
Perjalanan menuju tempat kemah berjalan mulus dan lancar. Erick memilih untuk mengendari mobil Jeep Wrangler dengan atap terbuka.
Dira sempat menolak untuk menaiki mobil gagah tersebut. Baginya ini terlalu mencolok hanya untuk sekedar pergi berkemah.
Mereka akan kencan, bukan menghabiskan waktu di alam liar untuk menangkap predator hutan rimba.
Sekitar pukul satu siang, mereka sudah sampai di tempat area camping di daerah puncak bogor. Setelah mobil di parkiran, Erick segera menuju pos pendaftaran.
Dira hanya menunggu di dalam mobil, dia masih merasa cemas karena ini adalah dunia luar. Dia takut jika ada yang mengenal nya.
Tak menunggu lama, Erick keluar dari pos dan berjalan kembali menuju mobil. Dia membuka pintu itu dan tiba tiba memasang ekspresi riang gembira.
"Udah beres, yuk turun," ajak Erick.
"Aman gak sih? Takut banyak orang. Nanti gimana kalau ada orang aneh dan gila," kata Dira dengan khawatir.
Dia masih trauma dengan kejadian di supermarket. Bertemu dengan orang asing mesum yang nyaris saja mengancam nyawa.
"Jangan takut, aku janji bakalan terus ada di samping kamu Dir, Ayo Let's go!" ucap Erick sambil terus meyakinkan Dira.
Erick menggenggam tangan Dira dengan sangat erat.
Dira akhir nya setuju, namun sebelum turun dia sedang memakai kaca mata hitam dan gelang hitam GPS.
"Buat jaga jaga aja," kata Dira.
Setelah Dira turun, mereka lalu menurunkan semua perlengkapan untuk camping.
Masing masing ada dua tas besar yang sudah di set untuk persiapan camping. Erick membawa sepatu hiking di tangan nya.
"Kita ganti dulu sepatu nya," kata Erick sambil jongkok di depan kaki Dira.
Dia membantu wanita itu mengganti sepatu Hiking dengan cermat. Dira tentu terkejut, karena ini adalah sebuah perhatian kecil yang tidak biasa.
Erick berdiri lalu menepuk telapak tangan nya.
"Udah, pas dan cocok buat kamu," komentar Erick sambil terus melihat sepatu yang sudah terpasang.
"Tunggu, ko aku ngerasa ada yang aneh gitu, tapi apa ya," ucap Dira sambil terus memikirkan sesuatu hal yang sulit untuk di ucapkan.
"Apa lagi sih," balas Erick dengan cuek.
"NAAAHH.. ko dari tadi aku ngerasa kamu udah mempersiapkan segala nya. Contoh nya waktu aku suruh buat persiapan, eh tau tau nya kamu udah simpan dua tas besar camping dengan isi yang lengkap" jelas Dira dengan perasaan terkejut.
Erick hanya tersenyum tipis, dia belum merespon.
"Tunggu, jangan jangan kamu anggota Illuminati ya, bisa menerawang masa depan," celetuk Dira dengan polos dan santai.
Erick hanya bisa tertawa terbahak bahak, muka nya merah padam. Dia terus menyentuh perut nya yang sakit karena terus menahan tawa.
"Aku pernah lihat kamu pergi berkemah dengan Hary, jadi saat itu aku berpikir untuk menyiapkan perlengkapan untuk camping. Bisa jadi kamu meminta nya suatu saat dan itu terbukti," balas Erick dengan begitu santai.
Kedua mata Dira melotot tak percaya.
"Dih, gila ya kamu. Dasar maniak," ledek Dira dengan perasaan sebal.
"Apa salah nya aku maniak, toh cuman sama kamu doang. Gak dosa kan?" tanya Erick dengan tatapan menggoda.
"Jadi kamu bisa camping gak?" tanya Dira dengan sedikit nyolot.
"Gak bisa, ini pertama kali aku kesini."
__ADS_1
"APA! Duh bodoh banget sih, kenapa juga aku percaya dia begitu saja," balas Dira dengan geram.
"Kan ada kamu Dira, kita bisa kerjasama kan?"
"Aku juga gak tau cara pasang tenda Rick. Dulu kan cuman Hary doang yang bisa."
"Ya udah kita balik aja, mending acara kencan aku saja yang pilih."
"Gak mau, pokonya harus berkemah malam ini juga," gerutu Dira dengan manja.
"Ya masalah nya kita berdua payah. Cuman gaya doang gendong ransel segede gajah."
Dira mendadak menatap Erick dengan sangat tajam. Sorot mata nya mengisyaratkan jika kencan ini harus berjalan sampai akhir.
"Bawa HP kan? Nanti bisa lihat YouTube. Udah jalan keatas, jangan banyak protes."
Erick menghembus kan nafas dengan panjang dan berat. Dia sudah tidak bisa menolak, hati nya sudah lemah dan tak berdaya.
"Ok, baik. Kita jalan terus!"
****
Perjalanan menuju area camping harus dilalui dengan cukup terjal. Selain jalan menanjak, banyak sekali batuan licin dan lubang dimana mana.
Bagi Erick yang selama hidup nya hanya dihabiskan depan komputer, ini hal yang merepotkan. Dia memang suka berolahraga, tapi untuk hiking di alam bebas dia amatiran.
Dira? Jangan tanya, kekuatan fisik nya sudah melemah. Gumpalan lemak malah membuat nafas nya gampang habis.
Mereka memang sangat amatiran dan menyedihkan. Entah apa yang akan terjadi di atas nanti, mereka tidak tahu apa apa.
"Udah kita istirahat dulu," ucap Erick dengan nafas tersedak sedak.
"Duh, Dira ini kencan apaan sih? Gak jelas, boro boro bisa romantisan, yang ada pinggang sakit & kaki remuk!" protes Erick dengan keras.
