
Hary sedang berdiam diri di dalam mobil, tubuh nya terasa sangat berat untuk bergerak. Pikiran dan tekad nya sedang di uji seperti mengikuti Squid game.
Kaki nya bergetar terus menerus, jari jemari bergerak dengan tidak beraturan. Hary menampakan kegugupan dan kegelisahan.
"Duh, datang jangan datang jangan," ucap Hary berulang kali, dia sedang menimbang sebuah keputusan besar.
Hary menarik nafas dengan panjang, kedua mata nya melotot dengan paksa.
"Datang, aku akan datang!" ujar nya dengan semangat sembari keluar dari dalam mobil.
Dia berjalan dengan penuh tekad bulat dan keyakinan. Tujuan nya sekarang adalah bertemu dengan Erick, pemilik dari perusahaan asuransi tersebut.
Dia berpikir sangat keras, jika Erick akan membantu nya kali ini. Dia harus meyakinkan pria itu agar tidak menarik kembali uang asuransinya.
Hary punya perasaan berbeda dengan pemilik perusahaan ini. Dari awal dia terlihat sangat baik kepada keluarga nya. Walaupun dulu dia sempat mencurigai Erick karena sebuah hal hal kebetulan.
Tidak ada jalan lagi selain harus mengemis terhadap orang orang kaya. Dia harus merelakan harga dirinya untuk mempertahankan kekayaan nya.
Ketika dia telah sampai di lobby gedung kantor, tak sengaja dia melihat sekertaris pribadi CEO sedang berjalan lurus.
Segera dia menyusul wanita itu. Hary mencoba untuk mencegat nya.
"Nona Jesica, kita bertemu disini ternyata," ujar Hary dengan sok akrab.
"Oh ada pak Hary di sini, maaf saya tadi sedang tidak fokus. Kebetulan sekali ya. Oh BTW ada perlu apa ke sini?" tanya Jesica pura pura ramah.
"Saya ada urusan penting dengan tuan muda. Apa aku bisa menemui pak Erick?" tanya Hary dengan wajah malu dan sungkan.
"Waduh, kebetulan pak Erick sedang banyak pertemuan penting hari ini. Tapi pak Hary bisa ko menunggu, jika mau. Tapi cukup lama, mungkin 4 jam lagi dia selesai dengan pekerjaan nya," balas Jesica dengan senyum palsu nya.
"Oh gitu ya.. tapi gak papa deh, aku bisa nunggu beliau kapan saja. Aku gak keberatan sama sekali," ujar Hary tambah canggung.
"Ok kalau begitu, ikut saya saja. Pak Hary bisa nunggu di ruangan khusus," ajak Jesica.
"Terimakasih banyak nona, kalian memang sangat baik pada kami," ujar Hary dengan bersemangat.
*****
Hary menunggu dengan gelisah, dia takut jika tidak bisa menghadapi Erick seorang diri. Keringat nya bercucuran, seluruh rambut nya basah.
Tiba tiba Jesica memanggil Hary untuk segera mendatangi ruang kerja CEO. Karena Erick sudah siap bertemu dengan nya.
Seketika Hary terkejut, karena dia baru menunggu selama 10 menit. Padahal Jesica sempat bilang jika ia harus menunggu nya selama 4 jam.
Dengan langkah gemetar, Erick pun masuk seorang diri. Bahkan Jesica pun tidak ikut dalam pertemuan ini.
Sekarang hanya ada dua pria, Erick dan Hary. Tampak seperti sebuah reuni yang manis. Mereka adalah guru dan murid yang sudah lama tidak saling menyapa.
"Permisi tuan muda," ucap Hary sopan.
__ADS_1
Erick membalikan badan dari arah kaca, dia langsung memancarkan sebuah senyuman misterius.
"Pak Hary, sudah lama sekali kita tidak bertemu," sambut Erick dengan pancaran kebaikan.
"Ah iya ya, sudah lama," jawab Hary dengan kebingungan.
"Silahkan duduk pa, kita bisa ngobrol santai saja," kata Erick dengan tenang.
Lalu mereka duduk bersama di atas sofa. Saling berhadapan satu sama lain. Erick pun menawarkan banyak minuman namun Hary terus menolak.
Dia hanya ingin segera mempercepat pertemuan ini. Dia tidak ingin ada percakapan basa basi diantara mereka.
"Isteri ku sudah ditemukan, hanya saja dia menolak untuk memberitahukan apa yang selama ini terjadi. Isteri ku selalu bungkam dan tidak banyak bicara," curhat Hary langsung pada inti permasalahan.
Erick diam saja, dia seakan sedang membaca sebuah novel romantis. Mendadak hati nya menjadi sangat terpukul, karena wanita itu masih berpihak pada nya.
...Dira, Terimakasih....
"Oh benarkah? Ini benar benar sangat mengejutkan. Syukurlah, jika dia bisa kembali dengan selamat," komentar Erick berusaha untuk terlihat bodoh dan tidak tahu apa apa.
Kaki kanan Erick di silangkan, bahu nya bersandar pada sofa. Dia ingin sekali menikmati wajah Hary yang begitu amat menderita.
