
Sylvia terdiam terpaku melihat kepergian wanita tua itu. Walau wanita tua bukan siapa-siapa nya namun entah kenapa hati nya begitu berat melepas kepergian wanita tua itu.
Tak terasa air mata Sylvia jatuh berlinang membasahi pipi nya. Hati nya seakan-akan perih terluka. Sylvia sendiri bingung akan perasaan yang ada di hati nya saat ini.
Mereka tidak memiliki hubungan apa pun, namun entah kenapa saat berada di samping wanita tua itu, Sylvia merasa suatu ketenangan sama seperti saat ia berada di samping almarhum mami nya dulu.
"Apakah dia manusia jelmaan mami?? "
"Atau apakah dia itu ibu kandung Sylvia?? "
"Ah tapi itu tidak mungkin, nama ku saja yang mungkin sama dengan nama almarhum anak nya. "
"Tapi kenapa ada sesuatu yang berbeda di hati ku saat aku di peluk wanita tua itu?? "
Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Sylvia. Namun tak ada seorang pun yang bisa membantu nya untuk memberikan jawaban.
"Oh Tuhan tolong tunjukkan kebenaran mu? "
"Apa cerita sebenarnya di balik ini semua? "
Guman Sylvia dalam hati.
Gibran yang sedari tadi berada di samping Sylvia sudah sangat geram melihat Sylvia yang berdiri bagaikan patung melihat kepergian wanita tua itu. Sylvia seolah-olah tidak memperdulikan keberadaan nya di samping nya. Sylvia juga lupa kalau dia harus tunduk kepada Gibran. Belum juga sehari Sylvia sudah berani bertindak semau nya. Menghabiskan waktu lama dengan wanita yang menurut nya tidak penting.
Gibran pun segera menarik tangan Sylvia untuk masuk kembali ke kamar hotel. Sampai di kamar hotel Gibran melepaskan genggaman tangan nya.
"Hey tukang jamu ngapain kamu pake acara nangis -nangis segala melihat wanita tua itu?? "
"Ada hubungan apa kamu sama dia? "
Tanya Gibran dengan tegas.
__ADS_1
"Maaf tuan saya tidak hubungan apa-apa sama wanita tua itu. Tapi entah kenapa hati ku terasa nyaman saat berada di dalam pelukan wanita itu. "
"Aku bingung apakah itu jelmaan mami ku atau kab ibu kandung ku? '"
Ucap Sylvia jujur.
"Eleh kamu itu terlalu banyak nonton sinetron yah begini jadi nya. Mana ada manusia jelmaan yang sudah meninggal. "
"Dan ingat satu hal yang harus kamu ingat, jangan bertingkah seenak nya. Jika kamu berani bertindak sesuka hati mu maka aku tidak segan-segan menghancurkan keluarga mu hingga tujuh turunan.
" Jangan merasa menang kalau saya bercanda sama mu. Ingat satu hal KAMU ITU BUKAN LEVEL KU. Jangan mimpi kalau aku itu akan mencintai mu. "
"CAM KAN ITU"
Ucap Gibran dengan tegas.
"Ingat kehadiran mu di sini hanya sebagai penebus utang, tidak lebih dari situ. Status mu hanya berada 1 tingkat di atas pembantu. Paham?? "
Tanya Gibran dengan tegas.
Akhirnya mereka menghabiskan waktu istirahat dengan diam membisu satu sama lain. Sylvia bukan tak mampu untuk berbicara pada Gibran, namun kehidupan keluarga nya ada di tangan nya.
Jadi untuk langkah aman, ia harus menjalani takdir nya sebagai istri yang tak di inginkan dan sebagai anak penebus utang.
Jam pun berlalu begitu cepat. Kini jam sudah menunjukkan pukul 06.00.Tak terasa 1 jam lagi acara selanjutnya nya akan di langsungkan.
Para perias pun mulai datang ke kamar tempat Sylvia dan Gibran istirahat. Sylvia pun mulai di rias dengan riasan yang lebih sederhana di bandingkan riasan siang tadi. Karena acara untuk malam ini lebih bebas.
Sylvia malam ini mengenakan gaun berwarna biru langit tanpa lengan. Rambut nya di rias dan tak lupa di selipkan mahkota yang semakin menambah kecantikan Sylvia. Sama hal nya dengan Gibran, Gibran juga mengenakan stelan dengan warna yang sepadan dengan kebaya Sylvia.
Saat Sylvia sudah selesai di rias, Sylvia dan Gibran pun kembali turun ke lantai bawah di ikuti oleh para dayang-dayang.
__ADS_1
Seperti biasa nya, saat tamu undangan melihat kedatangan pengantin, mereka tak henti-henti nya memuji keserasian Sylvia dan Gibran. Yang satu cantik bagaikan bidadari, dan yang satu tampan bagaikan pangeran.
Dan tak sedikit dari mereka yang iri dengan Sylvia yang berhasil memikat hati seorang pria terkaya dan tertampan di kota itu. Karena mereka tidak tau cerita sesungguhnya di balik sebuah senyuman Sylvia.
Acara pun di mulai, Sylvia dan Gibran memegang sebuah buket bunga yang akan di lempar kepada Tamu undangan. Para tamu undangan sangat bersorak-sorai berharap bunga itu jatuh ke tangan nya dan juga pasangan nya.
"Baiklah sekarang buat pengantin baru, siap untuk melemparkan bunga nya? "
Tanya MC menanyakan kesiapan pengantin baru itu.
Gibran dan Sylvia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala nya.
1....2....3...
Lempar.... r... r... r
Teriak MC dengan suara nya yang lantang.
Sylvia dan Gibran yang sudah membelakangi tamu undangan pun melemparkan buket bunga milik mereka ke belakang.
Agriel dan Nikita yang berada tepat di belakang Sylvia dan Nikita pun memegang buket bunga itu dengan bersamaan.
Mereka bingung dan saling pandang satu sama lain.
"Kamu... "
Ucap Agriel menatap Nikita.
**Bersambung
***selalu ***Dukung author dengan cara like, coment, vote yah readers...
__ADS_1
Agar author semakin semangat up nya☺☺☺***