AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Titik Terang


__ADS_3

Di sebuah gang sempit dan kumuh, Zaki dan Andi sedang berjalan menyusuri deretan rumah sempit. Tujuan mereka akhirnya telah sampai, kini mereka sedang berdiri di sebuah pintu kayu keropos.


Andi mengetuk pintu dan memanggil si pemilik rumah.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara pintu terus terdengar, namun pemilik rumah masih belum menampakan batang hidungnya sama sekali.


Andi melayangkan wajah pasrah, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Namun Zaki tidak menyerah, dia harus segera bertemu dengan keluarga mendiang Marisa Lestari, pemilik mobil Mercedes Benz.


Kali ini Zaki terus mengetuk pintu lebih kuat. Dia ingin membuat kegaduhan sampai pemilik rumah keluar.


Dan akhirnya seorang ibu yang sudah tua membuka pintu itu. Wajahnya sudah banyak keriput, helaian rambut mulai putih namun matanya tegas memancarkan ketidaksukaan.


"Kalian lagi," ucap ibu itu dengan kesal.


"Bu mohon izin kami untuk masuk dan melihat kamar Marisa," ujar Zaki dengan serius.


"Apa yang ingin kalian inginkan dari anak malang itu hah! dia sudah tenang di alam sana tapi kalian masih saja menganggu anak itu," balas ibu dengan marah.


"Kami sangat mohon sekali, ini sangat kami butuhkan untuk mencari petunjuk baru," ucap Zaki sambil memelas.


"Cukup! anaku sudah menjalani hidupnya dengan banyak penderitaan. Tidak mungkin dia berbuat jahat sampai polisi terus saja memburunya. Aku harap kalian tidak pernah menginjak tanah ini," gumam ibu itu dengan wajah sedih.


"Saya mohon bu," ucap Zaki tidak menyerah.


Kemudian dengan sangat tiba tiba, ibu tua lalu membawa panci dan langsung melemparkannya ke arah dua polisi itu.


Tak hanya panci, banyak perabotan rumah terus dia lempar dengan kasar. Ibu itu bersih keras untuk menghalau polisi mengusik rumahnya.


Kegaduhan tersebut menimbulkan banyak perhatian dari tetangga sekitar. Mereka sedang menyaksikan pertengkaran hebat antara orang tua dan dua pria muda.


Tidak bisa lagi memaksa, Zaki akhirnya memilih mundur dan meninggalkan rumah itu.


Andi merasa kasihan dengan seniornya, baru kali ini citra sebagai polisi hebat runtuh karena lemparan panci.


"Apa senior baik baik saja?" tanya Andi dengan resah.


"Ini sudah sering terjadi, jangan terlalu khawatir," balas Zaki dengan senyum santai.


Saat mereka sedang berjalan kembali menuju mobil, tiba tiba ada seorang ibu tua lainya menghampiri mereka berdua. Wajah super kepo itu terlihat ingin sekali menggali informasi dari polisi.

__ADS_1


"Maaf kalian tadi kenapa ya datang ke rumah ibu Surti? Memang ada masalah apa?" tanya ibu tua itu dengan wajah penasaran.


"Apa ibu mengenal Marisa?" tanya Zaki.


"Ohhh anak malang itu yah. Tentu ibu sangat kenal. Bahkan putri ibu pernah bekerja dalam sebuah organisasi dengan Marisa," jawab ibu tua dengan bangga.


"Organisasi? di mana mereka pernah bekerja?" balas Zaki dengan penuh selidik.


"Ahh.. ibu gak tahu apa nama organisasinya. Pokoknya organisasi itu baik banget," ujar ibu tua.


"Apa saya boleh bertemu dengan anak ibu?


"Tentu boleh boleh, ayo masuk masuk.." jawab ibu itu dengan ramah.


****


Zaki dan Andi malah bertamu di sebuah rumah asing lainnya. Ibu tua itu lalu memperkenalkan anak perempuannya yang sedang menggendong anak usia satu tahun.


Nama anak perempuan itu adalah Ajeng, tetangga sekaligus teman Marisa sejak dahulu.


Marisa menceritakan jika dia dan Marisa pernah bekerja di sebuah organisasi peduli wanita pengidap kanker.


Sebuah organisasi yang didirikan oleh yayasan amal dari sebuah perusahaan besar. Organisasi itu menampung para wanita yang menjalani hidup sebagai penderita kanker. Organisasi itu disebut Payung Putih.


Zaki melihat sosok Marisa dan Ajeng sedang duduk bersampingan dengan wajah ceria.


