AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
We Meet Again


__ADS_3

Mobil itu terus melaju dengan kencang. Sudah hampir satu jam Erick membawa Dira kabur dari tempat kejadian. Sejauh ini, tidak ada tanda tanda polisi mengejarnya.


Erick sangat yakin, jika rencana ini telah berjalan sukses. Namun harapan untuk melihat senyuman indah dari Dira, hilang begitu saja. Sepanjang perjalananya dengan Erick dia hanya diam seribu bahasa.


Bahkan untuk melirik Erick saja, dia tak menolehkan pandangannya. Wanita itu sudah berada di puncak batas kesabaran. Erick lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan aspal yang sepi.


Dia lalu menurunkan kaca mobil, berharap Dira bisa lebih menenangkan pikiran dan hatinya. Pria itu terdiam juga, namun pandangannya terus menatap Dira dengan kesedihan.


Erick pelan menyentuh telapak tangan Dira. Dia begitu sangat merindukan sentuhan wanita yang sempat hilang dari hidupnya. Dia ingin segera merakit separuh jiwanya yang telah rapuh.


"Dira, are you okay?" tanya Erick dengan lembut.


Dengan cepat Dira menepis tangan itu. Dia tidak menjawab pertanyaan Erick, malah semburan tangis yang terus menggema di dalam mobil.


Erick tidak bisa berbuat banyak hal lagi. Dia paling tidak bisa menghadapi kesedihan dan tangisan wanita yang sangat ia cintai.


Dia sadar betul, jika ini adalah perbuatan paling jahat yang pernah ia lakukan untuk Dira. Erick adalah pria yang selalu membawa luka dan kepedihan hebat untuk dirinya.


Dira menangis, terus menangis sejadi jadinya. Dia terus menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


Tubuhnya semakin kurus dan tak terawat. Dira sudah banyak melewati penderitaan dan kesengsaraan dalam hidup.


Tentu dengan adanya tragedi penculikan Hanum adalah titik terendah dalam hidupnya. Dia merasa sangat terhina dan dikhianati oleh orang yang sangat ia percaya.


Begitupun dengan Erick, dia sudah tak tahan harus melihat Dira begitu sangat tersiksa. Dia kemudian memeluk tubuh Dira dari samping dengan erat.


Dira sudah lemah tak berdaya, dia bahkan sudah tak mampu menepis pelukan itu. Dirinya sudah bagaikan sepotong mayat hidup.


****


Erick membawanya ke sebuah hotel bintang lima. Hotel yang berada di daerah Tangerang Selatan. Dengan membayar uang secara tunai dan KTP palsu, Erick berharap jika dirinya tidak bisa di lacak oleh polisi.


Dira tidak bisa melawan apapun lagi, dia sudah sangat tahu bagaimana kebiasaan Erick. Pria itu sedang menjamah dirinya, pria itu sedang menguasai dirinya lagi.


Dira akhirnya masuk kedalam ruangan yang paling mahal dan mewah. Sebuah ruangan tidur yang tak pantas untuk Dira nikmati.


Dengan lesu dan lunglai, Dira hanya memilih duduk di kursi dekat jendela. Dia tidak ingin melihat Erick ataupun berbicara. Dia masih menyimpan kebencian pada Erick.


Selagi duduk termenung menatap pemandangan kota dari balik jendela. Eri'ck dengan santai masih bisa menikmati acara mandi. Dia keluar hanya dengan menggunakan handuk piyama.


Pria itu lalu berjalan menghampiri Dira, dia menarik tangan wanita itu agar lebih dekat dengannya.


Dia memaksa Dira untuk duduk di atas ranjang. Dia ingin sekali berbicara empat mata dengannya.


Kemudian Erick membawakan sebuah kertas untuk Dira. Dia berharap jika wanita itu sadar akan situasi yang sebenarnya.

__ADS_1


Dira kemudian membaca satu lembar surat perjanjian. Surat itu adalah isi dari perjanjian antara dia dan Hary. Dimana di sana tertulis, jika Hary harus melepas istri dan menjauhkannya dari Hanum.


Jika kesepakatan itu berhasil, maka Hary berhak menerima uang sebesar 20 Miliyar. Uang tersebut menjadikanya sebagai tanda perdagangan manusia secara brutal.


"Jadi selama ini kalian telah menipuku?" akhirnya Dira berbicara.


"Penculikan Hanum adalah rencana kami berdua. Sekarang tujuan kesepakatan itu telah berhasil, kamu sudah sah menjadi milikku untuk selamanya.


Tidak ada lagi kesempatan kedua atau ketiga. Kamu sudah tidak bisa bertemu dengan siapapun lagi. Hidupmu sekarang hanya bisa bergantung padaku saja," jelas Erick dengan tenang dan sedikit mengintimidasi.


"Aku tidak bisa, aku tidak sudi harus menghabiskan waktu denganmu Erick," balas Dira dengan kejam.


"Kamu tidak bisa memilih, ini sudah menjadi takdirmu. Terima saja Dira!" ucap Erick dengan nada memaksa.


"Aku sudah berjanji dengan Hanum untuk tidak meninggalkannya lagi. Demi Hanum, aku rela hidup tidak bahagia dengan Hary. Aku sangat rela harus menjalani hidup tanpa cinta," ucap Dira dengan bibir yang bergetar.


