
Erick mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Pandangan dan konsentrasi sedang dalam keadaan tidak fokus. Di dalam hatinya terus berkecamuk amarah yang tak bisa padam.
Dira belum bisa berbuat banyak, tubuhnya masih sangat lemah. Namun dia sadar, jika Erick sedang mengendari mobil dengan ugal ugalan.
Perlahan Dira menyentuh tangan Erick, dia bisa merasakan jika seluruh ototnya kaku dan menegang. Wajar saja, dia sudah dari tadi menyetir tanpa henti.
"Rick.. kamu harus berhenti," ucap Dira dengan penuh kesedihan.
Erick masih menghiraukan saran wanita itu. Kedua matanya terus fokus melihat arah depan. Dia sedang mengabaikan segalanya.
"Rick, kumohon.." ucap Dira semakin pelan.
Mendadak Erick menepikan mobil itu masuk kedalam pantai. Sebuah pantai pinggir jalan dengan pasir putih bertebaran. Mobil itu terparkir dengan paksa di atas dataran pasir pantai.
Erick lalu membanting stir mobil dengan sangat brutal. Dia tak henti membuat keributan di dalam mobil. Terdengar suara klakson berbunyi sendirinya.
"Sial.. Sial.. sial.." teriak Erick histeris dengan sangat membabi buta.
Dia kembali meluapkan seluruh amarahnya dengan terus membanting stir mobil. Dia sudah tak bisa menahannya lagi. Hati dan jiwanya hancur, terseret jauh sampai ujung dunia.
"AAAARGGGGHHHHHHH...." teriak Erick dengan lebih menantang.
"Bodoh.. bodoh.." bentak Erick tanpa henti.
Sementara itu Dira hanya bisa menangis. Kini dia tidak bisa berbuat banyak untuk pria malang itu. Dari lubuk hatinya yang paling terdalam, Dira pun sangat merasa bersalah dan terpukul atas kepergian Jesica.
Mereka sedang menerima titik awal kehancuran dan penderitaan. Satu persatu, mereka mulai kehilangan semua yang berharga.
Sahabat, keluarga, buah hati dan kebahagiaan. Mereka sedang terombang ambing di lautan penuh ombak. Mereka bahkan tak tahu bagaimana cara untuk menepi.
Erick lalu membuka pintu mobil, dia keluar dengan langkah yang tertatih tatih. Sekuat tenaga dia ingin melepaskan semua beban berat di dalam pikirannya.
Di ujung ombak yang terus menggulung, Erick berdiri dengan wajah yang penuh dengan air mata. Dia tak henti menangisi kepergian sahabat nya itu. Dia terus menangis sesenggukan, kedua matanya bengkak dan merah. Hidung nya sudah penuh dengan air.
Dia akhirnya jatuh tersungkur. Dia sangat sakit dan tak bisa menerima kenyataan pahit itu. Dia masih belum mempercayai jika Jesica telah pergi.
Dia tidak bisa melepaskan, dia tidak bisa hidup tanpa Jesica. Dia akan hancur sedalam dalamnya.
Dari arah belakang, Dira perlahan berjalan menghampiri Erick. Dia kemudian merangkul tubuh Erick yang sudah duduk lunglai.
Dengan penuh kekuatan, Dira membantu Erick untuk bangkit berdiri. Dia ingin memastikan jika pria itu masih hidup. Erick harus terus hidup, itu pikir Dira selama ini.
Kedua tanganya menyentuh sisi rahang ke dua pipi. Erick akhirnya bisa menatap Dira dengan penuh kehancuran. Dia malah makin tak terkendali ketika melihat Dira menangis.
"Sadar Erick, kamu harus bangkit!" ujar Dira sambil terus menyentuh kedua sisi wajah Erick.
"Aku gak bisa..." balas Erick lirih.
"Jangan buat pengorbanan Jesica sia sia, kamu harus bertahan!"
"Untuk kedua kalinya aku diselamatkan oleh dua orang yang sangat berharga. Dulu ibuku memilih untuk mengeluarkan ku dari jebakan api. Ternyata itu terulang kembali, sekarang sahabatku membiarkan ku harus pergi tanpa nya.
