
Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Sylvia. Dimana hari ini adalah hari dimana ia akan melepas muda nya. Dan kedua dimana hari ini adalah hari dimana orang tua tirinya sah menjual nya dan menjadikan nya sebagai penebus utang.
Namun walau demikian Sylvia tetap memberikan senyuman pada tamu undangan yang datang menyalami nya satu per satu. Seolah olah dirinya sedang sedang bahagia lahir dan batin.
Melihat sikap Sylvia yang dinilai Gibran terlalu ramah. Dia pun menyenggol tangan Sylvia sambil berbisik.
"Hey tukang jamu.Kami saat ini sedang berdiri sebagai istri pengusaha terkenal di kota ini. Bukan sebagai tukang jualan jamu. Jadi kamu ngak usah terlalu ramah kepada mereka. Mereka ngak pantas mendapatkan itu dari pengusaha seperti aku.
Paham?? "
Bisik Gibran dengan setengah berteriak.
Sylvia hanya bisa manggut -manggut walau itu sangat bertentangan dengan hatinya.
Namun dia juga dapat melihat para tamu undangan yang hadir di tempat itu. Mereka seolah-olah begitu bahagia walau hanya dapat salaman singkat dari Gibran. Di wajah mereka terpancar kebahagiaan yang tiada tara.Baik yang muda atau pun yang sudah tua tidak sungkan-sungkan menyalami Gibran sambil menundukkan kepala nya.
"Mungkin ini lah kenyataan yang terjadi pada saat ini. Usia tua bukan lah menjadi patokan untuk kita di harga i. Namun di saat kita memiliki segala nya itu sudah menjadi suatu kepastian untuk kita dihargai dan hormati oleh lain. ''
" Ini lah fakta pahit. Ibarat kata orang kaya kentut nya saja si puji-puji. "
Guman Sylvia dalam hati.
Setelah sekian lama Sylvia dan Gibran berdiri untuk menyalami para tamu undangan, dan jam pun sudah menunjukkan pukul 04.00.Itu berarti acara untuk sore ini sudah berakhir dan akan dilanjutkan jam 07.00 malam nanti yaitu acara lempar bunga.
Acara ini adalah acara yang di tunggu-tunggu oleh kaum muda-mudi karena masih dipercayai hingga pada saat ini yang mana jika seorang pria dan seorang wanita mendapat lemparan bunga pengantin maka mereka akan secepatnya menyusul naik pelaminan. Baik itu yang pasangan kekasih maupun yang belum saking kenal sebelum nya.
Gibran dan Sylvia di bantu para dayang-dayang pun mulai menuruni pelaminan dan beranjak menuju kamar hotel. Mereka masih memiliki waktu kurang lebih 3 jam untuk mengistirahatkan badan nya.
Sesampainya di kamar hotel Sylvia duduk di meja rias sementara Gibran langsung menghempaskan tubuh nya di ranjang.
"Hey tukang jamu. kenapa kamu mau menikah sama ku.? "
Tanya Gibran.
"Yah karena saya tuan saya ini tidak ada kuasa menolak permintaan tuan. Sebab kan tuan sendiri yang memilih saya. Jadi kalau saya sampai menolak bisa-bisa besok saya ngak bisa lagi lihat matahari terbit.
Jawab Sylvia santai.
" Buahaha.. ha.. "
Gibran tertawa sekeras-keras nyaendengar jawaban nya Sylvia.
__ADS_1
" Tuan saya ini kan tidak sedang ngelawak,tapi kenapa tuan tertawa sampai sebegitu nya. Apa tuan tidak pernah sebahagia ini sebelum nya?"
Tanya Sylvia tanpa menyaring pembicaraan nya.
Gibran tiba-tiba berhenti tertawa dan bangkit dari tempat tidur nya dan perlaham berjalan mendekati meja rias tempat Sylvia duduk. Gibran duduk di samping Sylvia.Gibran memegang dagu Sylvia dan menarik nya hingga kini wajah Sylvia dan Wajah Gibran saling bertatapan. Gibran menatap tajam Sylvia.
"Aduh mati aku pasti aku sudah salah ngomong lagi ini. Aduh Sylvia kenapa sih kamu itu **** banget. Apa dulu waktu kamu kuliah mulut mu kamu tinggal terus yah. Makanya kalau ngomong suka ngak di saring omongan nya. "
Gerutu Sylvia sambil ketakutan. Namun Gibran tak berkata sepata kata pun. Dia malah semakin mendekat kan wajah nya le wajah Sylvia.
Hal itu pula yang membuat Sylvia mulai berpikiran yang aneh-aneh. Dan tanpa di sadari Sylvia pun memejam kan mata nya.
"Hih dasar Buaya. katanya ngak akan mau menyentuh ku sebelum ada cinta. Tapi bukti nya belum lagi acara selesai dia udah mau mencium ku. "
Guman Sylvia dalam hati.
Tiba-tiba Sylvia melonjak kaget saat mendengar suara teriakan Gibran yang pas di telinga nya.
"Hey bangun "
"Ngapain kamu sampai merem gitu? "
"Ayo kamu pasti mikir aneh-aneh kan. "
"Ha... ha... ha.. "
"Mi.. m... pi.. "
Teriak Gibran sambil bangkit dari tempat duduk nya meninggalkan Sylvia yang terpaku.
"Aduh Sylvia ngapain sih mikir yang ngak-ngak. "
"Kan begini nih ujung nya kamu malu. "
Guman Sylvia sambil melihat wajah nya yang merah padam di depan cermin.
tok.. tok.. tok.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Sylvia langsung berdiri untuk membuka pintu.Ternyata yang datang adalah Agriel.
__ADS_1
"Boleh saya masuk nona. "
"Nona dan tuan tidak sedang olahraga kan. "
Tanya Agriel sambil tertawa.
Sylvia hanya terdiam bingung mendengar pertanyaan Agriel.
"Tuan... di bawah sedang ada ribut ribut. Menurut informasi satpam nya di bawah ada seorang wanita tua yang ingin sekali memeluk nona muda. Karena mungkin nama Nona Muda dengan almarhum anak nya dulu sama. "
Ujar Agriel menjelaskan.
"Apa saya usir saja tuan. "
Tanya Agriel.
Mendengar kata usir Sylvia langsung mendekat ke arah Gibran dan Agriel.
"Ngapain di usir. Toh wanita itu kan hanya ingin memeluk saya. "
Ujar Sylvia.
"Tapi dia tidak selevel dengan kita tukang jamu. Kamu harus mikir siapa diri kamu sekarang. "
Jawab Gibran dengan nada tegas.
"Maaf kalau saya lancang tuan. Tapi apa salah nya kita menuruti kemauan wanita tua itu. Mungkin saja dia hanya rindu dengan anak nya.
Sylvia berusaha membantah
" Tukang jamu... "
Belum juga Gibran melanjutkan pembicaraan nya Sylvia udah mengatupkan kedua tangan nya dengan nada memohon.
"Tolong tuan sekali ini saja. Jika tuan tidak sudi bertemu mereka. Biar saya sendiri yang akan menemui i nya. "
Ujar Sylvia dengan nada memohon.
Akhirnya setelah berpikir sejenak, Gibran pun setuju untuk menemui wanita tua itu.
**Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, comen, vote sebanyak -banyak nya yah readers. Agar Author semangat up nya ๐คฃ๐คฃ