
Erick duduk sambil merenungkan segala nya, dia masih mengeluarkan sisa air mata. Sambil melihat wanita yang sangat ia cintai tidur dengan segala bekas kekerasan.
Dengan tubuh nya yang rapuh, Dira masih bertahan dalam rasa sakit dan kesengsaraan. Tangannya di infus dan kepalanya di kompres.
Dira masih tidak sadarkan diri, tensi darah nya mendadak naik dan suhu tubuh nya di atas 38 derajat.
Erick terus saja menunduk, tatapannya hampa dan kosong. Dia sudah terlanjur jatuh dalam penyesalan yang tiada akhir.
Kemudian dia menyentuh tangan Dira dengan lembut, dia menggenggam tangan nya dengan erat. Dia lalu mencium tangan itu dengan perasaan hancur berkeping keping.
Di ujung pintu, Jesica memperhatikan sahabat nya, dia merasa kali ini pria itu sudah seperti zombi.
"Erick," panggil Jesica, dia menyuruh pria itu keluar dari kamar.
Erick keluar mengikuti Jesica, lalu mereka sama sama duduk di atas sofa. Jesica lalu mengobati luka luka Erick yang masih bercucuran darah.
"Gimana kabar mu hari ini?" tanya Jesica.
" I am not okay," jawab Erick lemas.
"Boleh gak malam ini khusus buat kamu aku mau ngomong banyak sekali," pinta Jesica dengan wajah kesal.
Dengan mengangguk, Erick hanya bisa memberikan respon seperti itu.
"Pertama, kalau kamu telat satu detik saja sekarang kamu sudah melihat dia tidur cantik di dalam peti mati.
Kedua, kamu gak jauh beda sama si Hary. Ujung ujung nya sama sama menyakiti, melukai dan selalu membuatnya dalam bahaya.
Ketiga, aku sudah gak yakin kamu bisa menjaga wanita yang kamu sangat gilai itu, gak mudah Rick, harus menjalani hidup dalam bayangan. Kamu sampai kapanpun gak bisa hidup tenang, selalu dalam kegelisahan dan rela menjadi seroang kriminal.
Terakhir, lepasin Nadira. Dia sudah gak pantes lagi buat kamu pertahankan. Sudahi drama penculikan yang sangat membuat kita berdua lelah.
Hidup kamu sudah terbagi menjadi dua. Satu, kamu dipandang oleh orang diluar sana sebagai CEO hebat, sukses, kaya raya. Dua, mereka gak tau kalau kamu menjalani hidup dengan cara menyekap wanita yang gak bersalah," jelas Jesica dengan penjelasan tanpa koma.
Erick tertegun mendengar semua penjelasan sahabat nya itu. Ada benar, ada salah, ada benar nya juga tapi ada salah nya juga.
"Lepasin Dira sekarang juga!" perintah Jesica dengan tegas.
Erick menatap Jesica dengan serius, dia memperlihatkan wajah ketidak setujunya.
"Gak, aku gak bisa. Setelah kejadian apa yang dia alami barusan, aku lihat dengan mataku sendiri Jes! Dunia luar selalu tidak berpihak padanya. Dia wanita yang sangat menyedihkan," balas Erick dengan tegas juga, dia bahkan berdiri sambil melototi sahabat nya sendiri.
Jesica pun ikut berdiri, dia lalu melebarkan ke dua tangan nya.
"Ok, whatever! cukup. Aku udah gak mau ikut campur lagi," ucap Jesica dengan perasaan kecewa.
__ADS_1
Wanita itu lalu pergi meninggalkan Erick sendirian.
****
Dengan wajah lebam dan frustasi, Pria asing bernama Kevin sedang melihat layar laptop dengan wajah sinis.
Dia sedang melihat lihat wajah Erick di internet, mencari tau sebanyak banyak nya informasi tentang Erick.
Tidak ada skandal atau masalah pribadi tentang Erick, semua media internet hanya menampilkan sosok Erick sebagai CEO terkemuka.
Dimata dunia, Erick adalah manusia sempurna. Namun di mata Kevin, dia adalah manusia sampah yang tidak berguna.
Kevin tampak nya sudah tahu rahasia Erick selama ini, dia tau kebenaran di balik peristiwa kemarin.
Dia lalu membuka lembaran internet lainya, disana dia sedang banyak membaca kasus hilang nya seorang wanita tanpa mayat.
Dia pun sedang melihat wajah korban selama masih hidup, seorang wanita cantik namun sudah tidak terlalu muda, mempunyai suami dan anak, yaitu Dira.