Aku pria payah, aku pria membawa sial!" gerutu Erick dengan sesak nafas tak tertahankan.
Mendengar itu, hati Dira sangat tersentak. Dia begitu hancur dan sangat merasa bersalah dengan kematian Jesica. Seharusnya, saat itu Erick memilih menyelematkan Jesica terlebih dahulu.
Tak mampu berkata kata lagi, Dira hanya bisa menyandarkan tubuhnya ke depan dada Erick. Mereka kini saling merasakan kesedihan dan penderitaan bersama.
*****
Sementara itu, di salah satu rumah sakit Bhayangkara. Zaki dan tim sudah sampai di Surabaya. Mereka harus melihat jenazah dan hasil otopsi korban kebakaran.
Zaki langsung masuk kedalam ruang otopsi, dia ditemani oleh beberapa dokter ahli forensik. Tak kala saat itu, dia cukup prihatin ketika melihat kondisi jenazah yang hampir 80% terbakar hangus.
"Apa benar itu wanita yang sedang kami cari?" tanya Zaki ke salah satu dokter yang sedang bertugas.
"Hasilnya sesuai dengan data DNA, sidik jari dan ciri ciri fisik korban," jawab dokter itu.
"Apa penyebab kematiannya?"
"Penyebab terbanyak dari korban kebakaran adalah truma inhalasi. Lebih simpelnya adalah cedera saluran pernafasan, Hawa panas yang terhirup bisa memicu cedera serius pada bagian saluran napas bagian atas," jelas dokter itu dengan profesional.
"Apa ada tanda luka lain?"
"Kami juga menemukan retakan kepala bagian belakang, dilihat dari bentuk dan diameter luka bisa di sebabkan oleh benda cukup besar dan tajam seperti vas bunga," ucap dokter kembali sambil melihat dokumen otopsi di tanganya.
"Apa saat kejadian korban sedang berkelahi dengan orang lain?"
"Aku bisa memastikan jika itu benar."
Setelah mendapatkan cukup informasi yang akurat. Zaki dan Andi kemudian keluar dari ruang otopsi tersebut. Dia tak sengaja berpapasan dengan keluarga korban yang sudah dalam suasana duka dan isak tangis.
Andi tiba tiba mendapat panggilan telepon dari salah satu detektif yang sedang bertugas menyelidiki kasus kebakaran. Mereka sedang bercakap di telepon cukup lama.
"Senior ini penting, kita akhirnya sudah tahu identitas pelaku pembakaran," ujar Andi.
"Siapa dia?"
"Senior masih ingatkan wanita yang pernah kita selidiki diam diam. Laras, dia adalah wanita selingkuhan Hary, suami Dira."
"APA!"
"Sepertinya ada yang tidak beres diantara mereka. Kita harus segera menangkap Laras dan menginterogasinya. Aku yakin wanita itu tahu semua rahasia kasus mobil merah," jelas Andi dengan semangat.
"Bagus, kali ini kita tidak boleh kehilangan mereka lagi. Para bedebah gila," celetuk Zaki dengan kesal.
*****
Hari keberangkatan menuju kapal pesiar telah tiba. Menurut jadwal, kapal pesiar Pearl Blue akan tiba dan bersandar di pelabuhan Surabaya sekitar pukul 3 sore.
Kapal itu membawa banyak turis asing yang sedang berpelancong berkeliling benua Eropa, Australia dan Afrika. Kapal itu hanya mempunyai waktu 3 jam saja untuk sekedar berlabuh di tanah air.
__ADS_1
Erick dan Dira sudah sampai di pelabuhan Surabaya, mereka sengaja mengganti pakaian layaknya orang orang bule sana. Mereka kali ini tampil elegan dengan mantel bulu yang sangat mahal.
Dengan bantuan orang dalam dan beberapa sogokan. Akhirnya Erick dan Dira bisa masuk kapal dengan memakai dokumen ilegal dan gelap.
Mereka lalu diarahkan kesebuah kabin kelas bawah dan sederhana. Mereka pun berjanji untuk merahasiakan kehadiran Erick dan Dira di atas kapal.
