AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Yuk, Kita Kencan


__ADS_3

Suasana dapur di jam 5 pagi sudah mulai hangat, kepulan asap dari panci terus mengepul seperti cerobong asap.


Dengan pakaian rumahan semi daster, Dira menambahkan celemek putih di badan nya. Kini dia sudah terlihat seperti wanita ibu rumah tangga yang sibuk.


Rambut nya yang terurai panjang terus menganggu konsentrasi nya dalam meracik setiap bumbu. Dia lalu mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda.


Bibir nya tersenyum lebar, karena kuah gulai ayam nya sudah mulai kental dan aroma santan nya begitu harum.


"Coba dari dulu aku ikutan master chef, aah.. pasti chef Juna udah jadi suami ku," celetuk Dira dengan tawa nya yang sangat renyah.


Dia mematikan kompor dan mengambil satu buah mangkuk sedang untuk tahap food plating.


Setelah selesai dengan masakan gulai nya, selanjut nya dia menaruh mangkuk di atas meja makan. Merapihkan dua piring, dua gelas, dua set sendok dan garpu secara bersamaan.


Ini adalah persiapan sarapan untuk sebuah pasangan.


Dira membuka celemek nya dan menatap wajah di atas cermin. Dia lalu sedikit merapihkan rambut yang berantakan dan wajah nya sedikit kotor.


Namun tak hanya itu, dia mulai mengendus bau tubuh nya sendiri. Seperti anjing pelacak, dia menemukan bau tubuh yang tidak sedap.


Dahi nya mengkerut, mata nya berubah kesal.


"Duh apek banget sih, bau kompor!" Kata Dira dengan jengkel, lalu dia bergegas berjalan menuju kamar.


Dia membuka pintu lemari lebar lebar. Kedua mata nya mulai bergerak kanan ke kiri, mencari yang terbaik diantara deretan baju mahal nya.


Dia memilih satu dress pendek berwarna pink muda, lengan pendek dan belahan dada sedikit terbuka.


"Perfecto," ucap nya puas karena dia merasa pilihan nya kali ini sangat pas.


Setelah mengganti pakaian baru nya, Dira duduk di depan meja rias. Dia melirik wajah nya sendiri dengan cermat sekali.


"Aku tua banget, lihat kerutan di mana mana," komentar Dira dengan sangat gusar.


Dia segera mencari deretan cream anti aging. Sebuah skin care yang menurut nya paling ampuh untuk menghilangkan tanda penuaan.


Dengan gerakan cekatan dia lalu mengoleskan cream ke seluruh area kulit wajah dan leher. Tidak lupa dengan serum, essence dan eye cream.


Selanjut nya dia melirik bibir nya yang masih sangat pucat. Tak harus memilih, dia langsung mengambil satu lipstik yang berwarna merah menyala. Digerakkan nya bibir itu dengan sedikit monyong, agar warna nya merata sempurna.


Sentuhan terakhir dia menyemprotkan parfum bergaya lembut namun tinggi sensualitas. Tak lupa, dia melepas ikatan rambut dan menjulurkan rambut panjang nya dengan sedikit berantakan.


"Ok, Let's go."


Dia berjalan keluar kamar dengan penuh percaya diri. Lalu masuk ke sebuah ruangan yang sangat jarang ia masuki.


Ruangan itu adalah tempat dimana Erick selalu menghabiskan banyak waktu dengan komputer.


Ruangan khusus yang selalu menjadi tempat meditasi. Dia dengan seluruh inovasi bisnis teknologi yang tak berhenti terus berkembang setiap tahun.


Dira mengetuk pintu dengan hati hati, namun tidak ada jawaban. Semakin penasaran, Dira lalu mencoba membuka gagang pintu.


Ternyata pintu itu tidak dikunci seperti biasanya. Diam diam Dira menyelinap masuk kedalam ruangan itu.


Disana dia melihat Erick masih tertidur di atas kursi bahan kulit yang mengkilap. Matanya terpejam dengan indah, dia masih sangat tampan.


Dengan pelan Dira melangkah kan kaki nya, dia berjalan menuju meja itu. Disana dia melihat banyak sekali kertas, dokumen dan buku buku berserakan.


Bahkan layar laptop nya masih menyala. Dira melihat deretan bahasa pemograman yang sangat sulit untuk di pahami.


Dira tersenyum, seketika mulai mengingat masa lalu nya. Erick tidak banyak berubah, dia pria yang ulet sama seperti dulu.


