
Ini adalah hari kelima ( H - 5 ) menuju Surabaya. Mereka masih dalam pelarian dan persembunyian. Sang fajar telah menyongsong dengan hangat, Erick sudah membuka kedua matanya.
Dia membaringkan tubuhnya, dia sedang memandangi wajah indah nan cantik. Kedua mata Dira masih tertutup. Dira tertidur pulas di salah satu tempat penginapan motel murah.
Kedua tangan Erick menyentuh samping wajah Dira. Terus menatap dalam wanita yang begitu sangat berarti dalam hidupnya.
...Aku sangat beruntung bisa bersamamu....
...Dira, percayalah padaku kali ini....
...Aku merasakan cinta tulus dan luar biasa hanya dengan mu saja....
...Bisakah kau mencintai ku walau sejenak?...
Mendadak Erick mencium kening wanita itu dengan sangat lembut. Dia ingin terus merasakan bagaimana sensasi gila dari sebuah perasaan cinta. Ya semua orang memanggil sensasi misterius ini dengan sebutan jatuh cinta.
Kedua mata Dira terbuka, dia mulai bisa mengenal wajah yang terus tersenyum padanya. Sinar wajahnya terus memancarkan kebahagiaan. Dira bahkan tidak habis pikir, pria ini masih bisa tersenyum di tengah situasi kacau ini.
...Dasar, pria lemah....
...Hati mu terlalu murah untuk ku perjuangkan....
...Tidur di samping mu saja, sudah menghilangkan akal sehat, kewarasan dan moralitas....
...Aku memang terlalu sial bertemu dengan pria aneh sepertimu, Erick....
Kini mereka saling menatap, saling berdebat dengan hatinya masing masing. Mereka saling menghujat satu sama lain.
Beginilah mereka sesungguhnya, sulit untuk mengungkapkan perasaan secara terbuka. Semua hanya masalah batin dan pergolakan.
"Aku demam," ucap Dira dengan lesu dan pucat pasi.
Erick langsung menempelkan telapak tangan di atas jidat wanita itu. Mulai meresapi berbagai suhu tubuh yang sebenarnya dia kebal untuk rasakan.
"Sebaiknya cari apotek. Aku segera keluar dan kamu tunggu saja disini," ujar Erick dengan wajah khawatir.
"Jangan, aku ikut!" protes Dira.
"Jangan ngeyel, terlalu bahaya!" sanggah Erick.
Dira mulai menggelengkan kepalanya berulang kali. Berharap jika Erick akan mendengarkan permohonannya.
"Aku takut sendirian disini," timpal Dira dengan wajah penuh belas kasih.
Erick tertegun, ia tentu tidak bisa menolak permintaan wanita ini lagi.
"Ok, tapi jangan sampai kamu melakukan banyak kontak mata dengan orang lain. Sangat berbahaya, cukup pegang tangan ku saja," jelas Erick.
"Ok, I will," balas Dira sambil berusaha tersenyum manis.
****
Sudah agak siang, mereka keluar dari motel untuk sementara. Dira terus menggenggam tangan Erick, tak sedikitpun dia ingin melepas sentuhan itu.
Mereka berjalan kaki menyusuri jalan trotoar. Sembari menikmati angin sepoi yang sejuk. Mereka dari jauh terlihat seperti pasangan umum seperti biasanya. Namun kenyataanya mereka hanyalah sepasang manusia yang sedang menantikan pintu neraka.
Sudah sekitar lima belas menit mereka berputar mencari apotek. Namun entah kenapa tidak ada satupun apotek yang buka. Dira pun mengeluh sudah terlalu capek untuk berjalan kaki. Tubuhnya lemas karena demam.
"Kita cari warung kecil, beli obat warung saja," pinta Dira dengan pandangan lelah.
"Naik saja ke atas punggung, aku akan segera cari warung kecil," ujar Erick sambil jongkok. Dia lalu mempersilahkan Dira untuk menaiki belakang tubuhnya itu.