Setelah ABK itu pergi, mereka langsung merebahkan tubuh di atas kasur sempit. Mereka sejenak meluruskan dan meringankan sedikit beban dalam hati.
Perlahan tangan Erick merangkul tubuh Dira dengan penuh kehangatan. Dia menutup kedua matanya yang sudah sangat lelah.
"Maaf hanya sebuah kabin biasa," ucapnya dengan pelan.
"Aku tidak masalah, bahkan ini terlalu nyaman untuk manusia seperti kita," balas Dira sambil menutup kedua matanya juga.
"Apa polisi akan mengejar kita sampai sini?" tanya Dira kembali.
"Mustahil, tidak akan ada yang tahu persembunyian kita kali ini. Kamu tenang dan cukup istirahat untuk hari ini," gumam Erick dengan tenaga yang sudah hampir habis.
Akhirnya mereka sekejap tidur bersama. Mereka begitu sangat kelelahan dan tidak bisa banyak bergerak lagi. Tanpa mereka sadari jika diluar sana, polisi sedang bekerja keras untuk mengejar mereka.
Tidak ada celah kejahatan yang selalu sempurna. Akan ada dimana mereka jatuh dan tersungkur begitu keras. Mereka hanya perlu menunggu waktu itu tiba.
Sekitar pukul 7 malam, dia akhirnya terbangun dari tidur yang cukup panjang. Erick melihat kapal sudah berlayar menuju laut Jawa. Dari balik kaca, suasana laut sudah terlihat mulai gelap.
Erick tidak melihat Dira di atas kasur, segera dia berlarian mencari wanita itu. Dengan perasaan cemas dan gelisah luar biasa, Erick tak henti menyusuri setiap tempat di kapal pesiar.
Mulai dari tempat gym, bar dan restoran, playing area bahkan kolam renang. Namun semua tidak ada menampakan wanita itu berada.
Tak kehabisan akal, Erick lalu naik kelantai atas. Dia segera berjalan menuju geladak kapal utama. Tenyata benar saja, di sana sedang berdiri seorang wanita memakai gaun putih dan syal yang terlilit di leher.
"Dira," panggil Erick berjalan cepat dan menghambur ke posisi Dira berdiri.
Dira menolehkan wajahnya dengan senyum tipis dan cantik. Dia menyambut pria yang sedang dalam kesusahan.
"Maaf telah membuat mu khawatir," ucap Dira dengan tenang.
Seraya Erick langsung memeluk tubuh itu dengan penuh ketakutan. Dia terus menyergap Dira dengan semua kekuatannya.
"Jangan pergi.." rintihan Erick dengan rasa penuh trauma.
Dira melepas pelukan itu, dia menatap Erick dengan penuh keyakinan.
"Aku disini, terus bersama kamu. Aku cuman bosan terus di dalam kabin, makanya aku keluar cari udara segar," balas Dira dengan lembut.
Pria itu hanya bisa mengangguk paham, kini dia pun ikut bersama Dira melihat lautan yang sangat tenang.
"Apa yang sedang kamu lihat di tengah lautan gelap ini?" tanya Erick.
"Aku melihat kapal kapal kecil itu mengapung, sinar kecilnya cukup menyenangkan hati," balas Dira sambil menunjuk ke arah kapal kapal kecil tak jauh dari arah posisi mereka.
"Itu kapal nelayan, biasanya mereka mencari ikan memang pada jam segini. Jarak kita masih belum jauh dari perairan Indonesia," jelas Erick.
Mereka pun memilih untuk diam, sembari memandangi laut dengan hampa. Luka dan kepedihan atas kehilangan Jesica masih belum sirna. Namun mereka tetap berjalan kuat demi meninggalkan Indonesia.
"Akan sulit tapi kita harus terus mencoba. Tugasku kini hanya menjagamu, aku tidak ingin melihat kamu terluka lagi."
"Apa kau yakin akan bahagia jika kita hidup bersama?"
