
Mereka sedang berada di dalam sebuah garasi.
Erick membuka sebuah penutup kain hitam. Didalam sana kita bisa lihat ada sebuah motor sport berbodi besar.
Tangan Erick mulai mengelap jok dan bagian mesin dengan sebuah lap kecil. Dia menunjukan sebuah pandangan bangga dengan motor jadul milik nya.
"Dulu aku nakal sekali, motor ini selalu membuatku merasa bebas, keren aja rasanya," kenang Erick.
"Jadi?" balas Dira penasaran.
"Ayo kita jalan jalan, pakai motor tua ini. Aku janji kencan kita kali ini bakal lebih seru," ajak Erick dengan sangat percaya diri.
"Ok, siapa takut," balas Dira dengan perasaan tidak sabar. Dia ingin sekali naik motor ini, akan terlihat seperti anak muda.
Erick menyerahkan satu buah jaket kulit hitam dan helm berwarna merah. Dia menyuruh wanita itu untuk segera mengganti pakaian.
Tak harus menunggu lama, Dira kembali masuk kedalam garasi. Dia kini sudah berpakaian lengkap dan terasa sangat nyaman.
Jaket kulit dan jeans ketat membuat nya seperti ABG jaman sekarang. Erick tersenyum melihat penampilan Dira yang baru, dia tiba tiba mencium kedua pipi tirus itu dengan lembut.
"I love you," bisik Erick dengan sangat penuh gairah.
Dira hanya bisa tersenyum, selama ini dia tidak pernah menjawab perasaan cinta dari Erick.
Dia tidak pernah mengatakan Aku mencintai mu pada pria ini.
Mulut nya sangat berat, terkunci rapat.
****
Erick melajukan motor itu dengan sangat halus dan cepat. Dia mengajak wanita itu keliling jalanan ibu kota.
Dari dalam kaca helm, Dira bisa melihat begitu banyak cahaya kelap kelip dari setiap sudut bangunan megah.
Jakarta kota metropolitan, memang tidak pernah tidur dan lelah. Kota ini selalu saja sibuk dengan segala aktifitas manusia.
Dira memeluk Erick dari jok belakang. Dia sangat senang bisa langsung menghirup bau tubuh pria **** itu.
Dia merasakan kebebasan, dia amat senang dengan kencan kali ini.
Erick lalu memarkirkan motor nya di pinggir tenda makan yang terletak di samping lahan minimarket.
Mereka turun dan berjalan masuk kedalam tenda tersebut. Erick langsung memesan dua porsi soto Betawi dan teh manis hangat.
Mereka secara kompak duduk berhadapan di kursi plastik itu. Tak henti mereka saling melempar pandang.
"Ko tumben kita makan pinggir jalan," kata Dira dengan takjub.
"Aku tahu dunia kamu seperti apa, jadi aku harus terbiasa," balas Erick dengan cool.
Tak menunggu lama, soto Betawi telah diantarkan dengan dua gelas teh manis hangat. Seketika wangi khas soto Betawi mulai mengunggah selera makan mereka.
"Selamat makan," ucap Dira sambil terus melahap isi mangkuk itu.
Erick pun sangat menikmati makanan sederhana ini, dia perlahan mulai suka dengan selera wanita itu.
"Kalau kamu gak mau nikah sama aku, tahun depan kita pindah ke Swiss. Kita beli aset tanah di perkampungan Swiss.
Kita bisa bikin ladang peternakan sapi atau ladang perkebunan anggur.
Hidup sederhana dengan tetangga petani, peternak dan tukang giling padi hahaha.." kata Erick dengan riang.
"Emang ada sawah di Swiss?" celetuk Dira dengan tawa.
__ADS_1
"Gak tau juga sih, maka nya kita harus coba hidup di sana. Penuh ketenangan, damai dan kita bisa hidup normal disana," jelas Erick dengan penuh imajinasi.
sumber gambar :
https://pemandangantop30.blogspot.com/2020/06/26-pemandangan-desa-di-swiss.html
"Lalu bagaimana dengan perusahaan mu?"
"Aku tinggalkan, ada Jesica yang bisa menggantikan seluruh tanggung jawab dan posisi ku."
"Aku gak setuju. Kamu konyol Rick. Jangan kamu tukar semua mimpi mu dengan wanita seperti aku."
Erick kemudian menyentuh tangan Dira dan mengelus nya dengan sangat lembut.
"Aku sudah terlanjur berubah menjadi seorang penculik, sekarang aku harus kehilangan perusahaan? itu mudah bagi ku. Tidak ada yang sulit," balas Erick dengan tekad dan keyakinan kuat.
*****
Motor kembali berjalan dengan kencang, namun kali ini Erick membawa wanita itu menuju pinggiran kota Jakarta.
Di sana dia bisa melihat pemandangan malam sangat estetik dan langka. Orang orang sedang berkerumun disebuah lapang besar pinggir kali.
Didalam sana ternyata sedang ada arena permainan klasik yang sudah termakan jaman. Ternyata kita masih bisa menemukan pasar malam atau korsel di Jakarta.
Dira terkesima dengan pemandangan pasar malam. Dia teringat masa lalu nya. Permainan tua masih banyak bertahan di zaman moderen.
Ada bianglala, komidi putar, rumah hantu bahkan ombak banyu. Tak hanya itu, banyak tenda dagangan yang menjual berbagai macam aksesoris, fashion bahkan kebutuhan rumah tangga.
