AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Gerak Cepat


__ADS_3

Kedua polisi itu berjalan cepat menuju meja resepsionis. Mereka kini sedang berada di sebuah gedung megah milik Denka group.


Zaki kemudian mengeluarkan lencana polisi kepada dua petugas resepsionis. Dia segera meminta untuk bertemu dengan CEO perusaan besar ini.


Namun sayangnya kedua petugas itu menolak. Mereka beralasan jika ingin bertemu dengan CEO harus menyertakan surat perjanjian.


Polisi senior itu terus saja memaksa dan mendesak petugas resepsionis. Bahkan dia mengancam jika tidak ada yang boleh menghalangi penyidik dalam melakukan investigasi.


Keributan di meja resepsionis di lihat oleh Jesica. Secara tidak sengaja dia menghampiri kerumuman itu. Jesica lalu menanyakan kepada petugas resepsionis apa yang sebenarnya telah terjadi.


Maka petugas itu pun segera memberitahu maksud dan tujuan kedua polisi tersebut. Mendadak kedua mata Jesica mulai kaku dan tegang. Hanya saja menurutnya ini bukan masalah besar, dia harus menghadapinya dengan santai.


"Maaf pak polisi, pak Erick sangat sibuk hari ini. Jika bapak berkenan saya bisa wakilkan beliau," ujar Jesica dengan penuh ramah tamah.


"Baik, sebaiknya kita harus bicara," balas Zaki dengan serius.


****


Jesica sedang dihadapkan oleh sosok dua polisi yang terlihat sangat haus akan kebenaran. Akhirnya selama dua tahun, momen ini terjadi. Dimana akan ada kebocoran dalam setiap rencananya.


Zaki sedang menilik setiap furniture ruang kerja yang sangat modern. Dia berharap bisa menemukan sebuah kejanggalan di tempat pemburuannya.


"Kalau boleh tahu, anda siapa di perusahaan ini?" tanya Zaki dengan tatapan tajam.


"Jesica, sekretaris pribadi CEO," jawab Jesica tenang.


Zaki tiba tiba berpikir, jika wanita ini adalah sekertaris CEO maka tidak memungkiri jika hubungan antara mereka sangatlah dekat.


Dia melihat fisik Jesica dengan seksama, menilai seberapa tinggi dan berat badan wanita itu. Tak lupa sepatu yang sedang ia gunakan.


"Apakah anda perokok?" tanya Zaki.


"Tentu, aku perokok aktif," balas Jesica cepat.


Langsung saja Zaki mengeluarkan sebuah foto Marisa dengan organisasi Payung Putih. Dia menyodorkannya tepat di depan Jesica.


Wanita itu langsung meraih foto, dia melihatnya dengan sangat santai. Walaupun sekarang hatinya sedang memompa dengan sangat cepat.


"Apa yang harus aku jelaskan dengan foto ini?" tanya Jesica balik.

__ADS_1


"Anda cukup jelaskan saja tentang wanita ini," ucap Zaki sambil menunjuk gambar Marisa.


Jesica tidak langsung menjawab begitu saja, dia sedang fokus dengan segala pikirannya yang rumit.


"Kalian pikir posisiku di perusahaan ini hanya sebatas menghafal nama wanita wanita ini?" timbal Jesica dengan ketus.


"Anda cukup jawab saja dengan pertanyaan kami," balas Zaki tidak mau kalah.


"Mmmm baiklah, aku tahu jika Payung Putih sudah bagian dari CSR kami. Tapi hanya sebatas itu saja," jelas Jesica dengan cuek.


"Benarkah?" tanya Zaki dengan penuh selidik.


"Aku sama sekali tidak tahu wanita yang sedang kalian maksud," gumam Jesica.


Zaki tidak ingin menyerah begitu saja. Hasrat dan instingnya mengatakan jika wanita sedang menyimpan sesuatu yang besar.


Kemudian dia menjelaskan secara rinci. Jika wanita itu adalah Marisa yang sudah dinyatakan meninggal 3 tahun yang lalu. Namun identitas dirinya ditemukan satu tahun kemudian dengan transaksi pembelian mobil.


Jesica mengejek cerita itu, baginya ini adalah cerita konyol yang tak penting. Marisa memang bagian dari perusahaan Denka, hanya saja dia mengaku tidak mengenal secara pribadi.


"Menurut anda, apakah mungkin salah satu oknum perusahaan ini bisa mencuri identitas mantan karyawan disini?" tanya Andi.


"Apa karena Denka adalah perusahaan dengan data base terbesar di Asia Tenggara, jadi inikah alasan kalian terus mencurigai kami tanpa alasan kuat?" ledek Jesica.


Jesica hanya diam saja, dia tidak ingin menjawabnya kali ini. Dia sudah terlalu terburu buru untuk sekedar menanggapi pertanyaan biasa.


"Sepertinya anda tahu jika mobil itu bukan mobil biasa. Ada seseorang yang telah menggunakan data pribadinya untuk memesan mobil Mercedes Benz untuk sebuah kepentingan kejahatan.


