Aku Gadis Penebus Utang

Aku Gadis Penebus Utang
Episode 100


__ADS_3

Dengan rasa khawatir yang sangat luar biasa, Gibran menggendong tubuh Syilvia yang telah berlumuran darah. Sementara satpam villa itu langsung mendekat ke lokasi kejadian untuk memberikan bantuan.


Sylvia pun segera di larikan ke RS terdekat di kota itu dengan mobil ambulance yang telah di sediakan pihak villa. Sepanjang perjalanan Gibran tak henti-henti nya menyalahkan diri nya


"Ah.... kenapa jadi begini"


"Kenapa kau rela mengorbankan nyawa mu untuk ku Sylvia? "


"Aku sudah sangat jahat sama kamu. Tapi kenapa ini semua masih saja kau lakukan untuk ku. "


"Aku minta maaf Syl. "


"Aku sudah salah telah menyia-nyiakan mu. "


"Aku berjanji aku ngak bakal an cuek lagi. "


"Aku janji akan menerima mu sebagai istri ku. "


"Tapi tolong kamu harus kuat . "


Kali ini Gibran benar-benar lemah. Dia tak kuasa menahan air mata nya. Untuk pertama kali nya ia meneteskan air mata untuk seorang gadis.


Gibran pun merogoh kantong celana nya dan mengambil ponsel nya. Walau ini kabar buruk akibat ulah nya namun orang tua Gibran harus tau tentang hal ini.


"Ma... tolong i Gibran ma. "


Ucap Gibran dalam telpon sambil menangis tersedu-sedu.


"Kamu kenapa sayang. Ada apa yang terjadi. Kalian baik-baik saja kan? "


Tanya Nyonya Pucky dari seberang.


"Sylvia ma... "


Timpal Gibran lagi.


"Sylvia kenapa nak? "


"Kamu bilang sama mama? "


"Kalian bertengkar atau gimana? "

__ADS_1


Tanya Nyonya Pucky lagi dengan nada penasaran.


"Bukan ma, Sylvia kecelakaan saat tadi nolong i Gibran. "


Ucap Gibran masih dengan air mata yang menetes di pipi nya.


Nyonya Pucky pun tak kalah terkejut nya mendengar kan berita itu. Padahal masih baru saja mereka berkomunikasi lewat telpon.


"Ya sudah kalian di Rumah sakit mana biar mama sama papa akan segera menyusul kalian. "


Ucap Nyonya Pucky dengan nada sedikit menahan air mata.


"Nanti Gibran share lok ma. "


Panggilan pun terputus, Gibran langsung mengirim alamat yang akan di tuju nya kepada mama nya.


Sementara di hadapan nya Sylvia masih saja pingsan dengan darah yang masih menetes dari kepala nya.


Gibran sungguh tak tega melihat darah yang mengalir begitu deras dari kepala Sylvia. Tanpa pikir panjang lagi, Gibran merobek baju yang ia kenakan dan menutup luka yang ada di kepala Sylvia dengan menggunakan robek an baju Gibran.


Butuh wktu yang cukup lama hingga mereka tiba di rumah sakit. Sebab jarak antara villa tempat mereka menginap dengan rumah sakit cukup jauh di tambah macet yang berkepanjangan.


Sesampainya di rumah sakit, Gibran yang kini mengenakan baju yang telah robek langsung menggendong tubuh Sylvia keluar dari ambulance.


Teriak Gibran sambil berjalan dengan langkah cepat. Berkali-kali Gibran berteriak namun belum ada dokter atau suster yang datang. Antara emosi dan panik Gibran kembali berteriak .


"Dokter... r ... r Suster... "


Teriak ny lebih kencang lagi.


Seorang dokter dan 2 perawat pun langsung datang dan memberikan pertolongan pada pasien.


"Kok lama sekali sih ... ngak bertanggung jawab sama tugas nya. "


"Kalau nanti istri saya kenapa-napa kalian mau tanggung jawab? "


Bentak Gibran.


"Maaf Pak maaf atas ketidaknyamanan, lain kali hal ini tidak akan terulang lagi. "


Tubuh Sylvia pun langsung di bawa ke ruang UGD.

__ADS_1


Sampai di depan pintu UGD Gibran ingin ikut masuk namun segera di cegat oleh salah seorang suster.


"Maaf Pak, bapak tunggu di luar saja yah. Biar dokter memeriksa pasien dulu. "


Ucap Suster.


"Itu istri saya Sus, apa saya ngak bisa masuk buat nengok i istri saya? "


"Tolong Sus, saya hanya ingin memastikan keadaan nya. "


Ujar Gibran dengan nada setengah memohon.


"Maaf Pak tidak bisa. Jika ingin menjenguk nanti setelah dokter selesai memeriksa nya. "


Jawab Suster nya lagi


"Tolong selamat kan istri saya Sus, lakukan yang terbaik. Berapa pun biaya nya saya akan bayar asalkan istri saya bisa selamat.


" Ujar Gibran"


"Baik Pak kami akan berusaha sekuat dan semampu kami.


Jawab Suster dan menutup pintu UGD.


Gibran pun terduduk di lantai dengan baju yang kini telah robek. Tak henti-henti ny ia menyalahkan diri nya.


" Kenapa harus seperti ini Tuhan"


'"Inikah cara mu untuk menegir ku dari keegoisan ku? "


"Tapi kenapa harus dia yang terluka Tuhan? "


"Sylvia terlalu baik jika harus berulang-ulang terluka Tuhan. Tolong cukup kan sampai di sini saja penderitaan nya. Dia juga pantas bahagia.


Guman Gibran dalam hati nya.


Bagaimana kondisi sYlvia nantinya??


Apakah penderitaan nya akan berakhir sampai di situ saja??


Yuk kasih komentar di bawah ⬇👇 yah☺☺

__ADS_1


Dan jangan lupa selalu dukung author dengan cara like, coment, vote sebanyak-banyaknya agar author semakin semangat up nya☺☺


__ADS_2