Aku Gadis Penebus Utang

Aku Gadis Penebus Utang
Episode 95


__ADS_3

Gibran terpaku melihat ketulusan Sylvia. Entah kenapa hati nya seolah-olah luluh menyaksikan peristiwa itu. Bagaimana tidak seorang Sylvia ya ng hanya seorang anak tiri dan di jadikan sebagai penebus utang oleh ayah tiri nya rela berkorban, mengorbankan perasaan nya dan kebahagiaan nya demi kesejahteraan keluarga nya.


"Berdiri kamu, saya tidak ada menyuruh kamu untuk bersujud. "


Bentak Gibran.


"Baik Tuan.


Sylvia pun hendak berdiri tapi entah kenapa tiba-tiba kepala nya terasa begitu pusing,mata nya pun berkunang-kunang. Dan seketika itu juga ia jatuh pingsan. Untung nya Gibran yang memiliki badan kekar dengan sigap menangkap tubuh Sylvia. Hingga tubuh Sylvia tidak terjatuh ke lantai.


Betapa panik nya Gibran saat melihat wajah Sylvia yang sangat pucat. Gibran langsung menggendong Sylvia dan merebahkan nya di tempat tidur.


Dengan buru-buru Gibran langsung menghubungi dokter yang bertugas di kota. Dokter itu juga merupakan salah satu teman Gibran.Dokter itu bernama William.


" Hallo .. William kamu ke villa sekarang. Ini lagi emergency "


Ujar Gibran dengan cepat sambil memutuskan panggilan nya.


William hanya bisa menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal


"Gini yah klo orang kaya minta tolong? "


"Ini bukan minta tolong kayak nya tapi lebih ke menyuruh "


"Belum juga sempat bilang iya atau tidak udah main matiin ajh"


Gerutu William.


Namun walau pun begitu William langsung bersiap-siap. Tak lupa ia membawa peralatan kesehatan karena pasti ia di hubungi karena ada keperluan yang berurusan dengan kesehatan.


Setelah semuanya selesai, William langsung melajukan kendaraan nya menuju Villa tempat Gibran menginap. Jarak antara rumah nya dan dengan villa cukup jauh. Jadi dia harus menghabiskan waktu kurang lebih dari 15 menit.

__ADS_1


15 menit telah berlalu, Kendaraan yang di lajukan William pun tiba di halaman Villa tempat Gibran.


William langsung keluar dari mobil nya dan langsung memasuki villa menuju kamar tempat Gibran. Gibran menginap di kamar 212 . Setelah William sampai di depan pintu kamar 212 William pun langsung mengetuk pintu nya.


Tok... tok.. tok


Gibran yang sedari tadi mondar-mandir sejak pingsan nya Sylvia langsung bergegas menuju pintu.


Setelah Melihat tamu yang datang, Gibran langsung mempersilahkan masuk sambil mengomel.


"Kamu lama banget sih"


"Aku sudah dari tadi tau nungguin kamu. "


Gerutu Gibran.


Melihat wajah Gibran yang sedang di Landa kepanikan , William tak mampu berkata banyak.Walau ia ingin sekali menjawab celotehan Gibran namun di saat ini kondisi tak memungkin kan.


"Nih Wil tolong kamu periksa dulu istri saya ini. "


"Tadi tiba-tiba pingsan saat aku sedang menghukum nya dengan menyuruh nya angkat kaki sebelah sambil memegang telinga nya. "


Ujar Gibran sambil menjelaskan kejadian yng telah membuat Sylvia pingsan.


"Ya ampun Gibran sebesar apa sih salah istri kamu makanya kmu itu sampai tega menghukum nya seperti itu. "


Timpal William sambil memeriksa Sylvia.


"Habis nya aku itu kesel sama itu anak. Masa dia berani-berani nya ngobrol dengan pria lain. "


Ujar Gibran lain mencari kemenangan.

__ADS_1


"Loh kan cuma ngobrol saja. Lalu kenapa kamu se posesif itu. Bukan nya kamu ngak suka yah sama dia. Lalu lantas apa hal yng membuat kamu merasa kesel saat melihat dia ngobrol dengan pria lain? "


Jawab William santai.


"Yah memang benar saya tidak suka sama dia. Tapi kalau sebagai istri ku di harus patuh dong sama aturan yang telah aku buat. "


Timpal Gibran tak mau kalah.


"Seperti nya Istri mu hanya dehidrasi saja dan asam lambung nya naik. Mungkin satu hari ini tidak ada makanan atau minuman yang masuk ke dalam perut nya. Dan itulah yng membuat di lemah dan pingsan.


Ujar William menjelaskan keadaan yang di alami Sylvia. Seketika wajah Gibran merah padam. Ia sangat merasa bersalah telah menelantarkan Sylvia hari ini dan tidak peduli pada nya.


" Kamu gimana sih Bran masa kamu lagi bulan madu tapi istri mu sampai tidak makan dan minum satu hati ini. "


Tanya William.


Gibran pun akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi pada hati pada sahabat nya itu. Wajah William terlihat sangat marah saat mendengar semua penjelasan Gibran.


"Sumpah Bran , ini kesalahan yang sangat besar yang kamu lakukan. Walau kamu tidak mencintai seseorang jangan menyiksa nya dengan cara seperti ini. "


"Kalau terjadi apa-apa sama istri kamu ini, kamu pasti akan menyesal seumur hidup kamu. "


ujar William dengan nada menahan amarah.


***Bersambung


***Selalu dukung author dengan cara like, coment, vote sebanyak-banyak nya yah readers


Agar Author semakin semangat up nya


Terima kasih***

__ADS_1


__ADS_2