
Ditengah dingin nya suasana makan malam, dari atas langit mulai turun air hujan. Dengan secara tiba tiba air hujan turun dengan sangat deras.
Kedua orang tua itu lalu menyuruh Dira dan Erick agar segera berlindung dalam tenda. Namun awal nya Erick menolak, karena hujan semakin deras dan angin mulai menampakan badai.
Erick mengusulkan untuk turun dan berlindung di pos penjagaan sekitar. Namun dengan sebuah paksaan, orang tua itu melarang niat nya. Karena bagi mereka hujan ini hanya sementara.
"Tidak akan ada badai, percaya sama bapak, udah masuk saja. Tunggu di dalam tenda," ucap si kakek tua dengan tergesa gesa.
"Tapi ini mau badai, bahaya," respon Erick terbalik, dia merasa kali ini prediksi mereka salah.
"Udah sih Rick, kita masuk saja dulu kedalam. Lagian kalau turun sekarang bahaya juga," timbal Dira yang sudah makin resah.
Tidak ada pilihan lagi, Erick akhirnya setuju. Dia dan Dira segera masuk kedalam tenda dan berlindung sebisa mungkin.
Didalam tenda, mereka sudah bisa merasakan jika hujan turun dengan murka. Bahkan angin sudah hampir menggoyangkan tenda mereka.
Erick mencoba menenangkan Dira, segera dia memeluk tubuh nya dengan erat.
"Udah jangan panik, hujan pasti berlalu," ucap Erick dengan setenang mungkin.
"Duh, kenapa sih sial banget kita hari ini. Mana angin gede banget lagi," balas Dira dengan sangat gemetar.
Tiba tiba suara perut Dira berbunyi kencang. Dira mulai memegang perut itu dengan kencang. Dia malah merasakan betapa melilit nya perut saat itu juga.
"Rick tolongin aku!! PLEASE!"
"Jangan bilang kamu--"
"Duh perut ku sakit banget, aku harus ke toilet sekarang," kata Dira sambil bercucuran keringat.
"Gila ya kamu! Pasti karena makan kari pedas itu. Pokonya jangan keluar, tahan saja! Diluar lagi badai, bahaya."
Dira lalu menangis karena sakit perut yang sudah tidak bisa ditahan.
"Gak kuat, duh duh gak kuat."
"Ih tahan tahan, masa kamu mau BAB disini."
"Erick tolong kali ini saja. Suer deh aku mau jodoh sama kamu. Asal kamu anterin aku ke toilet sekarang juga."
"Gak ada hubungan nya jodoh sama toilet. Pokok nya tahan sekuat tenaga," tolak Erick mentah mentah.
"Ya udah, aku pergi sendiri aja," jawab Dira kesal dan ujung pantat nya sudah mulai panas.
"Ok, ok kita keluar sama sama. Tapi pakai jas hujan dulu," kata Erick dengan perasaan tidak tega harus membiarkan Dira berjalan sendiri ditengah badai.
Dengan sangat terpaksa Erick harus mengantarkan Dira untuk pergi ke toilet. Mereka berjalan pelan sambil terus berpegangan tangan.
Sangat sulit untuk mencapai toilet yang cukup jauh dari tenda. Mereka harus berjuang melawan angin besar dan tekanan air hujan.
Erick lalu berhasil melewati tenda milik pasangan orang tua. Namun sial nya, tenda itu sudah kosong. Mereka tidak ada, mungkin sudah turun untuk mencari tempat lebih aman.
"Sial, mereka malah kabur lagi," kata Erick kesal.
__ADS_1
"Percuma dong kita bertahan disini terus," kata Dira dengan penuh penyesalan.
Harus nya ia lebih mendengar Erick saat itu juga. Harus nya mereka sudah turun dari tadi. Tentu semua ini adalah salah orang tua yang sangat sok tahu.
Dira terus berjalan dan Erick melindungi nya dari belakang. Akhirnya mereka sudah sampai toilet.
Dira dengan cepat langsung masuk ke salah satu bilik WC. Erick berdiri menunggu di samping toilet.
Dengan tubuh terlanjur basah kuyup, badan sudah sangat dingin dan meng-gigil. Erick masih bisa bertindak siap siaga di samping Dira.
Sudah 30 menit di dalam WC, Dira akhir nya sudah selesai dengan urusan perut nya. Dia menghampiri Erick yang masih berdiri.
"Yakin mau balik lagi ke tenda?" tanya Dira khawatir.
"Percuma, udah telat kita turun kebawah. Lihat aja hujan malah makin besar, ada petir lagi."
"Maaf," ucap Dira dengan sangat menyesal.
"Udah, sekarang kita harus kuat menerobos badai ini. Pokonya kamu jangan sampai lepas dari tangan ku."
Erick lalu mengulurkan tangan nya, dia dengan sabar terus melemparkan senyum.
"Kita pasti bisa, siap ya."
Dira menerima tangan itu dengan erat. Mereka dengan berani mulai menyusuri kembali arah pulang menuju tenda.
