AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
PINTU NERAKA


__ADS_3

Sinar matahari masuk kedalam celah jendela, memantulkan seberkas cahaya yang menyilaukan.


Kedua mata Dira mulai terbuka, seketika tubuh nya terasa lebih sehat karena sentuhan hangat nya pagi.


Perlahan dia mulai meregangkan otot nya yang terasa sangat kaku, sebuah handuk kecil jatuh dari atas dahinya.


Pluk!


Dia mengambil handuk kecil dengan tatapan aneh, sejak kapan handuk itu bisa menempel di dahinya.


Dia mulai melihat ke arah samping, ternyata ada Erick sedang duduk tertidur di samping kasur nya.


Kepala nya bersandar pada sisi kasur dan tangan kanannya terlentang begitu saja.


Pria itu mulai mengikat pandangan nya, Dira dengan seksama melihat wajah Erick yang tampan.


Mata nya yang tertutup, bulu mata yang lentik dan rambut nya yang sedikit kasar.


Ada apa ini? hanya dengan melihat bibir merah nya saja bisa menguatkan gairah.


Dira tidak tahu, kenapa pria itu bisa tidur dekat ranjang nya.


Bahkan Dira tidak tahu, bagaimana harus mengontrol perasaan yang menggebu ini.


Erick akhir nya bangun, dia lalu mengangkat badanya. Pria itu melihat Dira sudah sadar, ia senang melihatnya.


Lalu Erick tersenyum lebar.


Kedua matanya menyilaukan, indah.


Hanya karena sebuah senyuman khas, Dira jadi salah tingkah. Dia merasa gugup.


Lalu Erick mengangkat tangan kanan nya, dia menempelkan telapak tangan di dahi wanita itu.


"Seperti nya demam mu sudah turun," kata Erick dengan sangat lembut.


"Apa yang terjadi? apa aku demam?" tanya Dira dengan wajah penasaran.


"Semalam aku melihat mu tertidur sambil mengeluarkan banyak keringat, saking tinggi suhu tubuh, kamu sampai ngingau," jelas Erick dengan penuh perhatian.


Ahhh, ini ternyata alasanya kenapa sebuah handuk kecil bisa menempel di atas jidat nya.


Sungguh, Dira tidak menyadarinya, dia tidak tahu.


"Maaf merepotkan, terimakasih sudah merawat ku," jawab Dira dengan malu, ia selalu saja menundukkan pandangan.


Mendengar perkataan maaf, Erick membalasnya dengan senyuman. Dia lalu perlahan menyentuh rambut Dira dan mengaitkannya ke telinga.


"Kamu sangat menggemaskan," kata Erick.


Erick lalu bangkit berdiri, dia berjalan ke arah kamar mandi. Terdengar oleh telinga Dira, pria itu sedang memutarkan air keran.


Pria itu keluar dari kamar mandi, dia lalu membuka lemari baju. Dia sedang memilih deretan stelan baju wanita yang berjejer rapih.


Dia lalu mengeluarkan satu dress panjang, berwarna kuning dengan motif bunga bunga Krisan putih.


Dress kuning itu lalu ia taruh di pinggir kasur.


"Setelah mandi air hangat, aku ingin kamu memakai baju ini," pinta Erick dengan tatapan manisnya.


"Kenapa aku harus memakainya? tanya Dira terheran heran.

__ADS_1


"Pakai lah, akan sangat terlihat cantik jika kamu yang memakai ini. Demi aku, tolong," ucap Erick dengan tatapan manja.


****


Selesai mandi Dira lalu memakai dress kuning itu. Sekilas dia melihat tampilan nya di atas cermin besar.


Cantik, ungkap nya dalam hati.


Dia lalu menggerakkan dress itu ke kanan dan kiri, seolah dia sedang melakukan sebuah pemotretan baju.


Apa yang sedang Erick pikirkan? Kenapa tiba tiba dia bisa memilihkan baju untuk dirinya sendiri.


Entahlah, wanita itu tidak peduli. Hanya saja kali ini, hati nya merasa sangat menyukai perhatian Erick.


Dira keluar kamar, dia lalu berjalan masuk kearah kamar Erick di sebelah.


Dari depan pintu, dia melihat punggung Erick yang berotot sedang memasukan satu persatu kancing kemeja nya.


Dia begitu menawan, dia begitu sangat baik menjaga postur tubuh yang sangat sempurna ini.


Oh tidak, perasaan apa ini? Tiba tiba seluruh ketegangan dalam otaknya mulai menganggu konsentrasi nya.


"Erick, aku tidak tahu kamu belum selesai berpakaian," ucap Dira dari arah depan pintu.


Erick membalikan badan, tiba tiba kedua pupil mata Erick membesar saat melihat Dira memakai dress kuning.


Dia berjalan menghampiri Dira yang terlihat sangat menawan dan anggun.


Kedua tangan Erick lalu menyentuh pundak Dira dengan lembut.


Saat itu juga, bulu kuduk Dira merinding di buatnya. Seluruh sentuhan Erick seketika merangsang seluruh hasrat nya.


"Kamu cantik, aku sangat menyukainya," kata Erick dengan tatapan puas dan senang.


Lagi dan lagi, Erick terus menyerangnya secara brutal. Senyuman manis, tatapan hangat, sentuhan yang membuat nya sangat nyaman.


Dia terus tanpa henti mengikat perasaan wanita lemah itu. Menjerat nya sampai ke ulung hati paling dasar.


Erick lalu memperhatikan helaian rambut nya, terlihat masih basah.


"Rambut kamu masih basah, aku bantu keringkan," ucap Erick.


"Aaah ini aku tadi cari pengering rambut, tapi di kamar sana gak ada," balas Dira dengan sangat kaku.


