
Sesampainya mereka di rumah, Sylvia dan Nikita langsung masuk ke dalam kamar, Sementara Niko masih memilih untuk istirahat sejenak di sofa ruang tamu.
Setelah ekonomi mereka tidak sebaik dulu,Pak Indra tidak lagi mempunyai pelayan yang banyak seperti dulu. Kini pelayan di rumah itu tinggal Bi Inah. Pelayan yang sudah sangat lama mengabdi di keluarga itu.
"Kenapa yah pikiran ku jadi sama Sylvia terus. "
"Anak itu benar-benar sangat cantik "
"Cantik, baik, pintar pokok nya terbaik lah"
Ucap Niko memuji Sylvia.
"Sylvi sayang... aku akan selalu ada buat kamu untuk meperlancar tujuan ku. Yaitu membuat mu semakin menderita.
"He... he... he... "
Niko tertawa dalam hati.
*Di dalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar, Nikita memilih untuk segera membersihkan diri nya karena hari ini cukup melelahkan bagi nya. Tapi bukan untuk Sylvi. Sylvi tidak berniat sedikit pun untuk membersihkan diri nya.
Dia lebih memilih untuk duduk di meja rias sambil memeluk sebuah foto. Foto keluarga kecil nya saat dia masih kecil. Saat mami papi nya masih ada di samping nya.
"Mi... papi sudah menyusul mami. "
"Mami sama papi akan bisa bertemu lagi. "
"Mami sama papi akan bisa bersatu dan bahagia lagi mi. "
"Namun tidak dengan aku. "
"Entah bagaimna hidupku ke depan nya aku tidak tau mi, pi. "
"Apakah aku masih bisa menjalani hidup besok, lusa atau seterus nya. "
"Aku juga tidak tau mi, pi. "
"Yang aku tau saat ini hidup ku hancur. Hidup ku berantakan. Hidup ku tak berarah. "
"Kenapa Sylvi rasa cobaan ini terlalu berat buat Sylvi mi, pi. "
"Sylvia ngak kuat. "
Tangis Sylvia sambil menatap bingkisan foto itu
Air mata nya tak kunjung berhenti menetes. Tiba-tiba Nikita yang sudah selesai membersihkan badan nya kini duduk di samping Sylvia
"Sylvia... Nikita tau ini sangat berat buat kamu. "
__ADS_1
"Tapi Nikita yakin, Kamu anak yang kuat. "
"Nikita percaya kamu akan bisa melewati semua nya ini. "
Ucap Nikita sambil memeluk sahabat nya itu. Sylvia pun membalas pelukan itu dan kini ia menumpahkan air mata di pelukan Nikita.
"Kalau kamu mau menangis , menangis lah Sylvia. " Kalau dengan menangis bisa meringankan beban pikiran mu. Maka lakukan lah. "
"Ingat satu hal janji ku Syl. "
"Aku akan selalu ada di samping mu saat suka maupun duka. "
"Sampai kapan pun kita ini akan selalu menjadi sahabat. "
"Kita jalan i bersama-sama yah. "
"Kita harus berjanji untuk selalu ada satu sama lain"
Timpal Nikita lagi sambil mengulurkan jari kelingking nya.
"Iya aku janji. "
Jawab Sylvia sambil membalas uluran jari kelingking Nikita.
"Makasih yah Nik sudah selalu ada buat aku. "
"Kini perasaan ku sudah lebih tenang. "
***
Siang sudah berganti sore. Sore sudah berganti malam. Dan jan sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Nikita belum juga bisa memejamkan matanya sedetik pun. Beda hal nya dengan Sylvia , dia sudah tidur terlelap dalam mimpi nya.
Mungkin karena hari ini cukup melelahkan, hingga Sylvia begitu cepat tidur nya. Sementara Nikita matanya masih terang benderang.
Nikita sedari tadi terlihat sangat gusar. Dia bolak-balik melirik ke arah luar dari jendela kamar nya. Yah dia sedang menunggu mama dan kakak nya. Namun yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang.
"Kemana sih mama dan kakak. "
"Jahat banget deh. "
"Masa papa ninggal mereka ngak ada. "
"Mama memang keterlaluan. "
Gerutu Nikita dalam hati.
Tidak berapa lama Mobil mama nya Nikita pun mulai memasuki pekarangan rumah.
"Oh itu mama. "
__ADS_1
"Akhirnya mama pulang juga. "
Ujar Nikita lagi. Dia langsung buru-buru keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk membukakan pintu .
"Hallo sayang... "
"Mama udah pulang. "
Sapa Putri sambil mencium pipi Nikita.
Walau Nikita sedang marah pada mama nya , sebagai anak ia tetap menyalim tangan mama nya.
"Ma.. mama dari mana saja sih. "
Tanya Nikita langsung to the point.
"Mama habis dari rumah papa kamu. "
Jawab Putri santai.
"Mama kenapa jahat banget sih. Papa Indra meninggal tapi mama ngak datang. Mama masih punya hati ngak sih. "
"Papa Indra dan keluarga nya itu ngak ada salah ma. "
"Kenapa mama sejahat itu sama mereka. "
Teriak Nikita sambil menangis. Ia sudah berusaha menahan air mata nya, tapi tetap saja air mata itu jatuh menetes ke pipi nya.
"Lah.. bagus dong kalau udah meninggal. Jadi mama ngak perlu repot-repot buat nyingkirin dia. "
Jawab Putri dengan setengah berbisik.
"Udah yah.. kalau kamu mau ngomel ngak jelas. Silahkan. "
"Mama mau masuk ke kamar,mau mandi, mau istirahat. Soalanya hari ini mama capek banget. "
"Dah... sayang. "
Ucap Putri dengan senyum kemenangan nya sambil meninggalkan Nikita yang sedang menangis itu.Nikita hanya bisa terdiam membisu melihat tingkah mama nya kini sudah terang-terang an.
***Bersambung
***§êlålµ еkµñg 嵆hðr Ðêñgåñ ¢årå lïkê, ¢ðmêñ†, vð†ê Ðåñ rå†ê ɏåh †êmåñ-†êmåñ
Ðåñ jåñgåñ lµþå klïk †ðmßðl £åvðrï† ågår Ðï §åå† åµ†hðr µþÐå†ê êþï§ðÐê †êrßårµ, †êmåñ-†êmåñ †ïÐåk åkåñ kê†ïñggålåñ
1 lågï jåñgåñ lµþå måmþïr Ðï kårɏå 嵆hðr ɏåñg ßêrjµÐµl 🄿🄴🄻🅄🄺 🄲🄸🅄🄼 🅃🄴🅁🄰🄺🄷🄸🅁 🄼🄰🄼🄰. Ðåñ †µñggµ £êêÐ ßå¢k Ðårï åkµ.
Mårï §ålïñg mêñеkµñg.
__ADS_1
†êrïmå kå§ïh..
Ì lðvê ɏðµ***