AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Pengganggu


__ADS_3

Mereka berdua masuk kedalam tenda yang susah payah selama 3 jam dibuat. Kini sedang di lakukan uji kelayakan pada kualitas tenda tersebut.


Dira lalu menggoyangkan bagian frame tenda dengan hati hati, dia sangat takut jika tenda ini akan roboh.


"Kayak nya aman deh," ucap Dira dengan cukup yakin.


"Iya lah, pasang tenda gampang gampang aja sih," komentar Erick tidak mau kalah.


"Apaan, toh dari tadi bapak itu malah banyak bantu kita," decak Dira kesal.


"Kan dari awal aku udah bilang Dir, lebih baik kita cancel aja. Kamu terus maksa," balas Erick geram, karena kencan yang selama ini dia harapkan jauh dari ekspetasi.


Padahal kenyataan nya, mereka malah terjebak di ruang sempit dengan angin yang terus berhembus kencang.


Alam bukanlah tempat terbaik untuk manusia seperti mereka. Mereka lebih cocok menghabiskan malam di gedung gedung pencakar langit.


"Ahhhh, inti nya kan kita udah camping sekarang," teriak Dira sambil merebahkan tubuh nya di alas tenda.


Erick tergoda, dia juga ingin sekali merebahkan tubuh nya. Akhirnya dia mengikuti Dira yang sudah merasa nyaman tidur di dalam tenda.


Erick dengan manja lalu mendekatkan tubuh kesamping Dira. Dia ingin sekali menghangatkan tubuh nya dengan sebuah sentuhan wanita.


"Dingin ya," kata Dira.


"Banget," balas Erick dengan wajah seperti anak kucing.


Dira lalu mengeluarkan jaket tebal dalam tas Erick dan menyuruh nya untuk memakai jaket tersebut.


"Cepat pakai, dari tadi angin kencang banget."


Erick mengkerut kan kening, dia kesal karena Dira bersikap tidak peka.


Dia ingin sekali memeluk Dira, dia ingin bermesraan dengan wanita itu. Tapi kenapa dia malah memberikan sebuah jaket.


Sebuah solusi yang tidak bermanfaat.


Erick lalu menerima jaket itu dengan uring uringan, dia memilih untuk lekas tidur dan tidak ingin lagi berharap banyak dengan wanita dingin itu.


Melihat tingkah Erick yang aneh dan tidak seperti biasanya. Membuat nya ingin tertawa, sungguh pesona Erick yang jahat dan kejam hilang seketika.


Dia lalu kembali tidur di sisi Erick yang sudah memiringkan tubuh nya. Dira dengan sentuhan lembut mulai memeluk Erick dari samping.


"Maaf ya, kalau kencan kita jadi berantakan," goda Dira dengan suara yang sangat halus.


Seketika Erick membalikan tubuh nya, dia pun balik tersenyum pada wanita itu.

__ADS_1


"Kasian kamu, kencan ko sama pria gak becus kaya aku hehe.." balas Erick sambil mengelus rambut Dira dengan sangat mesra.


Mereka kini saling mendekap satu sama lain. Saling memandang dengan perasaan yang hangat. Perasaan mereka jelas sedang memancarkan sebuah perasaan kasmaran yang meluap.


Mereka dimabuk cinta, kepayang bukan main.


Erick dan Dira mulai mendekatkan bibir satu sama lain. Mereka akan memulai kencan kali ini. Belum sempat mendaratkan bibir secara bersamaan, tiba tiba ada dua bayangan besar dalam balik tenda.


"Anak muda, ayo kita keluar! Saat nya makan malam," teriak bapak tua yang secara mengejutkan hadir ditengah adegan ciuman yang gagal total.


Dira dan Erick tentu sangat terkejut. Mereka lalu dengan gerakan cepat memisahkan jarak. Jantung Erick memompa dengan cepat, dia sangat tidak percaya jika suara itu malah merusak momen emas ini.


Dira lalu membuka sleting tenda dan keluar dari dalam sana.


"Bapak ibu, ada apa ya," kata Dira dengan lemas.


"Ayo nak ikut kami saja. Makan bareng," ajak si ibu dengan paksa.


"Tapi bu mohon maaf, kami.." belum sempat meluruskan kalimat sempurna, Dira terus dipaksa berjalan menghampiri api unggun yang sudah di siapkan oleh mereka.