"Aku gak peduli. Hanum ataupun Hary sudah bukan menjadi urusanku lagi. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya kita bisa bertahan hidup dengan situasi kacau seperti ini," ucap Erick.


"Aku harus pulang, aku janji gak akan memberitahu tentang mu kepada polisi. Ayolah Erick, untuk kali ini lepaskan saja aku. Biarkan aku hidup dengan anakku," ujar Dira sambil menunjukan ekspresi memelas.


Dira bangkit dari atas kasur, dia segera berjalan menuju pintu kamar depan. Saat dia melihat kartu hotel tergeletak di atas meja, dia lalu membawa kartu hotel itu.


Namum belum sempat membuka gagang pintu. Dari belakang Erick malah menyambar tangan Dira dengan kasar. Dia mendorong paksa tubuh Dira di depan pintu.


Perlahan dorongan jahat Erick mulai menyambar pikiran dan niatnya. Seketika tangan Erick mulai merayap ke daerah leher kecil itu.


Sementara itu, jiwa Erick masih dikuasai oleh tipuan setan atau memang dirinya adalah setan itu.


Dira menatap Erick dengan penuh keputusasaan, kedua bola matanya sudah seperti di ujung kematian.


"E- Rii-cckk, lepaskan a- - ku," ucap Dira terbata bata.


Sadar akan ucapan Dira yang sudah hampir hilang di telan bumi. Erick langsung melepas tangan dari leher wanita itu.


Seketika Dira langsung jatuh ke lantai. Dia terkapar lemas dengan nafas yang masih belum teratur.


"Dira kamu gak papa?" tanya Erick sambil memeluk Dira yang sudah hampir tak bernyawa.


"Erick, maafkan aku," jawab Dira dengan lemas.


"Kamu memang wanita bodoh!" gumam Erick sambil menangis, dia terus saja memeluk Dira di atas lantai itu.


****


Dira merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sedangkan Erick terus setia berada di samping wanita itu.

__ADS_1


Suasana tegang di antara mereka mulai mencair. Entah apa yang sedang Dira pikirkan, dia mulai mencoba untuk tidak memancing emosi labil Erick.


Mereka sedang saling bertatap dengan penuh keheningan. Bibir Erick terus menarik senyuman, dia sangat senang jika Dira bersikap lebih nurut.


"Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Dira.


"Sepertinya kita tidak bisa pulang ke rumah kita dulu. Aku punya firasat jika sebentar lagi polisi akan mengetahui semuanya," jelas Erick.


"Apa sudah ada kabar dari Jesica?" tanya Dira kembali.


"Untungnya dia sempat mengirim pesan, jika dia lolos dari kejaran polisi. Untuk saat ini dia menyuruh kita untuk terus bersembunyi."


"Sampai kapan kita akan hidup dalam pelarian seperti ini?"


"Aku akan bawa kamu pergi jauh dari sini. Kita bisa meninggalkan Indonesia selamanya. Kita bisa membuka hidup baru lebih tenang di luar sana."


"Kamu ingin bawa aku kemana?"


"Satu minggu lagi, akan ada kapal pesiar yang berlabuh di pelabuhan Surabaya. Kita akan naik kapal pesiar itu dengan berkeliling Eropa. Kita bisa tinggal di Swiss, kita bisa hidup di pedesaan dengan sangat damai," jelas Erick sambil mengelus pipi mulus Dira.


Mendengar semua penjelasan dan rencana gila Erick, hanya mampu membuat hati Dira tertegun. Dia sama sekali tidak menyangka, jika memang dia benar akan melepas semua harta, tahta dan status keluarga konglomerat hanya untuk bersama dirinya.


Dira bahkan tidak menyadari, jika pria ini begitu sangat tergila gila padanya. Pria ini dengan tega menghancurkan semua mimpi dan pencapaian hidupnya sendiri.


"Ayo kita pergi," balas Dira dengan sebuah senyuman berat dan sulit.


"Benar kamu sanggup?" tanya Erick kembali.


"Tentu saja," ujar Dira dengan wajah penuh keyakinan.


Kedua tangan Erick kini mengelus kedua pipi Dira dengan lembut. Kedua matanya berbinar melihat wajah cantik Dira.


Dia terus tersenyum dengan bahagia. Dia merasa jika dunia sedang berpihak padanya.


"Can I kiss you?" tanya Erick dengan malu.


"You can," balas Dira sambil memancarkan wajah penuh misteri.


Erick perlahan mulai mendekati wajah Dira. Dia dengan hembusan nafas hangat mulai menyentuh ujung hidung wanita itu.


Bibir atas dengan gemulai mulai menyentuh bibir Dira. Dia pun tak segan mengigit bibir bawah itu dengan nakal.


Mereka saling beradu ciuman hebat. Erick dengan cekatan menempelkan bidang dadanya ke arah tubuh Dira.


Ditengah ciuman hebat itu, Dira membuka kedua matanya. Dia mulai tidak membalas ciuman Erick, sorot matanya hanya memancarkan sebuah isyarat kesedihan dan ketakutan.

__ADS_1


Dira sebenarnya tidak menginginkan ciuman itu. Pikirannya terus saja melayang pada nasib tragis anaknya. Dia hanya sedang menjaga sikapnya pada Erick, dia tahu titik kelemahan pria itu.


Erick akan sangat lemah dan jatuh pada perhatian Dira. Bahkan dia akan kehilangan arah dan tujuan jika sudah terjebak dengan kelembutan wanita itu.


__ADS_2