AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Gejala Stockholm Syndrome


__ADS_3

Disebuah bak kamar mandi, Dira terus saja melamun dengan tatapan kosong.


Sudah 2 jam lamanya, dia masih berendam di dalam bak berisikan busa busa yang menggunung.


Rambutnya basah, kulit nya mulai putih keriput dan bibirnya terus saja berwarna merah.


Dia terus berpikir, kenapa malam itu bisa terjadi. Kenapa dia bisa melakukan hal sangat tak terpuji.


Dia marah, begitu sangat membenci dirinya sendiri. Dia merasakan tubuhnya kotor dan tidak bernilai lagi.


Dia hanya bisa berdebat dengan dirinya sendiri.


"Sekarang kamu benar benar gila, kamu wanita gila yang pernah ada di muka bumi ini."


"Seharusnya kamu pergi ke rumah sakit jiwa."


"Bukan bukan, kamu seharusnya sedang berada di ruang persidangan dan mengurusi perceraian."


Dira menutup matanya rapat rapat, dia melayangkan segala pikirianya ke alam bawah sadar.


Dia terus membayangkan, bagaimana Hary bisa dengan mudah berselingkuh dengan Laras. Dia sudah tidak bisa menyangkal lagi, kehidupan rumah tangga nya sudah hancur lebur.


Namun dia merasakan hal yang sangat aneh, kenapa hati nya tidak bisa merasakan amarah yang luar biasa atas perselingkuhan Hary dan Laras.


Dira hanya bisa menyalahkan diri nya sendiri, semua ini adalah salah nya. Jika saja malam itu dia tidak diculik, ia sangat yakin Hary akan selalu menjadi miliknya.


Hary tidak salah.


Seharusnya malam itu dia menunggu Hary menjemput.


Seharusnya malam itu, dia tidak pesan taksi online dan terjerumus kedalam mobil merah.


Dira sedang mengalami delusi hebat dan trauma akibat drama penculikan ini, hati nya tiba tiba menjadi lebih sensitif.


Dira lalu memegang kedua kepalanya, mencabik rambutnya hingga rontok.


"Kamu memang wanita rendahan, kamu berharap suami mu setia sampai mati sedangkan disini aku malah bercumbu dengan orang lain. Jahat kamu Nadira!" bentak nya dengan kesal.


Dia lalu menepuk- nepuk air dengan keras, sehingga air dan busa dalam bak mulai meluber ke samping dan lantai.


Dengan tubuh yang lemah, Dira lalu menyandarkan tubuh nya ke ujung bak, perlahan mulai menenggelamkan tubuhnya kedalam air.


Blub.. blub.. blub


Dira menahan nafas, menutup matanya dan menenangkan pikirannya yang sedang kacau.


Tiba tiba tubuh Dira diangkat paksa, dia dikeluarkan dalam air bak itu.


"Kamu mau bunuh diri!" bentak Erick dengan wajah khawatir


Nafasnya tersedak oleh air dan matanya sedikit perih. Dira melihat Erick sedang berada di depanya.


"Erick," ucapnya pelan.


****


Di atas sofa, Dira sedang duduk membungkuk sambil menyelimuti dirinya sendiri dengan tangan.

__ADS_1


Pikirannya malah melayang kembali, melihat sofa ini dia terus teringat ciuman dahsyat nya.


Erick datang membawa selimut dan kopi hangat. Dia lalu melebarkan selimut ke tubuh Dira agar merasa lebih hangat.


Erick langsung menyodorkan kopi hangat itu. Dira pun mengambil kopi dan segera meminumnya.


"Kamu baik baik saja? tanya Erick.


Dira hanya bisa tersenyum, dia terus saja menundukkan pandanganya.


"Aku sedang kacau," balas Dira begitu saja.


"Tapi aku lihat, ko kamu kayanya sedang bersuka cita," tanya Dira balik dengan jengkel.


Erick lalu tersenyum lebar, dia tertawa malu dan pipinya mulai merona.


Dia menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan tangan di depan dada.


"Aku semalaman gak bisa sedikitpun menutup mata, tubuh ini masih terasa sangat panas dan sampai sekarang jantung ini hampir saja copot," jelasnya dengan dramatis.


Dira langsung cemberut, dia juga tidak bisa menyalahkan Erick. Semua kejadian di malam itu tak lain hanya karena ulah dan misi konyol nya.


"Senang sekali kau! lihat lihat sekarang wajah mu malah makin merah," teriak Dira tambah jengkel.


Erick terkejut di buat nya, dia lalu berdiri dan mencari cermin. Dia ingin melihat wajah yang sangat berharga ini.


"Wajah tampan ini, sungguh mahakarya seni terbesar abad ini," ucap Erick dengan bangga.


Erick kembali lagi duduk di atas sofa, lalu ia tiba tiba memegang kedua tangan Dira.


Sangat reflek, Dira melepaskan tangan Erick dan langsung memukul kepalanya dengan bantal.


