AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Kali Kedua, Cinta itu Datang


__ADS_3

"Kapan kita bisa pindah lagi," tanya Dira sambil memasukan sesendok oat meal kedalam mulutnya.


"Kenapa? gak suka sama Penthouse nya?" balas Erick dengan senyuman seperti biasa.


"Kangen aja duduk sambil lihat pantai dari jendela, kalau gedung Jakarta sih udah biasa," ucap Dira dengan wajah yang bersahabat.


"Nanti ya, kalau udah sembuh betul. Pasti pulang ke rumah kita," jawab Erick sambil mengelus rambut Dira dengan lembut.


Perlakuan Erick, makin hari membuat hati Dira terus berbunga bunga. Namun dia belum bisa menumpahkan seluruh isi hati nya.


Dira hanya merasa, ini seperti mimpi. Ini seperti bukan realitas, dia terperosok dalam dunia khayalan.


Apakah ada cinta seperti ini di dunia? cinta yang tak lazim, cinta yang aneh, cinta yang berawal dari sebuah keadaan yang salah.


Semua datang begitu saja, tidak pernah sedikitpun cinta itu menyapa secara baik baik.


Sejak kejadian ranjang yang belum tuntas, Erick terus memperhatikan Dira yang semakin banyak melamun. Jarang menghabiskan makan, jarang ngobrol bareng dan lebih sering membuang muka.


Pria seperti Erick pun masih tidak tahu, bahwa perempuan itu sedang jatuh cinta untuk kedua kalinya.


Sejauh ini Erick hanya berpikir, jika perasaan nya tak terbalas, hanya sebatas pelampiasan dan bertepuk sebelah tangan.


"Sebelum aku pergi, mau aku pesankan pizza?" tanya Erick sambil mengeluarkan handphone.


"Boleh tuh," balas Dira dengan sedikit sumringah, jujur ia kangen dengan makanan khas Italia tersebut.


Erick tahu, jika Dira sangat suka Pizza. Ini hanya sebuah insiatif agar wanita itu kembali ceria dan nafsu makanya tidak selalu hilang.


"Aku pesan online aja ya, kamu mau pakai beef, tuna atau pepperoni? tawar Erick sambil terus fokus melihat tampilan menu.


"Pepperoni, tanpa pinggiran dan extra cheese," balas Dira dengan kilat.


"Tanpa Paprika," celetuk Erick begitu saja.


Dira bengong, dia menampakan wajah yang terheran heran. Sebab, darimana Erick bisa tahu kalau dia tidak suka dengan campuran Paprika.


"Ko bisa tahu kalau aku gak suka paprika? tanya Dira dengan penasaran.


Mendengar pertanyaan seperti itu, sedikit dia menunjukan kegelisahan. Erick hanya bisa tersenyum tanpa alasan. Reaksi tubuhnya mendadak salah tingkah.


"Nebak aja sih," balas Erick singkat.


"Oh rupanya begitu," jawab Dira yang masih merasa ini adalah sebuah keanehan. Karena dia tahu betul, hanya sedikit orang yang tahu kalau dia tidak suka paprika.


Apalagi selama ini, mereka pertama kali baru memesan pizza.


****


Sambil mengunyah potongan pizza, Dira fokus melihat adegan romantis drama Korea.


Dia bukan tipe wanita yang suka dengan adegan romantis atau vulgar, hanya saja kali ini dia sangat berminat dengan genre seperti itu.


Dilayar kaca, dia sedang melihat pemeran wanita utama tengah berciuman mesra dengan pria yang sebenarnya Playboy.


Pada akhirnya, semua akan berakhir di atas ranjang. Begitulah realitas cinta sebenarnya, semua butuh yang nama nya pemuas birahi.


Itu adalah hal wajar, bukan sesuatu yang harus di takutkan.


"Ah, sama sama cewek murahan. Dasar betina, iman mu setipis ko*dom," komentar Dira dengan seenak jidat. Tentu, ia juga sedang mengkritik diri nya sendiri.


Dia adalah betina murahan itu.


Saking menikmati alur cerita drama tersebut, Dira bahkan tak sadar jika pizza tadi adalah suapan terakhir nya.


"Ah sial, harusnya Erick pesan dua box," gerutu Dira kesal.

__ADS_1


Ternyata strategi Erick berjalan sangat jitu, dengan Pizza mood dan nafsu makannya kembali membaik.


Tiba tiba dari arah ujung, terdengar suara pintu itu sedang terbuka.


Dira berpikir sejenak, kenapa Erick bisa pulang sangat cepat? padahal baru saja ia pergi satu jam yang lalu.


Apa Erick mencoba mengantarkan satu box Pizza lagi?


Dira sangat penasaran, lalu ia berjalan bergegas menghampiri arah pintu.


Hanya saja senyum itu mendadak hilang karena bukan Erick yang datang, melainkan wanita cantik dengan gaya tomboi seksi nya.


"Kamu siapa?" tanya Dira dengan tatapan kaget.


"Oh lagi ada tamu ya," jawab wanita itu sambil terus memperhatikan penampilan Dira.


Mereka berdua saling berhadapan, keduanya saling memasang mata penuh curiga.


Tentu saja Dira juga sedang menilai wanita itu, dia sangat cantik dan masih muda. Apakah itu pacar Erick? Apa diam diam Erick punya simpanan lain?


Sadar akan ekspresi Dira yang aneh, wanita itu langsung paham dan dia harus segera meluruskan kesalahpahaman.


"Jangan berpikir yang aneh aneh, aku Natalie, adik nya Erick." Natalie menyambut Dira dengan ramah, dia lalu menjulurkan tangan kanan nya.


Sebagai tanda sebuah perkenalan.


"Oh adik nya Erick, aku Dira," jawab nya sambil membalas tangan itu.


