Aku Gadis Penebus Utang

Aku Gadis Penebus Utang
Episode 68


__ADS_3

Tak lama kemudian Niko pun kembali ke ruang tempat jenazah papa Indra. Niko kembali bersama Dokter dan beberapa orang suster.


Dokter itu pun langsung memerintahkan suster untuk mempersiapkan jenazah pak Indra agar bisa segera di bawa pulang.


Setelah segala urusan selesai jenazah pak Indra pun di masukkan ke dalam mobil ambulance dan di temani oleh Sylvi dan Nikita.


Sementara Niko harus pulang sendirian karena ia pada saat datang ke rumah sakit naik motor. Mobil ambulance yang membawa jenazah pak Indra pun mulai meninggalkan halaman rumah sakit menuju ke tempat kediaman pak Indra.


Di dalam mobil ambulance Sylvi tak kuasa menahan air matanya saat tubuh orang yang sangat di sayang i itu nya itu kini telah tertutup oleh kain putih.


Sylvi memeluk keranda yang berisi jenazah papi nya.


"Papi... apa arti nya aku hidup tanpa papi. "


"Kenapa papi harus tinggalkan aku sendiri."


"Aku ikut papi.. "


Teriak Sylvia sambil memeluk keranda itu.


Nikita hanya bisa memeluk erat Sylvia berusaha memberi ketenangan.Nikita sangat paham bagaimana perasaan Sylvia saat ini.


"Papi..... i.... i.... i... i"


Teriak Sylvi sekencang-kencang nya sehingga membuat supir ambulance dan Nikita terkejut mendengar teriakan Sylvia. Namun tiba-tiba tubuh Sylvia lemas dan akhirnya ia pingsan dalam mobil ambulance itu.


Nikita pun begitu panik. Ia tidak tau harus berbuat apa lagi.


"Pak.. ini gimana pak, saudara saya pingsan. "


Ujar Nikita dengan wajah yang sangat panik.


"Sebentar lagi kita akan sampai mbak. Sabar yah, di pegang dulu teman nya mbak. "


Jawab supir dengan wajah tak kalah panik nya.


Supir itu pun langsung mempercepat laju kendaraan nya. Karena yang ada di dalam mobil itu bukan hanya jenazah namun juga orang pingsan.


"Uwiw... uwiw... uwiw... uwiw... uwiw.. "


Bunyi sirine ambulance yang semakin kencang itu berhasil membuat para pengendara di jalanan itu memberikan jalan untuk ambulance itu.

__ADS_1


Niko yang sedari tadi mengiringi dari belakang pun sedikit bingung dan bertanya -tanya kenapa kecepatan mobil ambulance itu semakin tinggi. Namun rasa penasaran nya ia pendam sejenak.


Ia pun mulai mempercepat laju motor nya. Hingga tak berapa lama mobil ambulance yang membawa jenazah pak Indra sudah sampai di tempat kediaman nya.


Para warga yang mendengar suara ambulance itu pun mulai berdatangan satu persatu ke rumah pak Indra. Tak terkecuali pak Rt. Beliau pun datang ke rumah pak Indra karena mendengar suara ambulance tadi.


Setelah mobil ambulance itu berhenti, para warga pun langsung menggotong jenazah pak Indra dari mobil menuju rumah.


Niko langsung menghampiri mobil dan betapa terkejutnya dia saat melihat Sylvia tergeletak di pangkuan Nikita.


"Nik.. Sylvia kenapa. "


Tanya Niko penasaran.


"Sylvi tadi pingsan kak. "


Jawab Nikita dengan berurai air mata.


Niko pun langsung menggendong tubuh Sylvi di ikuti oleh Nikita. Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah dimana para warga sudah berkumpul di sana.


Niko membaringkan tubuh Sylvia di sofa yang tidak jauh dari tempat jenazah pak Indra di letakkan. Niko di bantu Nikita mencoba membangunkan Sylvia dengan memberikan sedikit minyak angin di hidung dan di kepala Sylvia.


Alhasil beberapa menit kemudian Sylvi mulai membuka matanya secara perlahan-lahan, dan memperhatikan sekelilingnya. Air matanya pun kembali mengalir saat pandangan nya terhenti pada sosok yang terbujur kaku yang tak lain adalah papinya.


Teriak Sylvi langsung bangkit dari sofa dan berlari menghampiri jenazah papi nya


"Papi... jangan tinggalkan Sylvi. "


"Sylvi mohon papi. "


Tangis Sylvi kembali pecah . Tangisan nya yang begitu sedih itu membuat para warga yang datang melayat tak mampu membendung air matanya.


"Ibu kamu di mana nak. "


"Sedari tadi bapak tak melihat nya. "


Tanya Pak RT pada Sylvi. Mendengar pertanyaan itu Sylvi bukan nya menjawab malah tangis nya semakin menjadi-jadi.


Hal itu pula yang membuat para tetangga mulai menduga-duga hal negatif tentang ibu tiri Sylvi.


Melihat Sylvi yang tak mampu menjawab, Nikita pun langsung ambil alih bicara.

__ADS_1


"Maaf Pak RT mama dari tadi sudah kami hubungi, tapi ngak ada jawaban. "


Jawab Nikita sambil menunduk sedih. Para tetangga mulai berbisik-bisik dan saling pandang satu sama lain.


"Kakak kalian yang paling besar dimana.? "


Tanya Pak RT lagi.


"Sama pak RT, kak Nisya juga tak bisa di hubungi. "


Timpal Nikita.


Pak RT pun hanya bisa tepuk jidat. Ia sangat prihatin dengan kondisi yang menimpa Sylvia saat ini. Disaat kemalangan seperti ini Mama tiri nya tidak ada di samping nya.


"Jadi siapa yang akan memandikan jenazah? "


Tanya pak RT lagi.


"Biarkan saya yang memandikan jenazah papi saya pak RT. "


Ucap Sylvia membuka suara.


"Tapi nak kamu itu seorang wanita dan jenazah seorang pria. Itu terlihat sangat tabu. "


Jawab Pak Rt lagi.


"Sylvia mohon pak, sekali ini saja. Izinkan aku memandikan jenazah papi ku untuk yang pertama dan terakhir kali nya. "


Ucap Sylvia lagi dengan nada memohon sambil mengatupkan kedua tangan nya.


Setelah berpikir sejenak dan di rundingkan dengan para aparat warga akhirnya Sylvia di izinkan untuk memandikan jenazah papinya di bantu oleh beberapa orang warga.


***Bersambung


§***êlålµ еkµñg 嵆hðr Ðêñgåñ ¢årå lïkê, ¢ðmêñ£, vð†ê Ðåñ rå†ê ɏåh rêåÐêr§


Ðåñ jåñgåñ lµþå klïk †ðmßðl £åvðrï† ågår Ðï§åå† åµ†hðr µþÐå†ê êþï§ðÐê †êrßårµ, †êmåñ-†êmåñ †ïÐåk åkåñ kê†ïñggålåñ.


1 lågï jåñgåñ lµþå måmþïr Ðåñ †ïñggålkåñ jêjåk Ðï kårɏå kµ ɏåñg ßêrjµÐµl 🄿🄴🄻🅄🄺 🄲🄸🅄🄼 🅃🄴🅁🄰🄺🄷🄸🅁 🄼🄰🄼🄰. Ðåñ †µñggµ £êêÐßå¢k Ðårï åkµ


†êrïmå kå§ïh..

__ADS_1


ï lðvê ɏðµ***


__ADS_2