"Tenang saja, aku sudah kurus kali ini. Beban mu tidak terlalu berat," ledek Dira sambil tersenyum kecil.
Setelah itu Dira di gendong oleh Erick. Mereka kembali melanjutkan pencarian dan akhirnya menemukan warung kelontong kecil.
Dira duduk di bangku kayu samping warung itu. Sedangkan Erick sedang membeli beberapa obat warung dan cukup lama mengobrol dengan ibu pemilik warung.
Sambil menunggu Erick selesai membeli obat, dia memilih untuk diam dan menghemat tenaga. Kemudian secara tiba tiba ada empat segerombolan pria muda melintasi dirinya.
Para pemuda itu sedang bercakap dan melempar tawa, sampai tak sadar salah satu pria membuang puntung rokok sembarangan ke arah Dira. Sampai puntung rokok itu jatuh tepat ke arah wajah Dira.
Tentu saja wanita merasa kesal dengan tingkah acuh para pemuda itu. Tanpa sepengetahuan Erick, dia bangkit dari kursi kayu dan mengejar mereka.
"Hai kalian bocah, tunggu," ucap Dira lantang.
__ADS_1
Lantas mereka kompak berhenti dan membalikan posisi. Para pemuda itu seraya menatap aneh wanita yang sedang ada di hadapan mereka.
Dira lalu melempar puntung rokok itu secara kasar. Puntung rokok mendarat tepat di salah satu wajah pria.
"Kalian pernah sekolahkan? masa pelajaran SD tentang buang sampah saja masih gak ngerti HAH!" bentak Dira dengan berani.
"Apaan sih ini emak emak," celetuk salah satu pria berbadan paling kurus. Lalu gelak tawa diikuti oleh teman temanya.
Tak terima dirinya di hina oleh bocah tengik seperti mereka. Dira makin berani untuk mendekati mereka berempat. Dia dengan gagah dan lantang mulai menatap mereka secara garis tajam.
"Cepat minta maaf. Kalian sudah berlaku tidak sopan terhadap orang tua. Sudah buang sampah sembarangan dan tidak tahu diri lagi," ucap Dira sambil meledek mereka juga.
Karena merasa sudah banyak mendapatkan ceramah. Salah satu pria yang sudah sangat jengkel, perlahan mengayunkan tangan kanannya untuk menampar.
Dira sedikit goyah, karena pria itu benar berani akan menyakiti dirinya. Tiba tiba tangan itu terhenti oleh tangan besar Erick.
Erick datang untuk melerai pertengkaran di antara mereka. Dia pun menatap wajah mereka satu persatu dengan penuh amarah. Jelas sekali Erick tidak suka jika wanitanya disakiti oleh siapapun.
"Enyah kan tangan kotor ini dihadapan ku," ucap Erick dengan mimik muka mengerikan.
Awalnya pemuda itu merasa tidak takut, baginya pria ini hanya sebatas pecundang saja. Dia pun kembali menatap sinis Erick.
"Hei bro, apa wanita cerewet ini ibu mu?" tanya pria itu sambil tertawa meledek.
"Aku sedang tidak ingin ribut dengan bocah seperti kalian, sebaiknya kalian pergi sebelum ku patahkan jari kalian satu persatu," gertak Erick dengan wajah serius.
"Aduh ternyata anak sama ibu sama sama menyebalkan," ledek pria itu dengan wajah kemenangan.
Jujur Erick sangat tidak suka dengan situasi seperti ini. Berdebat apalagi melakukan adu fisik adalah hal yang sia sia. Namun tetap saja kedua kupingnya sudah tidak tahan dengan kesombongan para pemuda itu.
Erick memutuskan untuk memberikan sedikit pelajaran untuk mereka. Dengan cekatan, tangan pria itu dia putar dan pelintir kan. Terdengar jelas suara gertakan tulang yang saling memutar arah.
Kreek.. kreek..