Sembari terus fokus melihat layar laptop, Dira belum menyadari jika Erick sudah membuka mata. Kedua mata nya yang sipit masih mengeluarkan buliran air mata.


Erick menyeka air mata itu sambil menguapkan mulut nya lebar lebar. Merenggangkan seluruh otot yang sudah sangat letih dan lelah.

__ADS_1


"Hei," ucap nya dengan suara serak.


Dira kaget mendengar suara pria itu. Dia lalu menatap wajah Erick dengan penuh kejutan.


"Erick, kamu udah bangun," sambut Dira dengan penuh semangat.


Erick lalu merapihkan posisinya dan duduk dengan sempurna. Dia tersenyum melihat penampilan Dira yang tidak seperti biasa nya.


"Mau ke kondangan ya bu," ledek Erick sambil tertawa.


"Ehhh anak bandel ya, capek capek dandan malah dikira mau kondangan," balas Dira dengan wajah cemberut.


"Masa? Tumben udah dandan menor pagi pagi," kata Erick sambil melirik jam tangan nya sudah menunjukan pukul 6 pagi.


Dira memalingkan wajah nya dengan masam, dia kesal dan jengkel karena usaha nya terbuang sia sia.


"Ah dasar pria berandalan, sekarang posisi kita udah kebalik. Dulu kamu jelek sekarang aku yang jelek," kata Dira dengan sedih, ternyata skin care anti aging yang ia pilih malah membuat nya makin terhina.


Dira malu sekali, untuk situasi seperti ini dia harus segera memasang badan. Dia harus menyelamatkan harga dirinya sebagai wanita yang sudah berumur 30 tahun keatas.


"Sadar Dira! Kamu udah emak emak," celetuk dia dengan pelan.


Segera dia memutuskan membalikan badan dan melangkah keluar menjauhi Erick. Belum saja berjalan 5 langkah, pergelangan tangan nya lalu di tarik oleh Erick dari belakang.


Karena tarikan nya yang cukup kuat tak ayal membuat tubuh wanita itu berbalik seketika.


Sekejap tubuh Dira jatuh kedalam pelukan Erick yang sudah menahan nya. Dia sangat terkejut dan mata nya kini saling memandang.


Mereka bertatapan cukup lama, detak jantung Dira mulai berdegup sangat kencang. Kedua lutut nya sudah sangat gemetar dan lemas.


"Kamu cantik," ucap Erick dengan penuh kelembutan.


Hati Dira sudah tidak bisa menahan lagi, dia sangat senang dengan perkataan Erick.


Pelan tapi pasti, Erick kini mendapati wajah Dira dengan sangat cantik. Pria itu selalu menatap Dira dengan sangat tajam dan dingin, namun kali ini mampu meluluhkan segala keresahan Dira.


Mereka bercumbu dengan saling berpelukan satu sama lain. Bahkan Erick memindahkan posisi sambil berjalan mundur.


Erick lalu duduk di atas kursi besar itu, dengan cepat Dira langsung naik di atas pangkuan Erick. Kedua kaki nya lalu disilangkan di sekitar tubuh besar Erick.


Posisi itu semakin membuat Erick dan Dira menjadi sangat lekat dan tak terpisahkan. Mereka sedang melabuhkan cinta yang selama ini terombang ambing.


Kini mereka berciuman di atas kursi kerja dengan penuh gairah yang sudah sangat lama tertunda.


****


Masih menahan malu dan senang, Dira tersenyum sendiri dan merah di pipi nya masih belum hilang.


Dia mengunyah ayam gulai dengan tidak fokus. Pikiran nya masih melayang dengan momen tak terduga dengan Erick.


Tak jauh beda dengan Erick, dia tidak berselera pada hidangan nya kali ini. Dia lebih sering memandang wajah berseri wanita yang sangat ia cintai.


Dira berfikir bahwa kali ini dia harus esktra merawat tubuh dan wajah nya. Sebuah asmara dengan pria yang jauh lebih muda, membuat nya terkadang tidak percaya diri.


"Apa aku harus operasi plastik," ucap Dira memecah keheningan di meja makan.


Mendengar nya Erick langsung tertawa, bahkan dia sedikit menyemburkan nasi dari dalam mulut nya.


"Kenapa hayo?" kata Erick dengan mata melotot.


"Apa kamu masih menganggap ku Dira 13 tahun yang lalu? Kamu salah Erick, aku sudah beda. Aku gak secantik yang kamu kira," ucap Dira sambil mengayunkan sendok ke dalam mangkuk.


