
..." Tuhan, apakah ini skenario kuasa yang selalu kau janjikan dalam firman mu ? Apa kau marah karena aku terlalu banyak melakukan dosa?...
...Tuhan, apa kau sengaja ingin membuat aku mati lebih cepat? Kematian tak berharga ini yang selama ini kau nantikan?...
...Jadi sebenarnya, siapa yang jahat? Aku atau kau?...
...Tak pantas kah sedikitpun aku menerima kasih yang kau janjikan selama ini? Bukanya kau maha segalanya, maha cinta, maha penyayang, maha pemberi....
...Aku sudah sangat lelah, bisakah kau mempercepat malaikat maut untuk segera menghampiri ku saja?...
...Aku sudah penasaran, bagaimana rasanya bersalaman dengan malaikat yang terkenal menyeramkan itu."...
Dira dan tatapan nya, hanya bisa menunjukan sebuah keputusasaan. Jiwa dan raga nya sudah teroyak dan terombang ambing.
Masih layakah dia hidup di dunia yang sudah sangat kejam merenggut semua mimpi dan kebahagiaanya?
Ini sudah berakhir, antara dia dan Hary sudah tidak ada lagi jalan cinta tuk kembali.
Erick dan Dira? Benar saja! Tidak ada kata maaf untuk Erick, dia benar manusia bejat. Jangan harap ada perjalanan cinta antara mereka. Jika itu terjadi, maka alam semesta benar akan menuju kehancuran.
Seluruh tangan Dira gemetar hebat, dia sekuat tenaga memberanikan diri menyalakan mesin mobil.
Perlahan asap hitam mulai masuk kedalam mobil, kepulan asap itu mulai menyerbu pernafasan Dira.
Kedua mata Dira mulai berair, dia batuk tak berhenti, wajahnya mulai merah padam.
Sebenarnya apa yang di lakukan Dira? kenapa dia terlihat ingin mengakhiri hidup?
Dari arah luar, Dira sengaja memasang selang air yang dimasukan kedalam knalpot dan ujung selang itu dimasukan kedalam mobil melalui pintu belakang sebelah kanan.
Dengan sengaja dia ingin memasukan asap knalpot ke dalam mobil. dia ingin mengakhiri hidup nya dengan menghirup asap Monoksida.
Kedua pandangan Dira mulai kabut dan kabur. Dia sudah tidak bisa bertahan, terkepung dalam kepulan asap mematikan yang semakin banyak.
Dia hampir mati lemas, kepalanya jatuh di atas klakson mobil.
Tiiiiiit, Tiiit, Tiiit
Karena tekanan kepala, klakson mobil itu pun berbunyi riuh.
Diluar sana, tiba tiba ada yang mengetok jendela mobil. Ada orang yang berusaha untuk menyelamatkan Dira dari ambang kematian.
Namun nahas, pintu itu terkunci dari dalam. Orang itu tidak bisa dengan mudah membuka pintu mobil dari luar.
Tiba tiba kaca mobil pecah, serpihan kaca berhamburan kemana mana. Sebuah tangan masuk dari arah lubang kaca, tangan itu berusaha membuka kunci dari dalam secara manual.
" DIRA!"
Orang itu langsung memboyong tubuh Dira yang sudah pingsan, dia sudah berhasil membawa tubuh wanita itu keluar.
Samar samar, Dira bisa melihat sedikit sosok pria yang sudah menyelamatkan nya dari ambang keputusasaan.
Siapa pria itu?
Kenapa dia menangis untuk ku?
*****
Pria yang selalu ada disisinya adalah Erick. Kali ini, Erick menempati janji nya yang pernah ia ucapkan.
__ADS_1
...Aku tidak akan meninggalkanmu....
...Aku akan selalu ada di sampingmu....
Pria yang sudah menyelamatkan dari aksi bunuh diri adalah Erick. Pria itu, selalu menunjukan sikap yang ambigu dan klise.
Pria dengan segala rahasia dan misteri dalam hidupnya.
Sudah seharian Erick menunggu di kamar perawatan rumah sakit VVIP, dia tanpa henti berharap jika Dira segera siuman.
Wanita itu terbaring lemah dengan berbagai macam selang menempel di hidung nya. Wanita itu masih tidur pulas, seperti sedang bermain di alam mimpi.
"Tolong, bangunlah Dira," ucap Erick dalam hati.
"Aku mohon kali ini, berikan aku kesempatan," batin Erick menjerit.
Tangan Erick tak henti memegang tangan Dira yang sangat dingin itu, dia merasa tubuh Dira sudah seperti mayat.
Erick merasakan gerakan kecil dalam genggaman nya, jari jari Dira mulai bergerak. Tuhan ternyata masih memberikan dia tanda kehidupan.
"Dira, kamu sudah bangun," ucap Erick pelan dan wajah nya mendekat ke arah Dira.
"Aku dimana?" tanya Dira lemah.