Pria itu meringis kesakitan, tangan kanannya masih sangat kuat untuk dilepaskan. Erick lalu mendorong tubuh pria itu dengan kaki kanannya. Seketika pria itu terpental cukup jauh.
Bruuukk...
Sontak semua kaget dan tersentak melihat satu temanya bisa dengan mudah tumbang. Mereka kemudian memasang kuda kuda untuk menyerang dan menyerbu Erick.
"Apa kamu masih kuat lari?" bisik Erick sambil terus mengawasi pergerakan lawan yang mulai berjalan maju.
"Maksud kamu?" balas Dira cemas.
"Dimulai dari hitungan ketiga, kamu harus siap siap untuk lari sekencang mungkin," ucap Erick perlahan melangkah mundur.
"Lari dari bocah bocah ini?!" protes Dira dengan kesal.
"Tidak ada lagi waktu, sebaiknya aku segera menghitung mundur, tiga...dua.. satu.. lari ...," teriak Erick sambil melesat jauh meninggalkan para pemuda itu.
Melihat Erick dan Dira berlari melarikan diri dengan terbirit-birit, sontak mereka pun pulang mengejar dengan serbuan maut. Mereka pun tidak mau kehilangan jejak dua orang asing itu.
Erick dan Dira terus saja berlari sekencang mungkin. Mereka berlari tanpa arah dan tujuan, yang mereka inginkan hanya menghilang dari serbuan para pemuda tersebut.
Dira pun selalu menolehkan kepala ke arah belakang, terus memantau musuh yang tak gentar memburu mereka berdua. Dari arah tak jauh, pemuda itu pun berhasil melihat pergerakan mereka.
"Rick, gawat mereka terus ngejar kita," teriak Dira sambil mengeratkan pegangan tanganya dengan Erick.
"Sial, kita harus lari lebih cepat," balas Erick sambil berusaha mengatur nafas yang tidak teratur.
"Percuma, mereka lebih cepat dari kita. Sebaiknya kita bersembunyi saja," timbal Dira yang nyaris sudah kehilangan nafas.
Tanpa pikir panjang lagi mereka dengan cepat bersembunyi dibelakang dua tong sampah besar berbentuk kotak. Mereka berdua jongkok dan merunduk bagaikan katak dalam tempurung.
Segerombolan pemuda berhenti tepat di depan tong sampah itu. Mereka pun dengan lelah dan nafas sesak mulai mencari sosok mangsa yang tiba tiba menghilang.
"Kemana lagi mereka," ujar salah satu pemuda.
"Kita cari saja lagi, jangan sampai mereka lolos begitu saja!" omel pria lainnya.
Ditengah obrolan mereka, tiba tiba kaki Dira tak sengaja menyenggol salah satu botol plastik yang berserakan di bawah tanah. Sontak suara itu mengalihkan perhatian mereka di belakang tong sampah itu.
"Aduh, gawat!" gumam Dira dengan takut.
"Ketemu lagi ternyata," ucap salah satu pria itu dengan semangat. Mereka pun tak segan langsung menyerbu belakang tong sampah itu.
__ADS_1
Namun bukan Erick yang cerdik jika menyerah begitu saja. Dia langsung membanting kedua tong sampah itu kearah para pemuda.
Dengan sangat cekatan, Erick kemudian menghalau gerakan mereka dengan semburan banyak sekali sampah. Alhasil, sampah itu berserakan di pinggir jalan dan berhasil menembus pertahanan mereka.
Mereka berjingkrak jijik tak kala sampah itu mengenai baju dan celana mereka. Fokus mereka mulai tercerai berai karena bau busuk yang sangat menyengat itu.
Erick langsung menarik tangan Dira, mereka lalu kembali berlari dengan sekuat tenaga. Di tengah pelarian mereka, Erick mulai tertawa terbahak bahak. Suasana tegang dan menakutkan itu sejenak sirna.
"Mereka memang pantas mendapatkan semua sampah itu," celoteh Erick terus melemparkan senyum penuh kepuasan.
"Kamu keren banget Erick!" teriak Dira dengan sangat girang.
