AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Will you marry the devil man?


__ADS_3

Hary dan Laras sedang duduk di depan ranjang rumah sakit. Semenjak kebebasan Hanum, anak itu masih dalam kondisi lemah. Hary sebagai orang tua, melarang keras siapapun termasuk polisi untuk berbicara pada anaknya.


Hary tahu, jika Hanum akan berbicara kejadian yang sesungguhnya pada polisi. Maka dari itu dia berusaha keras agar menjauhkan anak itu dari para detektif. Dia tidak ingin kejahatannya terbongkar begitu saja.


HP Hary berdering, tanda seseorang sedang menunggu panggilan darinya. Hary lalu keluar dari ruangan dan segera menerima panggilan itu.


"Apa Hanum baik baik saja?" tanya Jesica.


"Anak itu aman di tanganku, kamu gak usah khawatir Jesica, dia tidak akan sedikitpun membuka mulut pada polisi," balas Hary dengan pelan.


"Baguslah, aku percayakan masalah Hanum padamu."


"Aku ingin tahu, dimana Dira dan Erick sekarang? apa mereka akan berhasil kabur dari Indonesia?"


"Hari ini aku akan menemui mereka di pelabuhan Surabaya. Semua masalah izin penumpang hanya aku yang bisa selesaikan. Waktu kita mepet sekali, perasaanku sudah tidak enak. Aku yakin polisi sudah mengetahui semuanya," jelas Jesica.


"Apa! ini tidak mungkin," jawab Hary kesal.


"Selama kamu tidak membocorkan semua rahasia kita. Aku akan jamin, kamu tidak akan terseret dalam kasus ini," ujar Jesica.


"Baiklah, aku percayakan sisanya dengan mu. Kuharap ini adalah percakapan terakhir diantara kita," timbal Hary.


"Ini adalah akhir, namun kita tidak tahu akan berakhir seperti apa," ucap Jesica sekaligus menutup pembicaraan mereka di telepon.


Selama telepon itu berlangsung, diam diam Laras mendengar jelas percakapan diantara mereka. Tanpa sepengetahuan Hary, Laras berjalan keluar rumah sakit. Dia menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.


"Sial, Hary kali ini sudah berbohong padaku. Pantas saja dia terlihat sangat tenang ketika anaknya diculik. Ternyata kalian adalah bedebah gila.


Lihat saja, aku gak akan tinggal diam. Selama Dira masih hidup, dia akan selalu menjadi ancaman untukku," gumam Laras dengan wajah penuh amarah dan kebencian yang sangat besar.


Laras kemudian melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit. Dia berniat untuk menyusul Dira dan Erick sampai pelabuhan Surabaya. Dia sedang merencanakan sesuatu hal yang sangat jahat.


****


Hari ketiga menuju pelabuhan Surabaya sudah hampir dekat. Erick dan Dira sedang santai mengendarai mobil Kijang merah. Mereka pun bersenandung dengan putaran lagu di Radio.


Seolah akan mengunjungi tempat wisata, suasana hati mereka terlihat baik baik saja. Erick meraih HP dan dia menerima panggilan telepon dari Jesica.


Cukup lama mereka berbincang, seperti sedang tidak terjadi apa apa. Dira mulai memperhatikan Erick, dia sedang menyelam kedalam dunia persahabatan mereka.


"Apa Jesica akan menyusul kita?" tanya Dira.


"Dia akan membantu kita masuk sebagai penumpang ilegal, sangat sulit bepergian keluar negri tanpa meninggalkan jejak. Jesica adalah ahlinya," jelas Erick sambil tersenyum.


"Kalau aku jadi dia, sudah sepantasnya aku akan menaruh cinta untuk sahabat pria yang paling berharga," gumam Dira sedikit menekan perasaan tak peka Erick.


"Maksudnya?" tanya Erick dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Dasar pria bodoh, sudahlah lupakan saja. Masa kamu gak ngerti juga sih, mana ada wanita yang rela membantu teman prianya segila ini? kalau bukan karena cinta," celoteh Dira jengkel.


"Hahahaahaha... kamu cemburu dengan Jesica?" tanya Erick terus menahan tawa di dalam perutnya.


"Buat apa aku cemburu, aku hanya merasa jika seharusnya kamu lebih memperhatikan perasaan Jesica.


Mungkin kamu anggap dia wanita kuat dan dapat diandalkan, tapi tidak dengan isi hatinya. Dia adalah manusia yang paling rapuh dan tersiksa karena ulah kita," jelas Dira dengan perasaan serius.


Kali ini Erick lebih memilih diam saja. Matanya mencoba untuk terus fokus pada kemudi. Namun perasaanya sedang diguncang rasa bersalah dan penyesalan.


Bahkan sebelum Dira mengatakan hal itu, Erick sudah tahu lebih dalam tentang hubungan mereka. Erick tahu jika ada sesuatu yang terus Jesica sembunyikan dari dirinya.


Namun pria itu selalu memilih untuk menutup mata. Dia terus saja menempel pada Jesica seakan perasaan itu tidak ada. Erick hanya tidak ingin kebahagiaan mereka rusak karena cinta.


...Sekeras apapun aku mengendalikan perasaan pada Jesica....


...Aku tidak bisa terus menipu....


...Cinta itu tidak akan ada, bahkan tak sedikitpun memberi ruang dalam benak....