Anda pasti tahu kasus mobil merah. Pelaku ternyata punya kaki tangan dan mobil itulah yang ia gunakan untuk membantu penjahat dalam menjalankan aksi penculikan," jelas Zaki dengan sangat tajam.


Jesica tetap diam dan bungkam. Dia tentu bisa mengelak dengan seribu bahasa. Hanya saja kali ini polisi sudah terlalu menyudutkannya. Dia harus segera mengakhiri pertemuan ini.


****


Jembatan penghubung orang ( JPO ) GBK adalah tempat dimana banyak orang sedang mengambil gambar selfie.


Entah niat apa mereka berjalan di atas jembatan warna warni ini, tapi bagi Dira semua terasa sangat biasa saja.


Ini pertama kalinya dia bisa keluar sendirian menghirup udara segara malam hari. Akhir akhir ini hidupnya penuh dengan sesak dan sempit.

__ADS_1


Dia sedang berdiri di sisi besi yang menghadap jalan raya. Kedua matanya begitu syahdu melihat kendaraan lalu lalang melintas ibu kota.


Dira banyak sekali melamun dan merenung. Dari hal penting sampai tidak penting sama sekali. Contoh seperti yang sedang ia pikirkan bagaimana aku mencintai Hary kembali.


Di tengah pikirannya yang sedang kalang kabut, dari arah samping tiba tiba muncul Laras. Dia datang dengan baju super ketat dan seksi. Sedangkan Dira hanya memakai long dress lusuh dan gampang tertiup angin.


Segera Dira menyadarinya, tamu yang sangat penting akhirnya datang juga. Ternyata selama ini Dira sedang menunggu sosok selir legendaris dalam hidupnya.


"Aku kira kamu bakal gak datang," ucap Dira mengawali percakapan.


"Karena ini yang aku harapkan dari dulu mba," balas Laras dengan wajah cemas.


"Aku cuman mau bilang saja sama kamu, kalau aku sangat berterimakasih sudah menjaga anaku dengan sangat baik. Bahkan suami sekalipun," ujar Dira dengan senyum tipis nan sinis.


Laras menelan ludahnya sendiri dengan keras. Dia sebenarnya sudah tahu jika Dira akan membahas ini semua.


"Asal mba tau, aku sudah sangat lama mengenal mas Hary. Dia adalah cinta pertama dan terakhir. Kenapa sih mba, cukup lepas saja dari kehidupan kita berdua. Aku gak minta banyak dari kamu," jelas Laras setengah terbawa emosi.


"Kamu memang gak banyak minta Laras. Bahkan kamu sudah banyak memberi pada kehidupan keluarga kami.


Kamu yang telah berhasil mengantarkan Hanum dengan banyak kejuaraan piano, kamu telah merawat suami dan anaku ketika aku hilang, tapi please jangan kamu renggut posisi aku sebagai seorang ibu, tidak bisa kamu tukar dengan apapun Laras," ucap Dira dengan dentuman emosi di dalam jiwanya.


Laras tidak gentar, dia malah balik menantang Dira dengan pantang mundur. Bagi Laras, sudah tidak ada jalan sembunyi lagi seperti tikus.


"Kalau kamu memang masih ingat jika dirimu adalah seorang ibu, lantas kamu harusnya sudah lama kembali dari penculikan itu. Lihat saja dirimu sekarang, aneh dan keras kepala. Kamu sama sekali tidak memikirkan Hanum sedikit pun, kamu malah mementingkan pria misterius yang sangat kamu ingin lindungi," balas Laras dengan senyum puasnya.


Dira membalikan badan, dia lantas tidak terima dengan semua pernyataan Dira. Dengan gerakan spontan dia menampar pipi Laras dengan kasar.


Laras menerima tamparan keras itu dengan santai saja. Dia memasang wajah remeh dan kesal.


"Lepaskan Hary, itu saja yang aku ingin aku pinta dari kamu," ucap Dira dengan mata berkaca kaca.


"Bohong kamu Dira, permintaan kamu hanyalah sebuah keegoisan. Sejak kapan kamu rela mengemis untuk sesuatu yang sudah tidak ingin kau raih. Cinta untuk mas Hary? It's a bullshit," ejek Laras dengan lantang.


Kini mereka saling menatap dan berusaha keras mempertahankan tekadnya masing masing.


"Aku harus menyatukan keluarga ku kembali apapun yang terjadi. Bahkan aku sama sekali tidak peduli jika sudah tidak ada cinta di antara kami berdua, silahkan kamu pergi dari Hary dan Hanum," jelas Dira tidak main main.


"Aku tidak bisa," jawab Laras kejam.

__ADS_1


"Kamu harus," timbal Dira dengan makin keras.


"Maka aku harus membunuh mu dengan sangat kejam," ujar Laras sambil menatap arah wajah Dira dengan sangat dekat.


__ADS_2