
Tembok Berlyn yang sudah puluhan tahun memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur akhirnya bisa runtuh hanya karena sebuah kesalahan kecil.
Kamu tahu apa penyebab nya?
Tak lain karena seorang JUBIR partai komunis Jerman tidak sengaja mengakatakan, "Mungkin saat ini juga." dihadapan para reporter dan hadirin yang sedang menghadiri pidato nya.
Karena kecerobohan kecil itu, langsung terjadi banyak kekacauan di perbatasan tembok Berlin yang menyusul runtuh nya Uni Soviet.
Persitiwa bersejerah dunia itu pun di kenal dengan Butterfly Effect, hal hal kecil yang menuntut sebuah konsekuensi besar.
Seperti nya tak hanya kisah sejarah dunia yang banyak menyimpan Butterfly Effect. Namun bisa terjadi di kehidupan manusia biasa seperti aku.
Aku yang bisa jadi tercipta dari sebuah teori kekacaun hidup, aku yang bisa berubah karena sebuah kesalahan kecil di masa lalu.
Dan hal kecil itu yang bisa membuat aku merasakan jatuh cinta begitu dahsyat.
Andai saja hari itu aku tidak diusir dari rumah, andai saja saat itu aku tidak berdiri di samping lampu merah, andai saja saat itu aku tidak melihat wanita cantik yang sedang mengibaskan rambutnya yang panjang.
Andai saja saat itu aku tidak ada.
*****
Aku Erick, saat itu usia ku sudah menginjak 17 tahun. Di usia yang semuda itu, baru saja aku mendapatkan sebuah ujian hidup yang sangat berat.
Aku di usir oleh ayahku sendiri, dia dengan tega menyuruh pengacara nya untuk mencoret namaku dari daftar keluarga.
Tentu, wanita itu senang. Akhirnya aku sudah resmi dibuang dari hak waris kekayaan ayah ku nanti.
Tapi aku tidak peduli, aku bisa memulai semuanya dari nol.
Sebelum di usir, seperti biasa aku mendapatkan banyak pukulan dan kekerasan dari ayah. Dia selalu bilang jika aku adalah anak yang tidak berguna dan beban keluarga.
Dia benci sekali dengan sikapku yang selalu memberontak dan tak bisa diatur, hingga hari itu datang juga.
Seluruh fasilitas di cabut, kemewahan yang sudah aku rasakan dari sejak lahir terpaksa harus aku tinggalkan.
Siang itu sangat terik, aku berjalan sempoyongan dan entah arah. Selain menahan panas, rasa lapar terus saja mengerogoti perut ku.
Sampai aku tak sadar, kini aku sedang berdiri di samping lampu pengatur lalu lintas. Tentu aku harus berhenti, karena lampu menunjukan warna hijau.
Menunggu memang hal yang sangat menyebalkan, ditambah harus menahan rasa malu karena semua luka lebam dan memar. Semua orang hanya memandangi ku aneh, tanpa mereka menanyakan ' apa aku baik baik saja '.
Aku melihat lurus kedepan, mengabaikan saja orang orang itu. Tiba tiba ada segerombolan wanita berisik datang dari arah berlawanan, mereka sedang tertawa dan bergosip sambil menunggu lampu hijau.
Aku melihat mereka dengan sebuah rasa kesal, seperti segerombolan bebek kampung.
Namun tak ku sangka, mataku melihat sesuatu yang tidak biasa. Diujung geromobolan wanita pekerja kantoran itu, terselip satu wanita yang hanya berdiri tersenyum melihat ocehan teman teman nya.
Wanita itu memilih bersembunyi, dia hanya sebuah figuran yang tak ingin di lihat orang banyak.
Namun saja, bagiku kali ini dia sangat beda. Wanita itu menyimpan sebuah magnet luar biasa untuk mata pria remaja seperti ku.
Dia sangat cantik, bahkan tercantik di antara segerombolan wanita itu. Tidak, aku salah. Dia adalah wanita maha cantik yang pernah aku temui di dunia ini.
Bahkan ibu ku sendiri kalah cantik dari dia. I'm sorry Mom.
__ADS_1
Aku mematung melihat dia berdiri dengan tubuh yang indah, kedua matanya bulat, hidung mancung dan bibir kecil merah merona.
Sekejap aku tersihir hanya karena melihat wanita asing di pinggir jalan. Aku tidak tahu dia siapa dan aku tidak tahu siapa nama nya.
Namun hati ku merasakan, bahwa kita akan segera bertemu untuk waktu yang sangat lama.
Lampu merah sudah menyala, mobil dan motor mulai berhenti, mempersilahkan para pejalan kaki untuk melintasi jalan penyebrangan.
Wanita itu tersenyum melihat lampu berubah, dia lalu mengibaskan rambut nya yang mengguntai ke arah belakang dengan tangan kanan.
Lalu ia dan teman temanya mulai berjalan ke arah depan. Aku dan dia akan segera berpapasan. Aku tidak bisa bergerak, tubuhku kaku, semua gemetar.
Deg! deg! deg!
Saat itu juga hati ku berdebar kencang, tiba tiba saja suhu tubuh naik dan aku gelisah hebat.
