AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Your Name


__ADS_3

Sudah seminggu aku diusir dari rumah. Selama itu aku bertahan hidup dari uang hasil menjual jam tangan Rolex.


Selama seminggu aku tidur di motel murah, makan seadanya dan aku membeli kamera digital pocket.


Aku sedang duduk di meja langganan, pojok belakang dan tersembunyi. Aku sedang menikmati pizza yang aku pesan sesuai selera wanita itu.


Akhirnya pintu itu terbuka, dia yang kutunggu datang juga. Seperti nya ini adalah tempat makan langganan nya.


Dia pun duduk sendiri di tempat favorit nya, menyapa dengan ramah kepada setiap orang yang ia kenal.


Dia terlalu murahan, aku sangat membenci nya.


Dengan kesempatan dalam kesempitan, aku meraih kamera itu dan diam diam memotret nya dari jauh.


Ini adalah pose yang sempurna. Aku yakin dia akan sangat cantik di semua lensa kamera.


Tak lama setelah itu, datanglah seroang pelayan dengan membawa satu loyang pizza ukuran besar dengan dua gelas besar root beer.


Kali ini dia memesa untuk porsi besar. Dua orang kah? Tapi siapa orang yang akan menemani nya makan?


Aku sangat penasaran, aku semakin rela untuk duduk berjam jam disini. Aku harus terus memantau setiap gerakan nya.


Wanita itu lalu melambai kan tangan ke arah pintu, disana ada seorang pria tinggi memakai stelan jas mahal. Pria itu menghampiri tempat duduk nya.


Dia melemparkan senyum khas pria brengsek pada umumnya. Menatap dengan penuh aura mesum dan jahat.


Mereka akhirnya makan bersama dan saling melontarkan pembicaraan yang sangat aku tidak mengerti.


Selama 3 jam aku terus duduk di belakang dan selama 3 jam itu pula mereka tertawa ria seakan akan dunia adalah milik berdua.


*****


Seperti Jack On the Ripper, aku terus menguntit mereka sampai depan rumah.


Sekarang aku tahu dimana wanita itu tinggal, dia ternyata hidup di lingkungan kumuh dan terbelakang.


Aku sampai tidak tega, kenapa dia bisa menjalani hidup setidak beruntung ini.


Mereka berdua sedang ngobrol dengan santai, bukanya segera masuk kedalam rumah, pria itu malah menyita waktu istirahat.


Sambil jongkok, aku terus melihat mereka dari arah yang sangat gelap.


Tiba tiba pria itu mulai menyentuh kedua tangan nya, dia lalu menatap nya dengan sangat buas.


Percakapan mereka sejenak berhenti, lalu sang pria dengan berani nyelonong mencium bibir kecil nya.


Wanita itu pun lekas memaling kan wajah, aku tahu betul dia sebenarnya sangat tidak menyukai itu.


Bukanya sadar diri, pria kembali memaksa untuk mencium dengan cara agresif. Alhasil, dia mendapatkan tamparan keras dari wanita itu.


Bagus! Kamu hebat!


Tak sadar aku tersenyum sendiri, hati ini mulai merasakan kepuasaan ketika melihat peristiwa memalukan itu.


Dengan wajah kesal, pria itu lalu pergi meninggalkan nya dan menancap gas mobil dengan urakan.

__ADS_1


Dasar pria pecundang, lemah!


Disaat itu juga, aku memutuskan untuk tinggal dekat dengan nya. Aku harus melindungi wanita itu dari bahaya pria brengsek di luar sana.


****


Aku sedang menunggu seseorang, dia adalah sahabat ku, terbaik dan satu satunya. Aku menunggu nya di sebuah lahan kosong.


Aku dan Jesica tumbuh bersama dari kecil, dia adalah anak dari pemilik salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan ayah.


Kami pun dibesarkan dengan cara yang sama, keluarga broken home dan otoriter. Itu sebabnya kami menjadi tak terpisahkan, aku dan dia selalu menjadi pembangkang keluarga yang kompak.


Semua kegilaan dan kenakalan remaja telah kita lewati bersama sama. Bahkan dialah orang pertama yang mengajari ku merokok, mengenalkan dunia porno, bahkan selalu menjadi mak comblang dengan gadis gadis nakal.


Aku dan dia mempunyai sebuah ikatan yang sangat besar, kemanapun aku melangkah dia akan selalu mengikuti.


Bagaimana keputusanku, dia akan selalu mendukungku. Dia tak pernah marah, tak pernah rewel bahkan tak pernah sedikitpun meninggalkan ku disaat semua orang acuh padaku.


Tiba tiba datang sebuah mobil Jeep hitam, aku melihat nya dari jauh ada seorang laki laki duduk di sebalah nya.


Mobil itu terparkir, di dalam kaca mobil aku melihat Jesica sedang mencium pria itu.


Dasar, wanita jal*ng.


Dia keluar sambil melambaikan tangan perpisahan, lalu dia berbalik tersenyum padaku. Aku tahu sahabat ku ini, tak akan bisa pisah dengan ku sedikit saja.