Dia sangat suka melihat pria brengsek itu jatuh dan hancur. Erick sangat tahu tujuan pria itu datang ke kantor nya. Dia sangat tahu sifat Hary sesungguh nya.
"Aku hanya ingin meminta bantuan. Mungkin lebih tepat nya sebuah permohonan," ujar Hary dengan perasaan tidak menentu.
Erick mulai tersenyum sinis, dia sudah sangat tidak sabar dengan aksi Hary selanjut nya.
...Aku sudah sangat menunggu momen ini....
"Mmmm...." Hary masih menahan nya.
Erick masih setia menunggu.
"Aku minta tolong untuk tidak menarik semua dana asuransi. Aku sangat membutuhkan uang itu, aku masih punya keluarga yang harus dinafkahi," ujar Hary lirih dan goyah.
Erick tersenyum puas, akhirnya dia sudah masuk kedalam perangkap nya.
...GOTCHA!...
...Ayo Hary.. terus lanjutkan....
...Bicaralah sepuas nya, sungguh aku menikmati....
...Teruslah jatuhkan harga diri mu seperti itu....
Erick belum merespon apapun, dia masih memasang badan dengan benteng yang kuat. Inilah saat nya, Erick akan menggunakan seluruh kekuasaan nya.
Kedua mata Hary mulai melirik Erick, dia melihat pria itu masih diam mematung. Hati nya makin panik, dia sangat takut jika rencana nya tidak berhasil.
__ADS_1
Tidak ada cara lagi, dia harus melakukan hal yang sangat memalukan. Demi menyelamatkan kekayaan dan kemakmuran hidup.
Kedua lutut Hary mulai bersimpuh di depan Erick. Dia lalu memohon sambil berlutut. Dia mengepalkan kedua tangan nya seperti tunawisma.
"Aku mohon, tolong bantu aku sekali lagi. Hanya tuan Erick yang selalu menyelamatkan keluarga kami, hanya tuan yang selalu baik pada kami," ujar Hary sambil terus berlutut pada kaki Erick.
...Ini yang aku suka dari mu Hary....
...Keserakahan akan terus menguntungkan setiap rencana ku....
...Teruslah memuja uang dan harta, tanpa lelah....
"Pak guru, bangun lah. Kamu sudah tua ternyata, tidak se-galak dulu di sekolah," ucap Erick dengan santai.
Mendadak Hary mengangkat wajah nya keatas. Dia menatap Erick dengan wajah terkejut. Mulut nya melebar dan mata nya melotot.
"Pak gu-ru?" jawab Hary terbata bata.
Dia lalu bangkit dan langsung berdiri menghadap Erick.
"Tuan mengenalku?" tanya Hary dengan gemetar hebat.
"Mmm gimana ya jelasin nya, aku juga bingung. Pokok nya aku mantan murid mu, ingat gak sih pak dulu kamu sering banget kasih hukuman dan teriak teriak gak jelas di kelas," jelas Erick sambil tertawa licik.
Tiba tiba Hary menarik paksa kerah kemeja Erick. Tubuh Erick seketika bangkit secara paksa dari sofa. Dia kini berdiri saling menghadap.
Kedua mata mereka akhirnya bertemu. Saling menatap satu sama lain dengan tajam. Sorot mata Hary mulai berubah, dia menjadi menyeramkan.
Erick masih menanggapi nya dengan santai saja. Bahkan dia ingin sekali mempermainkan Hary. Dia ingin bersenang senang dengan nya.
"Aku REZA pak, ingat kan?" jawab Erick dengan wajah menantang.
"APA?" bentak Hary dengan dahi mengkerut. Kesadaran Hary masih belum pulih seutuh nya, dia terus mencoba mengingat siapa Reza.
Dia mulai melihat wajah Erick dengan fokus. Dia harus tau siapa pria aneh yang sedang ada dihadapan nya.
"Kamu? anak yatim piatu itu kan? ahh.. gak mungkin, gak... ini mustahil," ucap Hary tidak bisa percaya begitu saja.
"Pak Hary pasti masih ingat, dulu kamu pernah bertemu dengan seorang wanita di sebuah kosan.
Dengan bangga kamu ngaku jika pizza dan balon gas itu adalah pemberian kamu. Sungguh wanita malang, nasib nya benar benar sial," jelas Erick penuh kenangan.
Hary terdiam sejenak, pikiran nya mulai melayang pada kenangan zaman dulu. Itu adalah kenangan rahasia antara Hary dan Dira.
Itu adalah momen dimana mereka pertama kali bertemu. Tidak ada seorang pun yang tahu apalagi dengan semua detail seperti ini.
"Jangan jangan kamu sudah lama mengenal isteri juga? Siapa kamu.. SIAPA KAMU? teriak Hary dengan wajah frustasi.
Dia lalu kembali menarik kerah kemeja Erick dengan sangat kuat. Bahkan ujung kuku nya mencakar leher Erick sampai berdarah.
__ADS_1
Erick tersenyum jahat, dia lalu mendekati wajah Hary dengan sangat rekat. Mulutnya mulai bergerak menghampiri telinga Hary.
"Aku yang sudah menculik isteri mu pak," bisik Erick dengan sangat buas.