AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
MOTIF


__ADS_3

Zaki berdiri dengan gelisah, sudah cukup lama dia menunggu di depan gedung badan forensik nasional.


Dia sedang menunggu seseorang.


Tak lama setelah itu, keluar Widi dengan wajah yang cukup serius. Dia menyerahkan satu bundel dokumen berisi hasil forensik di TKP pabrik tua waktu itu.


Zaki menyambut nya, dia lalu memasukan dokumen itu kedalam tas jinjing.


"Maaf Zaki, aku gak bisa bantu banyak. Mungkin ini yang hanya aku bisa kasih ke kamu," ucap Widi.


Tangan Zaki menyentuh pundak mantan isterinya dengan lembut.


"Gak papa, aku sangat berterima kasih dengan semua bantuan kamu," balas Zaki.


"Menurut kamu apa korban masih hidup?" tanya Zaki dengan wajah sangat penasaran. Dia ingin meminta pendapat lain dari seorang ahli forensik.


"Entahlah, sejauh ini bukti masih sangat lemah. Namun ada satu titik terang yang harus kita gali," balas Widi dengan percaya diri.


"Kita harus menemukan korban apapun yang terjadi, hidup atau mati dia harus kita temukan," sambung Zaki sambil menundukkan pandangan nya.


Zaki lalu berpamitan, dia berjalan keluar menuju tempat parkir. Dia membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.


Di sana dia masih belum menginjak gas, dia masih fokus melihat satu bundel dokumen di tas nya.


Karena sudah tak sabar, dia lalu membuka dokumen tersebut. Dia buka satu persatu lembaran dengan sangat teliti.


Dia baca setiap detail hasil temuanya saat itu. Ada wajah yang mengisyaratkan bahwa semua ini bukan hal biasa.


Ada ketidakwajaran, kecurigaan baru dan mengundang banyak pertanyaan.


Zaki lalu mengeluarkan handphone dan berniat untuk menelpon junior nya, Andi.


"Andi, apa kamu sudah cek email?" tanya Zaki.


"Sudah senior, aku sudah membaca semua laporan nya. Dugaan kita selama ini benar, ada dua pelaku kejahatan di TKP, satu wanita dan satu pria," jelas Andi.


"Kita harus segera melakukan investigasi lebih lanjut, mempersempit daftar tersangka dan wilayah kejahatan," perintah Zaki.


Lalu ia segera menutup telepon, menginjak gas dan mobil meluncur dengan cepat.


****


Zaki dan Andi, mereka sedang mengitari meja yang bertebaran kertas hasil laporan.


Semua laporan itu mereka taruh satu persatu di atas meja. Mereka lalu mulai merangkai dan menyusun bukti baru yang tak pernah mereka temukan sebelumnya.


Zaki berdiri, dia mulai mengambil sebuah spidol dan mengarah ke sebuah papan tulis putih.


Dia lalu menempelkan satu buah foto korban yang belum di temukan, yaitu Dira. Foto itu dia tulis dengan sebuah keterangan nama, usia dan status.


( NADIRA OKTAVIA, 36 TAHUN, KEPALA RESTAURANT DAN IRT)


Dibawah foto korban dia menuliskan dua tersangka yang masih anonim.


( TERSANGKA 1 : PRIA, USIA PERKIRAAN 28/30 TAHUN, 180/185 CM, 70/80KG)

__ADS_1


(TERSANGKA 2 : WANITA, USIA PERKIRAAN 25/26 TAHUN, 150/160 CM, 55/65 KG)


Zaki kembali melihat laporan lebih lanjut, dia sedang fokus melihat foto barang bukti yang tertinggal di TKP.


Dia kembali pada papan putih dan menulis sebuah kalimat BARANG BUKTI BARU.


Di sana dia menempelkan beberapa foto dari hasil jepretan saat berburu di TKP.


Foto pertama ada dua pola ban mobil yang terlihat di aspal dan tanah.


1 foto pola ban bertuliskan sebuah keterangan :


(TOYOYA ALL NEW YARIS TIPE TRD SPORTIVO, WARNA MERAH, KELUARAN 2021, PELEK DAN BAN UKURAN 195/ 50 R16, NO PLAT MOBIL PALSU)


Foto pola ban ke dua bertuliskan sebuah keterangan :


(MERCEDES-BENZ E CLASS -W212, PRODUKSI 2009/2016, UKURAN BAN 225/35 ZR19. WARNA DAN PLAT MOBIL BELUM DIKETAHUI)


Andi lalu membantu Zaki untuk menambah foto barang bukti lainya, yaitu 2 jejak sepatu berbeda. 1 jejak sepatu pria dan 1 wanita.


Foto jejak sepatu pertama diberi sebuah keterangan.


( SEPATU PRIA, BERLUTI LEATHER BOOTS, NO. 45 )


Foto jejak sepatu kedua diberi sebuah keterangan.


(SEPATU WANITA, DIOR - BABY- D BALLET PUMP, NO. 35)


Terkahir, Zaki menempel sebuah foto yang menggambarkan puntung rokok.


Gambar tersebut diberi sebuah keterangan.


Melihat semua detail yang baru saja ditemukan, membuat isi kepala Zaki berputar keras. Dengan semua jenis bukti baru, dia bisa sedikit menyimpulkan bahwa kedua tersangka bisa berada dalam status sosial atas.


Zaki lalu menyuruh Andi untuk segera mengumpulkan beberapa data pembelian. Seperti data pembelian lipstik, sepatu, rokok dan mobil Mercedes Benz yang telah melakukan perbaikan.


Dia lalu menyuruh Andi untuk mempersempit konsumen, dengan menyortir dari usia rentang 25/30 tahun.


