
Sylvia masih termenung sejak tadi. Pikiran masih melayang-layang pada foto yang ada di balik kalung liontin itu.
"Bi... kenapa Papi sama mami baru sekarang kasih tau soal ini?
Tanya Sylvia lagi setelah sekian lama ia hening cipta.
"Nyonya dan Tuan besar sengaja tidak memberi tahu soal ini pada nona Sylvia sebab mereka tidak ingin melihat nona sedih.. "
"Dan mereka menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan ini semua. Namun takdir berkata lain. Tuan dan Nyonya sudah terlebih dahulu menghadap yang Kuasa. "
Ujar Bi Inah sedih.
"Lalu kapan ini semua papi kasih sama bibi?"
"Sementara bibi kan baru saja balik dari kampung? "
Tanya Sylvi lagi..
Tuan besar sudah berikan ini kepada bibi seminggu yang lalu Non, Sebelum bibi pulang kampung. Tuan besar juga menitipkan surat ini buat Non.
Ujar Bi Inah lagi sambil menyerahkan surat dalam amplop kecil itu pada Sylvia. Sylvia menerima surat itu dengan tangan gemetaran. Dia perlahan-lahan membuka amplop itu dan membuka lipatan kertas kecil yang ada di dalam nya.
Air mata nya pun kembali mengalir begitu deras nya. Surat itu memang sengaja di tuliskan Indra saat dia merasa bahwa umurnya sudah tidak panjang lagi.
"Untuk anak papi yang sangat papi sayang i"
"Nak maaf in papi yah yang sudah tidak bisa menjaga mu lagi. "
"Tapi papi percaya anak papi ini adalah anak yang kuat. Anak papi pasti akan bisa menjalani ini semua. "
"Nak mami dan papi minta maaf kalau selama ini papi dan mami tidak pernah memberitahu rahasia ini sama kamu. "
"Namun perlu kamu tau nak, ini semua kami lakukan karena kami sayang sama kamu. Kami ngak mau kalau anak kesayangan papi harus sedih. "
Karena kami sangat menyayangi mu hingga kami tidak sanggup melihat air mata menetes di pipi mu yang indah itu.
"Sylvi sayang, maaf in papi yang tidak bisa membahagiakan mu yah nak. Perlu kamu tau satu hal bahwa papi sangat terluka di saat melihat mu menderita. "
__ADS_1
"Tapi jangan jadi anak yang pendendam yah sayang. Jangan pernah membenci ibu tiri atau pun ibu kandung mu. Ingat ibu kandung mu lah yang mengandung mu selama 9 bulan dan bertaruh nyawa untuk melahirkan mu ke dunia ini. "
"Dan kamu juga tidak boleh membenci mama tiri mu. Sebab sejak kamu kecil hingga saat ini , dia lah yang telah merawat mu. Walau dengan cara yang menyakitkan. Kamu harus maaf kan kesalahan mereka yah sayang. Papi yakin anak papi bukan lah anak yang pendendam.
" Sayang simpan semua barang-barang ini. Ini adalah barang privasi kamu. Suatu hari nanti kamu akan membutuhkan semua ini. Selamat tinggal anak ku sayang.
***Papi dan mami akan selalu menyayangi mu.
**Papi
Bi... ucap Sylvia sambil menjatuhkan dirinya dalam pelukan bi Inah. Nikita yang sedari tadi hanya sebagai pendengar setia pun langsung ikut memeluk Sylvia. Nikita tau bagaimana hancur nya perasaan Sylvia saat ini.
Nikita mengakui kekuatan hati nya Sylvi menghadapi semua kenyataan ini. Andai dia dalam posisi Sylvia, dia yakin dia ngak sanggup berdiri setegar Sylvia. Akhirnya mereka pun berpelukan berusaha menenangkan diri masing-masing.
Bi Inah memeluk Nikita dan Sylvia dan memberikan bahu untuk mereka bersandar.Mereka bertiga pun berniat untuk merahasiakan tentang hal ini. Karena mereka takut nanti mama Putri akan semakin melukai Sylvia jika Mama Putri tau kalau Sylvia bukan kandung Indra.
Beberapa saat kemudian saat Sylvia sudah bisa merasa tenang. Dia melepaskan pelukan nya dan kembali duduk seperti semula.
"Ya sudah Non, nona makan dulu.Makanan nya keburu dingin.
Ujar Bi Ina lagi.
Setelah selesai makan mereka pun kembali berbincang-bincang. Bi Inah tidak langsung balik ke dapur karena ia ingin menemani Sylvia dan menghibur nya.
" Oh iya bi aku mau nanya, selama 20 tahun ini apa ngak ada kabar tentang orang tua kandung ku. "
Tanya Sylvia
"Sepertinya ngak ada Non"
Jawab Bi Inah.
"oh"
Jawab Sylvia dengan singkat. Terlihat rasa kekecewaan yang sangat mendalam di wajah nya.
***
__ADS_1
Hari ini Sylvia dan Nikita sengaja tidak ngampus karena mereka masih berduka sejak kehilangan sosok ayah.
Bi Inah yang sedari tadi menemani nona muda nya itu akhirnya pamit ingin melanjutkan pekerjaan nya di dapur. Setelah bi Inah turun , Sylvia dan Nikita pun ikut turun. Mereka berjalan menuju taman yang ada di depan rumah nya.
Sesampainya i di taman mereka duduk sambil memandangi ke arah jalanan. Tatapan Sylvia kosong namun air mata nya kembali menetes di pipinya.
Beberapa saat kemudian sebuah motor yang sudah tidak asing lagi memasuki pekarangan rumah. Yah motor itu adalah milik Niko. Niko pun langsung memarkirkan motornya dan menghampiri Sylvi dan Nikita.
"Nik... Sylvia sudah makan? "
Tanya Niko sambil duduk di samping Sylvi.
"Sudah kak. Baru saja Sylvi selesai makan. "
"Iya kan Sylvia"
Tanya Nikita pada Sylvia. Sylvia hanya bisa mengangguk lemah.
"Sylvia kamu jangan sedih lagi yah . Kamu harus bisa ikhlas i ini semua. Dan maaf in kehadiran kami yang membuat semuanya menjadi seperti ini. "
Ucap Niko.
Kali ini wajah Niko terlihat serius. Niko kali ini benar-benar minta maaf kepada Sylvi. Entah apa yang membuat dia berubah pikiran secepat ini. Yang pasti saat ini Niko sudah berdiri di pihak Sylvi.Niko juga sudah berjanji untuk selalu melindungi Sylvi.
Memang pada awal nya Niko merasa dendam pada Sylvia dan keluarga nya. Dan Ia ingin mendekati Sylvi hanya untuk membalaskan dendam keluarga nya. Namun dengan cobaan yang menimpa Sylvi, Niko merasa iba dan dia juga merasa bahwa ini semua nya bukan lah kesalahan dari Sylvia.
Itu sebab nya dia berniat tidak akan membalaskan dendam keluarga nya pada Sylvia. Malah ia sudah berjanji akan melindungi Sylvi sebagai adik nya walau hanya sebatas adik tiri.
******bersambung
Selalu dukung author dengan cara like, coment, vote dan rate yah readers
dan Jangan lupa klik tombol favorit agar di saat author update episode terbaru, teman -teman ngak akan ketinggalan.
1 lagi mampir dan tinggalkan jejak di karya author yang berjudul PELUK CIUM TERAKHIR MAMA. Dan tunggu feed back dari aku
Terima kasih teman-teman.
__ADS_1
I love you***