"Aku punya, kamu tunggu disana. Aku ambil dulu ya," ucap Erick dengan ramah.


Dira mengangguk saja, dia kali ini menjadi sangat penurut. Kakinya melangkah menuju ranjang, hanya itu tempat ternyaman untuk duduk menunggu Erick.


Erick datang dengan membawa satu pengering rambut, ia tersenyum sambil duduk di samping Dira.


"Aku keringkan ya," ucap Erick sambil menyalakan pengering rambut.


Kini mereka saling berhadapan, tubuh Erick begitu sangat dekat dengan nya. Tangannya lalu menyentuh helai demi helai, dia menggosokan rambut Dira sampai benar benar kering.


Dira terhipnotis, dia merasakan sebuah sensasi yang mendebarkan.


Sial, dia sangat tertarik dengan kedekatan ini. Semua pesona yang dimiliki Erick mendadak bisa meluluhkan Ego nya.


Wajah mereka semakin dekat. Tarikan nafas mereka saling beradu dan mata mereka berebut pandang.


Erick lalu mematikan pengering rambut, hilang nya suara bising mesin itu malah membuat suasana makin tidak karuan.

__ADS_1


Bibir Erick tersenyum, dia menatap Dira dengan sangat mempesona. Matanya tajam namun candu, Dira tersipu oleh nya.


Ketika merasa malu dan terpojokkan, Dira selalu menundukkan kepalanya. Hal itu membuat Erick tidak suka, dia ingin Dira selalu berani menatapnya.


Erick mengangkat wajah Dira, dia melihat dengan jelas mata nya yang bersinar dan bibir merah menggoda.


Hanya saja Dira belum siap, dia lalu memalingkan wajahnya. Dia menolak Erick dengan gerakan tangan.


Lagi, Erick hanya tersenyum penuh misteri. Dira melihat nya lagi lebih dalam.


Dia harus mencoba nya sekali lagi. Tidak ada yang salah dan harus disesali. Dia sudah terlanjur membuka pintu neraka nya sendiri.


Dengan senyap, tangan Dira yang kurus perlahan menyentuh bibir Erick.


Dia penasaran, dia hanya ingin menyentuhnya lebih dekat, lebih lama, lebih sesering mungkin.


Dia lalu menyodorkan sebuah ciuman manis untuk Erick, dia ingin memulai nya. Hanya dengan satu kecupan, butuh beberapa detik saja, dia harus meyakinkan dirinya sendiri.


Ciuman itu penuh dengan dosa, dia menyadarinya, namun dia terus saja menginginkan nya.


Ciuman itu seperti kokain, jika kamu sudah kecanduan tidak ada lagi yang bisa menghalangi nya.


Erick terdiam, namun hati nya tengah melayang layang ke angkasa. Dia tanpa sadar, kembali membalas ciuman itu.


Mereka kembali melakukanya, saling membalas ciuman. Kali ini, lebih tenang, damai tanpa sebuah paksaan.


Kedua tangan mereka saling memeluk, Dira terus mendekap punggung Erick yang kekar. Sedangkan tangan Erick meraba setiap gerakan rambut yang bergoyang.


Tiba tiba, Erick membuka tali dress yang mengikat di atas bahu. Dia segera menurunkan tali itu ke bawah, dia bergeser mencium pundak Dira dengan hati hati.


Wajah Dira mengarah keatas, dia memperlihatkan sebuah ekspresi kenikmatan tiada tara.


Kali ini dia biarkan setengah baju nya terbuka, dia sudah tidak peduli apapun. Dia hanya ingin Erick menyentuh setiap inci kulitnya.


Dari arah belakang, Erick sedang mencoba untuk membuka pengait bra, dia ingin melihat wanita itu telanjang. Dia ingin segera menikmati indah nya sebuah dada wanita.


Setelah berhasil melepas bra, Erick mendorong nya ke atas kasur. Mereka saling berciuman tanpa henti, mereka terus melanjutkan setiap adegan erotis dengan sempurna.


Tak lupa, Dira membantu Erick untuk melepaskan kancing kemeja satu persatu. Biasanya terlihat mudah, namun saat bercinta terasa sangat sulit dan hanya membuang waktu saja.


Setelah berhasil melepas kemeja, Dira dengan cekatan terus memeluknya tanpa henti. Mengelus, meremas kulit pria itu dengan sangar.


Dira di mabuk kepayang, dia sudah tergila gila dengan Erick. Dia sejenak berhenti mencium Erick, dia coba untuk merubah posisi ke duduk dan Erick pun mengikutinya.


Beberapa detik, Dira membeku. Entah apa yang sedang ia coba pikirkan, tapi pandanganya hanya fokus melihat celana Erick yang masih tersegel rapih.


Dia lalu mencoba untuk membuka kancing celana Erick, namun tiba tiba..


Dia malu, sekilas dia mengingat Hary.


Wajahnya merah padam, dia berkeringat dengan deras.


Sekejap Dira lalu bergerak meninggalkan ranjang itu, dengan cepat dia menutupi dada nya yang telanjang dengan selimut.


Sebelum meninggalkan Erick sendiri di atas ranjang, Dira perlu menyampaikan sesuatu.


"Maaf Erick, aku lupa, waktu nya minum obat."


Lalu ia pergi begitu saja.


Erick tentu merasa kecewa, kesal dan marah. Hanya saja dia bukan tipe pria otoriter untuk masalah ranjang.

__ADS_1


Dia hanya ingin tidur dengan wanita dalam keadaan suka sama suka.


Dia kembali tersenyum tipis, lalu dia memakai kemeja nya kembali dengan tenang.


__ADS_2