AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Dua Pertemuan


__ADS_3

Didalam mobil, Hary dan Dira tidak banyak bicara. Mereka hanya fokus menanti arah tujuan. Sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta Selatan menuju taman alam wisata hutan Mangrove di daerah PIK.


Mereka turun dari mobil dan segera memesan tiket masuk. Namun anehnya, Dira menyarankan untuk memesan tiga tiket khusus pengunjung dewasa.


"Tiket nya lebih satu dong," ujar Hary bingung.


"Tunggu saja dulu, nanti orang nya datang," balas Dira dengan senyum.


Setelah itu datang lah satu perempuan menghampiri mereka. Perempuan itu tak lain adalah Laras. Dia melambaikan tangan dengan wajah sumringah.


"Maaf telat mba Dira, tadi dijalan macet," ucap Laras.


Hary terkejut dan tidak menyangka, jika Laras datang ke tempat ini. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak memberitahu rencana untuk hang out.


"Aku yang minta Laras buat gabung sama kita, gak papa kan?" tanya Dira dengan wajah tidak biasa, seperti ada yang sedang ia coba sembunyikan.


"Ohh... yaaa gak papa, Laras boleh ikut," jawab Hary semakin bingung.


...Dira, apa rencana mu kali ini....


...Apa yang akan kamu lakukan dengan Laras....


Mereka bertiga masuk kedalam kawasan taman wisata. Di sana mereka mulai berjalan menyusuri jalan yang sangat asri dan sejuk. Banyak sekali pohon dan tanaman hijau.


Kawasan ini sangat luas, terdapat banyak fasilitas wisata yang cukup menarik. Seperti wisata air, wisata hutan, konservasi, resort dan masjid apung.


Entah apa yang membuat Hary bisa sampai mengajak istri nya pergi kesini. Tapi ini adalah suasana yang cukup menenangkan pikiran mereka.


Dira berjalan lebih cepat, sehingga Hary dan Laras selalu berada di belakang mereka. Dengan mata genit, Laras mulai menggoda Hary. Wanita itu merasa cukup menantang bisa mencuri kesempatan dengan istri sah.


Tangan Laras mulai mencoba merayap Hary. Dia ingin saja melakukan perselingkuhan di depan Laras secara langsung. Hary menepis segala sentuhan Laras, jujur ini adalah waktu yang tidak tepat.


"Kenapa sih kamu ikut segala," bisik Hary ke Laras.


"Habisnya aneh aja, tiba tiba mba Dira ajakin aku kesini, tumben ya sayang," balas Laras dengan senang.


...Ini ada yang tidak beres, Dira wanita itu sedang mempermainkan kami....


Mereka terus saja menyusuri setiap spot wisata yang sangat luas. Kali ini mereka sedang berjalan diatas jembatan kayu yang mengitari rawa dan deretan pohon tembakau.


Angin mulai berhembus dengan kencang, bau alam tercium sangat pekat. Dira lalu berdiri sejenak, menutupkan kedua matanya. Mendengarkan suara gemercik air dan udara sejuk menembus tulang.


Hary memperhatikan, melihat istrinya sedang mencoba untuk berdamai dengan suasana.


"Kita pergi ke cafe sebelah sana, kita harus istirahat dan makan. Pasti kalian lapar juga kan?"


Laras mengangguk dengan semangat, sementara Dira masih belum menyadari jika Hary akan memberikan kejutan lain.


Sesampainya di tempat makan, Hary dan Laras malah sibuk melihat menu makanan. Mereka dengan sangat akrab berbincang dan melayangkan pandangan hangat.


Dira tentu menyadari itu, dia tahu memang tidak ada yang harus diragukan lagi tentang hubungan mereka.


Dira memutuskan untuk sedikit menjaga jarak dengan mereka. Dia ingin melihat sekitar pemandangan cafe dan deretan pohon Mangrove dari jauh.


Cafe ini cukup unik, selain karena mengapung di atas rawa terdapat banyak kesederhanaan yang sangat ramah pada alam.


Dira pun penasaran dengan lantai atas, dia naik tangga menuju menuju atas. Di sana ternyata sangat sepi, bahkan hampir tidak menemukan pengunjung lainya.

__ADS_1


Namun pandangan Dira menangkap sesuatu, tak terduga dia melihat ada pria dengan memakai kaos putih polos berdiri menghadap jendela.


Detak jantung Dira mulai berdebar, dia merasakan sesuatu hal yang ajaib. Dira menghampiri pria itu dan menyentuh lembut pundak besar dan gagah.


Pria itu berbalik dan memancarkan sebuah senyuman indah. Dira tak pernah menduga, jika dia adalah Erick.


Seluruh perasaanya tumpah begitu saja. Kerinduan yang hampir membuat nya gila perlahan terobati.


Benarkan pria ini adalah Erick. Dia seperti malaikat yang tak kasat mata. Dia seperti virus Corona yang tak terdeteksi darimana.


Dari jauh, Hary sedang memantau mereka. Ini adalah pertama kali dia melihat istri nya berdiri menjulang seperti itu. Dia sangat mengenal Dira, tapi tatapan itu begitu asing dan tidak biasa.


Tak pernah Dira menatap pria sedalam dan penuh magic pada pria asing selain dirinya.


...Kamu memang mengenal pria itu....


"Hai tuan muda," sapa Hary dari jauh.


Tangan Erick lalu melambai kearah Hary yang sedang berjalan menghampiri mereka. Dira sontak terkejut ketika dia mengetahui Hary ada di belakang mereka.


"Oh ya pak, kebetulan sekali kita bertemu disini. Ini istri saya, mungkin pak Erick sudah saling menyapa?" ucap Hary dengan akting yang memukau.