...Sahabat akan tetap menjadi sahabat sampai kapanpun....


****


Mereka memutuskan untuk bermalam di penginapan bergaya vintage di pinggir laut. Sengaja Erick mengajak wanita terkasihnya untuk menikmati alam biru yang eksotis.


Dira tengah berdiri di depan taman kecil dekat dengan pintu kamar penginapan. Dia dengan asik menikmati indahnya pemandangan laut. Suara kicauan burung yang terdengar lebih merdu dari suara Adele sekalipun.


Dari belakang Erick berjalan keluar dari arah pintu. Dia segera membuka lebar kedua tangannya dan seraya memeluk Dira dari belakang.


Mereka kini saling berpelukan, memanjakan setiap hasrat yang sudah lama terbengkalai. Erick mulai menggoda Dira kembali. Dia ingin mengadu rayu untuk wanita berhati batu itu.


"Mungkin di Swiss nanti, pasti kita akan lebih sering berlibur di pantai," ucap Erick lembut.


"Baiklah," balas Dira dengan suara merdu.


"Nanti, kita bisa saling memanggil dengan sebutan sayang, darling, babe atau Daddy," ujar Erick dengan malu malu.


"Daddy?" tanya Dira dengan tatapan aneh. Dia kemudian membalikan tubuhnya dan seraya menatap penuh selidik.


Erick tertunduk malu dan tak berkutik. Entah apa yang sedang merasuk pikirannya, dia bisa dengan mudah menyebut dirinya sebagai sosok ayah.


"Kamu ingin aku melahirkan anak untuk mu kelak?" tanya Dira dengan sedikit gusar.


"Ya, apa salahnya."


"Jangan jangan... kamu ingin meminta ku untuk jadi ibu dan istri? untuk kedua kalinya?"

__ADS_1


"Aku ingin mencobanya."


"Kamu pikir pernikahan itu seperti baju di mall, bisa di coba dulu," gertak Dira dengan penuh tekanan.


Erick dengan berani kembali menatap sang pujaan hati. Dia sedang merayu dan menggoda Dira hanya dengan satu jurus mautnya. Tatapan penuh misteri dan harapan.


Tangan Erick meraih kedalam saku celana jeans birunya. Dia lalu mengeluarkan sebuah benda berbentuk kotak kecil berwarna putih.


Dia membuka kotak kecil itu tepat di depan Dira. Terlihat dengan jelas, ada sebuah cincin putih dengan berlian kecil di tengahnya.


Melihat ada cincin cantik di depan matanya, seluruh hati dan perasaanya mulai hancur. Dira sangat membenci dan takut jika hal seperti ini akan terjadi pada dirinya.


Ketakutan itu akhirnya datang juga. Erick kemudian mengangkat jari telunjuk itu, dia memasukan lubang cincin kearahnya.


Cincin itu ternyata sangat pas dan cocok untuk dirinya. Selain sangat mahal, cincin itu sengaja di pesan jauh hari oleh Erick dari pengrajin berlian di Prancis.


Dira mengarahkan pandangan tepat di depan mata Erick. Dia sangat jelas melihat, jika Erick memang mencintai dirinya secara tulus. Pria itu, sudah tumbuh menjadi lebih dewasa. Cinta untuknya pun bertambah kuat dan besar.


"Will you marry me?" tanya Erick dengan ekspresi penuh cinta dan kasih sayang.


Dira masih menutup bibirnya rapat. Dia masih terus berputar dengan banyak pergolakan batin. Wajahnya penuh dengan keringat, tiba tiba perasaanya cemas, gemetar dan campur aduk.


Dira perlahan melepas kembali cincin itu dari jari telunjuknya. Dia menaruh cincin itu di atas telapak tangan Erick.


"Aku akan sangat senang jika kamu banyak merajut mimpi bersama ku. Tempat impian, panggilan sayang, menghabiskan waktu bersama, semua itu rencana yang sangat indah.


Tapi untuk menikah, I'm sorry..." balas Dira dengan mata yang berlinang.


Wajah Erick seketika mematung seperti Malin Kundang. Perasaanya seperti sedang di sambar sebuah kutukan. Hatinya sudah patah, namun Erick sudah tahu jika ini akan terjadi.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Erick gemetar.


Dira tidak menjawab. Dia selalu mengheningkan cipta dengan pertanyaan seperti itu.


"Jawab aku Dira!" gertak Erick tidak tahan.


"Apa itu penting untuk mu sekarang?"


"Ya, ya, ya... itu sangat penting. Aku harus tahu perasaanmu selama ini." jawab Erick semakin frustasi.


"Kurasa penjahat seperti dirimu tidak perlu tahu tentang urusan perasaan orang lain. Bukanya selama ini kamu hanya mementingkan ego, ambisi dan keserakahan mu saja?" ujar Dira dengan emosi yang menyulut.


"STOP DIRA!" teriak Erick dengan keras.


Dira langsung melepas genggaman tangan Erick. Dia lalu menyerobot tubuh Erick dengan kasar.


"Sebaiknya kita harus banyak istirahat," tutur Dira sambil masuk kedalam pintu kamar penginapan.

__ADS_1


Erick masih berdiri, dia mulai menatap cincin itu di telapak tangannya. Dengan penuh amarah dan rasa kecewa, dia lalu melempar cincin itu keatas rumput taman.


__ADS_2