Buk Buk Buk!


"Dasar otak mesum, buaya darat, penjahat kelamin," hardik Dira dengan kesalnya.


"Aku bilang kamu jangan salah paham, waktu itu aku mabuk berat, semua dibawah kendali alkohol," ucap Dira sedang mencari cari alasan saja.


"Alkohol? mmmmm tapi aku malah mencium bau nasi goreng, sayur capcay dan jamu kencur hahahahaha," ledek Erick yang tidak mau kalah berbohong.


Dira lalu bangkit, dia lalu kembali melempar Erick dengan majalah.


Puk Puk Puk!


"Malam itu aku sedang hilang akal, aku gak sadar, aku bahkan sedang di bawah tekanan batin yang sangat kuat, jadi itu gak sah karena kamu main curang!" balas Dira lagi yang tidak bisa berhenti disini.


"Aku main curang? hahahahaha, hei aku bahkan masih bisa berlaku adil. Ingat kan waktu itu aku masih bertanya apa ini akan di lanjutkan? dan apa coba jawaban kamu, kamu bilang YES! LANJUTKAN!" teriak Erick semakin girang.


Oh My GOD!


Dira benar benar mati kutu kali ini, dia sangat malu dengan hal itu. Dia bahkan dengan sadar dan meminta untuk melanjutkan adegan panas.


Dia adalah si pencetus ronde tiga.


"Apa aku harus merayakan hari bahagia ini? apa sebaiknya aku beli banyak saham? atau haruskah aku membeli sebuah jet pribadi?" ucap Erick dengan sebuah ide gila nya.


"Apa kamu bilang?"

__ADS_1


Erick lalu bersiap siap untuk pergi, dia lalu melambaikan tangan ke arah Dira dengan mesra.


"Erick kamu mau kemana?"


"Aku harus pergi ke istana Bogor untuk ketemu pak Presiden," ucap Erick.


"Hah!" teriak Dira dengan tatapan aneh.


"Aku harus berdiskusi dengan beliau, aku ingin mengajukan tanggal ciuman kita sebagai hari libur nasional hehe," ucap Erick dengan senyuman tengilnya.


"Rick, Eriiiicck! jangan bikin gara gara lagi kamu!" teriak Dira dengan penuh rasa frustasi.


****


Masih belum pindah posisi, Dira sedang selonjoran di atas sofa.


Dia tiduran sambil memegang botol bir dan meminumnya secara langsung.


"Kenapa hidupku selalu saja sial dan rumit," ucap nya dalam hati.


Dia lalu meraih remot dan menyalakan TV. Dia hanya ingin TV itu menyala, dia sama sekali tidak ingin menonton nya.


Sebuah channel luar negri BBC, sedang membahas di sebuah berita acara.


Dalam acara TV tersebut, ada sebuah kasus kriminal yang sedang pembawa berita dan narasumber diskusikan secara serius.


Mereka berbicara sebuah kasus penculikan di California yang sedang ramai jadi pusat perhatian.


Pria pembawa berita lalu menanyakan kepada seorang psikolog kriminal tentang kasus tersebut.


"Kenapa korban bersih kukuh untuk tidak mendakwa tersangka dan tidak mau memberikan kesaksian di depan para polisi?" tanya pembawa berita itu dengan lugas.


Telinga Dira mendengar pertanyaan itu, lalu dia duduk dan menatap layar TV.


"Apa? bodoh sekali itu orang! Kalau saja kasus ku sudah terpecahkan oleh polisi, aku minta Erick di hukum mati secara brutal. Harusnya penculik itu duduk di kursi listrik," komentar Dira dengan sangat geram.


Dengan sangat penasaran, Dira lalu menyimak lebih serius. Dia ingin tahu kenapa ada kasus aneh seperti ini.


"Di dalam kasus penculikan, memang ada sebuah fenomena aneh antara penculik dan korban. Karena dampak psikologis korban yang terus mendapat tekanan, ancaman dan intimidasi membuat mereka bisa mentoleransi sikap pelaku dan malah hal tesebut memicu rasa simpati untuk korban atau sebaliknya."


Dira terkejut mendengar penjelas itu. Mulut nya sampai menganga.


"Fenomena itu disebut Stockholm Syndrome," jawab ahli kriminolog tersebut.


"Aapaa? Sindrom apa? Sto--" kata Dira terbata bata.


"Mungkinkah bisa terjadi rasa suka bahkan jatuh cinta antara mereka?" tanya pembawa berita.


Ahli tersebut mengangguk.


"Betul, Stockholm Syndrome bisa membuat mereka melakukan hal bersifat romantic dan saling menaruh rasa cinta."


Dira berdiri saking terkejut nya, dia sungguh masih belum bisa menerima semua perkataan kriminolog itu.


Mulut nya menganga, matanya melotot dan nafas nya tiba tiba sangat berat.


"Gak mungkin! Gak, itu mustahil," jerit Dira dengan wajah kusut nya.

__ADS_1


__ADS_2