Kevin menarik nafas panjang, ia tersenyum bahagia dan sangat puas. Baginya memang ini adalah umpan yang sangat besar, dia bisa kaya raya hanya karena ini.
Tiba tiba ada yang panggilan masuk, reporter harian INet News sedang memanggilnya.
Kevin tambah tersenyum lalu dia menerima telepon tersebut.
"Ok aku segera kesana, kita janjian di cafe Star seperti yang aku sudah janjikan," ucap Kevin.
Sesampai nya di area Basement, Kevin berjalan menuju tempat parkiran mobil. Namun belum saja memegang gagang pintu, ia dikejutkan dengan segerombolan preman bertato, wajah sangar dan berbadan besar.
Satu preman itu lalu menanyakan sesuatu padanya.
"Apa kamu Kevin?"
"Iya, ada apa?" jawab nya dengan wajah kaget.
Tiba tiba, setelah mendengar bahwa dia adalah Kevin, semua preman yang berjumlah 10 orang itu memukul Kevin ramai ramai. Sampai Kevin tak sadarkan diri.
****
Kevin duduk di atas bangku besi, matanya di tutup kain, tangan dan kaki di lilit tali dan mulut nya disumpal.
Dia terus saja bergerak, berusaha melepaskan semua ikatan di tubuh nya. Dia berusaha untuk mengeluarkan suara walau itu sangat mustahil.
Ada Erick di sana, dia adalah aktor utama dalam penyekapan Kevin. Semua preman bayaran itu adalah suruhan Erick.
Matanya hanya menatap Kevin dengan penuh perasaan benci, marah dan sakit tak terbendung. Dia ingin sekali membalaskan dendam atas perbuatan nya pada Dira.
__ADS_1
Erick berjalan menghampiri Kevin yang masih bergerak tidak karuan. Dia lalu membuka kain penutup mata.
"Ahhh.. akhir nya kamu datang juga," ucap Kevin sambil tersenyum dengan wajah menggila.
Kevin lalu meludahkan air liur tepat di depan Erick, dia tertawa terbahak bahak.
"Erick, Erick! kamu tahu apa yang pertama kali wanita itu katakan padaku, tolong panggilkan aku polisi?" ledek Kevin sambil menirukan gaya wanita.
Erick tidak merespon, dia hanya memberikan pandangan kosong.
"Kamu tahu persamaan antara kita berdua? kita sama sama seperti tikus. Cuman bedanya kamu adalah tikus kecil yang berlindung di istana besar."
Erick tetap tidak memberikan respon apapun. Dia masih berdiri saja melihat Kevin mengoceh tentang dirinya.
"Hei bung, gimana rasanya tidur dengan wanita itu? apa dia sengaja menjual tubuh nya untuk CEO muda seperti mu?" Kevin sengaja memancing emosi Erick.
Kedua tangan Erick mengepal, dia sudah tidak tahan dengan ocehan pria brengsek itu.
"Sudahlah, tenang saja Rick. Aku gak akan bilang sama siapa siapa tentang penyakit mental mu itu. Kamu berikan saja wanita itu kepadaku sebagai ganti nya, dia cukup berguna jika aku gunakan di rumah bordil."
Erick sudah tidak tahan, dia lalu mengeluarkan ponsel. Dia sedang melakukan panggilan.
Tiba tiba dari arah jauh, datang 5 mobil hitam meluncur bersamaan sedang menuju tempat Erick.
Kelima mobil itu berhenti dan dengan kompak mereka keluar dari mobil.
Mereka adalah anggota gang Yakuza, semua tubuh nya penuh dengan tato Naga. Mereka berjumlah 15 orang datang silih berganti mengitari Kevin yang masih duduk.
Kevin mulai ketakutan, dia cemas, sangat menyeramkan melihat mereka semua datang dengan tatapan yang keji.
Satu orang anggota lalu memberikan sebuah palu besar kepada Erick.
Erick menerima palu itu dan mulai menyeret palu kearah Kevin yang dari tadi terus memohon untuk diampuni.
Erick lalu menatap Kevin sangat dekat, dia lalu balas membuang ludah kearah wajah Kevin.
"Aku sangat benci dengan orang yang sangat banyak bicara," ucap Erick tersenyum sinis.
"Tolong aku Rick, aku janji bakal menjaga semua rahasia ini," Kevin memohon dengan sangat takut.
Namun sayang sekali, Erick tidak akan memberikan kesempatan itu pada manusia rendah seperti Kevin.
Erick lalu mengangkat palu besar itu keatas dan langsung memukul kepala Kevin dengan sangat keras.
Bruuuk!
__ADS_1
Kevin terjatuh dari kursi, kepalanya retak dan hancur, darah bercucuran namun dia masih bernafas.