Merekapun masih terus berlari sejauh mungkin. Dengan saling melempar tawa dan kegembiraan, mereka akhirnya berhasil menghindari serangan dan keroyokan para pemuda.
Dira tiba tiba menarik tangan Erick masuk kedalam sebuah taman yang menjual berbagai macam bunga dan tumbuhan.
Karena suasana sangat sepi, mereka pun diam diam bersembunyi di balik semak semak hias. Dira dan Erick pun duduk terkulai, mereka mulai mengatur nafas dan mengistirahatkan tubuh.
"Sepertinya ini tempat yang aman," ucap Erick sambil menyeka banyak keringat di wajahnya.
"Ini beneran gila," ucap Dira sambil merebahkan kedua kakinya.
Dira mendadak berdiri dan berjalan mundur. Dia merasa masih takut dengan para pemuda itu. Dia menyarakan Erick untuk lebih bersembunyi.
"Gak usah Dir, mereka udah gak ada," sanggah Erick dengan wajah tidak suka.
"Gak, harus sembunyi lagi," balas Dira keras kepala.
Tanpa ia sadari jika di belakangnya sudah ada kolam ikan. Dira pun hampir terpeleset jatuh kedalam kolam ikan itu, namun dengan cekatan Erick menahan ujung lengan bajunya.
"Dasar ceroboh," celetuk Erick kesal.
Tapi entah kenapa, tubuh Dira mulai goyah dan bergoyang tak karuan. Kakinya sudah lepas kendali dan kehilangan keseimbangan. Dalam hitungan detik saja, Dira pun terpeleset jatuh di atas keramik kolam ikan yang licin tersebut.
Alhasil, Erick pun ikut terjatuh bersama wanita itu masuk kedalam volume air kolam yang tidak terlalu dalam.
Byuuurrrrr...
Mereka pun tersungkur masuk kedalam kolam ikan. Seluruh tubuh termasuk rambut pun ikut basah kuyup. Dira dengan susah payah mencoba bangkit dari genangan air yang mulai menyatu dengan lumpur.
"Kamu gak papa Dira?" tanya Erick panik sambil membantu Dira berdiri.
Bukanya mengeluh sakit atau apa, Dira malah tertawa terbahak bahak di depan Erick.
"Kamu kenapa?" tanya Erick makin panik.
"Sumpah ini tuh lucu sekaligus menyenangkan!" balas Dira sambil mengusap wajahnya yang basah dan kotor.
"Tapi kamu basah, kamu kan lagi sakit," ujar Erick dengan wajah kebingungan.
"No, aku sehat banget malah," ucap Dira sambil tertawa lepas.
"Beneran kamu senang?" tanya Erick bingung.
"Ini pertama kalinya aku merasakan apa itu tertawa lagi Rick."
Erick pun mengangguk paham dan ikut tertawa bersama Dira. Ini sebuah kejutan luar biasa, tiba tiba diantara mereka mulai merasakan adanya sebuah ikatan cinta.
Walaupun Erick tidak tahu apa itu memang cinta atau hanya sebuah ilusi belaka.
Tangan Erick seraya memegang dan mengelus rambut pendek Dira. Dia mulai menghentikan gelak tawa diantara mereka.
Erick menatap haru dan bahagia.
"I love you," ucap Erick.
Dira tidak menjawab, dia hanya membalasnya dengan senyuman biasa dan misterius. Namun kali ini cukup berbeda, dia melayangkan sebuah kecupan manis di atas bibir Erick.
"Ayo kita balik lagi ke hotel, ini sudah waktunya check out," balas Dira sambil merangkul tangan kosong Erick.
...Ini memang cinta....
...Tapi begini cinta yang dirasakan oleh orang orang normal di luar sana?...
...Tapi rasanya, ini lebih mirip dengan sebuah perpisahan....
__ADS_1
...Aku merasakan kesedihan, itu tergambar dengan jelas di senyum bibirnya yang sedang tertawa....