
Setelah Sylvia mendapat izin untuk memandikan jenazah papi nya dengan langkah yang begitu lemah ia berdiri dan berjalan menuju belakang rumah. Karena Pak Indra akan di mandikan di belakang rumah dengan beberapa warga lain nya.
Setelah sampai di belakang Sylvia mulai membasuh wajah papi nya. Lagi dan lagi air mata nya mengalir begitu deras nya.
"Papi... papi tau ngak apa yang paling Sylvia takut i selama ini.??? "
"Papi tau ngak? "
"Ini lah yang Sylvi takut i selama ini papi. Sylvi takut kehilangan orang yang sangat Sylvi sayang i. "
"Bagaimana Sylvi akan bisa melangkah kalau kedua kaki Sylvi udah tidak ada lagi. "
"Bagaimana papi... "
"Jangan kan untuk melangkah, berdiri saja Sylvi tidak akan mampu papi.. "
"Teriak Sylvia sambil mencium wajah papi nya untuk yang terakhir kali nya. Sylvi sangat terpukul oleh musibah yang terus menerus menghampiri nya.
Sylvia seakan akan tidak percaya akan semua yang terjadi itu. Bagaikan petir di siang bolong. Sylvi terpaku melihat sosok ayah yang selalu mencintainya, selalu menyayangi nya dan selalu melindungi nya kini sudah tak bernyawa.
Mata yang selalu memancarkan kebahagiaan kini sudah tertutup. Bibir yang dulu selalu tersenyum kini sudah terbungkam.
Tangan yang dulu selalu melindungi nya kini sudah membeku.
Dengan berurai air mata Sylvi kembali melanjutkan membasuh tangan dan kaki papi nya. Setelah beberapa saat kemudian pak Indra pun sudah selesai di mandikan.
Para warga pun mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman Pak Indra. Setelah semuanya selesai Jenazah Pak Indra pun mulai di gotong menuju pemakaman tempat Ibu Indah di makam kan beberapa tahun yang lalu.
Niko, Nikita membantu Sylvia berjalan karena mereka tau kondisi Sylvia sangat lemah pada saat ini. Ia sedari tadi sudah beberapa kali bolak balik pingsan.
Tidak butuh waktu lama rombongan para warga yang membawa jenazah pak Indra pun sudah sampai di TPU.
Para warga pun mulai memasukkan jenazah pak Indra ke dalam tanah yang sudah di gali sebelum nya.
Setelah selesai tiba-tiba terdengar suara yang begitu kencang.
Bruk... k... k
__ADS_1
Semua warga yang ada di pemakaman itu terkejut melihat kejadian itu. Gimana tidak terkejut saat Sylvi ikut melompat ke dalam galian tanah itu. Dia memeluk erat jenazah papi nya yang sudah tertutup oleh kain kafan.
Para warga sangat prihatin melihat nasib gadis itu. Hingga tak sedikit dari antara mereka yang meneteskan air mata.
Begitu pula dengan Nikita, Dia menangis melihat Sylvi yang sedang berada di dalam galian tanah itu.
"Sylvi kamu ngapain di situ?? "
"Kamu naik yah. "
"Masih ada kita yang selalu ada buat Sylvia. "
"Sylvia harus iklhas agar papa Indra bisa pergi dengan tenang. "
"Ayo Sylvia , kamu naik yah.. "
Ujar Nikita sambil menangis dan mengulurkan tangan nya ke arah Sylvia.
"Maaf in Sylvia Nik.. Sylvia ngak bisa naik. "
"Sylvia mau ikut sama papi. "
"Tolong Nik.. tolong jangan halangi Sylvia. "
Teriak Sylvia masih saja terus memeluk jasad papi nya.
"Dek.. kamu harus kuat yah. Ada kaka juga disini yang selalu ada buat Sylvia. "
Timpal Niko lagi.
"Ngak kak.. Sylvia ngak bisa. "
Jawab Sylvia masih terus menangis.
Para warga itu pun mulai bingung begitu pula dengan pak RT. Mereka tidak tau harus berbuat gimana lagi.
Karena hari semakin sore, namun Sylvi tak juga mau keluar dari galian tanah itu, akhirnya mereka berniat menaikkan Sylvia walau dengan paksaan. Ini mereka lakukan demi kebaikan Sylvia juga.
__ADS_1
Mereka paham seberapa dalam kesedihan Sylvi. Namun di lain sisi, Sylvia harus bisa menerima kenyataan bahwa Tuhan jauh lebih sayang kepapa papi nya.
Tak lama kemudian akhirnya Sylvia berhasil di naikkan, walau harus berulang-ulang gagal karena Sylvia melakukan perlawanan saat hendak di naikkan.
Sylvia pun di bawa oleh Niko dan Nikita menjauh dari tempat pemakaman Papa Indra. Karena mereka khawatir Sylvia melakukan hal aneh lagi yang bisa memperlambat acara pemakaman itu.
Beberapa saat kemudian acara pemakaman itu pun sudah selesai, para warga pun satu persatu mulai meninggalkan tempat pemakaman itu.
Kini tinggal lah Sylvia,Nikita dan juga Niko yang masih tetap berdiri di sana.
Sylvia seakan-akan tak ingin pergi dari makan itu.
"Sylvia kita pulang yah. Udah hampir malam"
Ajak Nikita.
"Kalian duluan saja Nik.. "
"Sylvi masih mau di sini temani papi. "
Jawab Sylvia tanpa memandang Nikita. Sylvia masih saja memandang batu nisan yang bertuliskan nama papi nya.
"Sylvia.. kita harus pulang yah. Ini sudah malam. Kita istirahat dulu. Besok Nikita janji Nikita akan temani Sylvi ke sini. "
"Tapi sekarang kita harus pulang istirahat dulu yah. "
Bujuk Nikita. Akhirnya Sylvia pun mengangguk lemah . Dengan perasaan duka yang begitu mendalam, mereka pun meninggalkan makam tempat orang yang sangat Sylvia sayang i. Makam tempat istirahat nya mami juga papi nya Sylvia.
***Bersambung
§êlålµ еkµñg 嵆hðr Ðêñgåñ ¢årå lïkê, ¢ðmêñ† , vð†ê Ðåñ jµgå rå†ê ɏåh rêåÐêr§...
Ðåñ jåñgåñ lµþå klïk †ðmßðl £åvðrï† ågår Ðï §åå† åµ†hðr µþÐå†ê êþï§ðÐê †êrßårµ, rêåÐêr§ †ïÐåk åkåñ kê†ïñggålåñ.
1 lågï jåñgåñ lµþå mmþïr Ðåñ †ïñggålkåñ jêjåk Ðï kårɏå 嵆hðr ɏåñg ßêrjµÐµl" þêlµk ¢ïµm †êråkhïr måmå".Ðåñ †µñggµ £êêÐ ßå¢k Ðårï 嵆hðr...
†êrïmå kå§ïh...
__ADS_1
Ì lðvê ɏðµ