Aku Gadis Penebus Utang

Aku Gadis Penebus Utang
Episode 92


__ADS_3

Untuk yang kesekian kali nya Sylvia meneteskan air mata untuk pria yang begitu kejam. Pria yang tidak pernah ia cintai namun kini telah berstatis jadi suami nya.


Sylvia melangkahkan kaki nya menjauh dari pantai itu. Dia sejujurnya ingin marah, teriak sekuat-kuat nya, namun apa lah daya nya. Ia hanya lah seorang istri yang tak pernah di ingin kan.


Di saat dia duduk di pasir pantai itu, dia menundukkan kepala nya. Dia menangis terisak -isak.Dia menangisi nasib nya yang begitu malang.


"Tuhan kenapa engkau lahirkan aku ke dunia ini jika hidup ku penuh air mata"


"Tuhan kapan aku bahagia??? "


"Kapan kah wajah ini akan memancarkan senyum? "


"Tuhan hidup ini ngak adil"


Teriak Sylvia sekencang+kencang nya.


"Terkadang hidup ini berjalan tidak sesuai apa yang kita harap kan. "


"Namun jika hal itu benar, lantas apa arti nya kita meneriakkan ketidak adilan Tuhan"


"Semua sudah terjadi. Hidup ini adalah sebuah cerita yang di skenario oleh Tuhan. Tuhan sudah memberi kan kita tugas untuk menjalankan cerita ini"


"Yah memang hidup ini bagaikan di perkosa, suka tidak suka, nikmat tidak nikmat kita harus nikmati. "


"Nih hapus air mata mu. Jangan jatuhkan air mata mu untuk hal yang tidak penting"


Ujar seorang pria yang tak kalah tampan dari Gibran sambil menyodorkan sebuah sapu tangan.


Sylvia tersentak kaget saat ia menyadari bahwa teriakan nya tadi di dengar oleh pria itu .


"Tidak usah"


"Makasih mas".

__ADS_1


Tolak Sylvia dengan sopan.


" Tidak apa-apa ".


" Terima saja. "


Ujar Pria itu lagi


Karena enggan menolak akhirnya Sylvia menerima sapu tangan itu dang menyeka air mata nya .


"Brayen"


Ujar Pria itu lagi sambil mengulurkan tangan nya


"Sylvia "


Jawab Sylvia membalas uluran tangan pria itu.


Tanya Brayen sambil melihat ke sekeliling nya.


"Saya disini sama suami saya mas"


"Kita lagi bulan madu"


Jawab Sylvia jujur.


"Oh iya selamat yah. Jadi suami kamu dimana?? "


"Bulan madu kok sedih gitu , bukan nya kalau bulan madu itu bahagia yah"


Tnya Brayen penasaran.


"Itu suami saya mas"

__ADS_1


Ujar Sylvia lemah sambil menunjuk ke arah Gibran dan Nandini yang sedang asik dengan spead boat nya"


"Maksud nya"


Tanya Brayen kebingungan.


"Ngak apa-apa mas. Oh yah mas saya pergi dulu. Senang bertemu dengan mas. "


Ujar Sylvia sambil meninggalkan Brayen yang penuh pertanyaan.


Hari semakin sore namun Gibran sama sekali tak memperdulikan Sylvia. Jangan kan menemani liburan nya menawarkan makan saja tidak mau.


Di saat jam sudah menunjukkan pukul 06.00 sore barulah Gibran dan Nandini selesai dengan aktivitas nya di air. Mereka menepi ke tepi pantai sambil bergandengan tangan layak nya sepasang kekasih.


Betapa bahagia nya Nandini . Hingga dia tidak memperdulikan perasaan nya sedikit pun.


"Kamu ngak pulang? "


Tanya Gibran.


Sylvia hanya bisa menganggukkan kepala nya. Mereka pun akhirnya pulang ke villa. Namun sepanjng perjalanan Sylvia hanya diam membisu menyaksikan kebahagiaan mereka berdua.


Wajah Gibran memang hanya terlihat biasa saja. Sesekali Gibran melirik ke arah Sylvia yang diam seribu bahasa.


Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di villa. Gibran dan Sylvia masuk ke kamar yang sama sementara Nandini masuk ke kamar yang lain setelah terlebih dahulu melapor ke receptionist.


Namun sebelum berpisah Gibran membisikkkan sesuatu ke telinga ke Nandini dan Nandini hnya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala nya.


***Bersambung


Selalu dukung author dengan cara like, coment, vote sebanyak-banyak nya yah readers. Agar author semakin semangat up nya.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2