AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Undangan


__ADS_3

Sehabis pulang dari urusan bisnis, Erick tidak akan menghabiskan waktu dengan hal aneh aneh.


Tidak seperti kebanyakan keluarga konglomerat lainya, Erick lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah.


Pribadi Erick memang sangat tertutup. Dia tidak suka berkomunikasi dengan orang lain apalagi bergaul. Sahabat satu satu nya hanyalah Jesica yang sangat ia percaya.


Hari ini dia pulang cepat, tidak ada lagi rencana apapun, dia hanya ingin pulang bertemu sang pujaan hati.


Saat kaki nya masuk kedalam rumah, dia langsung mencari Dira. Itulah kebiasaanya, dia selalu punya pikiran berlebih. Dia sangat takut Dira menghilang.


Dia cari ke kamar nya namun tidak ada, dia lalu bergegas mencari ke segala penjuru ruangan. Semua kosong, wanita itu hilang kemana.


Erick sangat panik, dia lalu bergegas ke lantai paling atas. Tempat dimana biasanya mereka melakukan olahraga.


Dia mencari ke tempat fitness, tempat yoga bahkan lapangan golf mini. Semuanya kosong melompong.


Dia ingat, ada satu ruangan khusus yang masih belum terjamah, kolam renang.


Di sanalah dia melihat ada seorang wanita tengah berendam di tengah tengah kolam renang.


Erick menghampiri agar lebih dekat, dia melihat begitu banyak busa busa menggunung dan bau menyengat sabun aromatik.


Dira dengan pundak sedikit telanjang sedang bermain busa busa, dia meniupkan busa dan terus menciumi nya.


"DIRA! Kamu ngapain?" tanya Erick dengan nada keras, dia membentak hanya karena Dira tidak melihatnya.


Dira berbalik dan menoleh, dia terlihat santai dan tidak takut.


"Mandi lah, berendam," jawabnya datar.


" Ya tapi kenapa harus di kolam renang, kan bisa di bathtub," balas Erick dengan kesal.


"Ya udah bosen lah, kenapa sih kaya gini aja protes. Lihat tuh muka kamu keringetan kaya gitu," timbal Dira dengan perasaan jengkel.


Erick baru sadar, jika dia tadi sangat panik bolak balik keliling rumah besar. Tentu nya Erick tidak mempermasalahkan hal sepele seperti itu, dia hanya terlalu takut jika Dira memang menghilang.


Dia mencoba menarik nafas nya, mengatur luapan emosi. Dia harus tenang dan tidak terlihat panik seperti ini.


Erick lalu melirik Dira, di tatapnya wanita itu dengan mata pria. Dia terkagum kagum, melihat wanita itu selalu saja memukau.


Dia masih belum mengerti, kenapa hanya dengan melihat pundak telanjang saja bisa membuat hati nya berdebar debar.

__ADS_1


"Ayo cepat bereskan kekacauan ini, aku mau bikin makan malam, sebaiknya kamu segera ganti baju," perintah Erick dengan perasaan gugup.


*****


Erick sedang mempersiapkan makan malam. Walaupun dia adalah seorang CEO, dia lebih sering memasak ketimbang Dira.


Dia lalu menyiapkan meja dan menaruh peralatan makan dengan rapih. Dia menerapkan aturan table manner dengan sangat teliti.


Dari kamar, Dira berjalan keluar menuju lantai bawah. Wanita itu memakai handuk kimono warna putih dengan tulisan Dior.


Dia menghampiri Erick yang sudah selesai menata meja. Erick pun spontan melihat Dira dengan perasaan yang makin tidak karuan.


"Kenapa masih pakai handuk? aku bilang kan ganti baju," omel Erick yang sudah siap untuk makan malam bersama.


"Ini juga baju ko," balas Dira dengan cuek.


"Ya tapi kan gak harus pakai kimono juga," tambah Erick yang sedari tadi terus memperhatikan tubuh sexy Dira.


"Yaelah, kan kita udah lama banget serumah. Gak usah banyak protes dong Rick," jawab Dira dengan senyum yang menantang.


Sudah, Erick tidak mau berdebat lagi. Akhir ini pikirannya terlalu sensitif. Dia gampang tidak fokus kalau melihat lekukan tubuh Dira.