Aku jatuh cinta, hanya karena sebuah permainan rambut wanita.
Aku jatuh cinta tanpa sebuah alasan hebat, aku tidak menjelaskan kenapa hati ku dengan sangat mudah menjadi bergairah kembali.
Wanita itu akhirnya berpapasan denganku, dia berdiri tepat di samping ku yang masih mematung.
Aku meliriknya, aku berhasil melihat kedua mata wanita bergerak, aku berhasil melihat senyuman nya yang begitu menawan.
Tapi dia tidak menoleh padaku sedikit saja. Dia mengabaikan pria yang sedang kacau ini.
Kenapa dia tidak bisa menyadari keberadaanku?
Apa aku tidak menarik di matanya?
Lalu dia berlalu begitu saja dari hadapan ku, dia hanya berjalan pergi menjauh dan semakin jauh.
Sedangkan aku disini, hanya bisa berdiri seperti orang gila. Alam bawah sadar ku melayang layang entah kemana.
Ini pertama kalinya aku merasakan, bagaimana dunia bisa jungkir balik dengan hebat.
Siapa dia? Aku ingin melihat nya kembali.
*****
Hari esok telah tiba, aku sedang menunggu wanita itu kembali.
Seperti orang bodoh, aku terus saja menunggu kedatangan nya di sekitar jalan penyebrangan. Dari pagi hingga sore, dia masih belum saja muncul.
Aku tidak merasa letih sedikit pun, aku hanya sudah tidak tahan terus merasakan loncatan irama jantung yang tak berhenti.
Aku merindu, aku terangsang oleh senyuman, aku mendadak kehilangan kewarasan.
Kemana saja wanita itu? Apa yang sebenarnya ia lakukan hari ini?
Aku tetap menunggu nya sampai malam tiba, bahkan aku sudah merelakan kulit ku di gigit nyamuk metropolitan.
Angin sepoy mulai menghembus kencang namun entah kenapa hati ku malah panas terbakar api kerinduan.
Mataku sudah sedikit lelah, hanya untuk memantau si wanita pemilik senyuman indah itu.
__ADS_1
Lampu lalu lintas masih hijau, akhirnya aku melihat dia datang berdiri menunggu di arah sana.
Dia sangat cantik sekali, rambut itu masih dia biarkan terurai indah. Walau ini sudah larut malam, aku memaafkan keterlambatan nya.
Aku berdiri dari arah berlawanan, wanita itu sedang menikmati musik dari earphone. Wajahnya yang secantik rembulan, terus membuat bulu kuduk tak berhenti berdiri.
Dia menikamati musik itu, dia mengucapakan deretan lirik lagu yang tidak aku tahu. Mulutnya bergerak kecil dengan riang.
Musik apa yang dia suka?
Jazz, Pop atau Rock?
Aku harus tahu! Pokonya aku harus tahu!
Lampu merah sudah menyela, kini dia bergerak menuju kearah depan, dimana aku sedang menunggu nya untuk berpapasan.
Sekali lagi, aku bisa melihat nya lebih dekat. Bahkan aku bisa sedikit mencium bau tubuhnya. Wangi parfum yang menyengat dan berani.
Aku mendadak kesal, karena seharusnya dia tak pantas memakai parfum seperti itu. Aku sangat yakin, bau seperti itu akan mengundang banyak perhatian laki laki lain.
Bagaimana pun caranya, aku harus menyingkirkan bau pafrum terktutuk itu!
Aku mulai mengikuti nya dari belakang, kemanapun dia melangkah aku harus selalu menjadi bayangan nya.
10 menit aku terus membuntutinya, sejauh ini dia masih tidak menyadari jika aku sedang mengikuti nya.
Lalu langkahnya berakhir di sebuah restoran pizza yang tidak terlalu terkenal. Namun restoran pizza itu terlihat sangat nyaman untuk menjadi tempat makan.
Aku memilih masuk kedalam restauran itu, kupilih meja bekalang paling sudut.
Sedangkan, dia memilih duduk di meja depan dan langsung mencabut earphone nya di telinga.
Pelayan restoran itu datang menghampiri nya, seorang pria krempeng dengan gaya yang sok keren terlihat menggoda wanita itu.
Sial, aku mendadak cemburu.
"Pepperoni, tanpa pinggiran dan extra cheese," jawab wanita itu dengan senyuman murahan nya.
Ya, dia terlalu murah untuk menebar senyum ke pria lain.
"Ok," balas pria itu dengan semangat berlebih.
"Jangan lupa tanpa paprika," lanjut wanita itu.
Kenapa dia gak suka paprika?
Kenapa harus extra cheese?
Aku dengan fokus terus mendengar percakapan mereka berdua. Tentu aku mulai menghafal menu pizza favorit wanita itu.
..."Pepperoni, tanpa pinggiran, extra cheese, tanpa paprika."...
..."Pepperoni, tanpa pinggiran, extra cheese, tanpa paprika."...
..."Pepperoni, tanpa pinggiran, extra cheese, tanpa paprika."...
__ADS_1
Aku terus menghafal kalimat itu sampai ribuan kali. Aku ingin tahu dan harus tahu apapun tentang wanita itu.