriak kapten Nasar
"Maka dari itu izinkan saya untuk menjelaskan sekarang," ucap Zaki sambil fokus pada layar presentasi di depanya.
Layar itu kini berubah menampilkan sebuah foto pria dengan memakai jas mahalnya. Kapten Nasar lalu menilik dengan fokus foto itu.
"Sesuai dengan bukti baru dan penemuan kami selama ini, pria ini lah yang sudah terbukti menjadi pelaku penculikan mobil merah," jelas Zaki dengan penuh keyakinan.
"Sepertinya aku tidak asing dengan wajah ini," timbal salah satu petugas polisi.
"Dia adalah Erick Wijaya Salim, CEO sekaligus founder dari Denka Group. Di usianya yang sudah mencapai 29 tahun sudah sukses membangun bisnis teknologi di tanah air.
__ADS_1
Pria ini adalah keturunan keluarga konglomerat Indonesia, dia anak semata wayang dari hasil pernikahan pak ketua Tomi dan isteri pertamanya. Kedua orang tua Erick adalah pemilik dari Sinar Harapan Group," jelas Zaki sambil menampilkan gambar silsilah keluarga Erick secara detail.
Kapten Nasar menghembuskan nafas panjang. Dia masih tidak percaya jika sasaran Zaki memang dari keluarga super kaya dan berkuasa di negri ini.
Jika ini terbukti benar, maka sekarang unit kejahatan umum sedang membidik ikan besar. Ini akan sulit dan terjal untuk bisa menyeret anak bersendok emas itu.
"Apa kamu bisa menunjukan bukti langsung jika pria ini telah melakukan penculikan?" tanya kapten Nasar.
Zaki pun langsung memutar sebuah video pendek dari depan layar. Semua orang sedang menyaksikan video itu dengan sangat penasaran.
Di dalam video itu, tepat dimana berlangsung kejadian dan waktu mobil merah terjadi. Di jalan lengang tiba tiba melintas mobil merah dengan pelan. Mobil itu diparkirkan di pinggir jalan dekat dengan hutan.
Terekam jika ada seorang pria memakai jaket hitam dan sepatu yang di bungkus dengan plastik. Pria itu masuk kedalam hutan.
Zaki pun kembali menampilkan potongan video baru. Kali ini video terlihat sangat jelas, jika pria yang keluar dari mobil merah itu sedang menaruh banyak potongan kain baju di berbagai titik.
Saat akan mendekati pohon, pria itu kembali terlihat jelas. Bahkan wajahnya tampak sekali tergambar dengan jernih. Pria yang tak sengaja tertangkap kamera trap dari pak Supra ini memang membuktikan jika pria itu adalah Erick.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Erick kembali ke tepi jalan kecil itu. Dia mulai mengecek mobil dengan gerakan putar balik. Tak lama setelah itu, datang mobil Mercedes- Benz menghampiri Erick di pinggir jalan. Kemudian Erick masuk mobil itu dan membawanya pergi meninggalkan hutan.
Semua anggota polisi sontak makin riuh dan tercengang. Bukti akurat yang sudah tidak bisa dibantah ini sangat kuat menjadikan Erick sebagai tersangka.
"Darimana kamu dapat rekaman ini?" tanya kapten Nasar sedikit nyolot.
"Aku mendapatkannya secara tidak sengaja dari seorang pemburu hewan liar. Dia selama ini sudah banyak memasang kamera trap di lokasi kejadian selama bertahun tahun," balas Zaki.
"Lalu siapa mobil tadi yang menjemput Erick?" tanya kapten Nasar.
Zaki kemudian menyuruh Andi untuk bergantian menjelaskan mobil itu. Dia kini sedang berdiri di samping layar proyektor. Tampilan slide presentasi berubah, kini dia sedang menunjukan sebuah gambar mobil di dalam sebuah garasi.
"Mobil ini telah di temukan di salah satu kediaman adik pelaku. Mobil ini sempat dipakai oleh adik pelaku dan menyimpannya secara rahasia.
Pemilik mobil ini adalah Jesica, sekertaris pribadi Erick di perusahaan. Namun untuk data pencarian transaksi mobil di pesan oleh salah satu karyawan organisasi payung putih, sebuah organisasi CSR perusahaan Denka group.
Pemilik mobil ini terbukti sebagai kaki tangan pelaku dalam melancarkan aksinya. Mobil ini pun terbukti dan terekam jelas berada di lokasi kejadian," jelas Andi.
"Bagaimana laporan tim forensik dengan mobil tersebut?" tanya kapten Nasar.
Andi kemudian menampilkan slide baru, dia menunjukan hasil terbaru dari laporan otopsi mobil Mercedes Benz.
"Terdapat banyak sekali jejak kejahatan yang tertinggal di dalam mobil. DNA korban, sidik jari pelaku dan barang korban yang masih tertinggal di mobil," balas Andi.
"Kapten ini sudah sangat jelas, semua bukti kuat mengarah pada dua pelaku ini. Erick adalah penjahat utama dan Jesica sebagai kaki tangan kasus ini," celetuk Zaki kepada kapten Nasar.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera meminta surat penangkapan dan penggeladahan kepada kejaksaan. Lebih cepat akan lebih baik," ucap kapten Nasar sambil mengeluarkan HP untuk menelepon petugas jaksa.