AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
CAN'T TAKE MY EYES OFF YOU


__ADS_3

Aku tersadar, jika selama ini aku tengah berbaring di kamar ku sendiri. Sedangkan di sampingku, ada wanita itu.


Mata ku mulai melirik dia yang sedang membereskan semua buku buku yang berserakan. Seketika aku kaget, tubuhku langsung terperanjat dari atas kasur. Aku harus berusaha menghalangi nya.


"Tolong jangan sentuh ini," ucapku dengan pelan. Tangan ku mulai meraih buku buku itu.


"Hei nak, kamu udah sadar. Maaf aku - -"


"Iya gapapa, aku baik baik aja," aku sengaja memotong pembicaraan nya. Karena aku sudah terlalu malu, harga diriku jatuh terhempas dengan cepat.


Dia lalu duduk di atas kursi dekat meja komputer, dia sedikit termenung melihat tingkah ku yang sangat aneh.


"Apa kamu baik baik saja? Siapa mereka? Kenapa kamu harus di kroyok seperti itu?" tanpa basa basi, Dira langung menghujati ku dengan banyak pertanyaan.


Aku harus bagaimana?


Kenapa aku malah berakhir mengenaskan seperti ini?


Kenapa harus dia yang menyelamati ku dari preman cacing itu?


Harus nya aku yang bisa melindungi dia. Harusnya AKU bukan DIA!


Semua perdebatan batin malah terus membuat aku tidak percaya diri, minder dan putus asa.


"Gak papa, aku baik baik saja," jawabku tidak bergairah.


"Tunggu ya."


Dia dengan wajah baik hati, lalu keluar dari kamar dan tak lama kembali dengan membawa nampan berisikan nasi dan sup sayur daging hangat.


Dia menyerahkan makanan itu dihadapanku, dia menyuruhku untuk segera memakanya.


Aku kali ini tidak bisa menolak, memang seharian aku belum makan. Apalagi aku harus menerima pemberian dari wanita yang aku sukai.


Dengan lahap aku memakan sup sayur daging dan nasi hangat. Sungguh ini sangat lezat, makanan rumahan ini memang sederhana tapi cita rasa nya membuat aku merindukan ibu ku sendiri.


Dira melihat ku dengan wajah senang, aku tahu dia sangat menyukai tipe anak yang menghargai makanan. Aku akan selalu menjadi anak kecil di matanya.


"Bagus, anak baik," ucapnya sambil mengelus elus atas rambutku.


Dengan mencuat cuat, jantungku berdetak kencang, semua aliran darah ku menjadi beku. Aku terbius oleh nya.


...Hati melemah sedalam dalamnya. Ini sungguh nyata, bukan mimpi!...


Dia kembali duduk di kursi itu, lalu seraya memandangi komputer yang ada di depanya.


"Bagus komputer nya, ada gambar Apel. Pasti mahal ya," komentar Dira dengan sangat polos.


Aku terdiam melihat komputer itu, Imac G5 yang saat itu ibu ku beli langsung dari Amerika. Hanya ibu yang tahu, jika aku sangat menyukai komputer.


Walau ini sudah jadul, aku masih bisa menggunakan nya untuk saat ini. Ya, walaupun aku memang punya cadangan Macbook untuk lebih mensupport kerjaanku yang lain.


"Mmm itu hadiah terakhir dari ibu ku sebelum meninggal," jawabku begitu saja.


"Ibu? Katanya yatim piatu," jawab Dira heran.


"Maksud ku, ibu perawat yang sudah aku anggap ibu kandung sendiri," ucap ku ngasal.


Dia lalu tersenyum, sambil terus melihat kamar ku yang sangat berantakan. Lalu matanya tertuju pada gundukan mie instan cup yang kemarin malam belum aku bereskan.


"Kamu masak mie pakai air dingin?" tanya Dira semakin keheranan.


"Mmmm, iya. Aku gak punya air panas."

__ADS_1


"Gak boleh nak, nanti perut kamu sakit."


"Iya," jawabku pelan.


"Nanti kalau mau air panas minta saja sama bibi di atas."


"Iya," jawaban yang selalu sama ku lontarkan.


