AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
SEKOLAH


__ADS_3

Aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Tujuanku bukan untuk mendapatkan Ijazah atau mencari ilmu.


Tujuan asli nya simpel saja, ingin terlihat normal di mata wanita itu. Kalau aku tidak sekolah dan hanya fokus pada komputer saja, mungkin suatu hari dia akan mencurigai ku.


Jadi kuputuskan mencari sekolah dekat kosan sini.


×××


Ini adalah sekolah baru ku. Semua warga sekitar menyebut nya SMA unggulan dan favorit. Tapi bagi ku ini contoh sekolah yang buruk dan kualitas pendidikan yang rendah.


Jangan marah, tapi ini memang kenyataan nya. Aku yang sudah terbiasa belajar di sekolah taraf internasional tentu bisa merasakan perbedaan yang sangat jauh.


Dari fasilitas sekolah, kebersihan, kantin, ekstrakulikuler dan paling penting adalah kualitas guru.


Seperti guru yang sedang ada di hadapan ku sekarang, dia dengan wajah malas dan acuh sedang melihat lihat berkas dokumen mutasi sekolah.


"Namanya Reza aja?" tanya pak guru sambil merokok di ruang wali kelas.


"Iya," jawabku pelan, padahal sebenarnya aku ingin sekali teriak kencang di depan wajah nya.


"Jadi ini tahun pertama mu keluar dari panti asuhan?"


"Iya, aku ingin mencoba mandiri."


"Untuk biaya sekolah dan sehari hari kamu dapat darimana," tanya pak guru dengan wajah remeh.


"Aku punya tabungan dan tunjangan dari pemerintah," jawabku dengan asal dan tentu saja bohong.


Pak guru somplak itu sedang melintir puntung rokok yang sudah habis ke atas asbak. Dia lalu kembali menyalakan api ke ujung rokok barunya.


"Ok, hari ini kamu bisa masuk belajar. Aku guru kimia sekaligus wali kelas kamu."


Sial, ternyata dia adalah wali kelas ku. Memang benar, nasib masa depanku akan tambah suram.


Aku tak sengaja melirik name tag di bagian kiri seragam honorer. Tiba tiba aku ingin tahu siapa nama guru sialan ini.


...Hary Silia Nugroho...


Semoga saja, aku tidak berurusan dengan nama itu, aku harus terus menghindar dengan pak guru Hary.


*****


Hari pertama ku duduk belajar di kelas 12, IPA 1 tak banyak membuat ku berkesan. Semua berjalan sangat biasa dan membosankan.


Aku memilih duduk di belakang pojok, aku hanya ingin menghindari perhatian orang banyak. Aku ingin terlihat biasa saja, tidak spesial dan paling penting yang mereka tahu aku adalah yatim piatu.


Kisah hidupku yang asli, akan ku tutup rapat rapat. Mereka tidak akan pernah tahu jika aku adalah anak dari pemilik group besar Indonesia.


Selain itu jangan sampai ada yang tahu, pekerjaan ku sebenarnya. Walau aku masih bocah, aku sudah melanglang buana turun di dunia teknologi.


Ting, Tong ,Ting, Tong


Suara apa itu? Kenapa suara nya berbunyi sangat lucu dan unik.


Kenapa semua wajah siswa dikelas mendadak riuh. Kenapa guru itu pergi begitu saja. Kenapa mereka berhamburan keluar kelas.


Aku masih bingung, termenung begitu saja. Tiba tiba ada satu siswi cantik menghampiriku.

__ADS_1


"Gak keluar? Waktu nya istirahat loh," ucap nya sambil tersenyum ramah.


"Oh," jawabku singkat saja.


Jam istirahat sekolah telah dimulai, aku memperhatikan para siswa sekolah negri ternyata lebih senang menghabiskan waktu dengan jajan.


Aku terus saja penasaran, dengan berbagai keanehan jenis jajanan kelas bawah.


Dimulai dari minuman warna warni yang di bungkus plastik lalu ada sedotan di dalam nya. Lalu mereka memakan semacam goreng tepung dengan alas koran bekas.


Paling parah, ada telur yang di kocok kencang lalu di celupkan ke sebuah wajan besar berisi minyak hitam pekat. Cairan telur dengan ajaib di putar putar oleh bambu panjang dan akhirnya bisa tergulung sempurna


Aaaahh, sungguh menantang sekali. Apa aku harus mencoba jajanan ekstrim itu? Aku merinding, itu bukan seleraku.


Tiba tiba aku mulai teringat Dira, mungkin kah dia dahulu dibesarkan oleh lingkungan aneh seperti ini. Apakah ini selera wanita itu saat sekolah?


Apa aku jatuh cinta pada wanita seperti itu? Hidup di bawah garis kemiskinan ibu kota.


Karena aku tidak ingin mempunyai teman sekolah, aku berusaha untuk bersembunyi saja. Aku niatkan untuk mencari tempat aman untuk merokok.


Aku berjalan menuju belakang gedung sekolah, disana aku lihat banyak juga siswa pria sedang merokok.


Aku tidak peduli dengan mereka, aku hanya ingin merokok dengan tenang.


Kubuka bungkus rokok Malboro Merah, kuambil satu batang, ku nyalakan pemantik api dan kuhisap ujung rokok dengan penuh kenikmatan.


Asap mengepul keluar dari hidung dan mulut, ku lihat asap putih itu dengan senyuman kecil.