Mendengar Dira terus menghujani dengan banyak pertanyaan sulit. Erick memilih untuk tidak menjawab itu semua. Dia hanya ingin menyentuh kedua tangan itu dan mengangkatnya. Dipandangi wajah bersinar dan menawan Dira dari atas cahaya rembulan.
"Jangan pergi kemana mana lagi, cukup kamu berada di sisiku saja. Jika kamu menghilang lagi, itulah akhir dari semua mimpi dan kekuatan hidup," ucap Erick dengan sendu.
Erick sudah melemahkan seluruh kekuatannya untuk mempertahankan Dira. Baginya, Dira sudah sangat menderita dengan semua keputusan ini. Dia bahkan sudah merasa tak pantas mengemis setitik debu cinta untuk pria jahat sepertinya.
Dira tak merespon apapun, dia hanya memandang penuh kesedihan dan kekalutan batin. Tangan wanita itu seraya menyentuh pipi Erick yang sudah basah karena air mata.
Dia membuat senyuman sangat indah. Wanita itu lebih dekat menyentuh tutur batin Erick yang sedang terpuruk.
"Berjanjilah padaku, untuk terus hidup. Bertahanlah walau itu tidak bahagia," balas Dira dengan tegar.
Mereka berpelukan, saling mencurahkan semua perasaan pelik dan menyiksa jiwa. Dira ingin merasakan sentuhan hangat Erick. Dia perlahan mencium bau tubuh pria itu. Seakan, dia sedang menyimpan banyak kenangan yang akan tersimpan rapat.
Erick kemudian mengeluarkan cincin itu lagi. Dia memohon kepada Dira untuk sudi memakainya kembali. Dira pun mengangguk setuju, di jari manisnya kini telah melingkar sebuah cincin yang indah.
"Aku harus kembali ke kabin, udara disini sangat dingin. Aku harus membawa mantel hangat untukmu," ujar Erick.
"Lekas kembali Erick," jawab Dira.
Kemudian dia berjalan meninggalkan Dira seroang diri. Di sana Dira melihat punggung Erick dari jauh, ada rasa bersalah dan menyesal teramat besar untuk pria malang itu.
Selepas meninggalkan lantai kapal utama, Erick lalu turun melalui tangga besi. Namun di ujung tangga tersebut dia malah melihat Zaki dan Andi sedang menatap balik dirinya.
"Sial, ternyata polisi," celetuk Erick sambil berlari kembali menuju atas geladak kapal utama.
Zaki, Andi dan regu interpol dengan persenjataan lengkap langsung menyerbu balik Erick.
Mereka dengan sangat cepat dan gesit bisa menyusul langkah Erick dengan mudah. Erick berusaha sembunyi di banyak titik kapal, namu sayang polisi dengan cekatan bisa menyadari keberadaanya.
Semakin Erick mencoba untuk menghindar, semakin polisi gencar melesatkan banyak peluru ke arahnya. Tak main main, semua gencatan senjata kini sedang memburu nyawanya hidup hidup.
"Ayo cepat tangkap," teriak Zaki kepada seluruh tim regu bersenjata lengkap.
Tidak ada jalan lagi, akhirnya Erick memutuskan untuk berlari menuju ujung geladak kapal. Saat dirinya berhasil mencapai titik tujuan, disana dia malah melihat Dira.
Entah kenapa bisa terjadi, namun ekspresi Dira terlihat santai dan tenang melihat Erick berjalan begitu ketakutan.
Sepertinya Dira mendengar suara bising dari letupan banyak peluru. Bahkan Dira sudah sadar jika Erick tengah di kepung polisi.
"Dira pergi! Kenapa kamu bisa ada disini!" teriak Erick sambil menyeret paksa tubuh wanita itu keluar.
Namun dengan kuat, Dira menahan posisinya. Dia terlihat ingin tetap bersama Erick. Dia tidak ingin jauh darinya.
"Kenapa Dira?! kenapa kamu diam saja!" tegur Erick dengan marah.
__ADS_1
"Aku tidak ingin lari seperti pecundang lagi," balas Dira dengan wajah datar.
"Polisi, mereka akan segera menangkap kita," ucap Erick tambah gelisah.