Dira menyeret Erick menuju tempat bianglala.
"Aku mau naik ini," ungkap Dira dengan semangat.
Mereka berjalan masuk ke salah satu bilik bianglala yang sedang kosong. Mereka lalu berpegangan pada besi tua itu karena bilik masih bergoyang.
Bianglala kemudian berputar putar, wajah Erick masih terlihat sangat takut. Wajar saja jika bianglala ini sudah sangat tua dan berkarat.
Dia pun melihat dari bawah, jika ada satu orang pria sedang menunggu mesin Diesel dengan jerigen isi minyak solar. Bianglala ini masih beroperasi mengandalkan mesin lapuk.
Awal nya bianglala berputar lambat namun makin kesini berputar cepat dan makin cepat. Erick dan Dira tertawa terbahak bahak. Mereka sedang menikmati adrenalin yang cukup menantang.
"Gila seru banget," ucap Erick dengan kedua mata berbinar.
****
"Ayo naik ini," pinta Dira dengan wajah sangat kekanak-kanakan.
"Tapi ini kaya anak kecil. Masa aku harus naik patung hewan," tolak Erick dengan tegas.
Dira dengan wajah cemberut terus memandang Komidi putar itu dengan kesal. Dia sangat menyukai jenis permainan ini. Komidi putar yang sangat bersinar karena bola bola lampu.
sumber gambar : Bernas.id
"Ok, kita naik. Tapi sekali saja, jangan minta lebih," kata Erick dengan pasrah.
"YES!" balas Dira bersemangat.
Setelah membeli karcis, mereka naik ke atas sana dan memilih patung hewan mana yang akan dinaiki.
Dira memilih untuk naik hewan kuda poni sedangkan Erick memilih patung singa dengan gigi yang tajam.
__ADS_1
Mereka kemudian bersenang senang setelah komidi putar itu berputar. Mereka saling melemparkan tawa dan pandangan penuh cinta.
Erick bahkan bisa bersikap konyol, dia berpura pura memperagakan gerakan hewan singa. Dia mengaum, membuka mulut nya lebar lebar.
"Apaan sih kamu Rick, masa singa kaya gitu," kata Dira sambil terus menahan tawa.
Erick lalu turun dari hewan singa itu, dia kemudian berjalan kecil menghampiri si pemilik kuda poni.
Dira menatap Erick dengan perasaan bahagia. Pria itu selalu penuh dengan kejutan. Dia memberikan sebuah cinta yang tidak umum dan tidak normal.
Tapi dia bisa apa?
Dia sama seperti Erick, rumit dan tidak normal.
Dira mencium Erick dengan sebuah kecupan manis dan kilat.
Erick terkejut, kedua mata nya melotot senang.
****
Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Erick mengendarai motor nya dengan cukup pelan. Dari jok belakang, Dira masih terus memeluk erat pria itu.
Kedua perasaan dua manusia ini sedang bermekaran seperti bunga mawar. Bahkan angin malam tak membuat mereka dingin. Segala nya terasa sangat tidak nyata, semua seperti sedang berjalan di alam mimpi.
Tiba tiba dari lubang hidung, Dira merasakan jika ada sesuatu yang basah dan hangat. Dia menyeka hidung nya dan ternyata darah keluar bercucuran.
"Erick aku mimisan," teriak Dira.
Pria itu sedikit menolehkan kepala nya, Erick melihat darah terus bercucuran dari lubang hidung Dira.
"Kita harus cari apotek terdekat," ucap Erick terus menancap gas motor.
Dira duduk di atas bangku taman dengan kondisi tidak karuan. Noda darah mulai mengotori jaket dan kaos nya.
Erick menyuruh wanita itu untuk diam dan menunggu nya. Dia sedang berusaha mencari apotek yang masih buka di jam semalam ini.
Dira mulai merasakan kepalanya berputar putar, pandangan nya runyam dan berkunang-kunang. Mendadak tubuh nya menggigil, seluruh otot nya lemas.
Dia sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang mendadak muncul dalam tubuh nya. Seakan dia sedang mengalami sebuah santet secara tiba tiba.
Tubuh nya mulai ambruk, wanita itu jatuh ke alas tanah. Tubuh nya terkapar tidak berdaya.
Mendadak semua orang mulai memperhatikan Dira yang sedang pingsan. Satu persatu orang mulai mendekati nya, bahkan mereka mulai berkerumun.
Dari arah jalan samping, mobil polisi yang kebetulan sedang berpatroli di lokasi tersebut datang menghampiri kerumunan warga.
Keluar dua orang polisi berseragam polantas dari dalam mobil. Mereka adalah polisi yang sedang melakukan tugas lapangan.
Dengan gerakan cepat, polisi lalu memboyong tubuh Dira masuk kedalam mobil. Mereka segera bersiap untuk mencari rumah sakit terdekat.
Di ujung sana, Erick berdiri mematung seperti patung. Dia sangat terkejut jika Dira sudah dibawa pergi oleh mobil polisi.
Dia panik, dia bingung dan dia menyesal.
"Tidak, jangan pergi Dira!"
"Dira! DIRAAAAAAAA!" Erick hanya bisa menjerit dalam hati.
Erick tidak bisa kehilangan wanita itu, dia tidak sanggup jika wanita itu pergi.
Dia sangat frustasi.
Dia mulai menggila.
__ADS_1
Nasib buruk mulai menimpa nya saat itu juga. Sebuah bencana besar akan segera dimulai.