Dira tidak bisa berkutik, kaki nya seperti sedang di kendalikan oleh sebuah remote. Dia malah makin menjauh dengan Erick, langkah nya diseret paksa oleh ibu tua itu.


Sementara itu Erick masih duduk di dalam tenda. Pikiran nya masih kacau balau, hati nya. panas dan geram.


"Ayo semangat, jangan ngurung terus. Kita keluar nikmatin langit malam, bintang nya banyak loh," ajak bapak itu semakin cerewet.


...Bapak, bangka tua!...


...Aku gak butuh nama nya bintang bintang di langit....


...Aku butuh ciuman! Aku ingin ciuman!...


****


Erick tidak bergairah, birahi nya seperti sedang di kebiri secara paksa. Wajah nya memancarkan kesal, bosan, bete dan tidak bersemangat lagi.


Harapan untuk kencan dengan wanita yang sangat dia cintai, sudah pupus dan kandas. Padahal ini adalah momen yang sudah di tunggu selama belasan tahun.


Untuk bisa mendapatkan Dira sangat tidak mudah, dia harus berakit rakit sampai akhirnya berenang kemudian.


Tapi dengan sangat mudah, kedua orang tua ini dengan cepat menghempas semua keinginan nya. Semua menjadi sia sia, tak terbayar.


"Ini nak, ibu udah siapin kopi jahe hangat, di minum ya," ujar ibu itu sambil menyodorkan dua cangkir plastik ke hadapan mereka.


Dira mengambil cangkir itu dengan sopan sedangkan Erick masih tetap dengan wajah yang tidak bersahabat.

__ADS_1


Mereka lalu menyeruput kopi hangat itu dan rasanya enak. Rasa jahe yang kuat cocok untuk situasi yang semakin dingin.


"Kalian mau makan apa? Bapak sama ibu lagi bakar jagung, kalian mau?" ucap bapak tua dengan wajah yang selalu lurus.


"Enggak usah pak, makasih banyak. Kami udah bawa nasi kari instan. Praktis, tinggal di taruh saja di atas air panas," balas Dira sambil mengeluarkan dua kotak dalam kantung kresek hitam.


"Wah, itu enak sekali kelihatan nya. Tapi ko kayanya itu pedas, emang gak masalah?" Komentar ibu itu dengan jeli melihat bungkus kemasan.


Dira mulai curiga dengan tatapan aneh ibu itu. Dia kemudian melihat kembali bungkusan nasi kari dengan lebih teliti.


"Duh salah dong, ini kari India bukan Jepang. Mana pedas lagi," ucap Dira dengan kecewa, padahal perut nya sudah sangat lapar.


"Udah gak usah dimakan kali, daripada nanti sakit perut," komentar Erick dengan cuek.


"Iya nak, makan jagung aja," ajak ibu itu dengan wajah prihatin.


"Gak bu, sayang kalau gak dimakan. Lagian aku lagi pengen makan nasi hangat," ucap Dira sambil membuka bungkusan kotak nasi kari.


Dia lalu membuka kedua kotak itu dan merendam nya dalam air panas.


"Duh jangan macam macam deh, nanti sakit perut. Mana kita lagi di luar," komentar Erick kesal, karena Dira terlalu keras kepala.


"Udah santai aja, lagian masih pedes makan cabe rawit. Kari India mah lewaaat," balas Dira dengan begitu percaya diri.


Erick hanya bisa menggelengkan kepala, dia sudah begitu pasrah dengan kelakuan Dira yang sangat egois.


Sudah terserah, Erick cuman bisa pasrah.


"Kalian dari tadi ko kaya Tom & Jerry, berantem terus," komentar ibu itu sambil terus tertawa melihat pasangan muda yang selalu beradu argumen.


"Gak jodoh kali bu," decak Dira kesal, sambil dia mengunyah nasi kari nya yang masih panas.


"Jadi kamu gak mau kita berjodoh?" tanya Erick jengkel.


" Tanya aja sama tuhan, kita bakalan jodoh gak?" Balas Dira dengan mulut penuh makanan.


Erick terdiam, tiba tiba sebuah pertanyaan sulit mulai menghujam pikiran nya.


Apa benar mereka akan berjodoh? Apa tuhan akan memberikan takdir diantara mereka?


Tiba tiba langit mulai menampakan kilatan petir, suara gemuruh dari langit hitam pekat mulai terdengar menyeramkan.


Ada apa kali ini?


Bisakah mereka melanjutkan kencan malam yang sempat tertunda?

__ADS_1


__ADS_2