
Sylvia pun kembali berbincang-bincang dengan keluarga Gibran. Dan di saat itu pula Sylvia tau kalau Gibran adalah anak semata wayang Nyonya Lucky dan Tuan Santanu. Mungkin itu alasan nya makanya Gibran buru-buru di suruh nikah.
Orang tua Gibran juga terlihat sangat ramah berbanding terbalik dengan Gibran yang memiliki sikap yang sangat dingin bahkan sedingin salju...
Namun di hadapan orang tua nya Gibran terlihat ramah pada Sylvia. Seolah-olah mereka itu adalah kekasih sungguhan.Meski pada kenyataan nya mereka hanya lah sebatas kekasih bayangan.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, Gibran, Agriel dan Sylvia pun pamit hendak berangkat.
**Di dalam mobil.
"hey tukang jamu , kamu ngak usah GR yah soal sikap saya tadi ke kamu. Itu hanya di depan mama sama papa saja. "
Ujar Gibran sambil memulai pembicaraan.
"Ia tuan, mana lah saya mungkin GR, saya kan hanya secuil taik kuping saja. "
Ujar Sylvia merendah.
"Maksud nya apa an tuh makanya sampai ke *** kuping segala. "
Jawab Gibran penasaran.
"Mungkin maksud ny mbak ini kalo *** kuping itu kan siap di korek di buang bos. "
Timpal Agriel di sertai gelak tawa nya.
"Gila kamu yah. Sok tau aja. "
Jawab Gibran.
"Itu benar tuan, Saya kan hanya sebatas taik kuping saja,Yang kapan saja mengganggu, langsung siap di buang. "
Ujar Sylvia.
Gibran hanya terdiam sejenak melihat tingkah lugu nya Sylvia.
Sepanjang perjalanan Sylvia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya terdiam membisu memikirkan masa depan nya jika ia menikah dengan seorang pria yang sama sekali tak ia cintai.
Ia memikirkan akan kah pernikahan nya nanti berjalan dengan lancar, akan kah pernikahan nya nanti langgeng... Sementara di antara mereka saja tidak pernah ada cinta. Hanya 1 hal yang Sylvia tau yaitu dia akan hadir di keluarga Gibran hanya sebatas untuk menebus utang ayah nya.
Tidak berapa lama mobil mereka pun sudah sampai di perusahaan terbesar di kota itu. Perusahaan milik keluarga Gibran.
__ADS_1
Gibran di ikuti oleh Agriel dan Sylvi langsung masuk ke perusahaan itu dan bergegas menuju lift VVIP. Lift khusus para petinggi perusahaan itu.
Sesampainya mereka di lantai 10 lantai tempat ruangan Gibran, mereka pun langsung keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Gibran.
Gibran langsung duduk di meja kerajaan nya..
"Griel gimana semua berkas nya sudah siap? "
Tanya Gibran.
"Sudah Tuan. "
Jawab Agriel.
"Silahkan kamu kasih agar si tukang jamu membaca syarat-syarat jika dia menikah dengan ku. "
Ujar Gibran lagi.
"Nona ini peraturan yang harus nona lakukan mulai dari bangun tidur sampai dengan malam hari setelah menikah nanti. "
Ujar Agriel sambil menyerahkan kertas yang berisi peraturan. Jika di hitung mungkin kertas itu ada lebih dari 5 lembar. Jadi sudah bisa di pastikan kalau peraturan itu sangat lah banyak.
Sylvia menerima kertas itu dan melihat semua nya dengan sekilas .
Tanya Sylvia dengan perlahan.
"Iya nona.Nona harus membaca nya dengan seksama.Dan jangan sampai melupakan satu poin pun. Jika nona sampai melupakan 1 poin Saja, maka nona akan mendapat hukuman dari tuan. "
Ujar Gibran sambil menjelaskan.
Mulut Sylvia ternganga, mata nya melotot. Dia begitu terkejut saat melihat peraturan yang ada di depan maga nya itu.
Bagaimana mungkin ia harus melakukan ke 60 poin ini setiap hari nya. Mengingat saja Sylvia mungkin tidak akan mampu.
"Ternyata benar pria yang ada di hadapan ku ini sangat lah kejam. Dia bahkan tidak segan-segan membuat peraturan sebanyak ini . "
"Oh Tuhan bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Apa kah aku harus menyerah? "
Jika aku harus menyerah, perusahaan ayah pasti akan terancam.Sebab aku tau jika pria yang ada di hadapan nya ini murka, maka ia tak akan segan-segan menghancurkan lawan nya pada saat itu juga.
"Ujar Sylvia dalam hati sambil memandangi kertas itu. Tak terasa air mata nya jatuh berlinang membasahi pipinya.Hati nya sungguh sangat hancur. Bagaimana mungkin ayah nya tega menjadikan nya sebagai penebus utang. "
__ADS_1
"Hey nona kenapa malah menangis. Kertas ini di baca dan di hafal bukan malah di tangis i. "
Ujar Agriel membuyarkan Sylvia dari lamunan nya.
"Iya... iya tuan maaf. "
Jawab Sylvia dengan cepat-cepat menyeka air mata nya.
"Kamu kenapa menangis tukang jamu? kalau kamu tidak suka menikah dengan saya langsung bilang saja. Ngak usah nangis segala. Saya ngak maksa kok. "
Timpal Gibran.
"Benar tuan, saya bisa mundur dari pernikahan ini? "
Tanya Sylvia penuh harapan.
"Pasti nya bisa dong. Tapi perusahaan ayah kamu juga akan saya hancur i. Mau? "
Bentak Gibran.
"Tidak.. tidak tuan. Baiklah tuan dengan senang hati saya akan menikah dengan tuan. Saya kelak akan jadi istri yang baik tuan. "
Ujar Sylvia terbata-bata.
"Cuih ngomong apa sih kamu Sylvia. Suka ngaco deh"
Gerutu Sylvia dalam hati sambil mengutuki perkataan yang baru saja keluar dari mulut nya.
"Yah sudah kamu baca itu peraturan. Saya kasih kamu waktu 1 jam. Setelah waktu habis nanti Agriel akan menguji tes saya ingat kamu. Apakah Gelar Sarjana kamu itu bisa kamu pertahan kan? "
Ujar Gibran.
"Baik tuan. "
Jawab Sylvia dengan hati yang sangat pilu mendengar pria salju itu meragukan gelar Sarjana nya.
***Bersambung
***Selalu dukung author dengan cara like, coment, vote dan rate yah readers
Dan jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak di karya author yang berjudul PELUK CIUM TERAKHIR MAMA. Dan tunggu feed back dari aku.
__ADS_1
Terima kasih
I love you***