
Aku sedang duduk di kursi meja komputer. Banyak diam dan semua menjadi tidak bergairah. Masa muda ku sudah hancur secara dini alias prematur.
Belum apa apa, hati ku sudah remuk terlindas ekskavator. Masih usia 17 tahun, saat itu aku malah banyak menghabiskan waktu dengan melamun. Isi pikiran ku habis oleh urusan wanita.
Tidak ada sweet seventeen, tidak ada cerita dengan sahabat sekolah, tidak ada kenangan masa remaja yang penuh semangat.
Yang ada hanya sederet kisah hidup penuh kegagalan. Aku hanya seroang pemuda yang selalu kalah dari apapun.
Aku pernah merasakan kalah dari ibu tiri ku yang jahat. Aku selalu kalah dari ayah ku yang otoriter dan kali ini adalah sebuah kekalahan terhebat dari hidupku.
Aku kalah dalam urusan asmara. Harus nya aku sadar, jika aku bukan pilihan hati seorang wanita bernama Dira.
Dia seperti nya sudah memilih orang lain. Dia memang dari awal tak pernah menganggap bahwa aku adalah pria.
Aku hanya sebatas anak kecil lucu dan polos. Aku belum bisa menjadi pria sejati di mata nya.
Lamunan ku buyar seketika oleh dering telepon, kulihat layar jika nomor Jesica terus saja menghubungi tanpa henti.
Tapi aku memilih untuk mengabaikan, aku sedang tidak berselera terus berdebat masalah kuliah di Amerika.
Pandangan ku mulai tertuju pada keyboard komputer yang telah ku rusak kemarin. Setidak nya, aku harus memperbaiki apa yang telah ku hancurkan.
Setidak nya semua harapan ku belum hancur, aku melihat ada sebuah harapan kecil di dalam deretan tombol keyboard itu.
****
Sore hari aku sedang berada di sebuah toko perbaikan komputer. Disana ada Ko Alex yang selalu menjadi langganan ku.
Dia sangat pintar dalam perakitan komputer, tak jarang aku selalu banyak belajar dari nya. Dia juga sangat baik padaku, tak pernah sungkan untuk membagi ilmu nya yang mahal.
"Nih udah bener, awas dirusak lagi," kata Ko Alex dengan senyum.
Aku senang, karena akhirnya keyboard kesayangan ku sudah sembuh total. Selama ini aku biarkan dia rusak karena terlalu fokus pada urusan wanita.
"Thanks ya Ko," jawab ku dengan rasa penuh hormat.
"Yu mau kuliah dimana? Denger dari Jesica mau ke Amerika?" tanya dia dengan wajah penasaran.
"Gak tau ko, bingung gw. Takut gak nyampe otak nya," balas ku dengan senyuman tengil.
"Ah masa Erick kaya gitu. No gak bisa, yu harus kuliah kesana. Kamu cerdas, beda dan berani," ucap Ko Alex dengan wajah penuh keyakinan.
"Masa sih ko?" tanya ku dengan serius.
"Alaah udah pergi saja sana, bosan ko lihat yu terus main ke sini mulu," ledek Ko Alex dengan tawa nya yang selalu santai.
*****
Arah perjalanan pulang dari tempat Ko Alex, aku mulai kembali merenungkan segala nya. Tentang tujuan ku selama ini berkecimpung dalam dunia komputer, programming, developer dll.
Sambil berjalan menyusuri trotoar dekat mall. Aku dikagetkan oleh sosok wanita yang berdiri menghadang jalan ku dari arah depan.
"Ka Dira," ucapku dengan pelan.
Dia tersenyum sangat lebar, mata nya melotot dan pipi nya merah. Dia berjalan menghampiri ku dengan langkah yang indah.
"Hei Reza, wah kita bisa ketemu ya disini," ucap nya sambil menyentuh bahu ku dengan ramah.
Aku grogi dan malu, tidak tahu harus berbuat apa. Antara senang dan sedih, keduanya saling bertabrakan akhir akhir ini.
"Ya aku baru ke dalam sana, habis service keyboard komputer," jawabku dengan sangat canggung.
"Oh gitu, mmmmm gimana kalau malam ini kamu temenin aku makan malam, tenang aku yang traktir," ajak Dira dengan wajah penuh harap.
Aku belum merespon, tentu aku sangat ingin menerima ajakan itu. Hanya saja aku masih bingung mengungkapkan segala nya dengan bebas.
__ADS_1
Aku selalu saja bersikap kikuk dan canggung di semua situasi dengan Dira. Sangat susah untuk berbaur nya secara santai.
"Ok," balas ku dengan anggukan yang terlihat sangat di jual mahal. Padahal dia tidak tahu jika hati ku sedang melayang layang ke udara.
****
ini adalah momen sangat bersejarah. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Dia ternyata mengajak ku makan di sebuah resto Jepang kelas menengah bawah.
Dia terkadang bersikap ceroboh dan bodoh, tapi sisi lain dia bisa bersikap sangat keibuan. Dia dengan sangat bijak mencari jenis menu yang cocok dengan usia ku yang masih muda.
"Ini nih banyak daging, kamu harus makan ini ya, biar sekolah nya nanti pintar," kata Dira sambil menunjuk sebuah gambar makanan bertuliskan Gyu Katsu.
Aku diam saja, hanya menikmati wanita itu bertingkah dengan penuh perhatian.
"Ini tambah tempura sama salad nya di banyakin," perintah nya dengan sangat cerewet khas ibu ibu komplek.