"Apa yang kalian lakukan di gereja ini?" tanya Andi.


"Kami diberi upah oleh Payung Putih untuk melaksanakan acara kerja bakti di halaman gereja. Biasanya kami menyediakan makanan dah pengobatan gratis untuk para lansia dan anak jalanan," jelas Ajeng dengan lugas.


"Marisa hanya bertahan satu tahun bekerja disana karena dia harus melawan kanker payudara sampai akhirnya meninggal. Sedangkan aku memilih untuk keluar karena memutuskan menikah," tambah Ajeng.


Zaki pun menunduk paham. Dia sangat tahu jika pernyataan Ajeng adalah sebuah kejujuran. Mungkin akan ada secercah titik terang dari info sekecil ini.


Andi dan Zaki pamit pergi, mereka pun meminta izin untuk mengambil foto itu. Setelah berpamitan dari rumah ibu tua, mereka segera masuk kedalam mobil.


Di dalam mobil, mereka mulai berdiskusi dengan penemuan terbarunya. Zaki meyakinkan Andi untuk segera menggali informasi dari organisasi payung putih.


Zaki sangat yakin jika identitas Marisa yang sudah meninggal, telah dipergunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


Bahkan Zaki sudah menduga, jika pencurian identitas ini dilakukan oleh penjahat mobil merah. Organisasi Payung Putih adalah titik awal mereka bisa meluruskan benang merah yang sudah lama kusut.

__ADS_1


****


Di sebuah kantor yang cukup rapi dan besar, kedua polisi itu sedang duduk di atas sofa. Mereka akan meminta keterangan dari kepala divisi pelayanan publik dari Sinar Harapan Group.


Mereka telah mendapatkan informasi valid, jika organisasi Payung Putih didirikan oleh CSR ( Corporate Social Responsibility ) dari Sinar Harapan Group.


Sinar Harapan Group adalah sebuah perusahaan raksasa yang telah lama berkecimpung di industri makanan dan minuman di Indonesia.


Karena perusahaan yang melahirkan keturunan konglomerat itulah, membuat Zaki tambah yakin dengan profiling pelaku.


Pelaku berasal dari orang kaya raya. Walaupun sejauh ini Zaki tidak tahu dari level sosial mana penjahat itu berada.


Pria memakai jas hitam duduk di depan mereka. Dengan penuh senyum dan keramahan dia menyambut kedatangan polisi.


"Mohon maaf telah menunggu lama, saya Agung kepala divisi pelayanan publik. Untuk pak polisi apakah ada yang bisa saya bantu dari perusahaan ini?" tanya Agung dengan terbuka.


Tak usah banyak menunggu, Zaki lalu mengeluarkan sebuah foto di atas meja. Dia lalu meminta Agung untuk melihat foto tersebut dan menganalisisnya.


"Apa pak Agung tahu siapa wanita ini?" tanya Zaki sambil menunjuk wajah Marisa.


Agung mulai menilik dengan detail wajah cantik Marisa. Namun ekspresi Agung menunjukan kebingungan.


"Maaf pak, jujur saya tidak tahu siapa wanita itu. Tapi untuk seragam tentu saya tahu. Dia dan teman temanya bekerja di Payung Putih," jelas Agung.


"Apa organisasi ini masih ada?" tanya Andi dengan serius.


"Untuk Payung Putih sayangnya perusaan kami sudah lama melepas dan tidak mendanai lagi organisasi itu," jawab Agung dengan penuh keyakinan.


"Apa masalahnya dan sejak kapan?" tanya Andi kembali.


"Mmmm.. banyak rumor yang beredar. Jika istri kedua Presdir lah yang tidak setuju jika organisasi ini masih berdiri. Karena payung putih sudah didirikan lama oleh mendiang istri Presdir yang pertama, itu terjadi sejak empat tahun yang lalu," ujar Agung.


"Ahh.. ternyata sudah bubar," gumam Zaki dengan wajah kecewa.


"Enggak ko, organisasi ini masih ada. Hanya saja Payung Putih sudah diakusisi keberadaan dan tanggung jawab oleh anak putera pertama Presdir," sangkal Agung.


"Akusisi? oleh siapa?" tanya Zaki makin penasaran.


"Mmmmm kalau gak salah anak laki laki Presdir adalah CEO dari Denka Group, namanyaa..." ucap Agung sambil berusaha mengingat sebuah nama.


"Erick, ya ya saya baru ingat sekarang," jawab Agung dengan wajah sumringah.

__ADS_1


"Erick Wijaya Salim, itu nama anak Presdir," ujar Agung kembali.


__ADS_2