Hali ini bertujuan agar pencarian pelaku dapat lebih mudah di identifikasi.


"Aku tunggu hari ini, semua draft harus selesai. Malam ini kita harus bicara dengan kapten," ucap Zaki dengan sangat serius.


****


Malam hari telah tiba, disebuah ruangan khusus, Zaki meminta kapten Nasar untuk menyempatkan waktu dalam membahas kasus.


Kapten Nazar lalu membolak-balikkan lembar demi lembar. Dia terus saja melototi dokumen hasil forensik terbaru.


Tanpa di duga, ia melempar kasar dokumen itu, wajahnya mencerminkan ketidaksukaan atas apa yang telah di lihatnya.


"Ini apa? Apa yang telah kalian lakukan di belakangku selama ini?" teriak kapten Nasar dengan wajah geram.


"Sudah saat nya kita membuka kembali kasus ini, kita sudah dapat gambaran tersangka," ucap Zaki dengan sangat hati hati.


"Darimana kamu mendapatkan ini semua? tersangka baru maksud mu?" tanya kapten Nasar dengan tatapan remeh.

__ADS_1


"Kapten sudah lihat kan? kami sudah menyisir tersangka lebih spesifik. Ada dua tersangka disini, 1 pria di duga sebagai tersangka utama dan 1 wanita di duga sebagai kaki tangan. Kita sudah mendapatkan jejak dan bukti terbaru dari mereka berdua."


Kapten Nasar masih diam seribu bahasa, dia masih memberikan kesempatan pada Zaki, untuk menjelaskannya lebih detail.


Satu persatu, Zaki memperlihatkan foto foto barang bukti yang tertinggal di TKP. Terdiri dari jejak ban mobil, jejak sepatu dan puntung rokok.


Dia pun memberikan draft pembelian atas semua daftar barang tersebut, dari mulai lipstik, list mobil Mercedes-Benz yang pernah mengalami kerusakan, tempat pembelian rokok limited edition dan dua buah sepatu branded.


Setelah itu, Zaki pun memberikan sebuah daftar konsumen yang sudah di sortir dengan spesifikasi usia pelaku dan dekat dengan waktu kejadian.


Semua total konsumen yang patut dicurigai berjumlah 150 orang. Semua konsumen itu 95% terdiri dari kamu atas.


"Tolong, bantu kami untuk mengeluarkan surat izin resmi pemanggilan saksi atas kasus ini. Kami harus menginterogasi mereka. Aku yakin tersangka ada dalam daftar itu," pinta Zaki dengan sangat serius.


"Apa apaan kamu?" bentak kapten Nasar.


Wajah Zaki tiba tiba mulai gelisah, dia baru kali ini mendapat sebuah teguran keras dari atasannya.


"Ini semua sangat tidak masuk akal, hal yang sangat mustahil kamu bisa memanggil mereka datang ke kantor polisi. Kamu sadar mereka siapa? Konglomerat, pejabat, perwakilan kedutaan besar sampai selebritis kamu incar? dengan hanya bermodalkan bukti sampah seperti ini?"


Kapten Nasar berdiri, lalu ia kembali membuang semua dokumen yang telah lama Zaki susun dengan sangat lelah.


Semua lembaran itu bertebaran dimana mana.


"Dengan bukti yang masih tidak berdasar ini, aku tetap tidak akan membuka kembali kasus yang sudah semua orang lupakan," ucap kapten Nasar dengan wajah mengancam.


Dia lalu pergi dari ruangan itu, namun Zaki menyusul nya dan terus memohon agar di beri kesempatan.


"Tolong kapten, beri kami waktu lebih. Aku janji pasti akan memberikan suatu bukti yang sangat konkrit," Zaki memohon dengan perasaan yang sangat tulus.


Kapten Nasar hanya bisa menghela nafas, dia tahu jika bawahan nya ini memang sangat keras kepala.


"Aku beri waktu 1 bulan, ini tawaran terakhir ku untuk mu," jawab kapten Nasar dengan sedikit rasa iba.


****


Sudah sangat larut malam, Zaki masih berada di ruang kerja nya. Dia terus saja memandangi papan yang berisikan detail kasus mobil merah.


Sekilas Zaki melihat foto Dira yang sedang tersenyum, dia mulai berpikir kembali. Kenapa seorang ibu rumah tangga biasa saja, bisa menjadi incaran pria kaya raya?


Siapa wanita ini? Apa yang diinginkan oleh pelaku?


Jelas ini bukan masalah uang, karena penculik sama sekali tidak meminta uang tebusan.


Lalu apa? detail apa yang sebenar nya ia telah lewatkan?


Dari jauh, Andi sedang melihat senior nya itu terus melamun. Dia menghampiri nya dan membawakan segelas kopi hitam hangat.


Zaki lalu mengambil nya, sambil minum kopi dia masih anteng dengan papan itu.


"Kenapa pelaku membutuhkan kaki tangan, padahal dari jejak sepatu bisa dilihat dia adalah pria tinggi dan besar, mudah baginya untuk menculik seorang wanita. Apalagi kaki tangan juga seorang wanita bertubuh pendek dan kecil," tanya Zaki pada junior nya.


"Mmmmm entah lah, pikir pikir apa sebenarnya motif pelaku menculik wanita yang sudah tidak muda lagi? kenapa tidak menculik wanita lebih muda atau lebih cantik?" tanya Andi penasaran.


"Obsesi, mungkin salah satunya,"

__ADS_1


"Obsesi? dari mana senior tahu kalau itu hanya sebuah obsesi?" tanya Andi lagi dengan sangat ingin tahu segalanya.


"Hanya insting, tidak lebih," jawab Zaki pelan.


__ADS_2