"Oh belum, saya bahkan tidak tahu jika beliau adalah isteri pak Hary. Sungguh suatu kejutan," balas Erick dengan santai saja.


Disanalah Dira merasa sedang terhimpit oleh dua orang yang sebenarnya membahayakan. Dira masih berpikir jika ini hanya sebuah kebetulan yang biasa saja.


Namun, hati Dira sedikit merasa lega. Jika Hary tidak terlihat mencurigai Erick sama sekali. Namun tetap saja ini cukup berbahaya, Dira berpikir saat itu untuk berpura pura tidak mengenal Erick.


****


Di sana dia sedang melihat dan menilai apa benar Erick adalah orang yang spesial untuk istrinya. Sampai detik ini pun dia selalu memberikan denial. Hary begitu berat mempercayainya.


Dia memang mencintai Laras, tapi dia tidak ingin begitu saja kehilangan Dira. Meski kehadirannya membawa banyak petaka. Dira tetaplah Dira, wanita yang pernah ada disaat senang dan susah.


Disaat suasana makan sedang adem ayem, tiba tiba Dira bersuara dengan lantang.


"Erick, jangan itu ada kacang Almond nya," teriak Dira dengan gemetar.


Sontak membuat Erick berhenti menikmati sepotong kue pie di piring. Dia lalu melihat isi dalam pie itu memang ada remahan kacang Almond.


"Emang kenapa dengan kacang Almond?" tanya Laras dengan polos, dia memang tidak tahu apa apa.


"Aku sangat alergi kacang Almond," jawab Erick dengan tenang.


"Lah ko mba Dira bisa tahu, pak Erick alergi kacang Almond?" tanya Laras kembali.


Mendadak wajah Dira mulai cemas. Gerak geriknya terlihat tidak nyaman. Dia seperti sedang berusaha melawan kebingungannya.


Hary menyaksikan itu dengan jelas. Dia benar benar sudah paham bagaimana Dira begitu tak pernah lepas dari Erick.


...Kamu memang sudah banyak mengenal pria lain......


...Aku ada di samping mu, aku sedang duduk sebagai suami....


...Tapi kenapa, pikiran dan hati mu tak pernah sedikitpun menoleh pada ku saja?...


Hary dibakar api cemburu, tapi dia tetap tidak bisa berkutik sedikitpun. Baginya, check kertas itu adalah tujuan utamanya kali ini.

__ADS_1


Hary memang mahluk paling astral di muka bumi ini. Hanya pria seperti Hary yang mampu bersikap tenang ketika melihat istri nya telah berpaling.


****


Setelah makan siang bersama telah usai.


Laras mengajak yang lainya untuk mencoba wisata air. Mereka menyetujui ide itu, mungkin menaiki Speedboat akan menambah keseruan.


Ini memang sangat konyol, formasi empat manusia ini sebenarnya adalah kumpulan para pendosa yang sedang menikmati permainan kehidupan.


Mereka tahu betul bahwa itu adalah kesalahan. Tapi mereka tetap menikmatinya sebagai hasrat manusia yang terpendam.


Saat akan naik speedboat, Laras terlebih dahulu memilih duduk di kursi depan dan Hary dengan cepat duduk disampingnya.


Dira merasa cukup aneh ketika Hary dengan santai nya mempersilahkan Dira dan Erick duduk berdampingan di kursi belakang.


"Apa kita harus bertukar kursi?" tanya Erick.


"Maaf pak, aku gak bisa renang. Jadi nanti kalau istri ku kenapa napa pak Erick bisa bantu istri saya begitu kan pak?" ujar Hary dengan senyum terpaksa.


Dira merasa jika suaminya sedang bersikap konyol. Ini tidak seperti biasanya.


"Ok, jika kalian semua tenggelam pun aku sanggup untuk menolong kalian," balas Erick dengan percaya diri.


"Ok, kita berangkat," teriak Hary dengan semangat.


Speedboat itu bergerak maju mengikuti aliran rawa dan hutan pohon tembakau. Suasana begitu menenangkan, hanya terdengar suara kicauan satwa burung dan mesin perahu.


Dira sangat senang dengan ide wisata air ini, selain itu disampingnya ada Erick. Mereka belum berinteraksi sama sekali, Dira berusaha untuk menjaga jarak dari Erick.


Dira sangat takut jika Hary menyadari hal mencurigakan pada mereka berdua. Tapi sayang, deburan ombak dalam hatinya tak pernah surut. Dira begitu sangat merindukan pria lain.


"Hai apa kabar?" tanya Erick sangat pelan.


"Aku baik," jawab singkat Dira dengan perasaan was was.


"Tunggu aku, kita pasti akan pulang," bisik Erick.


Dira tidak menjawab, karena hal itu baginya tidaklah mudah. Bahkan terlihat mustahil, diantara mereka sudah banyak terhalang tembok besar.


Perlahan tangan kiri Erick bergerak, tangan itu merayap dan meraih tangan kanan Dira. Wanita itu tidak bisa melepas genggamannya, rasanya begitu nikmat dan sepadan dengan orga*me.


Dira menarik dan menghembuskan nafas panjang, dia mencoba setenang mungkin. Seluruh tubuhnya sedang merasakan aliran listrik yang dahsyat.


Erick dan Dira tertawa diam diam. Namun dibalik kesempatan yang terselubung itu, Hary sudah mengetahuinya. Karena dia merekam dengan kamera HP yang diselipkan di samping lengan kanannya.


...Sudah cukup Dira!...


...Selesai dan usai....


##


Disaat Rusia dan Ukrania sedang berperang, penulis malah kena muriang 🤒🤢


Maaf bakalan libur dulu, telat UP 🥺


Cukup saja muriang, Indonesia jangan ikut perang. Ribet soalnya, novel saya belum tamat juga 😂

__ADS_1


__ADS_2