AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Melepas


__ADS_3

Seperti pecundang ulung, aku langsung pergi begitu saja ketika Dira memperkenalkan pacar baru nya.


Aku selalu lari dari kenyataan, tak pernah sedikit pun aku berani dalam hal apapun. Aku terlalu takut menghadapi kenyataan sangat pahit ini.


Akhirnya aku sudah sampai depan kosan. Sebelum masuk, aku berdiri memandang jauh bangunan kosan satu lantai itu.


Dalam hidup ku, tak pernah sedikitpun aku bisa terbayang bisa tinggal di sebuah kamar sempit dan usang. Dunia ku selalu penuh dengan sinar kekayaan dan kemewahan, namum demi wanita ini aku sangat rela melepas itu semua.


Aku Erick, anak tunggal dan ahli waris sah dari seluruh kekayaan ayah ku. Tapi tak pernah sedikitpun aku merasakan kenyamanan disana.


Namun disini, aku sangat bisa merasakan sebuah ketenangan yang tak bisa ditukar oleh berlian sekalipun.


Aku menyukai tempat dan pemilik tempat ini. Namun sayang, cinta itu tak berjalan mulus. Aku telah dicampakan, aku ditolak dan dengan mudah aku disingkirkan oleh pria seperti Hary.


Dengan langkah terjuntai lemas, aku masuk ke gerbang kosan. Disana aku melihat seluruh barang barang, termasuk komputer di taruh di luar kamar.


Ini sangat aneh dan tidak biasa. Pasti ada yang sudah menerobos masuk.


Aku langsung bergegas masuk kedalam kamar, ternyata disana aku melihat Jesica sedang berdiri memakai masker mulut dan sarung tangan.


Dia adalah orang yang sangat menyebalkan. Tanpa izin dan sepengetahuan ku dia kini sudah mengobrak abrik isi kamar.


"Kamu ngapain?" tanya ku dengan sangat gusar.


"Gak lihat apa, aku sedang bantu kamu buat pindahan."


"Pindahan apa sih Jes?"


Dia lalu memalingkan wajah kearah ku sambil membuka masker mulut nya.


"Besok pagi kita ke Amerika, aku sudah siapkan semuanya. Aku yang urus."


"APA! Gila ya, aku sudah bilang NO! Terus saja maksa," protesku dengan sangat kesal.


Dengan wajah sangat serius, Jesica balik melawan ku yang sangat keras kepala. Dia lalu melempar semua kertas foto ke arah wajah ku dengan sangat kasar.


"Demi wanita ini? Kamu jadi hilang akal dan super totol!" bentak Jesica sambil menunjuk satu foto Dira yang sedang duduk tersenyum manis.


"Jesica, awas kamu berani ikut campur atau sentuh wanita itu," ancam ku dengan sangat tegas.


"Oh jadi sekarang kamu lebih milih buat terus jadi penguntit, maniak, mesum dan terus berbuat jahat," balas Jesica tidak mau kalah.


"Aku jahat? Hei, I am doing the best here."


"Hahahahahaha.. sadar Erick ini sudah masuk tindakan kriminal," jawab Jesica sambil terus tertawa meledeku.


Saat itu aku memang sedang tidak bisa berpikir normal. Patah hati sudah kurasakan bertubi tubi, kali ini penentangan dari sahabat ku sendiri tambah membuat ku sangat terpuruk.


Aku mendorong Jesica sampai ke dinding, lalu ku tarik kerah kemeja nya sampai kancing nya lepas.


"Pergi sekarang juga! GO! I don't need you anymore."


Sumpah, saat itu adalah momen paling disesali dalam hidupku. Karena sudah kepalang gila oleh satu wanita, aku hampir saja membunuh sahabatku pelan pelan.


Kita saling bertatapan, disana dengan jelas aku melihat pelupuk mata Jesica sangat sedih dan kecewa. Dia hampir menangis karena aku sudah berkata jahat dan kasar.


