Aku Gadis Penebus Utang

Aku Gadis Penebus Utang
Episode 79


__ADS_3

Kalau yang ini?????


Gibran berpikir sejenak sambil menyentuh ujung rambut Sylvia. Sylvia sudah sangat ketakutan melihat tingkah nya Gibran.


Gibran kini berdiri di hadapan Sylvia. Dia mengangkat dagu Sylvia dan kembali tersenyum.


"Kalau yang ini cocok nya jadi tukang jamu"


Ujar Gibran dengan gelak tawa nya.


"Kok tukang jamu sih tuan. "


Tanya Agriel di sela-sela tawa nya.


"Iya lah coba kamu lihat wajah nya begitu kemayu. Cocok pasti nya ini berjalan lenggak-lenggok sambil gendong jamu. "


"Jamu.. jamu. Jamu nya mas,jamu nya bu. "


Ujar Gibran sambil mempraktikkan gaya tukang jamu yang sedang menggendong bakul.


"Ha.. ha.. ha.. "


Agriel tertawa keras.Tiba-Tiba Gibran melempar kotak tisu kepada Agriel.


"Apa an sih tuan. Orang lagi tertawa kok malah di lempar yang begini an. "


Ujar Agriel sambil mengambil kotak tisu yang tercecer di lantai.


"Itu lap ngences mu itu. "


"Ketawa kok mulut nya lebar sekali persis kaya buaya yang sedang minta no WA cewek. "


Jawab Gibran seenak nya.


"Emang buaya bisa yah tuan minta nomor WA cewek. "


Tanya Agriel bingung dengan ucapan tuan nya.


"Yah bisa dong. Mau aku kasih tunjuk. "


Tanya Gibran lagi


"Mau.. mau tuan.Saya penasaran banget, soalnya seumur-umur saya belum pernah tuh liat buaya minta nomor WA cewek. "


Timpal Agriel.


"Gampang saja., coba kamu minta nomor WA tukang jamu ini. Pasti kamu juga akan melihat buaya sedang minta nomor WA cewek. "


"Ha... ha.. ha... "


Gelak tawa Gibran semakin kencang.

__ADS_1


"Jadi saya yang tuan maksud buaya nya?? "


Ujar Agriel sambil menunjuk dirinya.


"May be yes, may be no. "


"Tergantung penilaian mu. "


Ujar Gibran lagi sambil tertawa.


Agriel pun terdiam sambil menutup mulut nya dengan tangan nya. Dia tidak ingin tertawa lagi karena dia tidak mau di beri gelar buaya.


Irwan hanya bisa terdiam membisu melihat kelakuan Gibran. Ia tak mampu menentang nya. Mengucap sepatah kata pun ia sudah tak mampu. Karena jika ia salah berbicara satu huruf saja, ia bukan hanya kehilangan kekuasaan dan harta kekayaan nya. Tapi ia juga akan kehilangan nyawa nya.


Sedangkan Sylvia hanya bisa pasrah di olok seperti itu. Ini semua ia lakukan demi ayah sambung nya.


Gibran pun kembali duduk di kursi kerajaan nya. Dia menatap Irwan dan ketiga anak gadis nya.


"Ok saya setuju untuk membantu perusahaan ku bapak tua. "


Ucap Gibran dengan santai.


"Sungguh kah yang mulia. Terima kasih tuan atas kemurahan hati tuan. Saya tidak akan pernah melupakan segala kebaikan tuan. "


Ujar Irwan sambil berlutut di hadapan Gibran.


"Eit... eit. jangan senang dulu. Saya bantu kamu itu tidak cuma-cuma loh. Di dunia ini ngak ada yang gratis. Angin saja di bayar kok. "


Timpal Gibran.


"Gimana cerita nya itu? "


Tanya Agriel sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Ah otak lu mah jongkok. Gitu saja tidak tau. Kamuu lihat ngak kalau ban kendaraan kita kurang angin, kan kita bayar sama orang bengkel nya. Paham ngak??


" Makanya jangan kebanyakan makan telur cicak, biar otak nya ngak kecil. "


Timpal Gibran seenak nya.


"Jadi makan apa dong tuan biar otak kita encer. "


Tanya Agriel dengan polos nya.


"Makan tuh rumput. Biar suara mu entar jadi mbe... mbe.. mbe"


"Ha... ha.. ha.. "


Gibran kembali tertawa.


"Ah tuan mah kalau bicara suka betul. Kan saya jadi malu. "

__ADS_1


Timpal Agriel lagi.


"Saya harus bayar dengan apa tuan. Saya orang tidak punya . "


Ujar Irwan dengan nada merendah.


"Aku tidak minta harta,, karena soal harta saya banyak, berlimpah-limpah. Bahkan sampai tujuh turunan pun ngak bakal habis. "


"Saya minta tukang jamu ini menikah dengan saya. "


Ucap Gibran dengan santai.


"Dia kan Anak tiri mu, hitung-hitung biar dia ngak ngabisin beras di rumah kamu lagi. Kalau nanti dia jadi istri ku, kan lumayan bisa jualan jamu di sini.


Ujar Gibran sambil tersenyum sinis.


"Deg jantung Sylvia serasa mau copot. Badan nya seketika hampir tumbang. Tapi demi ayah nya, demi usaha ayah nya, dia harus tetap berdiri tegar. Dia harus merelakan kebahagiaan nya musnah begitu saja. Melihat keluarga nya bahagia itu sudah lebih dari cukup. "


"Kamu pasti bisa Sylvia. "


Ujar Sylvia dalam hati nya.


Mendengar permintaan Gibran, Irwan sedikit lega. Karena ia tidak harus mengorbankan kedua putri kandung nya.


"Ba.. ba baik yang mulia. Kalau itu yang tuan mulia ingin kan. Saya selaku ayah kandung nya setuju. "


"Kamu juga setuju kan nak. "


Tanya Irwan sambil ber pura-pura mengelus rambut Sylvia.


"Iya ayah Sylvia setuju. "


Jawab Sylvia dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca.


"Baik lah kalian pulang saja. Biar nanti semua nya kami yang urus. Minggu depan kalian tunggu kedatangan kami. "


Ujar Gibran tanpa menilik lawan bicara nya. Irwan dan ketiga putri nya pun meninggalkan ruangan itu.


"Tuan sudah gila yah mau menikahi si tukang jamu itu. "


Tanya Agriel yang masih bingung dengan permintaan tuan nya itu.


"Sudah kamu slow aja. Ngak usah goyang kali kayak stang becak. Selow di boncengan. "


Ujar Gibran sambil tersenyum sinis.


***Bersambung


***Selalu dukung author dengan cara like, coment, vote dan rare yah readers


Dan jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak di karya author yang berjudul PELUK CIUM TERAKHIR MAMA. dan tunggu feed back dari aku.

__ADS_1


Terima kasih.


I love you***


__ADS_2