"Ayo dong terus jalan, nanti keburu sore. Belum nanti pasang tenda," omel Dira dengan jengkel.
"Cuman orang bodoh yang kencan ditempat kaya ginian," ucap Erick sambil duduk di atas bebatuan besar.
Dira lalu berjalan turun, dia menghampiri Erick yang sudah terkulai lemas.
"Banyak tahu yang kencan sama pasangan kesini, lagi viral di mana mana."
Erick tersenyum pada akhirnya. Dia cukup terhibur dengan perkataan Dira yang selalu banyak omong kosong.
"Mana coba? Gak ada orang disini. Cuman kita doang," kata Erick.
"Tuh ada di belakang kamu," balas Dira sambil menunjuk sepasang suami isteri yang sudah berumur. Mereka lalu perlahan menyusul Erick dan Dira dari belakang.
"Hei anak muda. Ko dari jauh saya lihat kalian malah santai kaya gini. Pemula ya?" Sapa bapak berbadan jangkung itu dengan ramah.
Erick kesal melihat mereka tiba tiba ikut campur dalam urusan nya. Apalagi dengan sebuah lontaran kata yang sangat menghina harga diri nya.
"Bapak salah, kami sedang berdiskusi," balas Erick dengan gaya yang sok keren. Mendadak Erick berdiri dengan gagah perkasa.
Dia ingin menunjukan pada mereka bahwa ia adalah pria sejati. Dia tidak ingin kalah dari bapak tua yang sok tahu itu.
"Wah bahas apa?" tanya si ibu dengan wajah kepo.
"Mmm iya bahas ini, bahas itu. Pokonya banyak deh bu. Semuanya berbobot. Biasa anak muda pecinta alam," ujar Erick dengan senyum yang terpaksa.
"Bagus, bapak senang ketemu dengan anak muda yang semangat seperti kamu," balas nya sambil menyentuh pundak Erick.
__ADS_1
Dira melongo tak percaya, jika Erick bisa berakting dengan sangat bodoh.
"Ibu sama bapak lagi kencan ya? Dari tadi aku lihat kompak banget," kata Dira sambil melirik Erick kejam, dia bermaksud untuk menyindir pria lemah itu.
"Ya begitu lah anak muda, kami sebulan sekali sudah rutin untuk berkemah. Biar pikiran dan badan tetap bugar, ya kan sayang?" tanya bapak tua ke isteri nya dengan romantis.
Bapak dan isteri nya langsung bergandeng lebih mesra di depan mereka yang malah tidak akur.
"Ok kalau begitu, kita jalan bareng saja. Kalau bisa di percepat ya, udah mau sore. Jangan ada diskusi lagi tengah jalan," kata bapak itu sambil berjalan lurus keatas.
"Aaahh siap pak!" balas Erick dengan perasaan menyesal. Padahal sebenarnya dia ingin sekali turun kebawah. Namun dia malah terperangkap dalam situasi yang serba salah.
Mereka pada akhir nya berjalan bersama sama menuju area camping.
Tanpa istirahat, tanpa minum dan tanpa jeda.
****
Dira dan Erick sedang merebahkan seluruh tubuh nya di atas rumput. Mereka akhirnya sampai juga di tempat area camping.
Belum apa apa, Erick sudah terkulai lemas dan tak berdaya. Dia sangat tersiksa dengan perjalanan ekstrim tanpa jeda sekalipun.
Begitu pun dengan Dira, wanita itu juga merasakan letih yang sangat dahsyat.
"Rick ayo bangun, kita harus cepat nih pasang tenda. Udah mau malem," ajak Dira yang sudah merubah posisi.
"Duh nanti aja, tunggu satu jam. Aku mau istirahat bentar," balas Erick dengan mata terpejam.
"Satu jam pala kamu! Ngaku nya pecinta alam tapi mental tempe," ledek Dira kesal.
"Masa bodo, nih dengerin aku yah. Alam itu gak usah dicintai, alam bisa bertahan dengan sendiri nya. Manusia aja yang sok pengen dikenal bermoral, alam tuh gak butuh manusia," jelas Erick terus membela diri nya sendiri.
Ditengah perdebatan mereka, bapak tua dan isterinya tiba tiba menghampiri mereka yang masih duduk di atas rumput.
"Duh ko belum pasang tenda, udah mau malem loh bentar lagi," kata bapak tua dengan ramah.
Erick mendadak kesal karena mereka para orang tua selalu ikut campur dalam urusan anak muda.
Datang seperti pahlawan dan pulang sebagai musuh. Erick dan Dira langsung berdiri dan sibuk mengeluarkan set tenda dalam tas.
"Biasalah pak, anak muda lagi banyak diskusi kehidupan," balas Erick dengan senyuman sangat terpaksa.
Bapak tua lalu memperhatikan Erick dan Dira sedang mengeluarkan satu persatu bagian tenda yang masih terpisah pisah.
Mereka masih terlihat sibuk memperhatikan bagian bagian kerangka tenda. Padahal dalam pikiran mereka sedang stres karena tidak tahu bagaimana merakit nya.
"Mau ibu bantu?" tanya ibu itu sambil meletakan alas inner ke atas tanah.
Erick seketika langsung melarang nya dengan keras, dia memaksa ibu itu untuk berdiri lagi.
"Gak usah lah bu, kami bisa ko. Udah udah jangan repot repot," kata Erick dengan sangat cemas.
...Apaan sih mereka? Merepotkan saja....
...Udahlah pergi dari sini, jangan nempel terus kaya lalat....
...Mana susah lagi buka YouTube....
...Duh!...
...Sial banget, ini bukan kencan nama nya tapi lagi di ospek sama senior!...
__ADS_1