Dia berlarian kecil menghampiri ku, lalu dia memukul kepala ku seperti anak kecil.


"Gila, sumpah kamu makin jelek aja," ucap Jesica dengan penuh selidik melihat penampilan ku yang sudah seperti gembel ibu kota.


"Bukan siapa siapa, kenalan doang," balas nya sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusan.


"Mau rokok gak?" tawar Jesica sambil menyodori ku rokok Marbolo merah.


Aku menerima itu dengan senang hati. Ini adalah bagian favorit aku denganya, menikmati malam dengan kepulan asap mematikan.


Kami duduk di atas rumput, sambil merokok dan melihat langit malam yang biasa saja.


"Kamu beneran gak akan balik lagi ke rumah?"


"Ngapain, ayah udah gak main main lagi, aku juga sudah muak harus tinggal disana."


"Sekolah mu gimana?"


"Aku bakal sekolah, bakal hidup di tempat baru dan kenapa aku sekarang butuh bantuan kamu Jes."


"Apa lagi nih? Awas jangan aneh aneh."


"Aku hanya butuh dua hal saja gak banyak. Satu bawakan set komputer yang aku sembunyikan di gudang, dua aku butuh identitas baru."


Jesica terheran, dia memasang wajah yang tidak biasa.


"Buat apa, identitas baru? Komputer jelek itu masih kamu pakai?"


"Komputer itu satu satunya barang peninggalan ibu ku, untuk identitas baru aku butuh untuk persyaratan masuk sekolah baru, kan gak mungkin aku pakai KK keluarga ku. Aku udah di coret."

__ADS_1


"Beneran nama kamu udah di coret dari kartu keluarga?"


"Iya serius, masa bohong sih."


"Sumpah ya, hidup kamu tuh kaya sinetron hahahahaha," dia tertawa renyah mengejek nasib hidup ku yang malang.


Lalu dia mengeluarkan kartu kredit hitam dari dalam dompet nya, dia pasti ingin aku menyimpan nya.


Tapi aku tolak, aku gak mau hidup terlalu enak. Kali kali aku harus merasakan bagaimana hidup susah.


"Udah gak perlu pakai ginian segala, cukup bawakan aku komputer itu, aku bisa cari uang dari sana," ucapku sambil mengembalikan kartu itu.


"Ok, besok kamu akan segera mendapatkan semua yang kamu minta, tenang saja aku ini Jesica, jalan tikus apapun di dunia ini aku tahu." jawab nya sambil tersenyum.


****


Pagi menjelang dengan cuaca yang sudah terik, aku sedang merapihkan dan membersihkan komputer yang akan segera di pasang di dalam kamar.


Kamar kos, aku baru saja menempatinya. Ini pertama kali nya aku harus tinggal di tempat sempit dan usang. Bahkan kandang anjing miliku masih sangat bagus.


Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Lantai dasar terdapat 5 kamar kos berjejer. Sedangkan untuk lantai atas khusus tempat tinggal pemilik rumah ini.


Dari atas aku melihat wanita itu sedang berjalan menuju tangga bawah. Aku harus segera bersiap siap untuk menyapa nya.


Dia akhirnya melihat ku juga, pasti kedua matanya memperhatikan penampilan ku yang sangat urakan.


" Hei nak, kamu penghuni kos baru itu kan?" tanya dia dengan senyum, aku sangat gugup dan tidak percaya diri.


Aku hanya menunduk seperti orang cacat mental, aku belum berani menatap nya secara langsung.


"Aku Nadira, panggil aja Dira. BTW aku pemilik kosan peninggalan orang tua ku."


Akhirnya aku tahu nama wanita cantik itu.


Nadira, nama yang simpel dan sederhana.


Dira menjulurkan tangan, dia ingin membuka perkenalan nya dengan sebuah sentuhan.


Aku masih mencoba menyibukan diri dengan komputer, aku berusaha terlihat aneh di mata nya. Aku harus tak terlihat, tak kasat mata.


Maaf Dira, aku belum layak untuk menyentuh tangan mu itu.


"Oh iya kemarin kamu pasti ketemu bibi kan, nanti kalau ada apa apa panggil dia aja. Kebetulan bibiku sehari hari selalu kontrol kosan. Semoga betah ya nak," ucap Dira dengan wajah ramah tiada tara.


Sebelum meninggalkan percakapan ini, Dira menoleh lagi padaku, kali ini dengan tatapan aneh dan kasihan.


"Aku dengar kamu yatim piatu ya."


Aku masih menunduk malu, aku tidak menjawab pertanyaan itu.


"Mmm.. nama kamu siapa nak?"


Dia sering kali memanggil ku nak, aku memang terlihat sangat bocah tak berguna di mata nya.


"Reza," jawabku singkat.

__ADS_1


Mendengar aku menjawab pertanyaan nya, dia akhirnya puas. Dia kembali menebarkan senyuman yang selama ini aku rindukan.


__ADS_2