"Mau operasi plastik atau tidak, gak ada yang berubah. Kamu tetap Dira yang selalu aku rindukan. Ayolah, berhenti terus membandingkan dengan masa lalu," balas Erick dengan santai.


"Maaf, aku sampai gak sadar jika selama ini kamu anak lantai bawah. Kamu tampan, kaya raya dan masih sangat muda," kata Dira sambil menundukan pandangan.

__ADS_1


Erick melihat Dira dengan tatapan sedih, kenapa kali ini dia mendadak menjadi seorang manusia yang tidak percaya diri.


Seharusnya Dira merasa antusias jika dia adalah Erick yang selama ini dia kenal. Seharus nya Dira merasa bangga jika Erick sudah bertransformasi begitu cepat.


"Ayo kita kencan saja!" ucap Erick sambil tersenyum manis.


Mendengar ajakan tersebut, Dira makin melongo. Wajah nya tambah mengkerut.


"Kencan? Maksud mu kita pacaran Hahahahaa... terus aja ledekin," komentar Dira dengan gusar.


"Oh jadi kamu menolak ya, Ok gak masalah."


"Bukan gitu loh Rick, kencan udah gak pantes lagi buat aku. Jangan jangan kamu lagi bayangin kita berbuat mesra, bergandengan tangan, ketawa ketiwi di restoran romantis, iihhh... anak muda banget," ledek Dira dengan tidak serius.


"Jadi kencan versi emak emak kaya apa?" Goda Erick dengan tengil.


"Mmmm.. ya pokok nya gak sinetron banget. Gak zaman lah Rick buat aku."


"Ok baik, tapi aku kan gak tahu mau kamu apa? Kita kencan aja ribet banget sih. Beneran deh lama lama kamu udah persis kaya emak emak komplek, bawel nya minta ampun," komentar Erick sambil geleng geleng kepala.


"Kita pergi berkemah. Kalau bisa jangan banyak orang," jawab Dira dengan malu malu.


"Hahahaha... camping? Itu kencan yang kamu dambakan? Aduh Dira norak banget sumpah. Aku kira kita bakal liburan di Burj Khalifa atau keliling Eropa dengan kapal pesiar," kata Erick sambil tertawa girang.


"Ya udah, gak usah ngajak aku kencan lagi. Norak tau kaya anak ABG," gerutu Dira dengan sebal.


Lalu dia bangkit dari kursi dan beranjak meninggalkan meja makan.


Namun Erick menahan nya, dia tidak bisa membuat wanita ini bersantai saja. Dira memang sangat sensitif akhir akhir ini.


Erick tiba tiba menggendong tubuh wanita itu. Dia melekatkan tubuh nya dengan mesra. Saat itu juga Dira tidak berkutik, seluruh tubuh nya sudah dikunci rapat oleh pria ini.


"Erick turunin aku! Udah tahu aku berat!" protes Dira dengan malu.


"Udah diam aja," kata Erick sambil memboyong tubuh Dira masuk kedalam kamar.


Sambil memukul bahu Erick, Dira terus memaksa agar dia turun dari pangkuan nya.


"HEI! KAMU MAU BAWA AKU KEMANA!" jerit Dira dengan sangat manja.


"Turunin sekarang juga, aku bisa jalan sendiri Erick!" tambah Dira dengan gemas.


"Kamar," ucap Erick sambil tertawa.


"Apa? Awas ya kalau kamu berani macam macam," kata Dira sambil membayangkan hal hal kotor.


"Duh singkirin tuh otak mesum kamu, lagian kita harus segera berkemas kan? Katanya mau pergi berkemah," kata Erick.


"Mmmm siapa juga yang mesum," balas Dira tambah malu.


"Camping Dira bukan ranjang!"


"Iya aku tahu, kamu tuh otak cabul, apa - apa ranjang!"


Erick sejenak berhenti, tubuh nya masih menggendong Dira.


"Jadi kamu mau minta ranjang?" tanya Erick dengan sangat jahil.


"Awas aja kamu!" ancam Dira dengan bentakan.


Erick tetap memandang nya dengan tajam dan serius.


"Ok, siapa takut," balas Erick dengan senyuman lebar.


"Rick, Rick, gila ya kamu. Udah berani ngelawan sama orang tua," kata Dira terus merengek seperti anak kecil.

__ADS_1


Erick tidak peduli dengan ocehan Dira yang semakin menjadi jadi. Dia dengan semangat memboyong tubuh itu masak kamar.


"ERIIICCCCKKKKKK! TOLONG..!!" suara Dira mengaum seperti betina harimau yang sedang siap untuk beranak pinak.


__ADS_2