"Makan banyak, jangan sampai sakit, nasi nya habiskan," ucap Dira dan dia masih saja sibuk sendiri dengan buku menu.
"Kalau ka Dira, makan apa?" tanya ku dengan penuh keberanian.
"Aku? sushi aja, lagi diet soalnya," balas dia dengan wajah malu.
Akhirnya dia selesai juga memesan makanan. Dia lalu duduk dengan nyaman di kursi itu. Kali ini dia menatap ku dengan serius.
"Gimana sekolah nya lancar?" tanya Dira dengan tiba tiba.
"Lancar."
"Masih suka main komputer ya, aku sering banget lihat kamu sendirian di kamar cuman duduk di depan komputer, emang gak sakit ya mata nya," tanya Dira terus menerus.
"Enggak, hobi aja."
"Oh hobi, dapat uang dari sana?"
"Iya."
"Bukan."
"Lah? Terus ngapain? Edit foto kan."
"Bukan juga."
"Terus apa dong?"
"Coding."
"Ah apaan tuh?"
"Bikin website, aplikasi, layanan bisnis, dan masih banyak lagi."
Kedua mata Dira melotot, dia menampakan wajah tidak percaya.
"Wih, canggih banget. Asik dong kerja nya kaya Doraemon."
"Ko Doraemon."
"Kan dalam kantong ajaib nya keluarin benda dari masa depan. Kaya kamu nih kerja terus di depan komputer, bisa jadi nanti 10 atau 20 tahun yang akan datang bakal jadi sesuatu yang sangat canggih."
Saat itu aku masih belum mengerti dengan semua perkataan Dira. Aku hanya menganggap nya sebagai lelucon orang gaptek.
Aku hanya bisa tersenyum saja, seakan aku memang mengerti segala maksud nya. Padahal saat itu aku tidak terlalu memikirkan ada apa dengan Doraemon.
"Jadi kamu harus menjual masa depan, kaya Doraemon Hahahahaha...." kata dia sambil tertawa terbahak bahak.
"Oh i-y-a Doraemon," jawab ku dengan pelan dan heran.
__ADS_1
Sambil memberikan sebuah peragaan, tangan nya masuk kedalam saku Jaket depan. Dia lalu seraya berkata sambil meniru suara khas Doraemon.
"Baling Baling Bambu," kata dia sambil berpura pura meletakan baling bambu diatas kepala nya.
Aku tertawa kali ini, dia memang sangat lucu. Aku cukup terhibur dengan guyonan super garing ok nya.
Dia kembali memasukan tangan nya ke dalam saku depan. Lalu mengeluarkan tangan nya ke atas.
"Kotak ajaib pengantar makanan," kata dia semakin mirip dengan suara Doraemon.
Aku makin tertawa, aku tidak bisa menahan nya. Dia semakin bertingkah lucu.
"Ojek kemana saja..."
"Ko Ojek sih ka, bukan nya pintu kemana saja," tanya ku sambil menahan tawa dan perut yang sudah ikut mengelitik.
"Yah kan paling cepat ojek ketimbang pintu, banyak tuh ojek mangkal kalau pintu berat bawa nya HAHAHA.. "
Kami pun tertawa bersama, saling menatap satu sama lain dengan dekat.
Aku makin jatuh cinta dengan nya. Dia begitu sangat unik dan spesial.
Tuhan, kalau begini aku tak bisa melepas nya begitu saja. Apa memang benar aku harus menolak Amerika demi wanita seperti dia?
*****
Sekitar jam 10 malam kami baru selesai makan. Saat itu juga aku dengan semangat menghabiskan semua pesanan yang telah Dira kasih gratis untuk ku.
Ini adalah makanan Jepang terbaik yang pernah aku rasakan. Aku sangat menikmati nya, aku sangat suka.
Kami berdua sedang duduk di depan minimarket, disana kami menghabiskan beer dan rokok.
Suasana hening dan sepi. Tiba tiba perasaan ku jadi tak menentu. Apakah ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaan yang telah lama terpendam.
Apakah ada kesempatan dalam relung hati nya untuk diriku?
Bisakah dia memahami bahwa ada cinta yang tulus dari bocah anak SMA?
"Mmm aku boleh ngomong gak," tanya ku dengan sangat takut.
"Oh iya, ngomong aja langsung. Aku siap ko," balas Dira dengan sangat cepat. Tanpa dia tahu jika sebentar lagi aku akan menyatakan perasaan cinta ini.
"Mmmmmm...."
"Apa sih Reza. Ko jadi takut," ucap Dira dengan nada bercanda.
Tiba tiba ada suara HP berbunyi, dia lalu menjawab panggilan masuk.
"Aku disini, iya ini sama Reza. Ini lagi duduk saja di minimarket," kata Dira.
Konsentrasi ku terpecah belah, aku sudah tidak fokus. Lalu kuperhatikan jika Dira mulai melambaikan tangan dari arah jalan sebrang.
Aku melihat arah tangan itu melambai dan disana Hary sedang berjalan menuju tempat kami.
"Reza, tuh walikelas kamu datang," ucap Dira dengan sangat girang.
"Pak gu-ru," balas ku dengan gugup.
"Sekarang kami udah pacaran loh."
"Pacar?"
"Iya, aku bahagia banget, akhirnya aku bisa ketemu pria sebaik Hary."
Aku tertegun, semua nyali dan keberanian ku mendadak hilang sekejap. Disaat itu juga hati ku mendadak sangat sakit.
__ADS_1
Ternyata aku sudah di campakan sebelum menyatakan cinta.
Sungguh tragis!