Tolong Dira, jangan terus mempermalukan ku seperti ini. Aku gak tahan lagi!


Enyah kau, dari hadapanku sekarang!


*****


Ini adalah hari minggu, saatnya manusia di muka bumi ini melakukan hal hal umum pada biasanya. Liburan.


Sedangkan aku, hanya fokus pada pekerjaan ku saat ini, merancang coding dengan sempurna. Aku harus segera menyelesaikan projek ini dengan cepat.


Terdengar dari atas Dira akan turun menuju tangga bawah. Dia lalu masuk kedalam kamar yang tidak aku kunci.


"Good morning anak baik," sapa nya dengan penuh semangat.


Hari ini aku sangat pangling, biasanya dia hanya memakai stelan kantoran. Kini bisa berubah menjadi gadis ibu kota yang trendi.


Dia lalu menaruh termos kecil berisi air panas, dia letakan di pinggir pintu. Dia pasti merasa kasihan karena aku selalu memakai air dingin jika makan mie instan cup.


"Gak jalan jalan?" tanya dia dengan sumringah.


"Gak, banyak kerjaan," jawabku datar dan terlihat cuek. Padahal saat itu hati ku sedang berbunga bunga.


"Emang gak punya teman? Buat di ajak hang out bareng?"


"Gak ada," balasku makin cuek.


" Ya udah aku duluan ya, Bye," ucap Dira sambil pergi melambaikan tangan.


Sejenak aku berpikir, kemana Dira akan pergi? Dengan siapa dia akan berjumpa?


Kenapa dia berdandan mencolok seperti itu? Kenapa dia terlihat bersemangat hari ini?


Teman? Atau kah seorang pria brengsek lain nya?


Aku segera bersiap siap, mengganti pakaian dengan jaket hitam dan topi hitam. Tak ketinggalan kamera digital pocket, itu adalah barang wajib.


Dengan berlarian aku mencoba menyusul kemana wanita itu pergi. Untung nya tebakan ku benar, dia memang berjalan seperti siput. Aku dengan cepat bisa menyusulnya.


Aku mencoba menjaga jarak denganya, jangan sampai tahu jika aku terus membuntutinya dari belakang.


Jangan sampai ada yang sadar, jika aku selalu memotret nya secara diam diam. Itu adalah kebiasan baru ku, terus mencari gambar indah dari seorang wanita.


Dia terus berjalan mengitari trotoar, jalan lurus entah kemana. Dengan wajah nya yang sangat cantik, aku yakin mata pria manapun pasti sangat memburu nya.


Dia lalu dia naik busway, aku mengikutinya sampai masuk kedalam. Didalam busway kami saling menjaga jarak. Dia di depan sedangkan aku di belakang dekat pintu otomatis.


Aku tak tahan melihat tubuh nya yang indah, aku sebisa mungkin terus mengambil gambar dengan kamera pocket diam diam.


Aku terus memperhatikanya dari jauh, dia begitu sempurna dan menakjubkan. Aku telah berulang kali jatuh cinta pada nya, tanpa henti.


Berulang kali dia menyikap rambut nya yang bersinar, aku sangat menyukai kebiasaan itu. Aku sangat senang jika dia melakukan permainan rambut.


Aku adalah bocah yang tergila gila dengan wanita dewasa. Aku tidak peduli dan tidak akan pernah peduli.


Jika saja seisi dunia menentang ku, maka akan ku lawan balik dunia itu. Sampai kapanpun tidak ada yang mampuh merubah semua kegilaan ku.

__ADS_1


****


Seharian aku terus mengikuti nya, dia banyak menghabiskan waktu dengan teman teman kantor nya. Tentu aku masih melihat pria brengsek itu, dia yang pernah memaksa Dira untuk berciuman.


Mereka ada 6 orang, 4 pria dan 2 wanita. Aneh nya, Dira merasa sangat nyaman bergaul dengan banyak teman laki laki.


Jam 10 pagi aku melihat mereka nongkrong bareng di sebuah cafe Mall besar. Mereka menghabiskan waktu dengan minum kopi sambil bercerita banyak hal.