Dengan tekad yang sudah bulat, Erick harus membawa wanita ini dengan selamat masuk tenda. Dia dengan seluruh kekuatan nya dan tanpa takut berjalan menghadang guyuran hujan.
Suara petir mulai menyambar dengan keras. Dira semakin takut untuk terus melanjutkan perjalanan ini. Kedua kaki nya sudah terasa lumpuh karena lemas.
"Dira bertahan! Sebentar lagi kita sampai."
Erick melanjutkan perjalanan dengan mengendong tubuh Dira. Namun tiba tiba, dia melihat tenda itu sudah rubuh.
Erick lalu menurunkan tubuh Dira dengan hati hati.
"Tunggu disini ya, aku harus benerin dulu tenda nya."
Dengan gerakan cepat, Erick menghampiri tenda yang sudah rubuh karena terpaan angin badai.
Entah dari arah mana, kekuatan itu muncul tiba tiba. Erick mendadak sangat pintar merakit kembali tenda yang sudah porak poranda.
Padahal tadi sore dia masih sangat kesusahan dalam merakit tenda. Dari arah belakang, Dira berjalan menghampiri Erick. Dia membantu pria itu untuk menahan tenda yang sangat sulit diperbaiki dalam keadaan angin kencang.
"Ayo masuk," ajak Erick dengan gelisah.
Dira masuk kedalam tenda tersebut dan di ikuti Erick dari belakang.
"Kamu gak papa?" tanya Erick sambil menyentuh wajah wanita itu. Kulit dia sudah sangat pucat pasi.
Dira mengangguk dan mulai menangis.
"Erick, maafin aku," ucap nya begitu rapuh.
__ADS_1
Erick tidak menjawab, dia malah memeluk Dira dengan penuh ketulusan.
"Lain kali, jangan makan pedas kalau lagi camping ingat itu! Hahahahaa," kata Erick sambil tertawa.
"Iya maaf."
"Kalau di kasih tau jangan ngeyel, repot duh kencan sama emak emak," kata Erick sambil tertawa cengingikan.
Dira pun semakin malu, karena ternyata dialah sumber masalah hari ini.
"Terus kencan kita gimana dong?"
"Ya ini kan lagi kencan, sudah nikmatin aja sih."
*****
Sinar matahari pagi menembus kain tenda, berkas cahaya mulai menyentuh pelupuk mata Erick dan Dira.
Mereka masih tertidur lelap dalam sebuah pelukan yang sangat hangat. Erick terbangun disusul Dira yang tengah menguap mulut nya lebar lebar.
Mereka keluar dari dalam tenda, melihat jika pagi ini begitu sangat cerah dan hangat menyentuh kulit.
"Mungkin ini yang dimaksud ibu Kartini, habislah gelap terbitlah terang," ucap Erick dengan wajah tampak masih sendu.
Dira lalu merenggangkan seluruh otot tubuh nya dengan lebar, mulut nya masih tidak berhenti menguap.
Mendadak Erick memeluk Dira dari arah belakang. Dia dengan nakal mencium leher dan kuping wanita itu.
"Ih Erick, malu dong ini tempat umum," kata Dira sambil terus melepaskan pelukan Erick.
"Tapi kan gak ada siapa siapa, semua orang sudah melupakan kita," balas Erick dengan santai.
Tiba tiba... dari arah belakang, tak jauh dari posisi mereka. Datang lah pasangan orang tua yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Selamat pagi anak muda," teriak bapak tua itu secara mengejutkan.
Dira dan Erick lalu spontan melepas pelukan itu, mereka dengan spot jantung masih tak percaya jika kedua orang tua itu masih ada.
"Wah, ternyata benar bu. Mereka masih disini hahahahaha..." kata bapak tua dengan santai dan tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Aduh nak, kemarin malam bapak sama ibu dijemput sama anak cucu buat turun kebawah, kata mereka sih kemarin BMKG sudah memberikan peringatan," jelas ibu itu dengan sangat bangga.
Erick lalu menghampiri mereka berdua. Seluruh tekanan batin mulai meluap, meledak dan meletus seperti gunung merapi.
Ingin sekali rasanya dia mencabik cabik mulut orang tua itu. Mematahkan leher nya yang sudah rapuh di makan usia.
Namun...
"Selamat pagi ibu dan bapak yang saya hormati, oh iya perkenalkan nama saya Erick, CEO dan pemilik group Denka. Saya ingin menawarkan secara gratis untuk kalian yang sudah lanjut usia, untuk menginap gratis di bangsal VVIP rumah sakit jiwa atau ya panti jompo juga lumayan," kata Erick dengan lugas, cepat dan perasaan takjub.
Akhirnya..
Dia mengulurkan tangan ke arah bapak tua itu dan langsung menyalami nya secara hormat.
__ADS_1
Erick dan Dira lalu pergi meninggalkan mereka dengan tawa dan senyuman tipis. Sungguh, berkat mereka berdua kencan kali ini dirasa sangat beda dan menantang.
Sedangkan kedua orang tua itu malah terdiam dan bingung dengan segala ucapan Erick.