Aku Gadis Penebus Utang

Aku Gadis Penebus Utang
Episode 87


__ADS_3

Sylvia pun turun untuk menemui wanita tua itu. Namun ia tidak turun sendirian, Sylvia di dampingi oleh Gibran, Ariel dan beberapa orang lain nya.


Pada saat di mereka tiba di lantai dasar, Keluarga Gibran dan juga keluarga Sylvia bingung melihat Gibran dan Sylvia turun dengan beberapa orang lainnya.


"Loh kalian mau kemana nak, acara nya untuk saat ini sudah selesai, dan akan di lanjutkan nanti malam"


Ujar Tuan Santanu kebingungan melihat gerombolan pengantin baru.


"Ini pa kita mau ke luar sebentar, iya kan sayang? "


Ucap Gibran sambil mengedipkan sebelah mata nya ke arah Sylvia.


"Ia Tuan.. "


"Kita mau keluar sebentar. "


Jawab Sylvia.


"Ko Tuan sih sayang. Kamu kan sekarang udah sah jadi Istri nya Gibran. Berarti kami ini orang tua kamu.


Timpal Nyonya Pucky sambil mencubit pipi Sylvia. Sylvia hanya bisa terdiam sambil menganggukkan kepala nya.


" Ini orang tua sama anak ko kelakuan nya berbanding terbalik yah? "


Orang tua nya selembut sutra eh anak nya malah sekeras baja.


"Dulu Gibran ini lahir nya gimana sih, apa gigi nya yang duluan nongol makanya sifat nya seperti itu. "


Guman Sylvia dalam hati.


"Ah bodo amat lah. Mau gigi nya yang duluan nongol atau apa pun itu aku dan seluruh rakyat Indonesia cuma bilang BODO AMAT "


Guman nya lagi sambil menahan tawa nya.


"Ya sudah ma, pa, kami pergi dulu yah. '


" Yok sayang "


Ajak Gibran sambil menarik tangan Sylvia dan menggandeng nya keluar dari hotel.


Meski sudah berada di luar hotel namun tangan Gibran masih saja menggandeng tangan Sylvia. Itu membuat Sylvia merasa risih.

__ADS_1


'Maaf tuan tangan saya jangan di gandeng mulu dong. Entar jatuh cinta lagi. "


Ujar Sylvia seenak nya.


"Enak saja bilang saja jatuh cinta. Asal kamu tau yah, saya ini ngak gampang jatuh cinta. Apa lagi sama orang kayak kamu. Tukang Jamu. "


Ejek Gibran sambil setengah berbisik.


"Bisa jadi yah, nama nya juga Kulkas, dingin nya minta ampun. Jadi wajar aja ngak mudah jatuh cinta. "


"Tukas Sylvia tak mau kalah.


"Mending jadi kulkas dari pada tukang jamu. "


Timpal Gibran yang tak mau mengalah.


"Maaf yah Tuan Gibran yang terhormat, Orang yang tuan bilang tukang jamu itu sekarang berada dimana? "


Tanya Sylvia .


"Di samping saya. "


"Dia di samping tuan posisi nya sebagai apa? "


Tanya Sylvia lagi.


"Sebagai Istri saya lah , gitu aja ngak tau. Dasar tukang jamu. "


Jawab Gibran dengan cepat tanpa mikir kalau dia sedang dijebak.


"Itu tau, lalu kenapa dari tada saya di ejek mulu sebagai tukang jamu. Kalau tuan mengejek saya, apa tuan mau nanti orang-orang akan mengejek istri tuan ini. "


Ujar Sylvia dengan penuh kemenangan.


Gibran hanya bisa terdiam memikirkan ucapan Sylvia yang sederhana namun mampu menjebak nya.


"Tuan, nona sampai kapan kita akan berdiri mematung di sini menunggu tuan dan nona selesai berdebat. Kita disini sudah sampai jamuran loh. "


Ucap Agriel yang sedari tadi hanya pendengar setia pasangan baru itu.


"Itu kan DL (Derita loh)

__ADS_1


Jawab Gibran dan Sylvia bersamaan.


Saat menyadari ucapan mereka yang sama, mereka saling pandang dan langsung memalingkan muka nya masing-masing di saat wajah mereka saling bertatapan.


Akhirnya mereka pun melanjutkan langkah nya menuju gerbang dimana di sana sudah berkumpul beberapa orang yang mengerumuni seorang wanita tua.


Gibran dan Sylvia mempercepalat langkah nya. Orang-orang yang berkerumun di sana pun langsung memberi jalan bagi Gibran.


Setelah Gibran dan Sylvia masuk ke dalam kerumunan itu, Sylvia melihat seorang wanita tua dengan 2 pria yang terlihat sangat sangar. Sylvia mendekat ke arah wanita tua itu dan duduk bersimpuh di depan nya. Wanita tua langsung memeluk erat Sylvia sambil menangis.


" Kamu anak ku kan. Iya kamu anak ku. "


Ujar wanita tua itu sambil membelai wajah Sylvia.


Sylvia tiba-tiba menangis , entah hal ap yang membuat nya sangat bersedih. Namun berada di dekat wanita itu bagi nya terasa aman.


Salah seorang pria yang tadi bersama wanita tua itu pun langsung bersimpuh di hadapan Gibran.


"Maaf kan kami tuan, kami sudah lancang mengganggu acara tuan ini. Namun ibu ini sangat ingin bertemu dengan nona istri tuan sebab ibu ini membaca nama nona yang ada di gerbang ini. Dan kebetulan nama nona muda ini sama dengan nama almarhum anak nya yang sudah meninggal.


Ucap pria itu menjelaskan.


" Ok tidak masalah, tapi jangan buang banyak waktu kami "


Timpal Agriel mewakili tuan nya itu.


Wanita tua itu masih saja memeluk Sylvia seakan tidak mau melepaskan nya walau sedetik pun. Sama hal nya dengan Sylvia, walau Sylvia sudah mendengar alasan wanita tua itu untuk bertemu dengan nya hanya karena nama nya dan nama almarhum anak nya sama, namun Sylvia merasa ada sesuatu ketenangan di dalam dirinya saat berada di pelukan wanita tua itu.


Selang 15 menit, kedua pria itu kembali menarik paksa wanita tua itu karena melihat tatapan tajam dari Agriel yang seolah-olah menyuruh untuk segera berlalu dari hadapan nya.


Dengan berderai air mata, Wanita tua itu melepaskan pelukan nya.


"Kamu anak ku... kamu anak ku. Anak ku tidak meninggal. Anak ku itu kamu. "


Teriak Wanita tua sambil melambai ke arah Sylvia.


**Bersambung


***Selalu dukung author dengan cara like, coment, vote yah reader


Agar author semakin semangat up nya. 😊😊😊***

__ADS_1


__ADS_2