Dia dengan gerakan gemetar lalu mengeluarkan HP dalam saku nya. Dia menekan satu nomor yang selama ini sangat aku takuti.


Dia sedang membuat panggilan telepon dengan ayah.

__ADS_1


"Ya OM, kaya nya Erick sudah lupa siapa dirinya sekarang. Tolong secepat nya urus wanita itu," kata Jesica dengan eskpresi hampa dan sedih.


Mendengar perintah seperti itu, aku langsung lari berhamburan keluar kamar. Aku langsung meninggalkan kosan itu secepat mungkin, aku harus segera menyusul Dira.


Ayah sudah tahu semua nya, dia tahu aku sedang terobsesi dengan wanita. Sekarang Dira dalam bahaya. Aku sangat tahu jika ayah dengan tega akan melukai Dira


Aku naik taksi dengan terburu buru, ku suruh sopir untuk ngebut agar cepat sampai lokasi. Butuh waktu 10 menit saja, aku turun dari taksi dan berada di depan minimarket.


Tapi tidak ada siapa siapa disini, Dira dan Hary menghilang entah kemana. Aku harus cari mereka kemana lagi?


Aku sangat gelisah, bingung dan frustasi dengan situasi berbahaya ini. Sekarang aku sedang bertaruh dengan waktu yang terus berjalan cepat.


Ku ambil HP dan mencoba melakukan panggilan, tapi hasil nya nihil. Baik Dira ataupun Hary tidak bisa dihubungi sama sekali.


Aku makin panik, lalu ku cari saja kesana kemari dengan lari secepat mungkin. Sampai akhirnya aku menemukan Dira sedang berdiri di pinggir trotoar sambil menjilat eskrim.


Dengan hembusan nafas yang tidak beraturan, aku berlari menghampiri wanita itu. Namun dari arah ujung kanan ada sebuah motor besar sedang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.


Aku dengan reflek berteriak kerah nya yang masih jauh, aku belum bisa menggapai posisi nya.


"DIRAAAA AWAAASSS!" Sekeras mungkin aku berteriak, namun wanita itu masih belum menyadari apa apa.


Sekuat tenaga aku harus menyelamatkan Dira dari tabrakan motor yang disengaja itu.


Aku lari, lari dan terus lari.


Sedangkan,


Motor besar terus melaju semakin kencang dan disana Dira mulai menyadari jika ada motor dari arah depan akan melintas dengan sangat cepat.


Dira lalu menjatuhkan Es krim dan mata nya terkena silauan dari cahaya lampu motor. Dia tidak bisa menghindari dan bergerak. Tangan nya sibuk menutup kedua mata nya.


Motor itu berhasil menyerepet badan Dira dan saat itu juga aku langsung menarik badan nya sampai terpental jatuh ke tanah.


Sedangkan aku masih bisa sedikit melihat jika Dira sudah pingsan dengans segala luka kepala, lengan dan kaki yang kupaksa seret.


Aku ingin kembali memeluknya dengan sangat erat, namun aku harus segera lari dari sini. Aku harus meninggalkan dia.


Aku harus menjauh, sebelum ayah akan bertindak lebih nekat lagi.


Aku berjalan terhuyung huyung dengan darah yang terus bercucuran dari atas kepala. Kepala ku sakit, mataku mulai tidak fokus dan segala nya menjadi terlihat berputar putar.


Aku terus berjalan sejauh mungkin, aku tidak ingin Dira tahu keberadaan ku. Namun aku sudah tidak kuat, badan ku jatuh dengan sendiri nya ketanah.


Aku tidak bisa bergerak sama sekali. Mataku mulai tertutup sendiri nya.


Tiba tiba semuanya menjadi gelap dan dingin.


*****


Aku terbangun sekejap, lalu melihat diriku sedang berbaring di sebuah kamar perawatan rumah sakit.


Kucoba bangkit sebisa mungkin, ku lihat tangan ku masih di infus. Aku mulai ingat tentang kejadian terakhir, saat itu juga aku sadar jika Dira sudah terluka.