"Kamu sedang di rumah sakit," jelas Erick sambil menangis memeluk tubuh Dira yang masih terkapar di atas kasur.
*****
Erick mendorong kursi roda, dia sedang ingin mengajak Dira jalan jalan di atas atap rumah sakit.
Diatas atap rumah sakit, terdapat taman kecil dengan kolam berisikan ikan Koi.
"Gimana senang kan? Akhirnya kamu bisa menghirup udara segar," tanya Erick dengan senyuman nya.
Dira tidak menjawab, mulut nya di kunci rapat. Dia hanya melihat lurus kedepan, bahkan dia tidak menoleh sedikitpun untuk Erick.
Sejujurnya Erick merasa sangat frustasi sejak Dira siuman. Wanita itu memilih diam seribu bahasa, tidak menjawab satu pertanyaan siapapun dan dia seperti kehilangan separuh jiwa nya.
Pria itu hampir kehilangan kekuatan, melihat wanita yang sangat ia cintai berubah menjadi mayat hidup.
Dia sangat merindukan Dira yang ceria, cerewet, sembarangan dan bodoh.
"Aku mohon Dira, setidak nya kamu bicara, tersenyum lagi. Aku sangat merindukanmu," ucap Erick sambil memohon.
Dia masih saja bergeming, mata nya kosong dan hampa.
Tangan Erick lalu menggenggam tangan Dira dengan sangat erat, dia lalu menumpahkan segala kesedihan dan air mata di atas kedua tangan yang saling menumpuk itu.
Pria jahat itu akhirnya menangis, entah apa yang sebenarnya ia tangisi. Sebab, kita tidak bisa menebak perasaan manusia langka seperti Erick.
"Siapa kamu?" ucap Dira dengan suara serak dan pelan.
Kepala Erick mengadah keatas, dia tak menyangka akhirnya Dira sudah mau berbicara dengannya.
"Aku Erick," jawab Erick sangat hati hati.
"Aku tahu kamu Erick, tapi siapa kamu sebenarnya?"
Erick tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia malah menyentuh pundak Dira.
__ADS_1
Dira segera menepis sentuhan Erick, ada rasa jijik ketika harus merasakan sentuhan pria penguntit itu.
"Kenapa gak jawab? Aku gak suka orang asing berani sentuh seenaknya."
"Tenang Dira, kamu gak boleh panik."
"Tenang gimana! Kamu mau aku senyum? Setelah aku tahu apa yang terjadi selama ini."
"Dira aku bisa jelaskan," kata Erick, kembali dia menyentuh telapak tangan wanita itu.
"YA SUDAH JELASKAN! Gak usah kamu berani sentuh sentuh aku lagi," bentak Dira sambil menepis kasar tangan Erick.
Erick menarik nafas panjang, wajah nya sangat menyiratkan ketakutan dan kebingungan.
Sedangkan Dira, wajahnya tampak sangat membenci Erick. Jelas terlihat dari cara ia melontarkan pandangan.
"Kamu yakin bakal percaya dengan semua yang akan aku katakan?"
"Itu bukan urusan kamu, jangan berani kamu campuri segala isi hati ku."
Erick masih diam, dia hanya merasa jika mulutnya sangat berat untuk menjelaskan ini semua.
"Aku anak itu," jawab Erick.
"Anak? Anak siapa?"
"Anak lantai bawah, yang selalu kamu siapkan termos hangat di depan pintu."
Tiba tiba ekspresi kemarahan Dira berubah drastis, kali ini dia berbalik memasang wajah yang tidak biasa.
"Kamu anak itu?" balas Dira dengan mulut bergetar.
-(*_*)
Halo pembaca Novel "Aku Diculik CEO Tampan". Sebelumnya penulis wanna say big thankyou for y'all.
Perjalanan novel ini sudah mencapai 60%, sengaja penulis kebut biar cepat tamat ceritanya 😥😁
Untuk masalah episode, sepertinya tidak akan sampai ratusan apalagi ribuan 😌
But, it's my a honour to be part for your time.
Untuk beberapa bab selanjutnya, penulis mau kasih tahu terlebih dahulu. Kalau ini adalah episode flashback khusus, menceritakan asal mula Erick bisa mengenal Dira.
Dan untuk gaya kepenulisan di rubah, menjadi sudut pandang "AKU", jadi penulis akan berusaha mengenalkan Erick lebih dekat & merasakan apa yang dia rasakan lebih dalam.
(Hanya untuk episode flashback saja)
Mudah mudahan berhasil ya 🥺
Doakan saja semoga aku betah nulis di NT ya 😍
Love yu..
...Tambahan : untuk para readers yang sekira nya tidak suka episode flashback dengan durasi cukup panjang ( total 11 episode ) bisa langsung di SKIP dan langsung loncat ke episode 55....
Tenang ko, masih bisa dinikmati dengan alur yang masih nyambung.
Happy Reading
__ADS_1