"Justru aku sedang menunggu mereka dan akhirnya mereka datang juga," jawab Dira sambil mengalihkan pandangan ke arah depan.
Di sana dia melihat sudah banyak sekali polisi datang dan mengepung bagian geladak kapal. Zaki pun langsung menyuruh semua anggota polisi untuk bersiap menangkap Erick.
Dengan menggunakan pengeras suara, Zaki pun ingin memulai pembicaraan dengan target buruannya selama ini.
"Aku hanya ingin melakukan penangkapan ini dengan cepat. Jadi tolong serahkan dirimu saja kali ini Erick. Anda sudah tidak bisa lagi mengelak atas jejak kejahatan anda selama ini," ucap Zaki dengan menggema.
"Sampai kapanpun kalian polisi bodoh tidak bisa menangkap ku begitu saja," balas Erick menohok.
"Aaaah.. sudahlah, jangan merasa paling jago. Ayo akhiri ini dengan sangat cepat dan lepaskan wanita itu sekarang juga."
"Apa? kalian bilang lepaskan? Ini tidak bisa dijadikan sebuah kejahatan. Aku dan Dira dengan suka rela pergi meninggalkan Indonesia.
Kami saling mencintai. Cinta bukan sebuah kriminalitas yang harus kalian adili. Sebaiknya kalian pergi, kalian tidak ada hak untuk memisahkan orang yang saling mencintai!" teriak Erick histeris.
"Cinta? kamu pikir wanita itu mencintai mu?" ledek Zaki dengan senang.
Erick lalu menoleh Dira, dia menggenggam tangan itu dengan erat. Dengan sengaja Erick ingin menunjukan sebuah hubungan penuh cinta di depan para polisi.
"Lihat kami, apa kalian tidak bisa melihat betapa kami tidak bisa terpisahkan. Apa kalian buta? kami benar benar saling mencintai satu sama lain."
"Coba tanyakan saja pada Dira, apakah dia mencintaimu seperti apa yang kau katakan?"
Erick menatap Dira dengan sangat tajam, dia ingin mengharapkan jawaban cinta langsung dari bibirnya itu.
"Kamu salah, aku sama sekali tidak mencintaimu," jawab Dira dengan wajah gemetar hebat.
"Apa?" ucap Erick dengan lesu dan tak bernyawa.
"Maaf Erick, akulah yang selama ini memberitahu posisi kita pada polisi. Akulah orang yang mengundang polisi agar bisa menjebak dan menangkap penjahat licik sepertimu," ucap Dira sambil menatap marah dan penuh dendam pada Erick.
Lantas mendengar sebuah cerita yang sesungguhnya, membuat pria itu langsung mendekati Dira. Dia memandang wanita itu dengan penuh amarah dan rasa kecewa.
"Kamu bohong!"
"Ini saatnya kamu melepaskan aku."
"Tidak, kamu adalah milikku. Aku adalah kutukan abadi untuk wanita seperti dirimu."
"Cukup Erick! Aku lelah..."
Tanpa sadar Erick terus berjalan mundur dan terus mundur. Sehingga Dira pun terus tersudut dalam setiap langkahnya. Sampai pada akhirnya, Dira sudah di ujung besi pembatas kapal.
Mereka mulai mendekat, Erick terus menghimpit tubuh Dira semakin terpojok di besi pembatas itu. Bahkan dengan jelas, Dira bisa mendengar deburan air laut yang sangat ganas.
Zaki pun sadar, jika Erick sedang dalam fase yang bisa membahayakan korban. Dia pun menyuruh regu polisi untuk bersiap dengan senjata api. Bahkan Zaki pun dengan tegas dan jelas untuk menembak mati sang pelaku jika sudah melakukan gerakan berbahaya.
Sementara itu, Erick sudah gelap mata dan buntu pikiran. Dia bahkan sudah tidak mempedulikan ancaman polisi. Dia tidak peduli dengan nyawa dan keselamatan dirinya.
Dia hanya ingin menerkam Dira seutuhnya. Dia hanya ingin wanita itu saja. Bagi Erick, Dira adalah akhir dari segalanya.
