Aku Gadis Penebus Utang

Aku Gadis Penebus Utang
Episode 102


__ADS_3

Baik dok... lakukan apa yang terbaik.


Yang penting istri saya bisa sembuh.


Ujar Gibran.


Setelah menyampaikan informasi tentang pasien, dokter pun langsung meninggalkan ruang UGD dan memberi waktu buat keluarga untuk menjeguk pasien.


Gibran duduk terdiam di samping ranjang Syilvia sambil menggenggam erat tangan Syilvia.


Tak kuasa ia menahan air mata nya. Ia sangat terpukul saat ini. Demi menyelamatkan nyawa nya Sylvia yang selama ini tidak pernah dia anggap ada kini malah menokong diri nya dari marabahaya dan membiarkan dirinya terluka.


"Sylvia bangun sayang. Jangan hukum aku seperti ini. "


Ucap Gibran lirih.


Tuan Santanu dan Nyonya Pucky pun kini hanya terdiam melihat Gibran yang kini sudah menyesali perbuatan nya .


"Sudah lah nak kamu jangan menangis lagi. Yang terpenting saat ini kita doakan agar Sylvia cepat siuman dan membaik. Dan kita bisa bawa Sylvia ke rumah sakit terbaik yang ada di ibu kota.


" Dan satu hal yang perlu kamu ingat kamu harus berjanji di depan mama dan papa bahwa ini akan menjadi terakhir kali nya kamu membuat Sylvia terluka.


Ujar Nyonya Pucky sambil memegang pundak anak nya


"Gibran janji ma, pa. Ini akan menjadi kali terakhir aku menyakiti Sylvia. Dan semua peraturan yang Gibran buat untuk Sylvia lakukan akan Gibran hapus. Mulai detik ini juga Gibran akan mengakui Sylvia jadi istri nya Gibran.


Ujar Gibran dengan jujur. Hingga tanpa ia sadari dua pasang bola mata kembali melotot ke arah nya. Siapa lagi kalau bukan mama dan papa nya

__ADS_1


''Nak kamu bilang apa barusan. Peraturan??? "


"Peraturan apa nak?? "


"Peraturan apa yang kamu buat untuk istri mu sendiri?? "


Tanya Nyonya Pucky.


"Jangan bilang peraturan yang mengekang Sylvia! "


Ujar Tuan Santanu dengan tatapan tajam nya.


''Sekali lagi maafin Gibran ma, pa. "


Sahut Gibran.


Mama dan papa nya Gibran hanya bisa menggeleng geleng kan kepala nya melihat ulah anak nya.


" Papa lebih baik ngak punya anak daripada punya anak yang memiliki sikap tidak terpuji seperti mu. "


Ujar Tuan Santanu dengan nada cukup keras.


"Gibran janji pa, Setelah Sylvia sembuh Gibran akan hapus semua peraturan itu. "


"Beri Gibran 1 kesempatan lagi pa, ma. Gibran akan buktikan semua ucapan Gibran. "


Ujar Gibran dengan nada memohon.

__ADS_1


"Baik.Papa dan mama akan kasih kesempatan pertama dan terakhir. "


"Ingat setetes saja air mata Sylvia menetes karena ulah mu kamu akan tanggung akibat nya. Lihat dengan mata dan kepala mu, buka hati mu lebar-lebar. Nilai bagaimana Sylvia menyayangi mu, dia bahkan rela mengorbankan diri nya demi menyelamatkan nyawa mu. "


"Kalau dia tidak menyanyangi mu tidak akan mungkin di rela seperti ini, sampai-sampai untuk sementara waktu dia kehilangan penglihatan nya. "


"Semua itu dia lakukan untuk mu "


Tutur tuan Santanu.


Gibran hanya terdiam mendengar semua ucapan mama dan papa nya. Dalam hati nya yang sangat dalam ia sangat merasa bersalah.


****


Sylvia berada di sebuah tempat yang sangat indah, kanan kiri nya berdiri dua orang wanita dengan pakaian putih dan mahkota yang menghiasi kepala nya.


Sylvia juga mengenakan pakaian putih. Di kejauhan Sylvia melihat papi dan mami nya berjalan ke arah nya. Melihat sosok yang mendekat, Sylvia langsung berlari dan memeluk.


"Mami,,, papi Sylvia kangen. "


Ujar Sylvia sambil memeluk papi dan mami nya.


"Pi, mi... Sylvia ikut yah. "


Tugas Sylvia disini sudah selesai. Sylvia ingin bersama lagi sama mami dan papi.


Ujar Sylvia.

__ADS_1


"Belum sayang, Tugas Sylvia belum selesai.Belum saat nya Sylvia disini. Sylvia pulang yah sayang. "


Ujar Bu Indah dan Pak Indra hanya mengangukkan kepala sambil tersenyum menatap Sylvia.


__ADS_2