
Mereka bertiga pun mulai mengobrol. Nikita dan Niko berusaha untuk menghibur Sylvi yang sedang sedang di rundung kesedihan.
Hari pun semakin siang. Dan terik matahari mulai menerpa tubuh mereka.
"Sylvi... masuk yok. Panas "
Ujar Nikita sambil menarik tangan Sylvia. Mereka pun akhir nya masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Niko.
Jam berputar semakin cepat. Tidak terasa malam pun sudah tiba. Jika malam sudah tiba Sylvi merasa kan kesedihan lagi. Kenapa tidak sedih saat makan malam pun dia sudah tak bisa melihat papi nya lagi.
Dulu saat papi nya masih ada, papi nya selalu berusaha pulang cepat dari kantor untuk terus bisa makan malam bersama nya. Tapi kini hanya Nikita seorang lah yang selalu setia menemani nya. Selalu ada di saat dia sedih maupun senang.
Kadang-kadang Niko juga mau menemani nya makan malam bersama. Tapi tidak sesering Nikita.
Mama Putri dan Kak Nisya tidak pernah sekalipun menemani nya makan malam. Bahkan berusaha menghiburnya pun dia tak pernah.
Mereka selalu pergi saat Sylvia sudah berangkat ke kampus dan pulang saat malam teLah larut. Entah apa yang mereka lakukan di luar rumah.
Seperti itu lah yang terjadi di rumah itu semenjak kepergian Pak Indra. Rumah itu terlihat sepi bagai tak berpenghuni.
Hari-hari Sylvia lalui dengan kesepian itu.Hingga berbulan-bulan lama nya.
***Pada suatu ketika di saat malam telah tiba Sylvi dan Nikita sedang mengobrol di ruang tamu. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam nya. Jadi mereka menghabiskan malam untuk menonton dan mengobrol. Bukan mereka tidak bisa keluar rumah. Namun mereka tidak terlalu suka dunia malam.
Disaat mereka tengah asyik mengobrol, di pekarangan rumah terdengar suara mobil yang baru berhenti. Dan tak lama kemudian muncul lah mama Putri dari arah pintu.
Melihat siapa yang datang Nikita dan Sylvia langsung berdiri dari tempat duduk nya dan menghampiri Putri.
"Malam ma"
"Malam ma"
Ucap Nikita dan Sylvia bersamaan sambil menyalim punggung tangan mama nya.
"Malam"
Jawab Putri ketus.
Putri pun duduk di sofa dan di ikuti oleh Sylvia dan Nikita.
"Sylvia... "
Ucap Putri dengan nada tinggi.
"Iya ma.. ada apa? "
Jawab Sylvia dengan nada ketakutan.
"Papa kamu kan sudah tidak ada lagi. Dan sekarang yang menjadi orang tua tinggal di rumah ini adalah saya. "
__ADS_1
"Beberapa bulan ini biaya kuliah kamu dan Nikita saya harus membiaya i nya sendiri. Restoran peninggalan papa kamu itu tidak cukup untuk membiaya kehidupan kita semua. "
"Jadi saya ingin memberi tahu kalau saya dan mantan suami saya akan segera rujuk"
Ujar Putri dengan tegas. Omongan Putri bagaikan peluru yang menembus dada nya. Sungguh sakit sekali.
"Menikah lagi ma? "
Tanya Nikita bingung.
"Iya... saya akan rujuk sama papa kandung kamu. "
Jawab Putri tegas.
"Tapi bukan nya mama dan papa.... "
Belum juga omongan Nikita selesai. Putri sudah memotong nya.
"Nikita kamu bisa diam ngak sih. Mama ngak bicara sama kamu. Mama bicara sama Sylvia. Jadi kamu ngak usah nyamber kayak petir. "
Putri menatap tajam kepada Nikita.
"Tapi mam... papi kan baru 6 bulan yang pergi ninggalin kita. Masa mama mau nikah lagi sih. "
Ujar Sylvia dengan hati-hati. Ia takut kalau mama nya akan marah besar pada nya.
Bentak Putri lagi
"Ya sudah ma, kalau itu memang sudah keputusan mama.Sylvia setuju ma. "
Jawab Sylvia dengan menundukkan kepala.
"Setuju???. "
Tanya Putri lagi.
"Iya ma Sylvia setuju yang penting mama bahagia. "
Jawab Sylvia berharap mama nya akan berubah menjadi baik padanya. Namun harapan itu seketika musnah .
"Emang nya mama Minta persetujuan dari kamu. Ngak ada kan. Mama hanya kasih tau bukan minta persetujuan dari kamu. "
"Paham kamu? "
Tanya Putri lagi dengan nada tinggi. Mendengar bentakan itu Sylvia hanya bisa mengangguk kan kepala nya.
Setelah selesai bicara Putri meninggalkan Sylvia dan Nikita di ruang tamu. Sepeninggalan Putri, Sylvia tak mampu lagi membendung air mata nya. Ia menangis sejadi-jadi nya sebab sikap mama nya semakin hari semakin membenci nya.
Nikita yang melihat saudara tirinya itu langsung ikut menangis dan memeluk Sylvia.
__ADS_1
"Sylvia maaaf in mama yah. "
Ujar Nikita di sela-sela isak tangis nya.
"Ngak apa-apa Nik. Sylvia maklum mungkin mama lelah harus membiayai kita sendiri beberapa bulan ini.
Disaat mereka berdua sedang menangis, Niko pun tiba-tiba muncul dari arah pintu.
Niko langsung menghampiri mereka.
" Nik kalian kenapa? "..
" Sylvia kenapa nangis begini. "
Tanya Niko. Nikita pun akhirnya menceritakan semua yang di katakan mama nya pada Sylvia. Dengan wajah penuh amarah Niko hendak beranjak dari tempat duduk nya . Dia ingin menemui mama nya.
Namun tangan nya segera di raih oleh Sylvi.
"Kakak mau kemana ka.? "
Tanya Sylvia.
"Kakak mau ngomong sama mama. Mama ngak pantas ngelakuin ini sama kamu. Kamu itu juga kan anak nya. Kenapa di perlakukan tidak baik begini. "
Ujar Niko dengan emosi nya.
"Ngak usah kak.. Sylvi ngak apa-apa kok. Mungkin mama benar. Dia lelah selama ini membiayai hidup kita. Dan sudah sepantas nya mama ada yang dampingi. "
Ujar Sylvia berusaha membela mama nya yang telah melukai hati nya.
"Iya.. mama lelah, tapi apa mama ngak bisa bicara baik-baik sama kamu. Apa harus dengan nada tinggi dan membentak. "
Tanya Niko lagi
"Sudah kak.. ngak apa-apa"
Sylvia terus saja menahan tangan Niko. Dengan berbagai cara akhirnya untuk saat ini Niko menurut apa kata-kata Sylvia. Karena dia tak ingin membuat hati Sylvia semakin terluka.
***Bersambung
***Selalu dukung author dengan cara like, coment, vote dan rate yah.
Dan jangan lupa klik tombol favorit agar di saat author update episode terbaru, teman -teman ngak akan ketinggalan.
1 lagi jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak di karya author yang berjudul PELUK CIUM TERAKHIR MAMA. dan tunggu feed back dari author.
Terima kasih
I love you***
__ADS_1