Dengan mata kepala ku sendiri, aku melihat jika Dira adalah wanita yang populer. Apapun yang dia katakan selau mengundang banyak perhatian teman teman pria.


Lalu mereka lanjut pergi ke beberapa toko branded. Aku tahu pria pria itu berlagak sombong dan ingin terlihat kaya raya. Mereka ingin menunjukan bahwa mereka adalah pria yang layak.


Tapi aku tahu, mereka sangat miskin. Bahkan gaji mereka di kantor saja tak cukup membelikan pakan ikan di rumah.


Sudah sore hari, akhirnya mereka kembali makan di sebuah restauran murahan. Aku melihat daftar menu dengan teliti.


...Sayur asem, ikan nila cobek, cah kangkung, es teh manis....


Ya ampun, Dira... Dira... Jangan sampai kamu masuk jebakan kotor mereka. Gak ada yang pantas untuk kamu. Sumpah Dira, aku marah dan kecewa jika kamu bisa semurah ini.


Malam hari aku tetap kuat terus membuntuti Dira dan kawan kawan nya. Sampai mereka akhirnya masuk ke sebuah tempat club malam hits di Jakarta Selatan.


Mereka berenam masuk dengan semangat baru, semangat anak muda yang terlanjut menua. Dira dan kawan kawan, mulai berkumpul untuk minum beer dan sebagian ada yang sudah joget di tengah kerumunan.


Namun kali ini Dira dan pria brengsek sedang minum berdua. Mereka berbicara satu sama lain, saling memandang dan melemparkan senyuman.


Lagi dan lagi, pria brengsek itu mencoba untuk mendekati Dira dalam keadaan mabuk. Dia mencium wanita itu, sejenak Dira menerima ciuman itu dengan sangat kilat.


Dira memalingkan wajah, aku tahu dia sekarang sedang merasakan rasa malu luar biasa. Aku sangat tahu, Dira tidak menikmati ciuman itu.


Dia akhir nya pergi meninggalkan pria brengsek itu sendirian, dia ingin segera hilang dari nya.


Pria brengsek itu terus saja mengikuti nya sampai akhirnya dia berani menarik paksa tubuh kurus nya.


BRAAAK!


Dira terbanting ke alas tembok, dia mulai terlihat takut dan tak berdaya. Pria itu kembali mencium nya dengan paksa. Lalu dengan sekuat tenaga Dira mendorong keras pria itu.


Tanpa di duga pria itu menampar pipi Dira dengan keras. Dia terlihat sangat marah dan sangat kecewa.


"Besok, kamu gak usah masuk kantor lagi. Aku pecat," ucap pria brengsek itu.


"Ok, baik. Harus nya kamu dari dulu pecat aku," balas Dira dengan lantang. Lalu ia pergi meninggalkan nya sendiri di lorong sepi itu.


Tanganku mengepal keras, aku sekuat mungkin untuk menahan segala diri dari situasi sulit ini. Lalu aku kejar pria brengsek itu, tanpa banyak pikir panjang langsung memburu nya masuk ketengah keramaian diskotik.


Hati ku semakin geram saja, melihat dia langsung tertawa dengan teman teman nya yang lain. Seolah tidak terjadi apa apa.


Dia memang pria yang sangat menjijikan.


Aku menyentuh pundak nya, dia berbalik padaku. Ku lihat saja dia dengan tatapan tajam dan berani.


"Siapa kamu," jawab nya dengan penuh keheranan.


Aku tertawa sinis dan tanpa ragu sedikitpun langsung menonjok mukanya yang berpipi lemak itu.


BRUUK!


Dia jatuh dan tersungkur seketika, semua orang yang sedang asik joget tiba tiba riuh dan panik.


Dengan situasi yang kacau ini, malah membuat adrenalin muda ku semakin memuncak.


Aku berjalan menghampiri dia yang sedang memegang wajah nya yang merah. Langsung dengan gerakan seperti Bruce Lee, aku menghajar wajahnya berkali kali sampai dia terkapar lemas.

__ADS_1


Aku tersenyum puas, sangat sangat puas. Aku sangat bergairah melihat pria brengsek itu pingsan dengan darah bercucuran.


__ADS_2