Akhirnya mereka makan malam. Erick memasak nasi goreng sea food kesukaan Dira. Tiba tiba Erick mengeluarkan secarik kertas amplop berwarna jingga.


"Apa ini?" tanya Dira dengan penasaran.


"Buka saja, pasti kamu suka," balas Erick santai.


Dira lalu membuka amplop itu, di robek nya plastik pelindung. Di keluarkan nya sepucuk kertas yang bertuliskan INVITATION.


Dia lalu membaca nya dengan pelan. Dia terus menggerakkan kedua bola matanya ke bawah.


"Beneran ini?" kata Dira dengan perasaan campur aduk dan masih tidak percaya.


"Aku berikan kesempatan ini. Kita harus datang melihat nya secara langsung," balas Erick dengan memasang wajah sok pahlawan.


Dira menangis, berurai air mata. Ini sungguh air mata kebahagiaan, Erick memberikan dia kebahagiaan lainya.


Tentu hal ini sangat begitu merubah semangat nya kembali menjadi seorang ibu. Dalam tulisan undangan itu, dia mendapatkan satu kursi spesial.


Ini adalah undangan teristimewa yang pernah ia dapat seumur hidupnya.

__ADS_1


Dia diberi kesempatan untuk menjadi penonton di acara kompetisi piano internasional, dia baru sadar bahwa Hanum adalah pesertanya.


Selama ini dia bahkan tidak mengingat, bahwa sebelum di culik, Hanum dan Dira selalu mempersiapkan latihan hampir setiap hari.


"Tunggu bunda ya sayang," ucap Dira dalam hati.


*****


Disebuah bar yang terlihat redup dengan pencahayaan remang remang. Terlihat seorang laki laki kurus, rambut gondrong di ikat kuda dan wajah nya yang sangar. Dia adalah Robi, dia sedang menunggu Hary datang.


Sambil minum bir, dia terlihat sedang banyak melamun. Namun tiba tiba lamunan itu buyar ketika Hary duduk di depanya.


"Tumben lo panggil gue lagi," tanya Robi dengan senyuman tipis nya.


"Gw butuh banget bantuan lo," ucap Hary dengan tutur kata yang terlihat panik.


"Lo butuh bantuan apa lagi?" tanya Robi sambil merokok.


Hary lalu menunjukan sebuah gambar dari galeri HP nya. Gambar itu adalah seroang pria tampan memakai tuksedo cokelat. Siapa lagi kalau bukan Erick.


"Gw pengen lo cari tahu siapa dia, kegiatan nya apa dan dengan siapa saja dia bertemu," jelas Hary.


Mata Robi mulai menilik wajah Erick. Dia lalu berpikir keras bagaimana Hary bisa berhubungan dengan pria segagah ini.


"Sebelum gue terima kerjaan ini, tolong jelaskan siapa dia dan apa urusan lo sama ini orang," tanya Robi dengan wajah serius.


"Namanya Erick Gilang Wijaya, CEO dari group Denka yang akhir akhir ini telah masuk majalah Forbes. Dia masih sangat muda untuk ukuran CEO, tapi itu bukan poin penting nya. Gw pingin tau apa tujuan dia deketin keluarga gue selama ini," jelas Hary dengan sangat lancar.


Robi tidak memberikan respon, dia masih sangat berpikir keras tentang ucapan Hary.


"Please tolongin gw, apapun itu lo harus cari tahu tentang siapa Erick, sekecil apapun itu gue harus tahu. Cuma lo yang ahli dalam bidang seperti ini."


"Ini ikan besar bro! lo berani bayar gw berapa?" tanya Robi.


"Lo pasti udah tau, kalau gue sekarang udah kaya raya. Jadi jangan khawatir masalah bayaran. Kerja lo bagus, imbalan lo bakal lebih bagus lagi," balas Hary dengan penuh keyakinan.


Robi mengangguk paham, artinya kesepakatan ini akan dimulai dari sekarang.


"Ok gue terima," ucap Robi sebagai penutup pertemuan ini.


Sebelum beranjak pergi dari pertemuan singkat ini, Hary memberitahu hal penting lainya.

__ADS_1


"Besok Erick akan datang sebagai tamu VVIP di ajang kompetisi piano anaku, tolong awasi dia baik baik," perintah Hary dengan sangat serius.


__ADS_2