"Sudah, kita akhiri sampai disini. Kita harus bayar semua kesalahan kita," ucap Dira dengan seluruh keberaniannya.
"Tidak pernah sedikitpun aku akan melepas mu, jangan pernah berpikir ini akan berkahir," ancam Erick dengan tatapan seperti iblis.
"Baiklah, jika kamu tidak bisa mengakhiri semua ini. Aku yang harus mengakhiri dan melepas semua kejahatan yang pernah kita perbuat!"
Dengan pelan, tangan Dira mulai lepas dari genggaman Erick. Karena gerakan itu cepat dan mendadak, dia menjadi tidak sadar dan lengah.
Tubuh yang sudah di tepi pembatas, tak ayal membuat wanita itu dengan mudah menarik tubuhnya sendiri ke belakang.
Dalam sekejap, tubuh itu mampu lepas dari cengkraman Erick. Bahkan dalam hitungan detik saja tubuh Dira mulai terjun bebas jatuh dari atas permukaan kapal.
Erick sangat terkejut dan tak kuasa menahan tubuh Dira yang sudah lepas dari pandanganya. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan jelas jika Dira sudah jatuh terhempas dengan cepat.
"Tidaaak.. tidaaak..." teriak Erick dengan kencang.
Dari bawah sana, Dira masih bisa melihat wajah Erick. Walau semakin jauh dan terus menjauh, dia berusaha melihat wajah tampan Erick untuk terkahir kalinya.
Sampai pada akhirnya, Dira sudah masuk kedalam pusaran air laut yang terus mendorong masuk sampai dasar.
Dira sedang menyelam di dalam lautan yang tenang. Dia bisa melihat seberkas cahaya dari atas sana. Namun tetap saja, tubuh itu memilih untuk jatuh ke dalam lubang kegelapan yang tak pernah terlihat ujungnya.
Di atas kapal sana, Erick sudah melihat jelas jika Dira masuk kedalam lautan itu. Wanita yang sangat ingin dia lindungi, memilih pergi dengan cara yang sangat mengenaskan.
Dengan sekuat tenaga, Erick langsung memanjat pembatas besi itu. Namun dari jarak dekat, sebuah tembakan dengan peluru panas mulai menembus kulit kakinya.
Sontak Erick langsung jatuh terkapar. Namun dia belum menyerah begitu saja. Dia menggunakan kaki sebelahnya untuk bangkit dan segera menyelamatkan Dira.
Dorr..
Sebuah peluru panas kembali di tembakan oleh salah satu senjata polisi. Peluru itu kembali menyasar kaki satunya lagi. Kali ini Erick sudah tidak bisa berdiri sedikitpun. Kakinya sudah lumpuh dan tak berkutik.
Tapi Erick masih menyimpan kekuatan lain, dia masih bisa menggunakan tanganya untuk merayap menuju ujung kapal.
Namun semua itu sia sia, ketika polisi kali ini melemparkan dua peluru sekaligus ke arah tangan kanan dan kirinya.
Door.. Door..
Erick mengerang kesakitan, semua tubuhnya sudah hancur dan lumpuh karena serangan banyak peluru panas. Segera Zaki memerintahkan pasukan untuk mengepung Erick lebih dekat lagi.
Tubuh Erick terkapar begitu saja. Semua cipratan darah banyak memenuhi lantai kapal. Erick kemudian di kepung secara melingkar oleh polisi interpol.
Para polisi itu menodongkan semua senjatanya secara serempak ke arah Erick. Tanpa mereka sadari jika Erick tengah berjuang melawan maut yang menyakitkan.
Zaki berjalan menghampiri ujung besi pembatas kapal. Dia lalu melihat gelombang air laut di bawah sana.
Tergambar jelas jika laut sedang dalam keadaan tenang. Ada setitik harapan untuknya bisa menyelamatkan Dira secepat mungkin.
__ADS_1
Dia lalu menyuruh Andi untuk segera meminta pertolongan tim penyelam dan polisi penjaga laut. Dia menegaskan jika wanita itu harus ditemukan dalam keadaan hidup.