
Keadaan di villa masih sama seperti awal Sylvia dan Gibran datang. Sikap dingin Gibran masih saja terjadi.
3 hari sudah mereka bukan madu. Namun tak pernah Gibran menunjukkan sedikit saja kasih sayang kepada Sylvia.
Pagi ini adalah hari ke 4 mereka berada di kota B. Seperti biasa Sylvia harus bangun terlebih dahulu sebelum Gibran. Setelah Sylvia selesai mandi dia merapikan sofa tempat nya untuk mengistirahatkan badan nya.
Tak lupa ia pun harus memberi sedikit polesan riasan di wajah nya persis seperti aturan yang tertulis dan yang telah dia tanda tangan i sebelum nya.
"Tidak ada lagi senyum di wajah ku"
"Rasa nya ingin saja aku menyerah "
Guman Sylvia dalam hati
"Mami Papi kenapa kalian begitu jahat kepada Sylvia. Kenapa Kalian begitu cepat ninggalin Sylvia. Sylvia ingin ikut sama mami papi. Jemput Sylvia mi, pi. "
"Dunia rasanya begitu kejam untuk ku. "
Tangis Sylvia sambil memandangi wajah nya.
"Apa lah arti dari kisah hidup yang ku jalan i ini"
"Apa hikmah yang akan aku dapat "
"Orang tua kandung ku pergi dan meninggalkan aku. Orang tua angkat ku pun begitu. "
"Lantas apa arti nya aku hidup Tuhan"
Ucap Sylvia sambil terisak-isak. Tanpa dia sadari ada sepasang bola mata yang sudah terjaga dari tidur nya dan mengamati nya sedari tadi.
__ADS_1
Yah itu Gibran. Gibran terbangun akibat mendengar tangis an Syilvia. Sesungguh nya hati nya begitu terenyuh melihat akibat dari ke egois an nya. Melihat akibat dari kelakuan nya.
Wanita baik dan polos yang menjadi korban dari keserakahan orang tua tiri nya pun kini juga telah menjadi korban akibat sikap dingin nya.
Ingin rasa nya Gibran memeluk Sylvia dan minta maaf atas semua kelakuan nya. Namun rasa gengsi dan keegoisan nya masih lebih besar dari rasa peduli dan kasih sayang nya.
Hingga saat dia semakin tak sanggup melihat air mata dari seorang gadis yang tak bersalah, Gibran pun perlahan-lahan turun dari ranjang. Dia keluar dari Villa dan berjalan dengan lemah ke arah jalan raya
"Aku sudah salah"
"Yah aku sangat sangat salah. "
"Dia wanita baik, wanita tak berdosa"
"Dia hanya korban dari keegoisan orang tua nya. "
"Apa yang harus aku lakukan? "
"Kalau aku minta maaf dan bersikap baik pada nya, harga diri ku akan turun"
Guman Gibran dalam hati. Rasa gengsi nya masih terlampau kuat untuk di kalahkan.
Sementara di dalam kamar, Sylvia menyeka air mata nya dan melirik ke arah ranjang. Betapa terkejut nya dia saat di ranjang sosok Gibran sudah tidak ada lagi.
Sylvia terkejut bercampur takut. Sebab dia tau akibat yang akan dia Terima jika perintah Gibran tak dia laksanakan.
Sylvia langsung keluar dari kamar dan mencari keberadaan Gibran. Yang membuat Sylvia s3mkin terkejut dan panik saat dia melihat Gibran berjalan dengan gontai layak nya seperti orang yang sedang melamun. Dan Langkah kaki Gibran sudah berada tepat di tengah jalan besar.
Sylvia langsung berlari ke arah Gibran karena dia takut sesuatu hal yang tidak di ingin kan terjadi pada Gibran. Dari kejauhan terlihat sebuah mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi berjalan ke arah Gibran.
__ADS_1
Sylvia semakin mempercepat lari nya sambil berteriak.
"Awasssss.... sss... ssss"
"Sylvia berteriak sambil mendorong tubuh Gibran yang sedang melamun ke pinggir jalan raya. Hingga nasib malang pun lagi-lagi harus meminta Sylvia.
Tubuh Sylvia yang akhirnya tertabrak truk dan terpental cukup jauh.
Setelah mendapat dorongan yang begitu kerasa dari tangan Sylvia, Gibran pun tersadar dari lamunan nya.
Dia pun melirik ke belakang. Betapa panik nya dia saat melihat tubuh Sylvia sudah terpental dan darah bercucuran di mana-mana.
" Sylvia... a... a"
Teriak Gibran Sambil berlari menghampiri Tubuh Sylvia yang sudah berlumuran darah.
***Bersambung
Apakah yang akan terjadi pada Sylvia???
Akan kah kecelakaan itu akan mengubah sikap dingin Gibran berubah menjadi sikap peduli dan penuh kasih sayang???
Yuk readers beri pendapat mu di kolom komentar yah☺☺☺
Dan jangan lupa dukung selalu author dengan cara like, coment, vote sebanyak -banyak nya.
Agar author semakin semangat up ny☺☺☺
Terima kasih☺☺☺
__ADS_1