Dengan paksa aku mencabut infusan di tangan dan segera bangkit dari atas ranjang. Aku segera berlari walau badan ku masih sangat lemas.


Segera kucari ruang gawat darurat berharap jika Dira ada disana. Aku ingin melihat apakah dia baik baik saja.


Aku masuk kedalam ruang IGD, disana begitu banyak pasien sedang di rawat. Hilir mudik tenaga kesehatan memenuhi ruangan bau obat ini.

__ADS_1


Ku cari disegala sudut, kubuka tirai demi tirai penyekat ranjang. Dan akhirnya aku menemukan Dira sedang berbaring di salah satu ranjang.


Namun aku tidak berani menghampiri, karena disana ada Hary duduk disamping nya.


Aku hanya bisa berdiri berlindung di balik tirai warna hijau, ku intip mereka dari celah tirai yang terbuka.


Kulihat Hary sedang mengusap rambut wanita itu dengan sangat lembut. Tangan Dira dan Hary saling mengenggam dengan erat.


Disaat itu juga aku sangat merasa lega, jika Dira dalam keadaan baik baik saja. Lukanya hanya sekedar memar yang tidak terlalu parah.


Namun disisi lain, aku semakin merasa sedih dan terpukul jika antara aku dan dia sudah begitu jauh.


Entah itu masalah hati atau jarak, kami selalu tidak pernah di pertemukan dalam takdir yang indah.


"Makasih ya sayang, udah nyelamatin aku," ucap Dira sambil menangis dan tangan nya tak pernah lepas sedikit pun dari Hary.


"Iya sayang, kamu banyak istirahat dan cepat sembuh," balas Hary dengan sangat penuh kelembutan.


Dia lalu menyeka air mata wanita itu dan mencium kening nya dengan penuh penghayatan.


Sudah, cukup! Aku tidak tahan lagi. Aku sudah pasrah dan terlalu banyak menelan kekecewaan yang dalam.


Ku tutup tirai itu dan segera meninggalkan mereka berdua. Saat itu juga aku memutuskan untuk tidak peduli apapun lagi tengang mereka.


Silahkan, berbahagia lah Dira. Jika itu pilihan mu, aku bisa apa.


Untuk apa terus kupertahankan rasa yang bertepuk sebelah tangan. Rasa yang tidak pernah terbalaskan sampai kapan pun.


Cinta? Itu tidak ada diantara kami. Alam semesta tidak akan merestui segala ketulusan dan usaha yang aku perjuangankan selama ini.


Aku berjalan lurus sambil menundukan kepala, otak ku kini sedang penuh dengan lamunan dan penyesalan.


Tiba tiba ada yang memanggil ku dari jauh, suara waita yang sudah lama aku kenal.


"Erick!" panggil Jesica sambil membawa botol air mineral.


Akhirnya dia datang, dia yang selalu ada disaat aku selalu terpuruk. Wanita angkuh dan egois yang selalu sabar berada di sisiku.


Aku berjalan dengat sedikit terburu buru, lalu aku segera memeluk tubuh nya yang hangat.


Jesica mematung saat itu juga, dia lalu menerima pelukan ku dengan sangat erat.


Tubuh nya hangat dan nyaman. Aku menyukai wangi tubuh nya yang selalu aku rindukan.


"Maaf," ucapku sambil menangis.


Dia lalu menyentuh pundaku dengan lembut.


"Sudah gak papa, santai saja Rick."


Aku kembali memeluk nya dengan sangat erat. Kali ini aku sedang menumpahkan segala perasaan ku yang sedang hancur karena wanita.


Aku patah hati, untuk pertama kali nya.


"Maaf."


"Kini saat nya kamu melepas dia, belum terlambat."


Aku tahu, harus melepas segala obsesi dan ambisi dalam jiwa ini.

__ADS_1


Bukan aku tidak lagi mecintai mu, hanya saja tidak ingin terus menyakiti mu secara diam diam.


Aku lebih baik pergi.


__ADS_2