*****


Mereka kini sedang duduk di atas sofa, dengan gaya yang tomboi Natalie asik menghisap rokok.


Asap itu mengepul kemana mana, dia bahkan tidak peduli jika ruangan ini ber AC.


"Kamu pacar Erick yang ke berapa? tanya Natalie santai.


Melihat Dira yang masih kebingungan, Natalie tahu betul jika Dira adalah wanita polos yang menyedihkan.


"Aku cuman kasih tau ini ya ke kamu, jangan pernah jatuhkan harapan apapun sama dia, selain dia playboy abis, dia cuman menganggap wanita sebagai cinta satu malam saja. Gak lebih," jelas Natalie dengan wajah yang serius.


Mbak petir disiang bolong, kesadaran Dira langsung tersengat bagaikan tiang listrik.


Dia sangat kaget, tidak percaya dan dia merasa semua ini seperti mimpi.


PLAYBOY?


Yang benar saja! Selama ini Erick selalu membual dan merayu nya, dengan semua kalimat aku mencintaimu, hanya kamu yang aku cinta.


dan semua itu hanyalah sebuah permainan?


Oh, Sial. Kenapa Dira harus jatuh cinta disaat dia tahu jika pria itu seorang playboy.


Sungguh terlalu kamu Erick.


"Bajingan," ucap Dira pelan, matanya kesal.


"Tapi aku salut sama kamu, berani banget makan Pizza di penthouse nya," kata Natalie sambil dia melirik kotak pizza dan remahan tepung berserakan di atas meja.


"Emang kenapa? Erick sendiri yang memesan pizza untuk ku?" balas Dira heran.


Spontan mendengar nya, Natalie langsung terperanjat kaget. Kedua matanya melotot.


"Beneran?"


Dira mengangguk.

__ADS_1


"Wah, luar biasa! kamu tahu? Kaka ku sangat benci jika ada orang berani makan di tempatnya, apalagi jika melihat ada kotoran seperti ini di atas meja, aduh kalau itu aku sudah mati gantung diri," jelas Natalie sambil merinding.


Natalie terus saja membicarakan kakak nya itu, dia terus membual tanpa henti.


"Dia emang tampan, populer di kalangan wanita tapi dia sedikit aneh. Hal yang paling ia benci jika berani menyentuh barang pribadi tanpa izin, dia akan marah banget, kaya orang kesetanan."


"Marah kaya gimana?" tanya Dira penasaran, seketika ia teringat jika dulu pernah menyentuh bingkai foto di kamar nya, dia memang melihat wajah Erick mendadak menyeramkan.


"Pernah nih malam malam, Erick bawa cewek masuk ke kamar nya, biasalah cinta satu malam. Terus tanpa sepengetahuannya, wanita itu masuk ke ruang bawah tanah. Aku tahu ada kamar rahasia yang sangat di larang siapapun untuk masuk. Kamu tahu apa yang terjadi sama wanita itu?"


Entah kenapa tiba tiba suasana jadi mencekam dan menakutkan, Dira sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


"Sumpah ini tega banget, Erick langsung usir wanita itu tanpa belas kasih. Cuman pakai lingerine tipis tambah malam itu lagi hujan deras. Bayangkan coba kamu tahu siapa wanita itu?


Dira membeku, sekujur tubuhnya merinding.


"Miss UNIVERSE, dia berani usir cewek bule pemenang kontes kecantikan dunia."


Seketika dunia runtuh, berguncang sangat hebat. Dira tercengang dan masih tidak percaya dengan semua cerita ini.


****


Dira berdiri di depan kamar rahasia itu. Dia penasaran, sangat mati penasaran. Kenapa Erick bisa bersikap tidak lazim hanya karena ada wanita yang coba masuk ke ruangan ini.


Jujur, dia pun sangat takut dengan semua cerita Natalie. Tapi hati kecilnya mendadak mengakui kebenaran cerita itu.


Dia harus berani masuk kedalam nya, insting Dira mengatakan jika Erick sangat menjaga tempat ini dengan ketat.


Ada rahasia di dalam ruangan ini, Dira harus mencari tahu.


Pria itu masih penuh menyimpan misteri. Dia memang sangat jarang menceritakan kehidupan pribadi nya sendiri.


Dengan tekad yang bulat, dia lalu mencoba memasukan pasword pintu menggunakan nomor acak.


Namun gagal. Dia berpikir terus, apa mungkin tanggal lahir nya?


Dia mencoba sekali lagi, tapi gagal.


Apa tanggal pernikahannya dengan Hary?


Ini memang gila, tapi dia harus mencoba nya.


Dia memasukan deretan angka angka itu dan ternyata berhasil terbuka.


"Apa? ini gila!" ucap Dira dalam hati.


Dira masuk kedalam ruangan itu, tidak ada pencahayaan dan gelap gulita.Seketika bau tinta basah menyengat masuk kedalam hidung nya.


Dira tidak menyerah, dia lalu mulai mencari saklar listrik berharap ada lampu yang bisa ia nyalakan.


Dia berhasil menemukannya, dia lalu menekan tombol itu.


BRAAAY!


Lampu itu akhirnya menyala dan seluruh ruangan kini sudah menjadi terang.


Dira termenung, sangat terkejut dan terpaku atas apa yang telah ia lihat kali ini.


Isi kamar rahasia akhirnya terungkap sudah.


Dia dengan mata yang melotot, mulut menganga dan kulit yang merinding.


Baru saja melihat sebuah pemandangan yang sangat menyeramkan dan menakutkan.


"Erick, kamu benar benar maniak, PENGUNTIT !" ucap Dira seketika, lalu mendadak tubuhnya terperosok jatuh kebawah.

__ADS_1


Takut, gemetar dan shock.


__ADS_2