Sungguh indah, pikirku saat itu.


Tiba tiba, ada lima orang siswa pria mulai berjalan menghampiri ku dengan kompak. Mereka dengan wajah yang sok kuat mulai ingin menganggu ku.


"Hei anak baru, sini," perintah satu siswa berbadan tinggi besar, aku yakin dia adalah orang paling loyal di geng ini.


Aku tidak merespon, memilih diam adalah pilihan terbaik. Aku terus saja fokus merokok. Saat aku akan mengambil bungkus rokok, tiba tiba siswa lain mulai menahan tangan ku.


"Wih, gaya amat si lo, Malboro Merah bro," kata siswa berambut kriting.


Dia lalu merebut bungkus rokok itu dan melempar ke arah teman temanya. Dengan gaya preman pasar mereka langsung tertawa terbahak bahak.


Sungguh, mereka sangat menyebalkan. Aku benar malas harus menghadapi segerombolan lalat sampah ini.


Aku memalingkan wajah dan berbalik meninggalkan mereka, namun ada yang menarik bahu ku dengan paksa.


"Hei, kalau senior lagi ngomong jangan berani kabur, cemen banget sih lo," ucap si rambut kriting.


Aku menepis dengan kasar tangan itu dan menatap mereka dengan sangat tajam.


"Singkirkan tangan kotor kalian," balas ku dengan senyum remeh. Ketika aku berbalik lagi, satu orang mulai memukul wajah ku.


JOS!


Pukulan itu mendarat dengan sempurna di wajahku, aku bisa merasakan ngilu luar biasa dan sedikit pusing. Ujung bibir pun keluar darah.


"Sial," ledek ku dengan berani untuk mereka.


Terjadilah sebuah perkelahian antar siswa SMA. Waktu itu aku merasa bangga dengan duel ini, namun di pikir lagi ternyata sangat konyol.

__ADS_1


Mengingat nya, aku sangat bergairah harus melawan lima orang sekaligus. Jangan salah, aku adalah atlet sabuk hitam yang tak terkalahkan. Bahkan saat itu ayah langsung mengirim pelatih khsusus dari Korea dan Thailand.


****


Akhirnya hari pertama ku yang berjalan tenang dan damai semua gagal. Aku pun dengan perasaan berat hati harus menghadap wali kelas, pak guru Hary.


Dia dengan wajah yang kesal terus menatap wajah ku yang sudah babak belur. Dia menyuruhku untuk segera memanggil wali. Dia tidak peduli dengan kondisi wajah ku, dia tidak menanyakan alasan ku sampai bisa berkelahi.


Guru itu hanya terus memarahi dan memojokkan ku.


Bahkan dia tidak peduli jika aku yatim piatu, dia terus memaksaku untuk membawa setidaknya satu orang yang bisa jadi wali resmi ku.


"Aku perlu bicara dengan mereka, kalau tidak jangan harap kamu bisa mengikuti ujian akhir sekolah," ancam nya dengan serius.


****


Masih menggunakan seragam sekolah putih abu, aku memilih untuk nongkrong sendiri di depan ruko kosong.


Aku belum makan seharian, bahkan aku tidak mau pulang ke kosan itu. Aku malu, jika Dira harus melihat wajah ku babak belur.


Mungkin dia tambah menilai ku seperti si pecundang Reza. Aku terus melamun, memandang langit pekat hitam yang sendu.


Dari arah tak jauh, aku melihat segerombolan preman cacing berjalan menghampiri ku. Mereka adalah bala bantuan lima senior sekolah.


Mereka masih tidak puas dengan perkelahian di sekolah? Apa mereka malu karena kalah dari junior nya?


Jadi ini mental kalian, tukang balas dendam!


Tanpa basa basi, tanpa memasang kuda kuda yang kuat, mereka secara membabi buta mulai menghajar ku.


Tentu aku tidak bisa membalas mereka, pertahanan ku tidak bisa imbang. Aku terus di hujani pukulan yang keras.


Semua tubuh dan kepalaku hampir remuk. Aku hanya bisa melindungi tubuh ku sendiri dengan rangkulan kedua tangan.


Tiba tiba ada yang berteriak kencang, suara wanita khas yang sangat aku kenal.


"Hei, bocah ngapain kalian berantem disini," teriak Dira dengan tak gentar menghadapi segerombolan preman cacing itu.


"Ngapain ada cewe ikut campur segala," celetuk salah satu senior.


"Laki laki ko main nya keroyokan, memalukan," ejek Dira dengan wajah jutek.


"Sana lo pergi, sebelum kami- - "


"Apa, lo mau perkosa gw! Ayo siap takut," jawab Dira semakin berani dan menantang.


Mereka lalu terdiam dan tidak berkutik seketika. Aku tahu mereka sama sama terkejut ada wanita seberani dia.


"Kalau masih belum pergi, nih aku udah siap siap mau telepon polisi."


Dira lalu mengeluarkan HP BlackBerry dari tas kecil nya, dia mulai menakuti mereka semua.


"Bener nih? Mau masuk penjara aja?"


Karena akting Dira yang sangat memukau, akhirnya mereka pun terkpaksa pergi. Mereka percaya saja pada ucapan wanita itu.


Setelah mereka pergi, dia lalu menghambur pada ku yang sudah tergeletak.

__ADS_1


Pada akhirnya, aku tetap seorang pecundang di mata nya.


__ADS_2